
"Bagaimana persiapan dari eksperimen mu Emma?" tanya Raja Ergus pada sang panglima yang saat ini sedang berada di depan monster-monster yang baru diciptakan
"Hampir selesai yang mulia. Aku membuat banyak sekali monster untuk menjadi pasukan tambahan pada perang nanti." sahut Emma disertai senyum miringnya
"Kerja yang bagus.." seringai Raja Ergus
"Salam yang mulia.." seorang pengawal berlutut di bawah singgasana Raja Ergus
"Ada apa?"
"Seseorang ingin bertemu dengan anda dan dia mengatakan dirinya seorang peramal yang mulia."
"Biarkan dia masuk." perintah Raja Ergus
"Baik yang mulia.."
Tak lama setelah pengawal tersebut keluar, masuklah seseorang yang disebut peramal. Sang peramal itu mengenakan jubah hitam dengan tudung yang menutupi sebagian wajahnya, yang terlihat hanya hidung dan bibir merahnya yang tipis.
"Salam yang mulia.." sapanya sambil menunduk
"Tidak usah basa basi, apa yang akan kau sampaikan peramal?" seru Raja Ergus dengan sombong
Peramal itu tekekeh dengan nada sombong yang keluar dari mulut sang Raja.
"Apa yang kau tertawakan?" marah Raja Ergus
"Jangan terlalu sombong yang mulia, karena kesombongan itu yang akan menghancurkan anda secara perlahan."
"SIAPA KAU BERANI SEKALI MENJAWAB UCAPANKU." teriak Raja Ergus murka
"Sebaiknya kau menundukkan kepala mu peramal tua, jika tidak aku sendiri yang akan memenggal kepala busuk mu itu." seru Emma mengancam
"Jangan terburu-buru panglima Emma, aku hanya mengungkapkan apa yang ada di otakku saat pertama kali datang kesini."
"AKU TIDAK PEDULI APA KATAMU BEDABAH."
"PENGAWAL SERET DIA DAN MASUKKAN KE PENJARA BAWAH TANAH."
Sebelum pengawal itu datang menyeretnya si peramal itu mengucapkan sederet mantra kuno lalu menghilang dari hadapan semua orang.
"BEDEBAH" teriak Raja Ergus terengah engah menahan emosi.
"INGATLAH YANG MULIA, SUATU SAAT NANTI ANDA AKAN KALAH KARENA KEEGOISAN ANDA SENDIRI.." suara itu menggema seiring perginya sang peramal
***
"Astaga, kau membuatku dalam bahaya Key." seru seseorang pada Key yang sedari tadi memandangnya dengan tatapan yang tidak dapat di artikan
"Apa yang bibi dapatkan?"
"Kau masih menanyakan apa yang aku dapatkan? Dasar keponakan kurang ajar, dapat keluar saja dari sana bibi mu ini sudah sangat bersyukur."
"Oh, ayolah jangan terlalu berlebihan bibi Rain Aku sedang malas berdebat dengan mu, katakan saja apa yang kau dapatkan disana?"
"Tidak banyak Key. Ergus sangat mudah dipancing emosinya lalu yang lain Emma sudah mulai merakit monster-monster untuk membantu mereka dalam pertempuran nanti, dan sepertinya eksperimen kali ini lebih berbahaya daripada yang sebelumnya."
"Sudah ku duga itu akan terjadi bi.."
"Lalu apa rencana mu?"
"Ntahlah, aku belum menemukan cara yang tepat untuk membasmi hama-hama itu.."
"Haha... Julukan mu pada mereka terdengar keren."
"Bantu aku bi, menyusun rencana untuk bisa memisahkan Emma dari pertempuran nanti. Karena jika dia ikut perang itu akan berakibat buruk untuk pasukan kita. Dia bisa menghancurkan pasukan kita hanya dengan menjadikan mereka kristal.."
"Astaga aku melupakan fakta itu." kejutnya yang melupakan fakta jika Emma memiliki kekuatan kristal dan dia temasuk penyihir nature bander
Yah, yang menyusup ke kerajaan black land dan menyamar sebagai peramal tadi adalah Miss Rain. Key sengaja memerintahkan bibinya itu untuk mencari informasi terbaru dari sarang musuh. Awalnya Miss Rain tidak mau karena dia takut ketahuan dan tidak bisa kembali ke white land lagi. Tapi apalah daya jika Key sudah memaksa dan menjamin keselamatannya selama berada di wilayah black land, mau tidak mau dia harus menurut.
"Sepertinya kita tidak menemukan jalan untuk menangani Emma Key.."
"Kita pasti punya jalan bi, hanya saja untuk saat ini kita belum menemukannya."
"Semoga saja apa yang kamu katakan itu benar Key."
"Pasti bi.."
"Kalau gitu bibi kembali ke academy dulu, kamu jaga kesehatan selama tidak berada di dekat bibi."
"Tentu saja bi, dan selalu beri tahu aku jika ada kejanggalan di academy."
Setelah kepergian Miss Rain datanglah keempat rekan Key yang akan memberitahukan laporan mengenai misi mereka.
"Leader..." sapa mereka
Key menolehkan kepala lalu melompat dari atas pohon dan mendarat dengan sempurna diatas tanah.
"Bagaimana dengan misi kalian?" tanya Key to the point
"Ada beberapa wilayah yang warganya hilang misterius disebabkan oleh penyihir black land leader.." seru Sergia
"Hilang misterius?"
"Iya, beberapa ada yang melihat dan mengatakan bahwa mereka yang menghilang terlihat menurut pada penyihir black land.."
"Oh, sihir manipulasi ya.." lirih Key menyeringai
"Sihir manipulasi? Maksud anda mereka menggunakan sihir itu untuk memanipulasi pikiran para warga?" tanya Alvian
"Hmm.."
"Berarti selain penyihir kristal itu ada lagi yang lainnya leader.." seru Alina
"Iya, kekuatan itu pasti milik jendral Danzo."
"Anda mengenalnya?" tanya Zou
"Tentu saja, dia jendral terkuat di black land."
"Lalu apa yang harus kita lakukan leader?" tanya Sergia
"Untuk saat ini yang bisa kita lakukan adalah memperkuat pertahanan. Kita harus bisa melindungi warga. Dan aku juga sudah menyebar teman temanku ke semua penjuru white land."
"Baiklah leader. Kami akan kembali melatih kekuatan agar bisa bersaing dengan penyihir black land nantinya." kata Zou
"Berhati-hatilah..."
"Iya leader.."
Keempat remaja itu pun pergi dari hadapan Key dengan teleport meninggalkan Key dalam kesunyian dan beban pikiran yang menumpuk.
"Apa yang harus kulakukan dewa, mengapa aku belum juga menemukan satu pun petunjuk untuk masalah ku ini.." lirih Key menatap langit biru yang dihiasi awan.
Key menghembuskan nafas kasar dan mengusap wajahnya dengan kasar kemudian menghilang dari hutan white land.
***
"Ibu.." lirih Key dingin saat tiba di ruang singgasana di istana Emerald kemudian dia jatuh terduduk dibawah singgasana membuat Raja dan Ratu khawatir
"Astaga Key, apa yang terjadi nak? Mengapa kau seperti ini? Wajah mu pucat, apa yang membuat mu kelelahan? Ada apa ini sayang." panik Ratu Azusa memberondong sang putri dengan berbagai pertanyaan sambil mengelus rambut coklatnya
"Aku lelah bu.." lirih Key membuat Ratu Azusa sedih ini kali pertama dia melihat sang putri begitu terbebani
"Minggir Azu, biar ku bawa putri kita kekamarnya." kata Raja Argus
Raja Argus menggendong Key dengan sangat hati-hati, dia juga dapat melihat ada masalah besar yang ditanggung anaknya hingga membuat sang putri kelelahan.
"Ada apa nak?" tanya Raja Argus setelah meletakkan Key dengan telaten diatas kasur
Key menatap ayah dan ibunya bergantian "Aku lelah ayah, penyihir-penyihir black land itu tidak membiarkan ku istirahat barang sebentar saja."
Ratu Azusa duduk diatas kasur dan mengelus lembut surai corak putrinya "Bersabarlah sayang, ibu yakin kamu pasti bisa menghadapi ini semua. Ada ibu, ayah, bibi Rain, rekan-rekan mu dan juga semua penghuni negeri magical bersama mu nak bersama kedamaian yang akan kau bawa untuk kami..."
"Terima kasih ibu. Aku menyayangi ibu dan ayah. Selalu lah bersama ku tanpa kalian aku tidak tahu akan mengadu pada siapa nantinya." lirih Key dengan dingin tapi disertai senyum simpulnya membuat Raja dan Ratu terharu
"Pasti sayang. Mana mungkin ayah dan ibu membiarkan putri kesayangan kami berjuang sendirian." seru Raja Argus
"Terima kasih ayah.."
"Tidak perlu berterima kasih sayang, apa pun untuk mu." kata Raja Argus
"Sekarang istirahatlah, ibu tau kau sangat lelah." Ratu kemudian menaikkan selimut Key sebatas dadanya dan tersenyum manis meninggalkan Key yang masuk ke alam mimpi.
Selesai...
Jangan lupa vote dan comment..
Merci.