
Vince kembali ke Gerald tepat jam 10 malam. Acara ulang tahun sepupunya itu telah berakhir. Tidak ada lagi suara keramaian di taman karena semua orang sudah pulang.
"Bagaimana keadaan kakak ipar?" tanya Gerald mengejutkan Vince yang tengah berjalan menuju tangga rumah.
Vince berbalik badan dan menemukan Gerald sedang berdiri tidak jauh darinya. "Dia sudah sadar. Aku tadi mengantarkannya pulang,"
"Baguslah. Apa kakak ipar ada mengingat sesuatu?"
"Tidak," jawab Vince dengan hembusan nafas kasar. Tampak kekecewaan dari raut wajahnya.
Gerald mengerti kekecewaan yang tengah kakak sepupunya itu rasakan. "Tidak apa-apa, kak. Kakak ipar perlu waktu untuk mengingat semuanya secara perlahan. Aku juga yakin bahwa kehadiran kakak bisa membantu kakak ipar untuk mengingat hal yang di lupakannya,"
"Hmmm. Aku sudah memberitahukan status kami berdua," ucap Vince yang sontak membuat Gerald terkejut.
"Lalu apa reaksinya!?"
"Dia sangat terkejut dan hampir tidak percaya sebelum melihat bukti yang ku berikan," sahut Vince mengungkapkan bagaimana reaksi Quella saat tahu akan salah satu kebenaran.
Gerald bersedekap dada. "Tidak heran kalau kakak ipar terkejut. Secara kebenaran itu salah satu dari bagian ingatannya yang hilang,"
"Tapi aku tidak tahu dia akan menerimanya atau tidak," Vince menatap intens Gerald di hadapannya.
"Cepat atau lambat, kakak ipar harus menerimanya. Kakak jangan khawatir! Semua pasti akan baik-baik saja," ucap Gerald yang mengerti akan kekhawatiran Vince. Laki-laki itu khawatir Quella tidak mau menerima kebenaran tentang status mereka.
"Semoga saja," gumam Vince penuh harap.
"Aku ke kamar dulu. Besok hadiahmu datang!" sambungnya.
"Oke siap. Aku sangat menunggu hadiahmu, kak!" sahut Gerald tersenyum lebar. Dalam sekejap pikirannya teralihkan pada hadiah yang Vince janjikan. Sebuah mobil sport keluaran terbaru. Gerald tidak sabar menunggu hari esok.
Vince menggelengkan kepalanya melihat Gerald. Sebelum ia berjalan menaiki satu-persatu anak tangga dan pergi menuju kamarnya. Dalam beberapa hari ini Vince menginap di rumah Gerald karena orang tua adik sepupunya itu sedang pergi ke luar negeri. Gerald juga merasa senang akan keberadaan Vince. Setidaknya ia tidak sendirian di rumah dan punya teman untuk berbicara.
"Ah besok aku akan langsung mencoba mobil baruku. Pasti sangat keren," ucap Gerald begitu bersemangat sembari berjalan menuju dapur rumahnya untuk mengambil minum.
***
Di kamar Vince
Vince baru saja memasuki kamarnya. Ia tidak langsung berbaring, melainkan berdiri di balkon. Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana. Sementara kepalanya mengadah ke langit yang tampak cerah. Banyak bintang bertaburan mengelilingi sang purnama bersinar di malam hari. Indah tapi tidak mampu menarik senyuman di bibir Vince. Laki-laki itu hanya menatapnya dengan datar. Pikirannya melayang ke waktu 2 tahun lalu. Dimana terdapat semua kenangan indahnya bersama Quella. Kenangan yang tidak pernah hilang dari hati dan juga pikirannya.
Jika itu dua tahun lalu, Vince pasti akan tersenyum menatap indahnya langit di malam hari karena ada Quella yang berdiri tepat di sebelahnya. Mereka akan saling menunjuk bintang yang mempunyai sinar paling cerah. Lalu mengucapkan beberapa kalimat indah. Namun sejak Quella kehilangan ingatannya, momen itu juga ikut menghilang. Tidak ada lagi momen melihat langit bersama. Tidak ada lagi aksi tunjuk-menunjuk bintang. Dan--Tidak ada lagi kalimat indah. Kalimat yang mengungkapkan rasa cinta mereka. Vince merindukan saat-saat itu. Sangat rindu.
Rindu yang menyakitkan. Mereka berada di bawah langit yang sama tapi tidak bisa bersama. Entah mengapa takdir memisahkan mereka dengan menciptakan keadaan itu. Vince tidak tahu.
"Andai aku tidak meninggalkanmu saat itu, sekarang kita pasti sedang menatap langit bersama. Dan kamu akan terus menunjuk bintang tanpa henti," gumamnya.
#Flashback On
"Sayang, aku harus pergi ke luar negeri. Ada urusan yang harus ku selesaikan," ucap Vince pada Quella yang tengah bersandar di pundaknya.
"Besok," sahut Vince membuat raut wajah Quella tampak tidak senang.
"Kenapa mendadak sekali?" tanya Quella bersedekap dada.
Vince terdiam, seolah tengah berpikir sebelum menjawab pertanyaan istrinya itu. "Ada klien dari luar negeri. Kasusnya akan di sidang dalam minggu ini. Aku harus ada di sana untuk melengkapi berkas penyelidikan yang akan di serahkan pada pengadilan,"
"Berapa lama di sana?" Quella tidak mempermasalahkan soal klien Vince yang berada di luar negeri. Secara ia sadar bahwa suaminya adalah seorang pengacara sukses dan sudah menangani banyak kasus. Baik itu kasus dari klien dalam negeri, maupun di luar.
"Aku tidak tahu berapa lama. Tetapi, kamu jangan khawatir. Aku janji akan segera pulang saat kasus itu sudah selesai di tangani," ucap Vince sembari menyingkirkan rambut Quella yang menganggu pemandangan.
"Kenapa tidak memberitahuku lebih awal?" tanya Quella lagi. Nada bicaranya sudah terdengar datar.
"Karena aku tahu istriku ini akan merasa tidak senang," jawab Vince tersenyum tipis.
Quella menatap Vince dengan sinis. "Dan menurutmu, sekarang aku tidak merasa begitu?"
"Hmmm bukan begitu. Kamu mungkin merasa tidak senang sekarang tapi paling untuk malam ini. Aku tahu kamu tidak akan bisa lama-lama dengan perasaan tidak senangmu itu. Apalagi saat aku akan berangkat," Vince mencubit gemas hidung Quella. Seolah tidak merasa risih akan tatapan Quella nan sinis.
"Huh kamu sangat mengenalku. Meski begitu, aku tetap tidak senang. Seharusnya kamu memberitahuku lebih awal agar aku bisa membantumu bersiap. Sekarang bagaimana? Apa aku punya banyak waktu untuk mempersiapkan segala kebutuhanmu?" cerocos Quella tanpa henti.
Vince tertawa pelan mendengar istrinya yang tengah berbicara panjang lebar itu. Quella langsung mencubit lengannya. "Aww. Kenapa mencubitku, sayang!?"
"Itu karena kamu tertawa saat aku sedang tidak senang," sahut Quella berdecak kesal.
"Kamu lucu sih. Makanya aku tertawa," celetuk Vince di sela tertawa. Quella semakin sinis menatapnya.
"Oke-oke. Aku berhenti tertawa sekarang. Jangan menatapku seperti itu! Aku tidak kuat," sambungnya langsung berhenti tertawa.
"Heh. Menyebalkan!" desis Quella--Ia membuang muka dari Vince. Sekarang ia benar-benar marah pada laki-laki itu.
Vince sangat mengerti sikap Quella sekarang. Dan--Sepertinya ia harus membujuk istrinya itu. "Ayolah, sayang. Jangan marah! Aku tahu, aku salah. Kamu boleh menghukumku dengan apapun asal amarahmu mereda,"
Quella tidak berkutik. Vince juga tidak menyerah begitu saja untuk membujuknya. "Baiklah, jika kamu masih marah. Aku tidak akan tidur sebelum kamu memaafkanku,"
"Terserah!" ketus Quella sembari beranjak bangkit dari duduknya dan pergi ke sisi ranjang yang lain.
Quella langsung berbaring dengan membelakangi Vince. Sekeras apapun dirinya mencoba memejamkan mata, tetap saja tidak bisa. Beberapa kali mengubah posisi, ia juga tetap tidak bisa tidur. Emosi di dalam dirinya membuatnya merasa tenang. Selalu saja begitu. Di beberapa kesempatan, ia mencoba melihat Vince yang tidak beralih pada posisinya. Laki-laki itu duduk dengan tenang di sofa. Dan pada akhirnya, Quella tidak bisa menahan emosi yang ada di dalam dirinya.
"Aku tidak marah lagi. Sekarang apa yang harus ku siapkan untukmu?" tanya Quella usai mendudukan diri dan menatap ke arah Vince.
Vince tersenyum samar. Ia sudah tahu bahwa istrinya itu mana bisa tidur dalam keadaan marah. "Benarkah?"
"Hemm," Quella berdeham pelan.
"Siapkan saja seperti biasanya," ucap Vince menjawab pertanyaan Quella sebelumnya.
Quella pun segera pergi menyiapkan keperluan Vince selama pergi ke luar negeri. Ia menyiapkannya seperti biasa. Tetapi, satu hal yang tidak ia ketahui. Vince pergi ke luar negeri bukan karena untuk menangani sebuah kasus. Itu hanya alasan yang Vince buat. Sebenarnya Vince pergi ke luar negeri karena harus menyelesaikan sebuah masalah yang tidak ingin melibatkan Quella. Demi keselamatan istrinya itu, maka ia pergi untuk waktu yang batas waktu yang tidak di tentukan.