THE LAWYER'S SECRET WIFE

THE LAWYER'S SECRET WIFE
Eps 22. Kecewa



[Paman Sam📞: Tidak. Itu tidak benar. Dia pergi karena suatu alasan. Kamu akan tahu saat bertemu dengannya]


"Aku sudah bertemu dengannya," sahut Quella singkat.


[Paman Sam📞: Kapan? Apa dia yang telah memberitahukan semuanya?]


"Beberapa waktu lalu. Dia hampir memberitahukan semuanya. Namun aku baru tahu kalau paman meminta semua orang untuk merahasiakan semua itu dariku," Quella jelas kecewa terhadap apa yang pamannya lakukan.


[Paman Sam📞: Quella--Paman minta maaf]


Quella menghela nafasnya dengan kasar untuk ke sekian kalinya. "Aku tahu maksud paman baik. Tapi paman, ini adalah masalah yang menyangkut dengan hidupku. Seharusnya paman memberitahuku, bukan merahasiakannya sampai saat ini. Jika aku tidak bertemu dengan laki-laki yang mengaku sebagai suamiku itu, mungkin hal ini tidak ku ketahui sampai beberapa tahun lagi. Sungguh aku kecewa padamu paman,"


[Paman Sam📞: Paman minta maaf]


Tuttt...


Quella mematikan panggilan secara sepihak. Ada rasa kecewa dan amarah yang berkecamuk di dalam dirinya. Bagaimana tidak? Pamannya sendiri merahasiakan hal sebesar itu selama 1 setengah tahun terakhir. Ia tahu maksud pamannya itu baik tapi tetap saja hal itu tidak bisa di terimanya. Hah. Quella tidak menyangka ada hal sebesar itu yang di rahasiakan darinya. Ia bingung akan berbuat apa sekarang. Sebelumnya ia hidup layaknya perempuan single dan kini dalam sekejap, statusnya berubah. Tentu hal itu juga akan mempengaruhi jalan kehidupannya ke depan.


"Aku harus berbuat apa sekarang? Ini benar-benar membuatku terkejut dan bingung," gumam Quella sembari memijat kepalanya yang masih terasa berdenyut.


Di tengah keadaan Quella yang sedang kacau, tiba-tiba terdengar suara bel rumahnya berbunyi. Terpaksa Quella menarik dirinya untuk beranjak dari ranjang dan pergi membukakan pintu.


Ceklek...


"Oh my gosh, Quella! Lo gak kenapa-kenapa, kan? Kita khawatir banget tau sama lo," pekik si pengetuk pintu yang tidak lain adalah Zelda. Perempuan itu langsung memeriksa keadaan Quella.


"Gue gak papa. Tadi malam cuma sempat gak enak badan," sahut Quella, sontak Zelda berhenti memeriksanya.


"Sekarang gimana? Masih kurang enak badan? Kalau masih, kita ke dokter aja. Biar di obatin," cerocos Zelda dengan mode cerewet yang baru saja aktif.


"Kalau lo cerewet begini, yang ada Quella tambah gak enak badan!" celetuk Wileen--Perempuan itu juga ikut datang. Tentu untuk memeriksa keadaan Quella.


"Namanya juga khawatir. Cerewet gini, gue perhatian tahu!" tukas Zelda merengut kesal.


"Udah! Gue gakpapa sekarang. Mending sekarang kalian masuk!" Quella langsung menghentikan pembicaraan yang pasti nantinya berbuntut panjang


"Ya, syukurlah. Kita tenang mendengar lo udah gakpapa," sahut Wileen begitu lega mendengar itu.


"Iya syukur banget," timpal Zelda.


Kemudian mereka bertiga segera masuk ke dalam rumah. Quella meminta kedua sahabatnya itu duduk di ruang tamu dulu. Sebelum ia pergi untuk menyegarkan dirinya.


***


"Tadi malam lo sempat dansa, kan?" tanya Zelda, usai Quella duduk di sebelahnya.


Quella mengangguk. "Heum. Kenapa?"


"Dansa sama siapa lo? Ganteng gak orangnya?" Zelda menatap kepo ke arah sahabatnya itu.


Pertanyaan Zelda membuat Quella terdiam. Seketika semua ucapan Vince memenuhi isi kepalanya. Di tambah paras wajahnya ikut terbayang. Laki-laki itu sangat tampan. Tetapi, apa yang harus Quella katakan? Apa ia perlu memberitahu bahwa laki-laki tampan yang berdansa dengannya tadi malam adalah suaminya? Rasanya itu terlalu mustahil untuk saat ini. Lebih baik ia menyembunyikan hal itu, sama seperti menyembunyikan identitas aslinya.


"Gue gak tahu. Di sana penerangannya redup. Gue juga mana lihat wajahnya," celetuk Quella berbohong.


Rumah mungkin milik Quella tapi Zelda dan Wileen punya kebebasan untuk melakukan apapun di sana. Jadi tidak heran kalau mereka bertindak layaknya pemilik rumah.


"Yeh. Siapa tahu Quella lihat. Makanya gue tanya," Zelda mencebikkan bibirnya.


Wileen mengangkat bahunya. Sahabatnya yang itu memang agak konyol. Tidak mudah untuk menang darinya dalam urusan debat. Ia akui itu, sama seperti Quella.


"Oh ya, Quella. Hari ini lo masuk jam berapa?" tanyanya.


"Sore. Kenapa?" tanya balik Quella.


"Nah pas banget!" jawab Wileen yang tiba-tiba bersemangat.


Quella mengernyitkan dahinya. "Pas apanya?"


"Besok ada pertandingan basket antar mahasiswa baru. Lo paham lah maksud gue," sindir Zelda sembari memakan cemilan di tangannya.


"Gerald ikut?" Quella menatap intens Wileen. Sontak perempuan itu menyengir kuda.


"Lo mau kan nemenin gue?"


Quella berdecak pelan. "Misalkan gue gak mau, lo tetap maksa gue juga, kan?"


Wileen kembali menyengir kuda. Quella hanya dapat menghela nafas.


"Kalian berdua memang gak ada bedanya," cetusnya.


"Kita kan sahabat. Wajar kalau sama. Iyakan, Zelda?" Wileen menyenggol lengan sahabatnya itu.


"Hoohmmm," sahut Zelda yang tengah penuh mulutnya dengan cemilan. Dasar si paling suka ngemil.


"Hahh baiklah. Gue temenin lo nanti," dengan berat hati Quella mengiyakan keinginan Wileen.


"Aaaa makasih. Lo sahabat terbaik gueee!" pekik Wileen sangat senang dan memeluk Quella spontan.


Zelda menatap sinis ke arah Wileen. "Jadi gue bukan sahabat terbaik lo juga? Tega lo ya!"


"Astaga. Gak gitu, Zelda. Lo juga sahabat gue. Sini peluk!" seru Wileen merentangkan tangannya ke arah sahabatnya yang tengah memberikan tatapan sinis.


Ucapan Wileen membuat Zelda luluh. Dengan cepat ia langsung berhambur memeluk Wileen dan Quella. Mereka bertiga berpelukan dalam waktu yang singkat. Pelukan persahabatan nan hangat. Di lanjutkan dengan kegiatan lain yang menyenangkan. Hampir setengah hari mereka bertiga melakukan kegiatan menyenangkan di rumah Quella. Kegiatan yang sering mereka lakukan. Hingga tanpa terasa, sore hari telah tiba. Zelda berpamitan pergi karena ada urusan keluarga. Sementara Quella dan Wileen harus pergi ke kampus.


Quella dan Wileen pergi ke kampus, usai kepergiaan Zelda. Mereka berdua memiliki mata kuliah di jam yang sama. Sesampainya di kampus, mereka langsung berpisah. Kemudian mereka bertemu lagi untuk melihat pertandingan basket antar mahasiswa baru. Wileen sempat membeli minuman dan cemilan untuk menemani mereka menonton. Dan seperti biasa, ada banyak mahasiswa yang sudah berada di pinggiran lapangan basket. Baik itu para mahasiswa senior, maupun baru. Mereka berkumpul untuk melihat pertandingan yang pasti selalu berlangsung dengan seru.


"Gerald mana, ya!?" sedari tadi Wileen celingak-celingukan mencari keberadaan sosok laki-laki muda itu.


"Mungkin dia lagi bersiap. Lo duduk aja yang tenang," ucap Quella yang sudah lebih dulu duduk di kursi penonton.


"Gak bisa. Gue mau lihat Gerald saat masuk ke lapangan," tolak Wileen tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.


Quella mengangkat bahunya. Ia membiarkan sahabatnya itu melakukan keinginannya sendiri. Tidak berapa lama, terdengar suara histeris para mahasiswa. Dimana penyebabnya tidak lain adalah kedatangan para mahasiswa yang akan segera bertanding.