
"Kenapa minta maaf? Seharusnya aku yang minta maaf karena lalai dalam menjagamu sampai kejadian ini terjadi," ucap Vince menunjukkan penyesalan yang di rasakannya.
"Maaf. Aku tanpa sengaja melupakanmu," Quella masih berucap lirih, meski masih terdengar lirih.
Vince terkesiap mendengar itu. Otaknya mencoba mencerna yang baru saja di ucapan Quella. "Apa maksudmu?"
"Aku sudah ingat beberapa hal yang ku lupakan," jawab Quella yang membuat Vince menatapnya dengan tidak percaya.
"Benarkah?" laki-laki itu memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
Quella menganggukkan kepala. "Tapi hanya beberapa hal. Tidak semuanya,"
"Tidak apa-apa. Aku sudah sangat senang kamu bisa mendapatkan sebagian ingatanmu kembali," sahut Vince seraya mengelus pucuk kepala Quella, lalu mengecupnya sekilas.
Tampak bibirnya mengembangkan senyuman nan manis. Ia benar-benar merasa senang dengan kembalinya sebagian ingatan Quella usai sadar dari koma.
"Sekarang beristirahatlah. Aku akan berada di luar," sambungnya.
Quella tidak menyetujui ucapan laki-laki yang notabenya adalah suaminya. Ia menggelengkan kepala. "Tetap di sini. Jangan pergi!"
"Baiklah. Aku tidak akan pergi," Vince mengerti bahwa istrinya itu ingin di temani.
Rasanya ia juga merasa enggan meninggalkannya di dalam ruangan itu seorang diri sebab setahunya Quella memang tidak menyukai rumah sakit.
Ehem.
Suara dehaman pelan seketika menyadarkan Vince dan Quela akan keberadaan Gerald di dalam sana. Laki-laki itu sedari tadi hanya diam mendengarkan keduanya berbicara.
"Ini—Apa sebaiknya aku memberitahukan pada kak Wileen dan kak Zelda bahwa kakak ipar sudah sadar?" tanya Gerald sedikit ragu. Pasalnya ia sudah di beri tatapan yang tidak bersahabat dari Vince.
`Ck. Pasti kak Vince menganggapku sebagai pengganggu!` batin Gerald.
"Nanti saja beritahu mereka saat Xaviera sudah di pindahkan ke ruang rawat," jawab Vince lebih dulu di bandingkan Quella.
Gerald mengangguk mengerti tanpa berucap apapun.
"Kau bisa pulang sekarang!" Vince kembali berucap pada laki-laki muda itu.
"Baiklah, kak. Hubungi aku kalau ada apa-apa!" seru Gerald mengingatkan.
"Hmmm," dehaman pelan Vince terdengar sebagai balasan singkat untuk Gerald. Namun ia sudah sangat terbiasa akan sikap seperti itu sang kakak sepupu.
"Kakak ipar—Jaga dirimu! Aku pulang dulu," Gerald berpamitan pada Quella yang sedari tadi diam mendengarkan.
"Terima kasih, Ger!" ungkap Quella tersenyum tipis.
Gerald hanya membalas dengan menyatukan jari telunjuk dan jari manisnya membentuk O' besar. Sebelum akhirnya ia berjalan pergi meninggalkan Vince dan Quella di dalam sana.
"Beristirahatlah. Aku ingin keadaanmu lebih membaik," ucap Vince memecah keheningan di antara mereka yang sempat terjadi beberapa saat usai kepergiaan Gerald.
"Heum," Quella mengangguk pelan sebelum akhirnya Vince mengubah kembali posisi brankar. Sehingga kini ia sudah berbaring sempurna di atasnya.
Perempuan itu tidak langsung memejamkan matanya. Melainkan menatap sosok Vince yang kini menggenggam tangannya dengan erat. Sesekali tampak mencium punggung tangannya. Perlakuan yang dulu sering ia dapatkan dan tidak di ungkiri, perasaan bahagia menyerusup ke dalam hatinya. Quella bahagia mendapat perlakuan itu kembali. Kebahagiaannya terlihat jelas dari bibirnya yang mengembangkan senyuman. Sampai perlahan ia memejamkan matanya untuk beristirahat. Tidak butuh waktu lama, hembusan nafas Quella sudah terdengar teratur.
"Cepat sembuh, sayang!" seru Vince yang beranjak berdiri, lalu mencium kening sang istri.
...****************...
Setelah di pantau selama 24 jam penuh, keadaan Quella benar-benar membaik. Ia segera di pindahkan ke ruang rawat sesuai yang kemarin Dokter katakan. Tetapi, tentu saja ruang rawat merupakan salah satu ruang VIP yang sengaja di pesan oleh Vince. Laki-laki itu ingin sang istri mendapatkan kenyamanan selama berada di rumah sakit, meski faktanya Quella tidak menyukai rumah sakit.
"Mau makan apa?" Vince bertanya saat melihat Quella enggan menatap semangkuk bubur di tangannya. Jelas sekali bahwa perempuan itu tidak ingin memakannya.
Vince mengangguk sembari meletakkan mangkuk bubur ke atas nakas di samping brankar Quella. "Asal itu yang kamu inginkan, tidak masalah,"
"Chicken Fried Steak"
"Tunggu sebentar! Aku pesan dulu," ucap Vince yang segera merogoh ponselnya di saku celana. Kemudian memesan makanan sesuai yang Quella inginkan.
"Sudah," sambungnya usai beberapa menit mengotak-atik benda pipih di tangannya itu.
"Tidak pulang?" tanya Quella membuat Vince langsung menatap ke arahnya.
"Nanti. Setelah kedua sahabat kamu datang," jawab Vince santai sembari memasuk kembali ponselnya ke dalam saku celana.
Quella mengernyitkan dahi. "Kenapa?"
"Apanya yang kenapa?" tanya balik Vince bingung.
"Kenapa tidak sekarang saja?" Quella memperjelas pertanyaan sebelumnya.
"Kamu mengusirku?"
Sontak Quella menggelengkan kepalanya. "Bukan seperti itu,"
"Lalu seperti apa, sayang hmmm?" Vince tampak memainkan alisnya nan hitam.
"Maksudku kamu bisa pulang sekarang untuk beristirahat. Aku tidak apa-apa sendiri di sini. Selain itu masih ada perawat yang menjagaku," jelas Quella dengan nada bicara yang memang lebih jelas daripada kemarin. Namun di tubuhnya masih ada beberapa alat medis terpasang.
"Aku akan pulang nanti. Dan lagi—Aku lebih merasa tenang menjagamu sendiri," imbuh Vince apa adanya.
Tentu saja Quella tidak mempunyai kata lagi untuk membuat Vince pulang. Laki-laki itu memang cukup keras kepala akan pendiriannya dan ia sangat tahu itu.
"Baiklah. Kamu memang keras kepala," cetus Quella sembari mengeleng-gelengkan kepala.
Hal itu di balas kekehan pelan oleh Vince. "Tapi kamu cinta, kan sayang?"
Mendapat pertanyaan itu, Quella berdeham untuk menetralkan perasaannya sekarang. Bisa-bisanya Vince membuat ia salah tingkah. Meski ia sudah mengingat beberapa hal tentang hubungannya dan Vince, tetap saja perasaannya tidak terkontrol. Seperti merasakan kembali perasaan itu setelah tanpa sengaja ia lupakan.
"Heum. Begitulah," balas Quella pelan, nyaris tidak terdengar.
"Begitulah apanya? Bicara yang jelas sayang," Vince sengaja berbicara seperti itu padahal ucapan Quella tadi masih di dengarnya.
Baru saja Quella ingin berucap, tiba-tiba pintu ruangan di ketuk. Vince segera memerintahkan si pengetuk untuk masuk. Dimana si pengetuk itu tidak lain adalah salah satu anak buah Vince.
"Maaf mengganggu. Ini pesanan tuan," lapornya yang tengah membawa sesuatu di tangannya.
"Hmmm. Bawa kemari!" perintah Vince pada anak buahnya itu.
Lantas anak buahnya bergegas memberikan apa yang di bawanya. Baru setelah itu pergi dari sana karena tidak ingin mengganggu. Vince pun segera membuka sesuatu yang di berikan oleh anak buahnya tadi.
"Cepat sekali sampainya," celetuk Quella saat melihat bahwa sesuatu yang sedang di buka oleh Vince itu adalah makanan pesanannya—Chicken Fried Steak.
"Aku sengaja memesan yang cepat. Supaya kamu tidak menunggu terlalu lama," sahut Vince di sela sibuk menyiapkan makanan itu.
Quella ber-Oh ria mendengarnya. Ia tidak heran kalau laki-laki itu bisa memesan makanan dengan cepat. Tentu restoran tempatnya memesan makanan itu memberikan pelayanan khusus mengingat kekuasaan seorang Vince Marson.
`Punya kekuasaan memang bebas,` batin Quella
"Aaaaaa..." Vince meminta Quella untuk menbuka mulutnya. Ia hendak menyuapi istrinya itu.