The World Of The Magic

The World Of The Magic
Keputusan Pangeran Ergus



Malam ini istana Emerald terlihat lebih terang dari sebelumnya. Di ruang makan sudah terlihat banyak orang yang berkumpul, mulai dari rekan-rekan Keisya, Jendral Danzo, Raja dan Ratu Emerald juga Miss Rain. Mereka menikmati makanan tanpa ada yang berbicara sesuai dengan etika kebangsawanan.


Setelah makan mereka pun menuju ke sebuah ruangan dimana disana mereka meletakkan pangeran Ergus yang masih belum sadarkan diri sejak perang tersebut.


Para rekan key sebenarnya punya banyak pertanyaan untuk gadis itu. Namun, mereka masih belum berani untuk bertanya terlebih melihat jendral dari black land itu selalu menempel pada leader mereka.


"Kapan jendral itu akan pergi..?" bisik Alina pelan kepada Sergia yang berada disampingnya


"Aku juga tidak tau. Tapi lihatlah leader bahkan tidak merasa terganggu akan kehadiran pria itu.. " sahut Sergia mendengus kesal


"Kau benar.." sahut Alina


Pintu berwarna merah itu di buka oleh pengawal yang berjaga disana setelah menunduk hormat kepada keluarga kerajaan. mereka masuk dan melihat di tempat tidur masih belum ada pergerakan yang menandakan jika pangeran Ergus akan sadar.


"Kapan dia akan sadar..? " tanya Raja Argus pada seorang tabib yang ditugaskan untuk merawat pangeran Ergus


"Maaf yang mulia seharusnya pangeran sudah akan sadar hari ini. mungkin beberapa menit lagi dia akan sadar.. " sahut tabib tersebut sopan


Key berjalan menuju ranjang dan memegang dahi pamannya lalu tak lama sinar hijau menyelimuti pangeran Ergus. Sinar itu sama seperti sinar yang Key keluarkan disaat menyembuhkan ibunya waktu melahirkan dirinya.


Tak lama kemudian pangeran Ergus pun membuka matanya dengan perlahan. Yang pertama kali dia lihat hanya langit-langit ruangan yang berwarna putih. Lalu telinganya mendengar suara-suara yang begitu familiar di telinganya.


"Ergus.. bagaimana keadaanmu, apakah masih ada yang sakit, kalau benar kau bisa mengatakannya pada tabib.. " seru Raja Argus bertubi-tubi


Pangeran Ergus menatap Raja Argus dengan tatapan rumit. Jauh di dalam hatinya ada rasa bersalah karena telah memusuhi kakak yang sangat menyayanginya itu.


"Kakak aku baik-baik saja.. " lirihnya pelan


"Kalau ada apa-apa kau bisa mengatakannya padaku, apapun yang kau inginkan pasti akan aku kabulkan. Meskipun kau menginginkan tahta aku takkan ragu untuk memberikannya.. "


"Tidak.. Tidak, tahta itu milik kakak seharusnya aku tidak melakukan hal ini pada kakak dan seluruh rakyat white land. aku... aku benar-benar minta maaf.. " seru Pangeran Ergus menunduk sedih dan meminta maaf dengan tulus


"Baguslah jika kau menyadari kesalahan mu.. " seru Key sinis sambil menatap pamannya tajam


"Keisya.. " lirih pangeran Ergus


"Ya.. "


"Maafkan paman sudah menyerang mu waktu kau membebaskan rakyat desa itu.. "


"Paman menyadari itu aku..? "


"Tidak juga, aku mulai menyadari itu pada saat kau menyerang ku dan kak Argus waktu itu.. "


"Jadi gadis bertopeng itu kau Keisya.. " seru Raja Argus sambil melihat Keisya tajam


"Kalau emang benar ayah ingin melakukan apa..? " tantang Keisya


"Jangan menantang orang tuamu dasar gadis nakal.. " ketus jendral Danzo


"Lalu kau ingin apa hah, kau ingin berduel denganku. ayo lakukan sekarang akan ku pastikan kau tetap tidak bisa mengalahkan ku.. " seru Keisya sambil berkacak pinggang


Entah kenapa mereka merasakan perubahan Keisya semenjak berdekatan dengan jendral Danzo. Keisya yang sekarang jauh lebih banyak menunjukkan ekspresi nya di depan banyak orang. dia lebih banyak berbicara dan sedikit lebih hangat.


"Hei lihat aku sekarang sudah lebih bisa mengendalikan kekuatan ini jadi mari berduel akan ku pastikan kau kali ini kalah.. " sahut Danzo dengan kesal


"Mari berduel dasar kepala batu.. "


"Ayo sekarang dasar leader sinting.. "


"Ehem.. "


Perdebatan itu terhenti saat deheman dari Raja Argus mengintrupsi mereka.


"Bisakah kalian berhenti berdebat, aku sedang berbicara dengan Ergus.. " seru Raja Argus dengan dingin


"Huft salahkan dia saja ayah.. "


"Salahkan key saja yang mulia.. "


"Kau, berani menyalahkan ku hah.. " raut wajah marah dan kesal itu terpantri di wajahmu key yang cantik


"Tentu saja, memangnya siapa lagi yang berani memarahimu selain aku.. "


"Hah hanya kau yang berani padaku, entah apa yang terjadi pada otak kecilmu itu.. "


"Jangan menghina otakku, aku adalah pembuat strategi paling efektif yang pernah ada di markas.. "


"Yayaya, walaupun berat harus ku akui kau memang hebat.. " sahut key merotasikan bola matanya


Danzo tersenyum penuh kemenangan karena ucapan Keisya. Dia menepuk-nepuk kepala Keisya pelan seperti yang sering dia lakukan dulu saat waktu di dunia modern.


"Jadi apa yang kau inginkan tuan putri..? " tanya Danzo lembut


"Hanya 1 permintaan, bisakah kau mengabulkannya..? " tanya Keisya balik


"Katakan saja, bukankah selama ini aku selalu mengabulkan apapun yang kau minta walau itu sulit.. "


Keisya tersenyum lebar lalu menepuk pundak Danzo "Tetaplah bersamaku, melindungiku, dan menjadi tempatku untuk pulang setelah istana dan hutan white land.. "


Permintaan Keisya itu membuat banyak pasang mata menoleh dan menatap mereka berdua dengan berbagai macam ekspresi. Alvian yang berada disana dan menyaksikan permintaan Key yang seperti itu mendadak menunduk sedih. Dia yang selalu berharap Keisya meminta hal itu padanya nyatanya tidak akan pernah mendapatkannya. Seseorang yang menjadi musuh lah yang mendapatkan hal berharga itu.


"Tentu aku akan melakukannya tuan putri, bukankah selama ini aku melakukan permintaan mu itu dengan baik.. " seru Danzo terkekeh ia pikir Keisya akan meminta hal aneh padanya tapi ternyata tidak


"Terima kasih sudah kembali hadir menemuiku, Disini aku tak punya temen yang mengerti dan memahami ku. bahkan dulu pu seperti itu, hanya kau yang tahan dan selalu bisa membuatku memperlakukan mu istimewa.. " ucap Keisya


"Aku sungguh tersanjung, saat pertama kali melihatmu aku tau bebanmu tak main-main. Tak ada yang berani mendekat kearah es yang masih trauma akan kepercayaan pada orang lain. Jadi aku putuskan untuk mengajakmu bermain dan jadilah kita teman hingga kini.. " kekeh Danzo saat bayangan masa kecil mereka berkelibat di dalam bayangannya


"Apakah kalian sudah lama saling mengenal..? " tanya Ratu Azusa


"Benar yang mulia Ratu, aku mengenal Keisya jauh sebelum dia mengenal Draka.. " sahut Danzo


Semuanya mengangguk paham, sekarang mereka semua mengerti mengapa Keisya begitu terlihat akrab dan terlihat hangat saat bersama dengan sang Jendral black land.


Kemudian Keisya pun menatap ke arah pamannya dengan tajam. Dia melipat tangan du dada.


"Lalu apa yang akan paman lakukan kedepannya..? " tanya Keisya


Ergus menutup matanya lalu membukanya lagi dengan perlahan "Aku ingin berkelana menjelajahi dunia magical ini.. " sahutnya mantap


"Tidakkah kau ingin menemaniku memerintah kerajaan Emerald ini adik..? " tanya Raja Argus lagi


Pangeran Ergus menggeleng kecil "Tidak kak, kerajaan ini dan seluruh rakyat sudah tidak membutuhkan ku sejak aku memilih untuk pergi. Jadi aku akan tetap pada keputusanku yang akan menjelajahi dunia ini. lagipula kerajaan ini nantinya akan dipimpin oleh seorang Ratu yang kuat dan bijaksana, bukan begitu Keisya.. "


Key hanya tersenyum tipis, sekarang dia yakin untuk memimpin kerajaan ini setelah melihat semua perjuangan rakyatnya. Dia ingin melihat tawa mereka dan ingin membuat dunia ini berkembang dengan ia yang memimpin.