THE LAWYER'S SECRET WIFE

THE LAWYER'S SECRET WIFE
Eps 46. Cerita Gerald



Zelda dan Wileen tampak terdiam memikirkan ucapan Gerald. Jujur saja mereka ragu untuk meninggalkan Quella. Namun ucapan Gerald juga ada benarnya.


"Hufttt... Baiklah. Sepertinya kami memang harus pulang sekarang," Wileen akhirnya membuka suara dengan di sertai hembusan nafas kasar.


"Keputusan yang bagus," timpal Gerald tersenyum tipis.


"Ya tapi lo harus jaga Quella baik-baik. Kalau ada terjadi sesuatu apapun itu, Lo harus hubungi kita berdua!" cetus Zelda menegaskan.


Gerald menganggukkan kepala. "Tenang saja. Aku pasti akan melakukannya,"


"Ya sudah. Kami pulang dulu sekarang. Terima kasih sudah mau menjaga Quella untuk kami," ucap Wileen sembari beranjak berdiri, di ikuti Zelda.


"Sama-sama,"


Kedua perempuan itu langsung berjalan pergi meninggalkan Gerald di sana. Seperginya mereka berdua, Gerald masih berdiri dalam posisi yang sama. Menatap intens ke arah dimana Quella tengah terbaring koma dengan beberapa alat medis terpasang di tubuhnya.


"Seharusnya keadaan kakak ipar tidak begini," gumam Gerald tampak sedih.


Bagaimana pun ia ikut merasa sedih melihat keadaan Quella—Istri dari kakak sepupunya. Meski mereka baru bertemu beberapa waktu lalu, tetapi Gerald bisa tahu bahwa Vince tidak salah memilih. Quella merupakan sosok perempuan yang mempunyai banyak alasan untuk membuat laki-laki menyukainya. Sangat di sayangkan melihatnya terbaring koma seperti ini.


"Tuan!?" seseorang datang mengejutkan Gerald yang sedang menatap ke arah Quella.


Sontak Gerald menatap orang itu. "Eh—Iya, sus?"


"Apa tuan keluarga nona Quella?" tanya orang itu—Salah satu suster yang bertugas memantau keadaan Quella.


"Benar. Saya keluarga jauhnya," jawab Gerald membenarkan.


"Oh begitu. Apa tuan ingin masuk ke dalam?"


"Boleh, sus?" Gerald bertanya balik.


Suster itu menganggukkan kepala. "Silakan saja, tuan! Cobalah berbicara pada nona Quella. Meski sedang koma, nona Quella masih bisa mendengar orang yang berbicara padanya. Mungkin hal itu dapat membuatnya cepat tersadar,"


"Aku mengerti, sus! Terima kasih," sahut Gerald tersenyum tipis.


"Sama-sama tuan,"


"Kakak ipar—Maaf aku terlambat tahu soal keadaanmu ini. Kemarin malam aku sibuk mengurus sesuatu yang penting," ucap Gerald setelah berdiri tepat di samping brankar Quella.


Laki-laki itu menghela nafas karena Quella tidak memberikan respon apapun. "Hmmm aku tahu kakak ipar pasti bisa mendengar suaraku ini, kan? Baiklah. Kakak ipar diam saja dan dengarkanlah aku berbicara. Apa kakak tahu? Selama beberapa tahun ini aku sering mendengar tentangmu dari kak Vince. Dia menceritakan betapa cantiknya dirimu, bagaimana sosokmu, apa saja kebiasaanmu dan semua hal yang ada kaitannya dengan dirimu. Ah—Kak Vince sangat antusias menceritakan semua tentangmu padaku. Sungguh!"


"Kak Vince bukan hanya sangat antusias saja tapi juga menunjukkan betapa dia mencintaimu. Hal itu membuatku semakin penasaran untuk bertemu denganmu—Kakak ipar. Aku ingin melihat secantik apa perempuan yang berhasil membuat kak Vince terpesona. Sehebat apa perempuan yang berhasil membuat kak Vince mengaguminya. Dan seberapa mendominasinya perempuan yang berhasil membuat kak Vince jatuh cinta. Sungguh aku sangat menantikan waktu untuk bertemu dengan kakak ipar. Finally—Lihatlah kita sudah bertemu sekarang! Rasa penasaranku sudah terbayarkan. Begitu pula dengan semua pertanyaanku yang sudah terjawabkan," sambungnya.


Gerald tersenyum tipis, meski Quella tidak dapat melihatnya. "Ternyata semua yang kak Vince ceritakan benar dan pilihannya tidak salah. Aku pun jadi mengerti satu hal sejak kita bertemu. Kakar ipar tahu apa itu? Yeah. Aku mengerti mengapa kak Vince sangat mencintaimu. Sehingga kejadian kakak ipar mengalami hilang ingatan beberapa tahun lalu begitu membuat kak Vince merasa hancur. Oh kakak ipar pasti belum tahu soal ini, kan? Sekarang aku ceritakan. Kak Vince menjadi kehilangan sebagian kebahagiaannya saat kakak ipar melupakannya dan kenangan yang kalian buat bersama. Aku selalu berusaha untuk menghiburnya. Apa kakak ipar tahu itu? Hmmm bahkan segala cara sudah ku lakukan tapi hasilnya gagal karena kakak iparlah yang menjadi sumber kebahagiaannya,"


"Lalu sekarang apa yang terjadi? Di saat kak Vince ingin mendapatkan kebahagiaannya kembali, kakak ipar justru terbaring koma seperti ini. Sekali lagi perasaan kak Vince di hancurkan oleh keadaan," Gerald berucap sembari tersenyum getir. Berharap perempuan itu dapat mendengar semua ucapannya dan cepat bangun dari koma.


Quella tampak enggan memberikan respon apapun padanya. Perempuan itu masih senantiasa memejamkan matanya. Tetapi, detak jantungnya terdengar begitu jelas. Deru nafasnya juga tampak terlihat dari Ventilator—Alat bantu napas yang dipasang untuk membantu pernapasan, selang ventilator bisa dimasukkan melalui mulut, hidung atau melalui lubang kecil yang dibuat di tenggorokan.


"Kakak ipar—Tolong jangan tertidur terlalu lama! Cepatlah sadar! Kak Vince tidak akan kuat melihat keadaanmu seperti ini. Ku mohon!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah berbicara sebentar dengan Quella tadi, Gerald keluar dari ruangan ICU. Laki-laki itu sempat pergi membeli minuman di kantin rumah sakit. Lalu kembali ke depan ruangan ICU dan duduk di kursi yang ada di sana sembari bermain ponsel agar tidak bosan. Ia tengah menunggu kedatangan Vince yang masih dalam perjalanan. Sebelumnya laki-laki itu sudah memberitahukan bahwa pesawatnya akan mendarat tepat jam 9 pagi.


"Gerald!" tiba-tiba terdengar seorang laki-laki memanggilnya dari kejauhan.


Tentu saja Gerald langsung menatap ke arah asal suara. Dimana laki-laki yang memanggilnya barusan tidak lain adalah Vince—Kakak sepupunya. Spontan ia pun beranjak berdiri.


"Kakak!" seru Gerald.


Vince tampak berjalan tergesa-gesa ke arahnya. Laki-laki itu berpakaian casual dengan jaket hitam membalut sempurna di tubuhnya. Penampilannya tidak kalah mempesona di bandingkan saat berpakaian formal seperti biasa. Ada seorang laki-laki bertubuh cukup kekar yang mengikutinya di belakang.


"Dimana Xaviera?" tanya Vince tanpa basa-basi, usai sampai di hadapan Gerald.


"Kakak ipar ada di dalam," jawab Gerald menunjuk ke arah kaca ruangan ICU yang di gunakan untuk melihat keadaan Quella. Sontak Vince langsung melihat ke arah yang Gerald tunjukkan.


Deg


Detak jantung Vince seperti melamban, saat kedua matanya melihat jelas sang pujaan hati sedang terbaring koma di dalam sana. Hatinya terasa begitu pilu. Di tambah beberapa alat yang terpasang di tubuh istrinya itu. Suami mana yang tidak akan merasa pilu melihat keadaan istrinya seperti itu? Rasanya jika bisa di gantikan, Vince ingin sekali menggantikan posisi Quella saat ini juga. Namun ia tidak punya kuasa akan hal itu.