The World Of The Magic

The World Of The Magic
Jendral Danzo..



Nuansa pagi yang begitu indah di kerajaan Emerald terasa berbeda dengan kerajaan-kerajaan lain. Udara sejuk dan hijaunya taman kerajaan yang terawat memanjakan mata semua orang yang melihatnya. Dari kejauhan terlihat pangeran Alvian yang berjalan seorang diri. Biasanya dia akan terlihat berjalan bersama teman-temannya. Namun, kali ini dia terlihat berjalan sendirian dan celingukan seperti sedang mencari seseorang.


"Kemana dia.." batinnya


"Pangeran sedang mencari siapa..?" seorang pelayan yang memperhatikan pangeran Alvian pun menyapa hingga membuat Alvian terkejut dan sontak mengelus dadanya


"Maafkan saya yang telah mengejutkan pangeran.. tadi saya melihat pangeran seperti sedang mencari seseorang.." seru pelayan itu lagi sambil menunduk takut


"Tidak apa-apa.." sahut Alvian singkat sambil menatap balik pelayan itu


Sebuah ide tiba-tiba tercetus di kepalanya hingga membuat senyum tipis tersimpul di bibirnya.


"Apa kau bisa membantuku..?" tanya Alvian lagi


"Katakan saja pangeran saya akan membantu sebisa saya.."


"Baiklah, aku tadi sedang mencari Yang mulia putri Keisya.. apa kau melihatnya..?" tanya Alvian sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal


Diam-diam pelayan itu tersenyum geli melihat tingkah pangeran yang rumornya sangat susah berdekatan dengan seorang gadis kecuali gadis bermarga Vallen dari kerajaan vampir.


"Mari pangeran saya akan mengantar anda kepada Yang mulia putri.."


Pelayan itu pun berjalan di depan lalu diikuti oleh Alvian dari belakang. Mereka berdua melewati jalan setapak di samping taman kerajaan yang tidak akan terlihat jika tidak diperhatikan dengan jeli. Alvian saja mengerutkan dahinya saat melewati jalan itu.


"Ternyata ada jalan disini padahal aku tidak melihatnya tadi.." batinnya


Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah arena berlatih yang sangat luas dibelakang istana. ternyata jalan setapak itu Merupakan. jalan pintas menuju ke belakang istana Emerald.


"Pangeran tinggal berjalan lurus, nanti diujung sana pangeran akan bertemu Yang mulia putri Keisya.." seru pelayan itu


"Baiklah terima kasih sudah mengantarku.." seru Alvian


"Kembali kasih pangeran.."


Setelah pelayan itu pergi, Alvian melangkahkan kakinya menyusuri arena berlatih itu. Dari kejauhan telinganya mendengar adanya orang yang sedang bertarung. Dia pun berjalan dengan cepat dan matanya melihat Keisya sedang berlatih dengan tiga manekin dengan kekuatan yang berbeda-beda.


"Menakjubkan.." gumamnya pelan


Sementara itu Keisya sedang berlatih mengalahkan manekin yang dia buat sendiri dengan kekuatan yang sengaja dia buat berbeda-beda setiap manekinnya.


Keisya mengerutkan keningnya saat merasa seseorang memasuki tempat berlatihnya. Dia menajamkan indranya untuk mengetahui siapa yang masuk. Setelah tau bahwa itu adalah Alvian membuatnya bernafas lega setidaknya bukan bahaya yang datang.


"Perhatikan musuh anda Yang mulia putri..." sebuah suara membuat Keisya kembali tersadar bahwa dirinya masih berada di arena latihan dengan manekin buatannya


Keisya menghindar saat manekin berkekuatan bayangan itu hendak menyerangnya.


"Hampir saja.." gerutu Keisya kesal


"Biarkan saja mereka mendekat jika tidak memiliki hawa membunuh. Seharusnya Yang mulia paham peraturan di Medan perang.." seru suara itu lagi


"Sudahlah aku tau, aku hanya terkejut mengapa dia bisa disini.." sahut Keisya datar


"Anda hebat Leader.." seru Alvian menghampiri Keisya saat sudah menyudahi latihannya dengan manekin itu


"Mengapa kau bisa berada disini..?" tanya Keisya dingin


"Tadi aku sengaja berjalan-jalan dan tidak sengaja melihat arena berlatih ini. karena aku penasaran jadi aku memasukinya dan malah bertemu dengan anda.." seru Alvian berkilah


Keisya hanya menganggukkan kepalanya. Lalu melangkah menuju sebuah kursi yang disediakan disana. Alvian yang melihat Keisya duduk di kursi pun mengikutinya untuk duduk bersama.


Alvian mengeluarkan sapu tangan dari balik jubahnya saat melihat keringat yang mengucur di dahi Keisya. Mata mereka pun beradu dan Keisya tampak terkejut dengan tindakan Alvian yang secara tiba-tiba itu.


"Ada apa dengan jantungku.. ah, rasa ini..." batin Alvian menatap dalam mata Keisya yang berwarna Emerald itu


Keisya pun juga merasakan perasaan yang sama. Jantungnya yang berdetak tidak seperti biasanya, dan mendadak saja wajahnya memanas. Dia segera memalingkan wajahnya kesamping membuat Alvian yang sedari tadi menatapnya tersadar.


"Ma.. Maaf leader saya tidak bermaksud untu.."


...****************...


Sergia tersenyum melihat semua yang terjadi di kerajaan Emerald yang mungkin tidak pernah terjadi di kerajaan mana pun. seperti kerukunan pelayan dan tidak ada penindasan antar pengawal disana.


"Hey, cepatlah kita harus menyiapkan sarapan.." seru seorang pelayan yang tampak kesal melihat temannya yang selalu bercanda


"Tenang saja kita akan mengerjakan semuanya bersamaan, jadi apa pun pekerjaannya maka akan selesai dengan cepat.." sahut temannya itu hingga membuat senyum si pelayan jutek kembali tercipta


Sergia yang melihat itu pun tersenyum.


"Iya benar, kami juga akan saling bekerja sama untuk memenangkan perang ini dan membuat senyum kalian tetap terjaga seperti ini.." gumamnya pelan


"Gia kenapa kau masih disini, ayo ke ruang makan.." seru Alina yang baru saja datang menghampiri Sergia


"Aku sedang mencari keberadaan Alvian, sedari tadi aku belum melihatnya.." sahut Sergia


"Kau benar, biasanya dia akan selalu bersama mu.. Lalu kemana dia pergi..?"


"Mana ku tahu aku saja belum bertemu.." seru Sergia kesal dan hanya dibalas dengan cengiran ala Alina


"Ayo ke ruang makan jangan membuat Yang mulia Raja dan Yang mulia Ratu menunggu.." seru Arzou


"Baiklah, ayo.." sahut Alina dan Sergia bersamaan


Sesampainya di ruang makan sudah ada Raja Argus, Ratu Azusa, Keisya dan Alvian.


"Selamat pagi Yang mulia.. maaf membuat menunggu.." seru Arzou mewakili


"Tidak apa-apa pangeran Arzou, silahkan duduk mari menikmati sarapan pagi di kerajaan kami.." sahut Raja Argus datar


Mereka bertiga langsung duduk dan pelayan pun mengambilkan makanan mereka.


"Kau dari mana.." bisik Sergia pada Alvian yang duduk di sampingnya


"Sedari tadi bersama leader.." bisiknya pula


Sergia hanya menganggukkan kepalanya pertanda dia mengerti.


...****************...


Di wilayah black land, semua pengawal berlatih tanpa henti, tapi mereka hanya memperlihatkan wajah tanpa ekspresi. Sementara itu di sudut sana terlihat Jendral Danzo dan panglima Emma sedang memperhatikan jalannya pertandingan.


Tapi seperti ada yang berbeda dengan ekspresi wajah Jendral Danzo. Dia terlihat aneh dengan sorot mata yang terlihat kosong namun di otaknya terus mengulang-ulang kejadian yang menimpanya.


Dia melirik ke samping, tepat ke arah Emma dan dia juga melihat senyum miring dan sinis yang selalu terlontar di bibir merahnya itu.


"Perang yang sangat besar tapi saat ini ntah mengapa aku merindukan dirinya.." batin jendral Danzo miris


"Jendral, awasi terus mereka. aku ingin melihat semua eksperimen monsterku.."


"Baik, serahkan semuanya padaku.."


Emma berjalan menjauh dari jendral Danzo. Lalu dia menghela nafas panjang begitu Emma sudah tidak terlihat di balik lorong panjang tersebut.


"Sebenarnya kehidupan macam apa ini.." gumam jendral Danzo


*Ayo siapa yang bisa menebak apa yang terjadi pada jendral Danzo...


Mengapa jendral Danzo merasa aneh dengan dunianya sendiri.


**Maaf baru bisa update hari ini.


Terima kasih sudah selalu menunggu dan stay di novel ini.


I love you gays**