
Sejak saat itu, Quella tidak pernah bertemu lagi dengan Vince. Laki-laki itu menepati ucapannya. Quella bisa mendapatkan banyak waktu untuk memahami semua yang terjadi. Di tambah 2 hari lalu tuan Sam menemuinya dan membuat Quella memudahkannya untuk memahami semua itu.
`*Dia adalah laki-laki yang baik,`
`Paman tahu betapa besar cintanya padamu, Quella. Jangan meragukan cintanya karena selama ini kamu adalah orang yang selalu mempercayai cintanya,`
`Masalahnya saat itu terlalu beresiko untukmu. Dia memilih pergi karena ingin menjagamu. Paman pun memintanya untuk pergi sementara waktu, tidak lain hanya karena tidak ingin kamu dalam bahaya. Jadi mengertilah, Quella! Kepergiannya bukan karena ingin meninggalkanmu tapi menjagamu dari bahaya,`
`Keadaanlah yang membuat kalian terpisah untuk sementara waktu. Kamu harus mengerti itu, Quella!?`
`Dia mencintaimu. Benar-benar mencintaimu, Quella!`
Kata-kata tuan Sam masih memenuhi isi pikiran Quella. Pamannya itu mengucapkannya dengan sangat yakin. Bahkan tidak sedikit pun keraguan tersirat dari tatapan mata pamannya itu. Quella tahu jelas, bahwa keyakinan pamannya tidak pernah berakhir salah. Dan layaknya mempercayai sang papa, ia pun pada akhirnya memutuskan untuk berdamai dengan rasa kecewanya.
Hari ini Quella melangkahkah kakinya menuju kawasan fakultas teknik mesin. Ia mencari keberadaan Gerald dan tidak berselang lama, matanya sudah menangkap keberadaan sosok laki-laki yang tengah menggunakan almamater abu-abu. Laki-laki itu sedang berbicara bersama beberapa orang teman satu falkutasnya.
"Gerald!" panggilnya.
Mendengar namanya di panggil, laki-laki itu langsung berbalik badan dan kemudian tersenyum ke arahnya.
"Oh hai, kak!"
Gerald bergegas menghampiri Quella, usai sempat berpamitan pada teman-temannya itu.
"Kenapa, kak? Tumben datang ke sini," sambungnya.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya balik Quella.
Gerald menganggukkan kepala. "Mau bicara soal apa, kak?"
"Apa lo bisa bawa gue ketemu sama orang ini!?" Quella menunjukkan sebuah foto di layar ponselnya. Dimana Vince sangat tampan menggunakan tuxedo hitam. Ia mendapatkan foto itu dari Billy.
"Tentu saja. Kapan kakak mau bertemu dengannya?" Gerald bersikap biasa saja. Padahal dalam hati, ia merasa senang karena perlahan jalan untuk Vince dan Quella mulai terbuka.
"Sekarang bisa? Itupun kalau lo gak punya mata kuliah,"
"Bisa. Aku masih punya satu mata kuliah, sekitar 1 jam lagi. Masih sempat kok ngantar kakak," sahut Gerald tidak berbohong.
"Kalau gitu terima kasih," ungkap Quella tersenyum tipis.
"Beres. Ayo pergi, kak!" ajak Gerald yang langsung di angguki Quella.
Mereka berdua pun segera pergi menggunakan mobil Gerald, meninggalkan kawasan kampus. Laki-laki itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Yeah tanpa sepengetahuan Quella, Gerald merasa sangat tidak sabar untuk mempertemukannya dan Vince.
`Semoga hari ini hubungan mereka mulai membaik!` batin Gerald
***
30 menit lebih berlalu, Gerald baru menghentikan mobilnya tepat di depan gedung yang menjulang tinggi. Quella mendongakkan kepalanya untuk melihat betapa tinggi dan megahnya gedung itu.
"Kita sudah sampai, kak!" seru Gerald membuyarkan tatapan Quella.
Perempuan itu hanya mengangguk, sebelum akhirnya turun dari mobil. Begitu pula Gerald yang kemudian berjalan berdampingan dengan Quella. Mereka berdua berjalan memasuki gedung itu dan pergi menuju meja bagian resepsionis.
"Halo, selamat siang! Ada yang bisa saya bantu?" sapa perempuan berkemeja putih dengan ramah. Dapat di pastikan bahwa ia adalah resepsionis di gedung itu.
Benar. Gedung itu merupakan kantor pribadi seorang Vince Marson. Di sana bukan tempatnya para karyawan perusahaan yang bekerja untuk sebuah bidang industri atau sejenisnya. Melainkan tempatnya para pengacara di bawah asuhan Vince dan juga para mahasiswa hukum yang bekerja magang. Sudah banyak kasus yang mereka terima dan tidak terbatas untuk seorang Vince saja. Semua pengacara di sana mendapat kasus yang sama rata. Jadi tidak ada keluhan soal tidak mendapatkan kasus.
"Tuan siapa? Apa sudah ada membuat janji?" tanya balik resepsionis itu.
"Saya Gerald. Katakan saja pada pengacara Vince bahwa saya ingin menemuinya!" seru Gerald terdengar memerintah tapi dengan nada sopan.
"Baik, tuan. Mohon tunggu sebentar!"
Gerald menganggukkan kepalanya. Resepsionis itu tampak segera menelepon Vince--Atasannya. Tidak lama berbicara, resepsionis itu kembali meletakkan teleponnya.
"Mari saya antar!"
"Terima kasih," balas Gerald tersenyum tipis.
Resepsionis itu pun segera mengantarkan Gerald dan Quella ke ruangan Vince yang berada di lantai paling atas. Sekitar 5 menit, mereka telah mencapai lantai itu. Kini mereka sudah berdiri di depan pintu ruangan Vince. Resepsionis itu langsung mengetuk pintu.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk!" seru Vince dari dalam ruangan.
Lantas resepsionis itu membukakan pintu ruangan Vince. "Silakan masuk, tuan, nona!"
"Terima kasih," sekali lagi Gerald berterima kasih, sedangkan Quella hanya diam.
"Sama-sama,"
Gerald berjalan masuk lebih dulu. Di ikuti Quella di belakang, bersamaan dengan kepergian resepsionis tadi pergi usai menutup pintu. Saat memasuki ruangan yang di dominasi warna hitam-putih itu, sangat terasa nuansa elegan. Ruangannya sangat luas dan di lengkapi beberapa perabotan yang tentu mendukung aktifitas pemiliknya. Namun bukan itu yang menarik perhatian Quella. Melainkan sosok laki-laki berkemeja hitam yang lengannya di lipat. Laki-laki itu terlihat sangat tampan saat sedang fokus membaca berkas di hadapannya.
"Hai, kak!" sapa Gerald sedikit bersemangat.
Sontak mengalihkan tatapan Vince dari berkas yang sedari tadi tengah di bacanya. "Ada apa? Tidak biasanya kau ke sini,"
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya bawa tamu spesial untukmu," Gerald tersenyum lebar. Hal itu membuat dahi Vince mengernyit. Pasalnya ia belum menyadari kehadiran Quella, karena tubuh Gerald melindungi perempuan itu.
"Tamu spesial? Siapa?"
Gerald langsung menyingkirkan dirinya dari hadapan Quella. Barulah setelahnya Vince dapat melihat keberadaan perempuan itu. Perempuan yang selama beberapa tahun ini mengisi hatinya.
"Kakak ipar ingin bertemu denganmu, kak. Well, aku tentu tidak bisa menolaknya. Jadi ku bawakan tamu spesial kakak ini," ucap Gerald santai--Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana.
Quella mengernyitkan dahi, menatap laki-laki itu. "Kakak ipar?"
"Eng--" Gerald menggaruk-garuk tekuknya yang tidak gatal. Kali ini mulutnya keceplosan.
"Dia adik sepupuku," timpal Vince memberitahukan. Ia sangat tahu bahwa adik sepupunya itu pasti bingung ingin menjawab apa karena terlanjur berucap.
Quella menatap Gerald dan Vince secara bergantian. Pantas saja ia merasa ada kemiripan di antara kedua laki-laki itu. Ternyata memang ada hubungan keluarga.
"Hhehe. Maaf karena tidak memberitahukan hal ini sebelumnya. Sekarang aku harus pergi karena sebentar lagi mata kuliahku di mulai. Kalian bicaralah berdua! Dah!" seru Gerald sembari melambaikan tangan dan kemudian bergegas pergi.
Bahkan tanpa menunggu balasan dari kedua orang itu. Yeah, ia pergi sebab tidak ingin mengganggu suasana yang agak private itu.