
Netra hitam Kania tidak bisa terpejam. Ntah apa masalahnya tiba-tiba saja perasaanya tidak enak seperti akan ada bahaya besar yang menimpa dirinya.
Malam ini, Kania memang memutuskan untuk menginap di ruangan khusus yang berada di markasnya. Dia beranjak dari kasur dan berjalan menuju meja kerjanya. Dibukanya sebuah buku yang menjadi diary yang menemani dirinya selama perjalanan menjadi Leader mafia.
Tangan lentik Kania bergerak gemulai menulis kata perkata di atas kertas putih itu. Dia menulis sebuah surat yang isinya hanya dia dan tuhan yang tau.
"Mungkin ini sudah akhirnya..." batin Kania sambil menghela nafas pasrah
Keesokan harinya, semua orang sudah berkumpul diaula. ratusan pasukan mafia berbaris rapi menunggu kedatangan sang Leader.
Tak lama pintu bercorak bunga mawar hitam itu pun terbuka dan menampilkan sosok Kania dengan Andrew yang selalu setia di sampingnya. Kania berjalan dengan langkah yang angkuh namun terlihat anggun di mata semua orang.
"Leader semuanya sudah siap." seru Robbi yang dibalas anggukan kecil dari Kania
"Aku akan mengulang kembali strategi jadi kalian dengarkan baik-baik karena aku tidak akan mengucapkan nya dua kali.." seru Kania dengan tatapan datar
"Baik Leader.." sahut semua anak buah Kania serentak
"Kita akan menyerang mansion mereka dan tim satu mengambil bagian di sebelah timur, bantai semua yang ada.." seru Kania sambil memainkan jarinya menunjuk peta sebuah mansion yang ada di layar proyektor
"Siap laksanakan Leader.." sahut pemimpin tim satu
"Tim dua, kalian berjaga di belakang mansion dan jangan biarkan siapa pun lolos dan kalian juga akan di pimpin oleh Andrew.." seru Kania
"Aku menolak.." sahut Andrew tidak terima
"Apa alasan mu menolak perkataan ku." seru Kania dingin sambil menatap Andrew dengan tajam
"Apa yang sedang kau rencanakan ini Leader, ingat aku selalu bertarung dengan mu sebagai bayangan mu. Kita selalu bersama di semua pertarungan tapi mengapa sekarang kau ingin berpisah.." seru Andrew tidak mengerti jalan pikiran gadis yang selama ini menjadi Leader nya
"Aku hanya ingin bertarung sendirian kali ini.." sahut Kania santai
"Aku sangat mengenal sifat mu leader jika sudah seperti ini maka strategi yang kau buat ini hanya sebagai pemancing dan kaulah titik pusatnya.." seru Andrew lagi dan kini malah menatap tajam Kania
"Cukup Andrew, kali ini kau akan bertarung bersama tim dua dan aku tidak terima penolakan." sahut Kania tidak terbantahkan lagi
"Tapi.."
"Cukup.." sahut Kania memotong perkataan Andrew
"Baik aku akan bertarung bersama tim dua tapi jika terjadi sesuatu yang buruk padamu maka jangan salahkan aku jika aku membunuh semua anak buahmu di Berlin.." seru Andrew dengan seringai kejamnya
Kania hanya tersenyum miring. Dia hanya mengangguk kecil sebagai jawaban dari ancaman yang diberikan oleh Andrew padanya.
"Baiklah mari kita lanjutkan, tim tiga akan berjaga di bagian barat mansion dan jangan lupa bantai saja semuanya hingga tanpa
sisa.." seru Kania
"Siap kami mengerti leader.."
"Tim empat kalian akan mengalihkan perhatian orang-orang yang berjaga di pintu utama. Sedangkan aku akan masuk dan membantai semua yang ada di dalam mansion dengan tanganku sendiri.." seru Kania sambil mengepalkan tangan kanannya dengan kuat
Dendam Kania pada Zero memang sudah mendarah daging. Bayangan wajah sang Papa yang sedang bertahan melawan anak buah Zero terngiang di pikiran Kania dan tak jarang teriakan kesakitan sang Mama ikut menimpali kesakitan sang Papa membuat Kania menggeram marah.
"Kita akan menyerang mereka di malam hari.." seru Kania lalu dia berjalan pergi meninggalkan aula
....
Tuan Zero pun sedang mengumpulkan para anak buahnya di dalam ruang khusus yang dibuat olehnya yang berada tak jauh dari mansion utama.
"Bagaimana, apa ada informasi mengenai rose blood mafia..?" tanya tuan Zero pada anak buahnya
"Menurut dari mata-mata yang dikirimkan untuk mengintai markas mereka, Rose blood mafia seperti sedang merencanakan sesuatu. hal itu terlihat dari markas mereka yang tiba-tiba sepi dan banyak orang yang berkumpul di aula dan di sana juga ada leader mereka yang ternyata seorang gadis muda.."
"Hmm.. seorang gadis muda tapi sudah menjadi leader dari mafia terkuat nomor satu di dunia.. ini menarik, kalian perketat penjagaan ntah mengapa aku merasakan sesuatu yang buruk akan menimpa mansion ini.." seru tuan Zero
"Baik tuan.."
Malam hari, disaat semua orang sudah terlelap dalam mimpi indahnya. Kania dan semua anak buahnya tengah mengepung sebuah mansion yang super mewah.
Terlihat penjagaan di sekitar mansion itu sangat ketat tapi itu bukan masalah besar untuk Kania.
"Tembak mereka.." perintah Kania pada pemimpin tim empat yang berada di sampingnya
Syuuttt
Dor...
Dor...
Dorr..
Merasa terancam para penjaga itu pun membunyikan peluit pertanda ada yang menyerang mansion sang tuan. Lalu, dari dalam mansion keluarlah puluhan orang berbadan besar dan tim empat pun keluar dari persembunyian mereka.
Baku hantam dan tembakan senjata api tidak bisa dihindari. Disaat semua orang sibuk dengan serangan tim empat, Kania menyelinap masuk ke dalam mansion.
Kania berjalan santai hingga dia tiba di ruang keluarga, dia sana dia melihat seorang lelaki paruh baya yang sedang duduk sambil menonton televisi seolah tidak merasa terganggu dengan keributan di luar mansion.
"Kau lama sekali leader, aku sudah menunggu sejak tadi.." seru pria paruh baya itu sambil membalikkan badannya menghadap Kania
Terkejut, tentu saja.
"Begitukah.." sahut Kania santai
"Tentu saja, kau mau minum apa leader..?"
"Jika aku mengatakan kalau aku ingin meminum darahmu bagaimana..?" tanya Kania dengan seringai di bibir mungilnya
Jika boleh jujur, Kania sangat membenci wajah orang yang berada di depannya kini. Wajah itu seakan mengingatkannya pada kesakitan kedua orang tuanya.
"Wah wah wah.. Kau berani sekali mengatakan hal itu pada ku leader. Tapi tidak apa-apa biasanya orang yang ingin mati itu lebih banyak bicara.." sahut tuan Zero sambil tersenyum licik
"Mati..? haha.. jangan bicara omong kosong Zero. Perkataan mu mampu membuatku tertawa haha.." seru Kania tertawa sinis
"Leader, putri bungsu dari tuan Zero tidak sengaja kami bunuh karena ingin melarikan diri.." terdengar suara pemimpin tim tiga di aerphone yang terpasang di telinga Kania
"Bawa gadis itu kepadaku.." bisik Kania pelan agar tidak di curigai oleh Zero
Kania berjalan mendekat ke arah Zero, lalu dia tersenyum miring.
"Kaulah yang akan mati terlebih dahulu pria brengse*.." geram Kania lalu memukul tengkuk Zero tapi dapat dihindari
Zero melakukan tendangan memutar tapi Kania berhasil menghindar. Kania pun tak kalah dengan pukulan tangannya yang mendarat di perut Zero hingga membuat pria paruh baya itu terpukul mundur sambil memegangi perutnya yang sakit.
Mereka terus bertukar pukulan, tendangan bahkan tembakan dengan menggunakan senjata api.
Tepat saat Zero ingin menembak Kania, dari arah samping terlempar sebuah tubuh gadis yang tidak bernyawa lagi.
Zero yang melihat itu menegang, matanya membelalak saat menyadari kalau pakaian gadis yang sudah kaku itu adalah pakaian yang dipakai putri bungsunya saat dia suruh pergi dari mansion.
"SINA....." teriak Zero lalu mendekati jasad putrinya dan memeluknya dengan berlinang air mata
"Apa yang sudah kau lakukan pada putriku gadis murahan.." teriakan kemarahan Zero menggema di dalam mansion itu
"Tentu saja membunuhnya apa kau tidak
lihat.." sahut Kania dengan santai
"Katakan, katakan padaku apa yang membuatmu menyerang mansion ku dan katakan padaku apa masalah mu padaku.." seru Zero dengan marah sambil memeluk jasad putrinya
"Baiklah aku akan mengatakannya dan ku anggap ini sebagai permintaan terakhir mu.." sahut Kania santai dengan senyum licik
"Kau masih mengingat sepasang suami istri yang kau bunuh 16 tahun lalu..?" seru Kania dingin
Zero terdiam. Dia mencoba mengingat dan saat itu matanya kembali melotot dan menatap tajam ke arah Kania.
"Apa kau putri dari Frans dan Shinta..?" tanya Zero sinis
"Sungguh hebat ingatan mu, aku tidak perlu susah-susah untuk menjelaskannya lagi." sahut Kania
"Jadi benar kau putrinya..?"
"Tentu saja dan kini aku menuntut balas atas kematian kedua orang tuaku.." seru Kania datar
"Kau sudah melakukannya terhadap putriku.."
"Oh dan aku belum puas sebelum melihatmu mati di tanganku sendiri.."
**Dor...
Dor...
Dor..
Terima kasih sudah membaca..
Jangan lupa tinggalkan jejak yah.
Di like, di rate dan di favoritkan yah..
See you**..