
Quella sudah sampai di rumahnya sekitar jam setengah dua siang. Ia memasak makan siang terlebih dulu, kemudian baru membersihkan dirinya. Seperti itulah kegiatannya usai kuliah. Memasak, mandi, makan siang dan setelahnya tidur siang. Kegiatan itu berlangsung saat Quella tidak punya kegiatan lain di luar rumah.
Ting...
Sebuah pesan grup dari Wileen masuk. Quella segera membuka dan membacanya.
[Wileen💬: @Zelda, @Quella, udah di rumah?]
[***Zelda💬: Gue lagi ketemu Honey. Gak tahu sama Quella, udah nyampe atau belum]
[Wileen💬: Jadi Quella pulang sendiri? Parah lo!]
[Zelda💬: Yah gimana? Soalnya gue gak bisa nahan rindu sama honey]
[Wileen💬: Iya terus Quella di korbankan. Dasar bucin akut***!]
Quella langsung mengetikkan balasannya mendahului Zelda.
[Udah gakpapa, Wil. Gue udah biasa jadi korban Zelda]
[Zelda💬: Nah Quella aja gak masalah. Seharusnya lo juga gak masalah, kan Wil?]
[Wileen💬: Ya-ya terserah lo aja. Oh ya @Quella, nanti jam 4 gue jemput. Terus lo @Zelda, jadi ikut gak jalan atau masih mau melepas rindu sama honey lo itu?]
[Oke]
Quella membalas dengan singkat.
[Zelda💬: Jadilah. Lo jemput juga ya! Males nyetir sendiri]
[Wileen💬: Sip. Lo pada siap-siap aja entar. Jangan buat gue nunggu lama. Oke guys?]
[***Zelda💬: Okeee]
[Oke***]
Setelah memberikan balasan, Quella meletakkan ponselnya di atas meja. Ia membereskan bekas alat makannya serta mencucinya. Kemudian ia mengambil kembali ponselnya dan berjalan menuju ke kamar. Di lihat jam baru menunjukkan pukul 2 lebih, masih ada waktu untuknya tidur siang. Quella paling tidak bisa kalau tidak tidur di siang hari, kecuali ada kegiatan di luar rumah. Baginya tidur siang itu keharusan agar waktu luangnya tidak terbuang sia-sia.
"Sebaiknya aku aktifkan alarm. Biar tidak bangun sebelum Wil datang," gumamnya sembari mengaktifkan alarm di ponselnya. Ini karena di kamarnya tidak memiliki jam alarm.
Usai mengaktifkan, Quella meletakkan ponselnya di atas nakas di samping ranjang. Tidak lupa pula mengatur suhu AC di kamarnya. Sebelum ia berbaring dan dengan perlahan memejamkan matanya.
***
"Lama banget sih bukain pintu," gerutu Wileen usai Quella membukakan pintu.
Quella sudah tampak siap dengan sweeter hitam di lapisi outer putih dan celana kulot berwarna hitam sama. Sedangkan sepatu yang di pakainya berwarna putih, sama seperti topi yang terpasang di kepalanya. Cantik. Apalagi rambutnya yang panjang di biar tergerai, serta polesan make up tipis di wajahnya. Itu menambah kesan cantik dan manis perempuan seusianya.
"Sorry, Wil. Gue tadi lagi masang sepatu," ucap Quella terus terang.
"Ya baiklah. Sekarang ayo berangkat!" Wileen tidak ingin ambil pusing masalah tadi dan segera mengajak Quella untuk ke mobilnya.
Quella mengunci pintu rumahnya terlebih dulu, sebelum berjalan masuk ke mobil Wileen. Tidak ingin membuang waktu lagi, Wileen langsung menancap gas. Mobilnya melaju dengan kecepatan rata-rata meninggalkan halaman rumah Quella. Wileen mengemudikan mobilnya mengarah ke rumah Zelda. Sahabat mereka itu pasti juga sudah menunggu. Jarak tempuh ke rumah Zelda berkisar 20 menit dan sesampainya di sana, tampak perempuan itu tengah duduk di kursi yang ada di teras rumahnya.
Tittt...
Wileen membunyikan klakson mobilnya karena malas turun. Sontak Zelda langsung menatap ke arah mobil Wileen.
"Zelda cepat masuk!" teriak Wileen dari dalam mobil.
"Ya-ya, aku segera ke sana!" sahut Zelda bergegas mengambil tasnya dan berlari kecil menuju mobil Wileen. Kemudian ia masuk ke dalam.
"Les't go!" sambungnya sedikit memekik dan sangat bersemangat.
"Yeah!"
Wileen kembali melajukan mobilnya. Tujuan pertama mereka sekarang adalah mall yang berada di tengah kota. Wileen ingin berbelanja, begitu pula dengan Zelda. Ah kedua sahabat Quella itu sangat senang berbelanja. Sebaliknya, Quella hanya ikut saja daripada bosan di rumah. Tidak perlu waktu lama untuk sampai ke sana, hanya sekitar 15 menit. Mereka segera turun usai mobil Wileen berhenti di parkiran Mall.
"Oke kita belanja dulu. Terus kita nonton bioskop. Gue denger ada film baru yang ceritanya seru," ucap Wileen begitu bersemangat. Rasanya perempuan itu tidak pernah menunjukkan sikap sebaliknya.
"Gue juga udah denger dan lihat trailernya. Seru sih. Ada percampuran genre romantis-action," timpal Quella membenarkan ucapan Wileen.
"Wah gue kok belum denger ya," celetuk Zelda yang sama sekali tidak tahu tentang adanya film baru.
"Iyalah belum denger. Kerjaannya sibuk pacaran mulu," sindir Quella langsung di tertawakan Wileen.
"Bener banget, hhahaha..."
"Biarin. Suka-suka gue lah," balas Zelda sembari mengibas-ngibaskan tangannya.
"Yeee. Yuk masuk!" ajak Wileen pada kedua sahabat bedanya itu.
Mereka bertiga pun segera berjalan memasuki bangunan Mall. Seperti biasanya, Mall tampak ramai akan pengunjung. Baik itu anak-anak, maupun orang tua. Mereka terlihat bersenang-senang. Begitu pula dengan Quella, Zelda dan Wileen yang mulai bersenang-senang mengelilingi Mall tersebut. Mereka masuk dari satu toko ke toko lain untuk sekedar melihat atau membeli barang. Kegiatan yang menyenangkan. Apalagi jika di lakukan bersama orang terdekat seperti ini. Semua pikiran tersingkirkan sejenak dan itu selalu di rasakan Quella. Terlepas dari kesendiriannya, ada orang-orang yang mampu membuat pikirannya teralihkan seperti sekarang.
"Eh guys, bantu gue dong!" seru Wileen tiba-tiba saat berada di sebuah toko aksesoris bermerek terkenal.
"Hari ini nyokap gue ulang tahun. Kemarin gue lupa beliin kado saat liburan. Bisa ribet urusannya kalau gue gak kasih kado. Lo pada tau kan gimana nyokap gue? Jadi bantuin gue pilih tas buat kado nyokap! Pleaseee," jawab Wileen panjang lebar dan tidak lupa pula memasang raut wajah memelas.
"Astaga. Parah lo! Bisa-bisanya lo lupa soal sepenting itu," Quella menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar Wileen melupakan hari spesial mamanya sendiri.
"Iyalah lupa. Kan, Wil sibuk cuci mata saat liburan. Gak heran sih gue kalau ulang tahun nyokap sendiri lupa," sindir Zelda yang membuat Wileen merenggut kesal.
Wileen menyenggol pelan lengan Zelda. "Apaan sih. Gue lupa bukan karena itu. Tetapi ya..."
"Tetapi apanya? Tinggal iyain aja, apa susahnya? Gue sama Quella dah hapal kelakuan lo. Benar, kan?" sela Zelda memberikan tatapan isyarat pada Quella.
"Yaps," balas Quella singkat.
"Huh ayolah! Kalian mau bantu gue atau terus nyindir sih?" akhirnya Wileen hanya bisa merengek karena kehabisan kata-kata untuk melawan kedua sahabatnya itu.
"Iya-iya, kita bantu!" sahut Quella yang berhasil membuat Wileen berhenti merenggek.
"Serius?" Wileen bertanya memastikan.
"Iya bestieeee. Kapan sih kita nolak bantu lo," jawab Zelda gregetan.
"Aaa makasihhh. Sayang banget deh sama kalian," pekik Wileen langsung memeluk singkat Quella dan Zelda.
"Dah yuk pilih! Lo mau kasih kado apa?" tanya Quella usai Wileen melepaskan pelukannya.
Wileen tampak berpikir sejenak. "Gue pikir, nyokap perlu tas baru,"
"Ya kalau gitu kita pergi ke toko tas di lantai dua Mall ini. Di sana lagi ada tas keluaran terbaru," ucap Zelda menimpali.
"Oke deh. Les't go!"
Kemudian mereka bertiga pergi ke lantai dua, lebih tepatnya ke salah satu toko tas bermerek terkenal. Di sana sudah ada sebagian pengunjung yang sedang melihat-lihat koleksi tas toko itu. Quella, Zelda dan Wileen pun segera melakukan hal yang sama. Cukup lama, sampai akhirnya mereka bertiga memilih tas yang sama. Sebuah tas berwarna hitam dengan ukuran sedang dan desain simpel. Cocok untuk di pakai semua kalangan. Tas keluaran terbaru dari merek toko itu. Wileen langsung membayarnya dan tas itu langsung di bungkus layaknya kado.
"Terima kasih," ucap Wileen sembari mengambil paperbag berisi tas tadi.
"Sama-sama, nona!" sahut pelayan toko itu dengan ramah.
Wileen bergegas menghampiri Quella dan Zelda yang sudah menunggu di luar toko.
"Setelah ini mau kemana?" tanya Quella pada kedua sahabatnya itu.
"Nonton. Sebentar lagi filmnya tayang," jawab Wileen yang tengah memegang beberapa paperbuag belanjaannya.
"Hei, gimana kalau makan dulu? Gue dah laper nih!" usul Zelda dengan wajah memelas.
"Yaudah kita makan dulu. Masih ada waktu juga, kan?" Quella menatap intens Wileen. Perempuan itu mengangguk.
"Iya ada, sekitar 30 menit lagi. Memang sebaiknya kita isi perut dulu. Biar nontonnya fokus," sahut Wileen yang baru saja memeriksa jam tangannya.
"Di sana ada restoran japanse. Makan di sana, yuk!?" Zelda menunjuk ke arah seberang dari tempat mereka berdiri.
"Terserah deh,"
Mereka bertiga mulai berjalan menuju restoran yang tadi Zelda tunjuk. Di sela berjalan, ketiganya sibuk melihat ke arah lain. Sampai tidak sadar bahwa ada seseorang di depan yang juga berjalan ke arah mereka sembari memainkan ponsel. Akhirnya orang itu tanpa sengaja menabrak Quella.
Brukkk...
Beruntung orang itu langsung menangkap lengan Quella. Jika tidak, Quella pasti sudah kehilangan keseimbangan. Sementara itu, Zelda dan Wileen terkejut akan kejadian tersebut.
"Quella!" seru Zelda lebih dulu. Sedangkan Wileen yang terkejut, lantas berniat untuk memaki si penabrak Quella.
"Lo apa-apaan..." Wileen menggantungkan ucapannya saat melihat wajah dari si penabrak.
"Maaf. Aku gak sengaja!" seru orang itu pada Quella yang sedang tertunduk. Suaranya membuat Quella mendongakkan kepala.
"Lo?" sentaknya.
"Eh, hai kak! Maaf soal ini. Aku gak sengaja. Beneran," orang itu memperlihatkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V.
"Gakpapa. Gue juga salah kok," sahut Quella yang segera membenarkan posisi berdirinya di bantu oleh orang itu.
"Lo kenal dia?" tanya Zelda sebab Quella tampak terkejut dengan keberadaan orang itu.
"Dia, Gerald. Mahasiswa baru di fakultas teknik mesin. Mahasiswa satu tingkat di bawah kita," jawab Quella memperkenalkan orang itu.
"Hai, kak!" sapa Gerald dengan senyuman manisnya. Senyuman memesona dan bikin meleleh. Wileen berusaha menahan diri untuk tidak salah tingkah, sama halnya dengan Zelda.
Benar sekali. Orang yang baru saja menabrak Quella adalah Gerald. Laki-laki itu tengah memegang sebuah paperbag di tangan kirinya. Sepertinya memang habis belanja.
"Hai! Gue, Zelda. Mahasiswa fakultas Bussines Management. Kalo mau ketemu gue, cari aja ke fakultas. Sebut nama gue dan semua orang pasti tahu. Gue juga selalu ada di kampus setiap hari kecuali hari libur dan tidak punya kegiatan," ucap Zelda dengan percaya dirinya. Si paling narsis emang.
"Yeee dasar narsis!" cetus Wileen menyenggol kuat lengan Zelda.