
"Hei! Kalian berdua mau buat gue jadi tuli ya!?" caci Wileen kepada kedua sahabatnya yang baru saja berteriak di telinganya.
Zelda cengengesan, sedangkan Quella hanya terdiam. "Hehe... Sorry, Wil! Habisnya lo sih bikin kita kaget pagi-pagi gini,"
"Tapi gak usah pake teriak di telinga gue juga, Zeeldaaaa!" ketus Wileen. Moodnya hari ini menjadi tambah buruk.
"Kita minta maaf, Wil," ungkap Quella dengan perasaan bersalah sebab membuat mood sahabatnya itu semakin buruk.
"Iya, Wil. Maaf. Jangan marah gitu! Nanti cantiknya hilang lho," timpal Zelda membujuk Wileen.
Tampak Wileen menghela nafasnya dengan berat. "Huffft... Gue kayaknya gak punya kesempatan lagi buat dapatin Gerald,"
Jarang sekali seorang Wileen merasa patah semangat untuk mendapatkan apa yang dirinya mau. Namun kali ini untuk mendapatkan seorang Gerald, ia sudah mau menyerah? Rasanya sangat tidak percaya.
"Memangnya apa yang terjadi? Lo tau dari mana kalau Gerald udah mau tunangan?" tanya Zelda cepat.
"Dari postingan di media sosialnya. Dia pamer sepasang cincin," jawab Wileen bernada lesu.
"Eh lo tau media sosialnya?" Zelda tersentak--Bertingkah sok kaget.
"Ya tahulah. Nih coba lo lihat!"
Wileen memberikan ponselnya pada Zelda yang langsung melihat media sosial milik Gerald. Kedua matanya membulat sempurna. Reaksinya membuat Quella penasaran dan ikut melihat. Ternyata memang benar yang di katakan Wileen tadi. Gerald memamerkan sepasang cincin dengan desain yang indah. Namun tidak ada caption apa pun di sana. Sehingga masih kecil kemungkinan perkiraan Wileen itu benar.
"Gila sih! Kok bisa Gerald mau tunangan? Padahal gue lihat, tuh anak belum pernah jalan sama perempuan mana pun. Apa mungkin gue-nya aja yang gak lihat, ya? Soalnya mana mungkin laki-laki setampan dia belum punya kekasih. Sangat mustahil," cerocos Zelda yang semakin menyurutkan semangat Wileen.
Pletak
Quella menyentil dahi Zelda dengan keras. Spontan sahabatnya itu meringis sembari mengelus dahinya yang baru saja jadi korban sentilan Quella.
"Aww... Kenapa lo nyentil dahi gue sih!?"
"Makanya kalau mau ngomong di pikir dulu. Postingan Gerald tidak memiliki caption apapun. Bisa saja sepasang cincin ini punya keluarganya atau orang terdekatnya yang lain. Gerald mungkin hanya iseng mengunggahnya di media sosial. Supaya banyak orang, terutama para perempuan berpikir bahwa dia sudah punya kekasih dan akan segera tunangan. Yeah, semacam cara untuk menjauhkan para perempuan darinya," ucap Quella bernada santai. Pikirannya tidak sesempit kedua sahabatnya itu.
Sontak Wileen menatap Quella. "Jadi maksud lo, Gerald bukan mau tunangan beneran?"
"Gue pikir begitu," sahut Quella singkat.
"Iya juga ya? Gue gak berpikiran sampai ke sana," timpal Zelda menceletuk pelan.
Ucapan kedua sahabatnya itu langsung membuat raut wajah Wileen kembali bersinar. Moodnya seakan membaik.
"Semoga itu benar. Gue bakal patah hati kalau Gerald beneran tunangan," ucapnya.
"Hah!? Sejak kapan seorang Wileen bisa patah hati? Kok gue baru tau?" tanya Zelda yang lagi-lagi bertingkah sok kaget.
Sorot mata Wileen menatap tajam sahabatnya itu. "Gue juga manusia, Zelda! Pasti bisa patah hati,"
"Yeu. Kirain lo setan yang bisanya mempermainkan hati para laki-laki," ledek Zelda tanpa takut dengan tatapan yang Wileen berikan.
"Zeldaaa!" pekik Wileen sangat kesal.
"Wleek... Ahaha.." Zelda menjulurkan lidahnya, sebelum tertawa dan berlari menjauh dari Wileen.
Kini terjadi aksi kejar-kejaran antara Zelda dan Wileen di taman kampus. Mereka seperti anak kecil yang sedang dalam masa aktif wk. Sedangkan Quella hanya duduk diam di kursi sembari menatap kedua sahabatnya itu. Pemandangan seperti itu sudah cukup membuatnya terhibur. Bahkan tidak jarang Quella tertawa saat Zelda selalu bisa terlepas dengan berbagai cara dari tangkapan Wileen. Benar-benar sangat menyenangkan.
Waktu seharian Quella hampir di habiskannya di kampus. Di mulai dari kegiatan organisasi yang memakan waktu hingga tengah hari. Lalu berlanjut dengan mata kuliahnya sampai sore hari. Jadwal yang cukup padat tapi ia menikmatinya.
Bruk...
Seseorang menabrak Quella yang tengah berjalan menuju kantin kampus. Tabrakan orang itu membuat beberapa buku di tangan Quella terjatuh.
"Ups maaf!" seru orang itu tapi terkesan sedang meledeknya.
Quella menatap orang itu sekilas. Sebelum berjongkok dan mengambil buku-bukunya yang terjatuh di lantai.
"Nah gini baru benar. Perempuan sekelas lo pantasnya berada di bawah seperti ini. Benarkan, guys!? Hahaha..." orang itu menghina Quella dengan gaya angkuhnya.
Yocelyn Zie--Panggil saja Yocelyn. Ia merupakan senior 2 tingkat di atas Quella. Anak orang kaya dan salah satu mahasiswa populer di kampus. Sayangnya, ia memiliki sifat yang angkuh dan sombong. Yocelyn juga senang menghina dan menindas mahasiswa yang berada di bawahnya, termasuk Quella. Namun Quella tidak pernah sedikitpun membalas dan lebih memilih pergi.
"Yups. Hahaha..." teman-teman Yocelyn ikut menertawakan Quella.
Quella segera berdiri, usai semua bukunya sudah di ambil. Kemudian ia berniat lanjut berjalan tapi Yocelyn mencekal pergelangan tangannya.
"Mau kemana lo? Gue belum selesai ngomong sama lo!" seru Yocelyn bernada ketus.
"Gue gak punya waktu," sahut Quella yang dalam sekali gerakan langsung bisa melepaskan cekalan Yocelyn di pergelangan tangannya.
"Berani lo ya nolak gue!?" bentak Yocelyn tidak terima atas penolakan Quella barusan.
Quella menatap intens seniornya itu--Lalu kemudian berbalik badan dan berjalan pergi dari sana. Yocelyn mengepalkan kedua tangannya. Ia segera menyusul Quella bersama teman-temannya tadi.
"Hei! Udah berani ya lo sama gue!? Apa lo pengen lihat kedua sahabat lo itu gue permalukan!?" seru Yocelyn setengah berteriak. Sontak langkah Quella langsung terhenti.
Yocelyn tersenyum sinis sembari bersedekap dada. Langkahnya sudah terhenti, begitu pula teman-temannya. "Kalau lo mau gue gak permalukan kedua sahabat lo itu, maka lo harus dengarkan omongan gue sekarang!"
Aleta, Yocelyn atau siapapun orangnya, boleh menghina dan menindasnya dengan seperti apapun. Namun Quella tidak akan membiarkan mereka membuat kedua sahabatnya terlibat, apalagi sampai terjadi sesuatu hal buruk. Sehingga dengan terpaksa Quella berbalik badan dan datang menghampiri Yocelyn beserta teman-temannya.
"Katakan!"
"Gue akan katakan tapi tidak di sini," sahut Yocelyn masih dengan bersedekap dada.
"Oke," Quella menyahut singkat.
Sepertinya hal yang ingin di bicarakan Yocelyn sangat penting dan private, sampai perempuan itu tidak mau berbicara di sana. Dimana masih banyak para mahasiswa yang tengah sibuk bercengkrama. Meski ada sebagian dari mereka yang sudah sedari tadi melihat ke arahnya dan Yocelyn
Quella segera pergi dari sana, bersama Yocelyn dan teman-temannya. Mereka pergi menuju sudut kampus yang sudah sepi. Yocelyn dengan angkuhnya mendudukkan diri di kursi yang ada di sana. Sedangkan Quella berdiri tepat di hadapannya, di kelilingi teman-teman Yocelyn.
"Gue gak suka basa-basi. So, gue pengen lo bikin hasil akhir acara nanti dengan gue sebagai pemenangnya. Lo bisa, kan?" ucap Yocelyn penuh percaya diri. Ia berpikir Quella akan menuruti permintaannya, apalagi dengan ancamannya tadi.
Sebelumnya, Yocelyn memang selalu ikut acara tahunan kampus. Dimana acara tersebut berupa pemilihan putra-putri kampus terbaik. Setiap mahasiswa yang ikut akan menampilkan semua kemampuan yang mereka miliki. Dan siapapun yang memenangkannya, maka akan menjadi ikon kampus selama 1 tahun ke depan. Yocelyn selalu memenangkan setiap tahun dengan cara yang tentunya curang. Seperti yang sedang ia bicarakan pada Quella.
"Gue gak punya hak untuk melakukan itu," Quella berucap santai tapi jelas sedang memberikan penolakan yang tegas.
"Why? Bukankah lo salah satu penanggung jawab acara tahun ini?" tanya Yocelyn tidak percaya.
"Salah satu, bukan berarti gue penanggung jawab utama. Jadi, sorry banget senior Yocelyn. Gue gak bisa nuruti lo," jawab Quella dengan tersenyum tipis.