
Pikiran jendral itu masih tertuju pada sosok Keisya yang tadi siang bertemu dengannya. Mulai dari nada bicaranya yang dingin, sikapnya dan cara berjalan sangat mirip dengan Kania. Tapi, Danzo langsung menepis pikirannya jauh-jauh mana mungkin Kania berpindah dimensi seperti dirinya. Kania pasti sudah tenang di surga bersama dengan kedua orang tuanya yang selama ini dia rindukan.
Suara langkah kaki yang menggema dari lorong yang menuju ke arahnya membuat Danzo mengalihkan tatapan dingin ke asal suara. Dari balik kegelapan muncul Emma dengan seringai yang selalu tercetak di bibir tipisnya.
"Jendral Danzo sepertinya kau tidak sibuk.. " itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan yang di lontarkan oleh Emma padanya. Entah apalagi yang diinginkan gadis licik itu darinya
"Ada apa..?" tanya Danzo tanpa mau berbasa basi lagi
"Tidak banyak yang kuinginkan.. aku hanya ingin minta bantuan mu saat di peperangan nanti.. " sahut Emma sambil tersenyum miring
Danzo menatap tajam lawan bicaranya. Lalu, dia pun menganggukkan kepalanya pertanda dia setuju untuk membantu si gadis panglima tersebut.
Setelah berbincang sebentar mengenai persiapan perang, Emma memutuskan untuk pergi dan meninggalkan jendral Danzo bersama beberapa pengawal yang akan diuji kemampuannya.
"Kita ke lapangan latihan sekarang.. " seru Danzo dingin membuat para pengawal menunduk hormat dan mengikuti langkah sang Jendral menuju lapangan latihan tempat mereka menguji kemampuan
...****************...
"Hmmm... Andrew ya.. " gumam Keisya pelan dengan senyum tipisnya yang sedari tadi terbit membuat rekan-rekannya bingung apa yang sebenarnya telah terjadi selama di black land hingga membuat leader mereka itu selalu menampilkan senyum tipis yang sama sekali tidak pernah terlihat sejak mereka mengenalnya.
"Leader ada apa? apa ada sesuatu hal yang membuat leader bahagia..? " tanya Alina mengerutkan keningnya bingung
"Tidak apa-apa.. " sahut Keisya singkat
"Apanya yang tidak apa-apa leader, sedari tadi anda selalu tersenyum walaupun tipis dan aura bahagia begitu terpancar di bola mata anda. apakah ini berkaitan dengan perang yang akan terjadi..? " tanya Alvian panjang lebar
Lagi dan lagi Keisya tersenyum kemudian mengalihkan tatapannya pada Alvian "Menurutmu bagaimana..? " tanya Keisya
"Kenapa leader malah bertanya kembali.. " decak Alvian kesal
Keisya tertawa hingga matanya menyipit seperti bulan sabit membuat para rekannya terpesona. Secara ini kali pertama mereka melihat tawa Keisya dan itu sangatlah indah.
"Aku menemukan seseorang yang sangat ku rindukan di black land kemarin.. " sahut Keisya tersenyum tipis
"Siapa itu leader..? " tanya Arzou yang sedari tadi diam dan juga diangguki oleh Sergia yang juga sangat penasaran
"Kalian akan mengetahuinya nanti.. " sahut Keisya dengan senyum misteriusnya.
Diwaktu yang bersamaan, terlihat Danzo yang sedang menguji kemampuan setiap pengawal elit dari Kerajaan black land. Agar tidak ada yang mencurigainya, dia menggunakan ingatan Jendral Danzo yang asli untuk melatih Pengawal-pengawal itu.
Seperti biasanya Jendral Danzo yang asli ketika melatih para pengawal. Dia akan menyuruh mereka semua maju dengan bersamaan dan itu akan menunjukkan siapa saja yang berkembang dan siapa yang tidak berkembang.
Mulai dari melayangkan pukulan, tendangan dan berbagai jurus sudah bertukar. Tapi sejauh ini belum ada pengawal yang tumbang. Dari kejauhan Raja Ergus yang melihat kemampuan pengawalnya tersenyum miring dan ada aura gelap yang menyelimuti dirinya.
"Saat perang nanti aku bersumpah bahwa akulah yang akan memenangkan peperangan itu. Negeri magical akan menjadi milikku hahah.. " tawa mengerikan yang terkesan dingin itu menyeruak hingga membuat para pelayan yang berlalu lalang bergidig takut
"Yang mulia... "
Raja Ergus berbalik dan menatap panglima Emma yang berada di degannya kini. "Ada apa..? "
Emma menggeleng pelan "Aku hanya ingin mengunjungi Yang mulia Raja.. " sahut Emma sambil membungkuk hormat
"Aku tau kau memiliki maksud tertentu sampai datang menemui ku.." seru Raja Ergus sambil tersenyum miring
"Kita ke ruangan ku sekarang.. " sahut Raja Ergus dingin dan berjalan pergi diikuti oleh Emma di belakangnya
Danzo melihat interaksi itu dan dia begitu penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh mereka. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri sesi latihan dan memilih mengikuti Raja dan panglima Emma.
"Ckck, untung saja ingatan Jendral Danzo ini sedikit memberi keuntungan hingga aku mampu mengetahui seluk beluk kerajaan gelap ini.. " gumam Jendral Danzo lirih
Danzo sampai di depan sebuah pintu yang berwarna hitam dengan aura pekat yang menakutkan. Dia berdiri dan bermaksud ingin menguping. Namun, hal itu dihentikannya karena berpikir masa iya seorang tangan kanan leader rose blood menguping, jika hal itu diketahui oleh anggota markas yang lain maka turunlah reputasinya sebagai laki-laki dingin yang menakutkan saat menjalankan misi.
Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu "Permisi Yang mulia, saya ingin menyampaikan laporan.. " ucapnya
"Masuk.. " sahut suara datar dan dingin dari dalam ruangan
"Salam Yang mulia.. " sambil menunduk hormat
"Ada apa..? " tanya Raja Ergus tajam
"Semua pengawal elit yang dilatih sudah selesai dan kemampuan mereka sesuai dengan Yang mulia harapkan.. "
"Hahaha.. bagus... bagus.. kau mengerjakannya dengan sangat baik Jendral Danzo.. "
"Tentu Yang mulia.. "
"Baiklah kau boleh pergi.. "
Jendral Danzo pun mengangguk dan perlahan ingin pergi namun suara Emma menghentikan langkahnya.
"Jangan lupa bahwa kau akan membantuku nanti jenderal.. " seru Emma
"Aku mengingatnya Panglima.. "
"Yang mulia aku ingin nanti Jendral Danzo yang memegang penuh kendali para monster itu karena aku juga ingin bertarung dan membunuh gadis bertopeng yang tempo hari membuat ku marah.. "
Samar-samar Danzo mendengar perkataan Emma dan dia semakin bingung dengan hal itu. Kemarin dia sudah bertemu dengan musuh Raja Ergus yang tak lain adalah putri kerajaan Emerald. Lalu sekarang apa lagi, siapa yang dia maksud sebagai gadis bertopeng.
Sungguh dunia ini berhasil membuat seorang Andrew pusing tujuh keliling. Andrew lebih baik di suruh mengerjakan tugas-tugas sebagai seorang mafia dari pada di suruh memecahkan teka-teki seperti ini walaupun resiko kematiannya sama.
...****************...
"Bagaimana persiapan kita selama Perang nanti..?" tanya Keisya para seorang panglima kerajaan Emerald
"Semua sudah diatur sesuai kemauan Yang mulia putri.." sahutnya tegas "Para rakyat yang tidak bisa mengikuti perang yang terdiri dari anak-anak, ibu-ibu hami, wanita yang tak memiliki kekuatan dan para lansia sudah diamankan di tempat aman di bukit takagama. Mengenai bahan makanan selama perang, para pelayan sudah menyiapkannya dan sudah di stok mulai dari sekarang.. " lanjutnya
"Bagus, ikuti sesuai perintah ku, kita tidak tau akan selama apa perang kali ini. Akan tetapi kita harus bisa mengantisipasi hal-hal buruk yang akan terjadi. tepat saat bulan purnama, mereka akan datang dan pastikan para werewolf rogue itu mendapatkan akibatnya jika mereka ikut menyerang.. " perintah Keisya dingin
"Baik Yang mulia putri Keisya.. "
"Kau boleh pergi.. "
Panglima itu memberikan salam penuh hormat kemudian meninggalkan Keisya dengan beban pikirannya sendiri.
"Apapun caranya negeri magical tidak boleh jatuh ke tangan paman Ergus. Aku akan berusaha melindungi semua orang di negeri ini karena itulah tugasku berada di negeri magical ini. Dan ini merupakan janji seorang putri sekaligus pemimpin kepada orang tua dan rakyatnya. Aku, Keisya Aura Emerald akan membawa pulang pangeran Ergus ke kerajaan Emerald.. " tekad Keisya dengan gigih.