
Tindakan operasi pada Quella langsung di mulai setelah Wileen menyelesaikan semua administrasi. Selama operasi berlangsung, Zelda dan Wileen duduk menunggu dengan harap-harap cemas. Tidak ada terjadi pembicaraan di antara mereka. Meskipun hanya sepatah kata untuk saling meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Hingga tanpa terasa sudah hampir 2 jam berlalu tapi pintu ruang operasi belum juga terbuka.
"Kenapa lama sekali? Operasi sudah berlangsung hampir 2 jam," gumam Zelda yang semakin merasa cemas.
Wileen dapat mendengar gumaman sahabatnya itu. "Tenanglah! Operasi ini bukan operasi kecil. Wajar kalau operasinya berlangsung lama,"
"Huffft... Bagaimana gue bisa tenang, Wil? Sedangkan di dalam sana Quella tengah di operasi. Tingkat keberhasilannya gak besar. Lo tahu sendiri, kan?" Zelda menghela nafasnya sembari menatap penuh kecemasan ke arah Wileen.
"Gue tahu. Cuma kita harus berusaha untuk tetap tenang dan berharap operasinya berhasil. Jika kita tidak bisa tenang—Apa rasa cemas kita bisa membantu keberhasilan? Tidak, bukan? Jadi berusahalah untuk tenang. Gue pun sedang melakukannya," ucap Wileen yang tengah menyandarkan tubuhnya di dinding dan membalas tatapan sahabatnya itu.
Sekali lagi Zelda menghela nafas. Bahkan menghembuskannya dengan kasar. "Baiklah. Semoga saja operasinya berhasil,"
Baru saja kalimat itu terucap dari mulut Zelda, lampu di atas ruang operasi tampak mati tiba-tiba. Hal itu menandakan operasi telah selesai di lakukan. Sontak Zelda yang melihat itu lebih dulu langsung berdiri.
"Lihat, Wil! Sepertinya operasi Quella sudah selesai," sambungnya.
Wileen segera melihat ke arah yang tengah di lihat oleh Zelda. Sebelum ia ikut beranjak berdiri dari tempat duduknya. Bersamaan dengan pintu ruang operasi terbuka. Tampak Dokter yang sebelumnya berbicara mereka, baru saja keluar dari dalam ruang operasi. Dokter tersebut masih menggunakan pakaian khusus operasi. Zelda dan Wileen pun bergegas berjalan menghampirinya lebih dulu.
"Bagaimana, Dok? Apa operasinya berhasil? Quella baik-baik saja, kan? Tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi, bukan?" tanya Zelda secara bertubi-tubi. Kebiasaan yang memang tidak bisa di lepaskan dari jati dirinya. Namun hal itu justru membuat Dokter di hadapannya bingung untuk menjawab. Wileen dapat melihat kebingungan Dokter tersebut.
"Zelda—Kendalikan dirimu! Jangan tanya semuanya langsung! Dokter bingung mau menjawab pertanyaanmu yang mana dulu," tegur Wileen memicingkan matanya pada sang sahabat.
Orang yang di tegur spontan terkesiap. "Maaf, Dok. Aku hanya tidak sabar untuk tahu,"
"Tidak masalah, nona. Saya mengerti," balas Dokter itu tersenyum tipis.
Zelda ingin berbicara lagi tapi Wileen menahannya dengan tatapan isyarat. Tentu saja ia langsung mengurungkan niatnya untuk berbicara. Seperti biasanya, lebih baik membiarkan Wileen yang bicara daripada dirinya—Si paling tidak sabaran.
"Jadi bagaimana operasinya, Dok?"
"Operasinya berhasil," jawab Dokter itu singkat.
"Syukurlah!" seru Zelda dan Wileen secara bersamaan. Percayalah, jawaban dokter itu membuat mereka berdua bisa bernafas lega sekarang.
"Tapi—”
Belum sempat beberapa detik Zelda dan Wileen menghembuskan nafas lega, mereka berdua justru tersentak mendengar kata tapi menggantung di ucapkan Dokter itu. Dimana ada firasat buruk yang tiba-tiba meresap masuk ke pikiran mereka berdua.
"Tapi apa, Dok?" tanya Wileen penasaran. Meski rasanya ia takut mendengar jawaban dari Dokter itu yang mungkin akan menjadi berita buruk.
"Tapi nona Quella mengalami koma,"
Pernyataan itu seakan batu yang menghantam keras Zelda dan Wileen. Ternyata firasat buruk yang mereka berdua rasakan benar-benar terjadi. Koma? Tentu saja hampir semua orang tahu akan keadaan itu. Dimana keadaan itu sendiri adalah tingkatan paling dalam ketika seseorang tidak sadarkan diri. Orang yang mengalami koma tidak bisa memberikan respons sama sekali terhadap lingkungannya. Bahkan tidak bisa melakukan gerakan, mengeluarkan suara, apalagi membuka mata meski di cubit. Namun masih bisa mendengarkan suara.
"Koma, Dok?" ulang Wileen memastikan bahwa pernyataan Dokter itu benar atau salah.
"Benar. Nona Quella mengalami koma setelah kami berhasil menghentikan pendarahan di dalam kepalanya," sahut Dokter tersebut membenarkan.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Zelda bertanya dengan raut wajah tidak percaya.
"Tentu bisa, nona. Saya dan tim memang berhasil melakukan operasi, tetapi hasil akhirnya kembali lagi pada takdir. Sekarang kita hanya bisa menunggu keajaiban yang bisa membuat nona Quella cepat tersadar dari komanya," ucap Dokter itu tanpa raut wajah apapun.
Zelda menutup mulutnya sebab merasa shock berat mendengar ucapan dokter itu. "Astaga... Quella,"
Sama halnya seperti yang tengah Zelda rasakan, Wileen pun merasakannya. Mulutnya bak kehabisan kata-kata untuk berbicara. Baru tadi siang mereka berbicara seperti biasa pada Quella. Dan kini mereka harus menerima kabar buruk yang tidak di sangka terjadi.
"Tenanglah, nona! Saya tahu ini berat tapi kenyataannya memang seperti ini. Yakinlah bahwa semuanya akan baik-baik saja!" seru sang Dokter yang mengerti bagaimana perasaan dan keadaan dua orang gadis di hadapannya itu.
"Sa—Sampai kapan Quella koma?" tanya Wileen tergagap.
Dokter tersebut menggelengkan kepala. "Saya tidak dapat memastikannya,"
Setelah mendengar jawaban itu, Zelda dan Wileen benar-benar tidak dapat berbicara lagi. Pikiran mereka berdua menjadi kalut. Begitu pula dengan perasaan mereka berdua yang tercampur aduk. Sungguh mereka tidak ada yang menduga kejadian ini. Namun ini sudah terjadi dan tidak dapat di hindari. Baik Wileen, maupun Zelda hanya bisa berusaha menerima kenyataannya meski masih sangat shock. Dokter itu pun berusaha sedikit untuk menenangkan mereka dan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Sebentar lagi nona Quella di pindahkan ke ruang ICU. Di sana saya dan para perawat akan terus memantau perkembangannya," ucap Dokter tersebut usai menenangkan kedua gadis itu.
"Baiklah, Dok. Terima kasih," ungkap Wileen pelan.
"Sama-sama, nona. Sekarang saya permisi dulu!" Dokter itu berpamitan pergi dan langsung di angguki keduanya.
Tidak berselang lama, pintu ruang operasi di buka bersamaan dengan kepergian Dokter tadi. Zelda dan Wileen yang masih berdiri di sana, sekarang melihat brankar berisikan Quella di dorong keluar dari ruang operasi oleh para perawat. Beberapa alat medis tampak terpasang di tubuhnya. Lebih banyak daripada sebelumnya. Dengan balutan perban putih membalut kepalanya. Di tambah mata Quella terpejam dan wajahnya putih memucat. Pemandangan itu begitu menyedihkan membuat Zelda dan Wileen sangat sedih. Mereka berdua tampak bergandengan tangan untuk menguatkan.
"Quella..." lirih Zelda di sela mengikuti para perawat yang sedang mendorong brankar sang sahabat.
"Dia akan baik-baik saja," timpal Wileen meyakinkan Zelda. Meski sebenarnya ada perasaan ragu yang ia rasakan dalam hati.