
Setelah pertempuran singkat dengan Emma dan jendral Danzo akhirnya Keisya dan teman-temannya sampai di perbatasan antara bangsa Elf dan Fairy. dari pinggir hutan sudah terlihat asap hitam yang menutupi hutan, seperti sedang melihat proses ritual sesat jika di dunia modern pikir Keisya.
"Kabut hitam ini yang menyebabkan para fairy tidak bisa berkunjung ke tempat para Elf leader.." seru Arzou dengan mata yang masih menatap lekat kabut hitam tersebut
Sergia menggunakan mata vampirnya untuk melihat apakah ada seseorang atau tidak yang menggerakkan kabut-kabut beracun itu. Matanya yang berkilat merah itu tambah tajam saat tak sengaja melihat sebuah artefak yang bersinar memancarkan cahaya merah. Lalu, dari cahaya itu berkumpul kabut-kabut hitam dan menyebar ke seluruh penjuru hutan.
"Lihatlah leader, di sebelah sana ada sebuah artefak yang memancarkan cahaya merah, dari cahaya itulah kabut-kabut ini berasal.." seru Sergia menunjuk ke arah artefak itu
Keisya menajamkan matanya untuk melihat artefak yang di katakan oleh Sergia. Mata Keisya berkilat berwarna gold yang menandakan jika dia sedang menggunakan kekuatan sang pemimpin bangsa Vampir dan serigala. Dan benar saja, di sebelah timur hutan ada sebuah artefak yang memancarkan cahaya merah sesuai dengan perkataan Sergia. Namun, di sekitar artefak itu telah di bangun sebuah barier sihir yang sangat kuat bahkan Sergia pun tidak mengetahuinya.
"Kalau begitu kita harus menyingkirkan artefak itu sebelum kabut-kabut ini bertambah banyak dan keluar dari hutan.." seru Alvian
"Tidak semudah itu.." sentak Keisya tanpa menatap Alvian
"Apa maksud leader..?" tanya Alina
"Lihatlah Sergia, artefak itu dilindungi oleh sebuah barier sihir yang sangat kuat.." seru Keisya dingin
Sergia mengerutkan keningnya dan kembali melihat ke arah hutan dimana artefak itu berada. Tapi, Sergia tidak melihat adanya barier disitu.
"Maaf leader, tapi disana tidak ada barier seperti yang leader katakan.." seru Sergia bingung
"Itulah sebabnya aku katakan tidak semudah itu untuk menghancurkan artefak itu. kau saja yang memiliki kemampuan melihat lebih tajam tidak bisa melihat adanya barier disana.." sahut Keisya tajam
"Lalu apa yang harus kita lakukan..?" tanya Alina
"Ayo berpikir, cara apa yang harus kita gunakan untuk menghancurkan artefak itu.." seru Arzou
Keisya hanya memandangi kedalam hutan tanpa mau memusingkan perkataan teman-temannya.
"Alvian, gunakan rantaimu untuk mencoba menembus barier itu.." seru Keisya tiba-tiba membuat Alvian menatap ke arahnya
"Eh, baiklah leader.." sahut Alvian
"Sergia, bisa bantu aku menemukan letak artefak itu..?" tanya Alvian lagi
"Baiklah.." sahut Sergia
Alvian pun mengarahkan tangannya untuk mengeluarkan rantai dan Sergia menarik tangan Alvian. lalu mengarahkannya ke arah dimana artefak itu berada. Saat sudah mencapai barier pelindung artefak, tiba-tiba saja rantai Alvian terpental hingga membuat Sergia dan Alvian ikut terpental menabrak pohon.
"Alvian.. Sergia..." teriak Arzou dan Alina terkejut
Mereka berdua segera menolong Alvian dan Sergia.
"Kalian baik-baik saja..?" tanya Keisya dingin
"Iya leader hanya saja tekanan dari barier itu sangat kuat hingga membuat aku dan Sergia terpental jauh.." jelas Alvian
"Hmm, begitu yah. Baiklah, biar aku yang melakukannya.." seru Keisya
"Apa yang ingin leader lakukan..?" tanya Arzou
"Iya benar, apa yang ingin leader lakukan bagaimana jika terjadi sesuatu pada leader..?" lanjut Alina khawatir
"Aku akan mencoba menghancurkan barier itu. Lalu setelah bariernya hancur, Alina dan Alvian tolong hancurkan artefaknya.." perintah Keisya
"Baik Leader.." sahut Alina dan Alvian
"Sementara Sergia dan Arzou tolong awasi sekitar kita tidak tau apa yg terjadi jika kita lengah.." perintah Keisya lagi
"Baik Leader.." sahut Arzou dan Sergia serentak
Lalu, keisya pun terbang menggunakan sihir anginnya untuk sampai ke tempat di mana artefak itu berada. Dia menggunakan perisai pelindung agar tidak menghirup racun tersebut.
Keisya pun mengangkat tangannya ke atas lalu element petirnya menyambar ke arah barier hingga membuat barier itu pecah berkeping-keping. Keisya tersenyum miring. Saat melihat barier itu hancur Alina dan Alvian langsung menggerakkan kekuatan es dan rantai untuk menghancurkan artefak yang memancarkan cahaya merah tersebut. Butuh usaha yang keras agar artefak itu hancur dan Sergia pun membantu Alina dan Alvian untuk menghancurkannya.
**Dhuarrr....
Artefak itu pun hancur hingga berkeping-keping sama seperti barier yang melindunginya. Lalu, Keisya pun menggunakan element anginnya untuk menepis kabut beracun tersebut.
"Terima kasih untuk kerja keras kalian.." seru Keisya dengan senyum tipisnya
"Terima kasih kembali leader.." sahut para putri dan pangeran bersamaan
Tak lama, bangsa fairy dan bangsa Elf pun berdatangan untuk melihat siapa orang yang sudah membantu mereka.
"Salam para pangeran dan putri..." seru bangsa Elf dan Fairy sambil membungkuk hormat
"Bangunlah kalian.." sahut Alvian
"Apakah pangeran dan putri yang sudah membantu melenyapkan kabut beracun itu..?" tanya seorang fairy yang bertubuh mungil dan terbang mendekat ke arah Alvian
"Benar, tapi bukan hanya kami saja yang melakukannya, melainkan Yang mulia putri Kei.." ucapan Alvian terpotong saat dia menoleh dan tidak mendapati Keisya di sampingnya
"Hei, dimana Yang mulia putri Keisya..?" tanya Alvian namun hanya di balas gelengan dari Arzou, Alina dan Sergia
Yah, setelah mengucapkan kata terima kasih tadi, Keisya langsung menggunakan kekuatan transparannya untuk tidak terlihat oleh bangsa Fairy dan Elf. Bukan dirinya tidak ingin menemui rakyatnya itu melainkan dia tidak ingin mereka terlalu mengenalnya dengan kata baik.
"Siapa yang pangeran cari..?" tanya seorang Elf laki-laki
"Ah, aku mencari Yang mulia putri Keisya, tadi dia juga ikut membantu.." sahut Alvian
"Tidak mungkin pangeran, Yang mulia putri Keisya adalah seorang putri yang sombong, dia tidak pernah memperlihatkan wujudnya pada kami yang berstatus sebagai rakyatnya.." seru seorang Fairy dengan marah
Keisya tersenyum tipis saat mendengar perkataan salah satu Elf tersebut. Baginya lebih baik mereka menghina dirinya daripada dihormati tapi hanya berpura-pura baik.
"Jangan mengatakan hal seperti itu, tanpa bantuan Yang mulia putri Keisya kami tidak akan bisa menghancurkan benda yang membuat kabut beracun itu ada disini.." bentak Alina marah saat mereka tidak menghargai Keisya
"Itu memang kenyata..."
"Tunggu.." seorang gadis Elf memotong perkataan dari fairy tersebut
"Ada apa..?" tanya Sergia datar
"Dibelakang pangeran Arzou ada aura yang sangat hangat apakah itu aura Yang mulia putri Keisya..?" tanya gadis Elf itu
Arzou mengerutkan keningnya dan menatap kebelakang tapi tidak melihat siapapun.
"Yang mulia putri Keisya mungkin sudah pergi karena disini tidak dihargai.." ketus Arzou
"Tidak. jika memang aura hangat itu miliknya itu artinya dia masih berada di sekitar sini.." bantah gadis Elf itu
Lalu tiba-tiba kepulan asap putih membentuk seorang gadis cantik nan rupawan dengan Surai coklatnya.
"Kau hebat bisa merasakan auraku.." seru Keisya dingin
"Ya... Yang mulia putri..." seru bangsa Elf dan Fairy terbata-bata lalu menunduk hormat
"Bangunlah, tidak perlu menunduk hormat, bukankah kalian tadi tidak menyukaiku..?" sinis Keisya
"Maaf.. Maafkan kami Yang mulia putri.." sahut mereka terbata-bata
Keisya mengacuhkan permintaan maaf mereka, lalu mendatangi gadis Elf yang bisa merasakan auranya.
"Siapa namamu..?" tanya Keisya
"Nama saya Chintya, Yang mulia.." sahutnya degan senyum tulus
"Suatu saat nanti berdirilah disampingku untuk menjadi orang kepercayaan ku.." seru Keisya membuat gadis Elf itu terkejut
"Yang mulia putri Keisya terima kasih.." serunya terisak yang hanya dibalas senyum tipis dari Keisya
Semua orang yang mendengar perkataan Keisya dia buat terkejut namun tidak ada yang bisa membantah.