The World Of The Magic

The World Of The Magic
Bercerita..



Pagi-pagi sekali Rain sudah berdiri di depan pintu kamar Raja Argus dan yang Ratu Azusa sambil membawa peti yang berisi magic ball di dalamnya.


"Ada apa pagi-pagi sudah berada di sini nona Rain.." sapa Kasim San yang baru datang dan dia terkejut melihat keberadaan Rain


"Ada hal penting yang ingin ku bicarakan dengan yang mulia Raja dan yang mulia


Ratu.." sahut Rain sambil tersenyum tipis


"Apa perlu saya membangunkan yang mulia Raja, nona..?" tanya Kasim San


"Tidak perlu, saya akan menunggu saja.." sahut Rain ramah


"Baiklah kalau itu keinginan nona.."


Setelah itu, beberapa menit kemudian pintu kamar yang berpilar emas itu terbuka dan memperlihatkan dua orang yang mengenakan jubah kebesaran dengan mahkota diatas kepala mereka.


"Salam yang mulia Raja dan yang mulia Ratu." salam Kasim San dan Rain sambil membungkuk hormat


"Berdirilah.." seru Raja Argus dingin


"Ada apa kak Rain menemui kami sepagi


ini..?" tanya Ratu Azusa dengan senyum lembutnya


"Ada yang ingin saya bicarakan dengan yang mulia Raja dan yang mulia Ratu.." sahut Rain formal karena disana tidak hanya ada mereka bertiga


"Baiklah kalau begitu kita bicarakan ini di ruang kerjaku.." seru Raja Argus sambil berjalan dengan menggandeng tangan Ratu Azusa


Rain pun mengangguk dan berjalan di belakang Raja Argus dan Ratu Azusa.


Setelah mereka sampai di ruang kerja Raja Argus, mereka bertiga pun mengambil posisi nyaman untuk bercerita.


Rain langsung membuka peti itu dan mengeluarkan magic ball dari dalam. Tanpa menunggu lagi Rain pun merapalkan mantra hingga magic ball itu bersinar terang dan menampilkan sosok bayi perempuan yang tengah bermain di kamarnya bersama pelayan.


"Lihatlah.." seru Rain sambil menunjuk bayi itu dengan dagunya membuat Raja Argus dan Ratu Azusa memperhatikan bayi mereka


"Auranya begitu kuat bahkan kekuatan ku pun merespon hal itu.." sambung Rain


"Maksud kakak bagaimana..?" tanya Ratu Azusa bingung dan tidak mengerti apa yang dibicarakan Rain pada mereka


"Kalian tentu tau bukan pemilik magic ball adalah seseorang yang memiliki kekuatan langka, dan aku merasa setiap berdekatan dengan Keisya kekuatan ku seperti ingin keluar dan ingin menunjukkan eksistensinya di depan Keisya.." jelas Rain dengan serius


"Apa...? Bagaimana mungkin itu terjadi kak, bukankah kekuatan kakak tidak akan semudah itu terpancing..?" tanya Ratu Azusa heran


"Aku juga tidak tau mengapa bisa seperti itu.." sahut Rain


"Hmm, tadi malam Azusa bermimpi bertemu dengan seorang lelaki tua dan lelaki itu mengatakan kalau Keisya adalah penguasa negeri magical ini." seru Raja Argus membuat kaget Rain


"Penguasa negeri magical..?" lirih Rain terkejut sampai melongo


"Benar kak. Lelaki tua itu juga bilang kalau Keisya memiliki kekuatan yang sangat besar dan suatu saat akan datang 4 orang anak sebagai rekannya dalam menjaga negeri magical ini.." jelas Ratu Azusa


Rain yang mendengarkan perkataan Ratu Azusa dan Raja Argus pun mendadak pusing karena fakta yang benar-benar mengejutkan ini. Apa yang akan terjadi jika orang-orang tau tentang Keisya nanti. Rain benar-benar takut jika suatu saat nanti ada yang berbuat buruk pada keponakannya.


"Yang mulia.. saya takut jika memang apa yang lelaki tua itu katakan benar maka nyawa keponakan saya akan terancam.." lirih Rain sendu menatap Ratu Azusa dan Raja Argus bergantian


"Aku juga berpikir begitu.." lirih Ratu Azusa pelan


Raja Argus menghembuskan nafas kasar lalu berdiri dari kursinya dan membalikkan tubuhnya ke arah jendela yang menampilkan taman bunga kerajaan.


"Untuk saat ini kita akan menyembunyikan hal ini dari orang-orang, biarkan hanya kita saja yang mengetahui hal ini.." seru Raja Argus


"Tapi yang mulia.. suatu saat nanti hal ini pasti diketahui oleh banyak orang.." cemas Rain


"Tidak akan ada yang tau kalau kita bisa menjaga rahasia terlebih jangan memperlihatkan gerak-gerik yang mencurigakan.." seru Raja Argus tegas


"Baik yang mulia.." sahut Ratu Azusa dan Rain serentak


"Ini sungguh membosankan.." seru putri Keisya dalam hati dengan menampilkan raut wajah bosannya


"Sampai kapan sih aku menjadi bayi, emangnya gak bisa gitu langsung dewasa aja? Aku juga ingin menjelajahi negeri yang penuh dengan keajaiban ini.."


Rain datang menghampiri keranjang bayi tempat Keisya berbaring.


Keisya yang melihat kedatangan bibinya pun menatap mata Rain dalam diam.


"Ada apa bibi kemari, ini tidak seperti biasanya.." gumam Keisya


"Key.." lirih Rain pelan sambil mengusap rambut Keisya pelan dan penuh kasih


"Seberapa besar kekuatan mu hingga bisa memancing kekuatan bibi keluar..?" lirih Rain lagi sambil menutup matanya dengan sendu


Keisya mengerutkan keningnya bingung, sebenarnya dia juga merasakan ada kekuatan besar di dalam tubuhnya. Tapi Keisya sama sekali tidak mengerti dari mana datangnya kekuatan itu. Dan sekarang bibinya malah menanyakan hal yang sama sekali tidak dia tau jawabannya.


"Sebenarnya aku juga merasakan kekuatan besar itu tapi aku tidak tau darimana asalnya. Apalagi aku pernah melihat keseluruhan dari negeri magical ini lewat mataku dan jujur ini menambah rasa penasaran ku.." batin Keisya


"Cepatlah tumbuh besar sayang biar bibi tau sekuat apa dirimu. Bibi akan menunggu sampai kekuatan besar mu itu datang. Jadi kalau kau sudah besar berjuanglah untuk menjadi kuat agar kau bisa melindungi orang-orang yang kau sayang.." seru Rain sambil tersenyum lembut lalu mengecup kening Keisya dan berbalik pergi meninggalkan Keisya sendiri di kamarnya


"Aku berjanji akan melindungi kalian.."


....


"Pangeran sudah waktunya latihan berpedang di mulai.." seru seorang pengawal memberitahu jadwal latihan sang junjungan


"Aku malas, katakan pada guru kalau aku tidak ingin latihan hari ini.." sahut pangeran Alvian


"Kau harus latihan putraku.." suara lembut itu membuat pangeran Alvian terkejut dan langsung menoleh ke asal suara


"Ibu.. Apa yang ibu lakukan disini..?" seru pangeran Alvian kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


"Jangan mengalihkan pembicaraan pangeran Alvian, lebih baik sekarang pergi latihan karena guru mu sudah menunggu.." seru Ratu Fina


"Baiklah ibu.." seru pangeran Alvian dengan pasrah


Pangeran Alvian berjalan dengan malas menuju tempat latihan dan benar saja di sana sudah ada gurunya yang menunggu.


"Maaf membuat guru menunggu.." seru pangeran Alvian sambil menunduk hormat


"Ah tidak masalah pangeran, kalau begitu kita bisa memulai latihannya.."


"Baik guru.."


Pangeran Alvian pun memulai latihannya dan sesekali sang guru pun mengkoreksi kesalahannya dalam memegang pedang ataupun dalam jurus-jurus berpedangnya.


"Perkuat kuda-kuda mu pangeran jika seperti ini kau akan mati di Medan perang.." seru sang guru dengan tegasnya karena memang sifatnya begitu


"Jangan mengalihkan perhatian dari musuh mu.."


"Lakukan serangan yang lembut namun mematikan pangeran.."


"hiaattt..." pangeran Alvian pun mengubah serangannya untuk melumpuhkan sang guru namun sepertinya Dewi Fortuna belum berpihak padanya karena dia tidak berhasil melukai gurunya sedikit pun


"Hah.... Hah.. Hah.." deru nafas pangeran Alvian ngos-ngosan


"Sepertinya cukup untuk hari ini pangeran. pesan ku jangan patah semangat dalam berlatih dan selalu perkuat kuda-kuda mu itu.." seru sang guru lalu menepuk bahu pangeran Alvian


"Baik guru dan terima kasih sudah mau melatihku hari ini.." seru pangeran Alvian sambil tersenyum tipis


"Ini sudah tugas ku pangeran, kalau begitu aku pamit undur diri.."


"Baik guru.."