
Sementara itu, Zelda sudah berada dalam perjalanan menuju rumah sakit yang di sebutkan. Bersamaan dengan ia mencoba menghubungi Wileen berulang kali tapi tidak di angkat sama sekali. Ia mengeram kesal di tengah kepanikannya memikirkan keadaan Quella.
"Sial! Kemana sih Lo, Wil!? Gak tau apa gue lagi panik banget kaya gini," umpatnya memukul keras setiran mobilnya.
Zelda melempar ponselnya ke kursi samping. Tidak peduli lagi akan keberadaan Wileen dimana, ia harus segera datang dan melihat sendiri bagaimana keadaan Quella. Ia mengemudikan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Setiap mobil atau pun kendaraan lain yang ada di depannya, langsung di lewati begitu saja. Meski begitu, ia tetap memastikan keselamatan. Panik boleh tapi jangan sampai membuat diri sendiri atau orang lain celaka. Apalagi jalanan cukup ramai, tentu harus berhati-hati dalam mengemudikan mobil.
Drttt... Drttt... Drttt...
Terdengar suara ponselnya berdering. Zelda menurunkan kecepatan mobilnya terlebih dulu, kemudian mengambil ponselnya. Di lihat nama Wileen tertera di layar sebagai si penelepon. Zelda memasang earphone miliknya dan langsung mengangkat telepon dari Wileen.
"Lo kemana saja sih, Wil!? Dari tadi gue telepon gak di angkat-angkat," cerocos Zelda mendahului si penelepon.
[Wileen📞: Gue tadi ada urusan. Memangnya ada apa sih? Lo lagi kurang kerjaan, ya?]
"Mata lo yang kurang kerjaan! Gue lagi panik, Wileen. Sangat panik, tahu gak!?" Zelda memekik kesal. Tidak bisakah sahabatnya itu mengerti perasaan panik yang sedang ia rasakan.
[Wileen📞: Mana gue tau, kalau Lo belum beritahu]
Zelda menggertakkan giginya, menahan kekesalan yang membuncah. "Gue panik karena ada keadaan darurat, Wileen!"
[Wileen📞: Memangnya ada keadaan darurat apa? Sampai bikin Lo panik kaya gini]
"Ya paniklah, dengar Quella masuk rumah sakit!" seru Zelda dengan cepat.
Sama seperti reaksinya saat pertama kali mendapat kabar itu, Wileen terdengar terkejut di seberang telepon.
[Wileen📞: Hah--Apa?]
"Gue bilang Quella masuk rumah sakit, Wileen!" Zelda memberitahukan kabar itu sekali lagi pada Wileen tapi penuh nada penekanan.
"Lo sekarang budek, ya?" sambungnya terlampau kesal.
[Wileen📞: Serius Lo? Gak lagi bercanda, kan? ]
"Astaga. Gue serius, Wil! Masa gue bercanda di saat seperti ini,"
[Wileen📞: Kok bisa? Maksudku bagaimana bisa Quella masuk rumah sakit? Apa yang terjadi?]
Zelda berdecak kesal. Andai Wileen sekarang berada tepat di dekatnya, pasti sudah ia pukul saking merasa kesalnya. "Daripada Lo banyak tanya dan bikin gue tambah kesal, mending sekarang Lo susul gue ke rumah sakit xxxxx. Ingat sekarang!"
Tuttt...
Setelah itu Zelda mematikan teleponnya secara sepihak. Bisa-bisa kekesalannya semakin bertambah kalau berbicara dengan Wileen. Perlahan ia menarik nafas, lalu di hembuskan secara kasar. Zelda melakukannya untuk menetralkan kepanikan, sekaligus kekesalan yang ada dalam dirinya.
"Huffft... Tenang, Zelda. Tenang. Quella akan baik-baik saja! Ya itu pasti!" gumamnya pelan.
Zelda kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Hingga tanpa terasa kini ia telah sampai di rumah sakit yang di maksud. Mobil Zelda segera masuk dan berhenti tepat di parkiran rumah sakit. Ia pun bergegas turun dari mobil sembari membawa tas kecil miliknya. Tujuan pertamanya saat memasuki gedung rumah sakit adalah ke bagian administrasi. Di sana dengan mudahnya Zelda bisa menemukan di ruangan mana Quella masuk.
"Terima kasih," ucapnya pada perempuan yang baru saja memberitahunya informasi soal Quella.
"Sama-sama, nona!"
Kini Zelda sedang berjalan cepat menuju ruang UGD. Dimana letaknya tidak berada jauh dari tempat bagian administrasi tadi.
"Hei! Apa kalian yang membawa Quella tadi?" tanya Zelda, usai sampai di hadapan ketiga orang yang tampak jelas tengah khawatir.
Ketiga orang itu menatap Zelda dengan seksama. Sebelum ketua pelaksana berdiri dari tempat duduknya.
"Apa kau keluarganya?" tanya balik ketua pelaksana.
"Ah benarkah?" ketua pelaksana tersentak kaget.
"Heum. Bagaimana keadaan Quella?"
Ketua pelaksana saling beradu pandangan dengan kedua mahasiswa lainnya. Lalu kembali menatap ke arah Zelda.
"Quella masih di tangani dokter di dalam. Kita tunggu saja! Mungkin sebentar lagi kita akan mendapatkan kabar dari dokter atau perawat," ucap ketua pelaksana sebenarnya.
Raut wajah Zelda perlahan berubah, bersamaan hembusan nafasnya yang kembali terdengar kasar.
"Baiklah,"
"Duduklah!" seru ketua pelaksana pada gadis itu.
Zelda menganggukkan kepala dan segera duduk di kursi kosong. Begitu pula dengan ketiga orang tadi yang duduk kembali. Seketika suasana mendadak hening tanpa suara. Mereka berempat sibuk dalam pikiran masing-masing. Sampai akhirnya pintu UGD terbuka, sontak mereka langsung berdiri.
"Keluarga nona Quella!?" sebut seorang laki-laki paruh baya yang baru saja keluar dari ruangan UGD. Dari tagname-nya dapat di ketahui bahwa ia adalah seorang Dokter.
"Saya, dok!" sahut Zelda mengangkat tangan.
"Bisa ikut ke ruangan saya sebentar?" tanya Dokter tersebut.
"Baik, Dok!" jawab Zelda.
Zelda hanya melirik ketiga orang yang sedari tadi menemaninya. Tanpa di beritahu pun, mereka cukup mengerti. Sehingga ia langsung berjalan pergi mengikuti Dokter yang telah selesai menangani Quella di ruangan UGD.
Di ruangan Dokter
"Silahkan duduk, nona!" seru Dokter tersebut mempersilahkan Zelda duduk di kursi yang tersedia di ruangannya.
"Terima kasih, Dok,"
Zelda segera duduk di kursi itu, begitu pula Dokter tadi. Kini mereka saling duduk berhadapan. Dengan sebuah meja kerja berukuran sedang berada di antara mereka.
"Jadi begini, saya sudah melakukan pemeriksaan terhadap nona Quella. Terjadi pendarahan begitu hebat di kepalanya. Saya berhasil menghentikan pendarahan itu," jelas Dokter itu the to point. Raut wajahnya tampak serius.
Mendengar penjelasan dari Dokter itu, Zelda menghela nafas lega. Namun kelegaannya hanya sekejap, saat Dokter itu kembali berbicara.
"Tapi tindakan saya itu mungkin hanya bisa untuk sementara waktu,"
"Sementara waktu?" ulang Zelda sedikit tersentak.
Dokter tersebut menganggukkan kepala. "Benar--Sementara waktu,"
"Maksudnya apa, Dok?" Zelda tidak mengerti maksud dari ucapan laki-laki paruh baya itu.
"Pendarahan yang nona Quella alami begitu hebat. Sementara ini saya hanya berhasil menghentikan pendarahannya dari luar. Perlu tindakan operasi untuk bisa menghentikan pendarahan yang terjadi di dalam kepala nona Quella. Jika itu tidak di lakukan, kemungkinan besar akan mengakibatkan pembengkakan jaringan di otak yang berada di dekat pendarahan terjadi. Dimana pembengkakan ini bisa menyebabkan terhalangnya aliran darah. Hal itu akan membuat sel-sel otak mati atau merusak jaringan otak lainnya," ucap Dokter itu berdasarkan hasil pemeriksaan.
"Apa!? Operasi? Haruskah itu di lakukan, Dok? Apa tidak ada jalan lain?" Zelda mengajukan pertanyaan dengan beruntun akibat rasa terkejutnya.
"Harus, nona. Kita tidak punya pilihan lain lagi. Jika operasi tidak di lakukan, mungkin nona Quella akan tidak bisa lagi menggerakkan anggota tubuhnya. Bahkan bisa kehilangan nyawa,"
Zelda semakin merasa terkejut dan syok mendengar penjelasan Dokter itu. Kedua kemungkinan akibat yang Dokter itu katakan sangat buruk. Bagaimana bisa ia tega melihat sahabatnya mengalami hal itu? Tidak! Itu tidak boleh terjadi.
"Lalu bagaimana kalau operasi di lakukan? Apa besar kemungkinan untuknya berhasil di sembuhkan tanpa mengalami salah satu akibat yang Dokter katakan?"
Dokter itu terdiam sesaat, memikirkan pertanyaan yang baru saja Zelda ajukan. "Saya hanya bisa meyakinkan 40% dari keberhasilan operasi, nona. Luka di bagian kepala memang sangat sulit untuk di sembuhkan, apalagi di bagian dalam. Tetapi saya sebagai Dokter akan berusaha sekeras mungkin untuk bisa melakukan operasi ini dengan lancar. Percayalah, nona!"