
"Jadi kenapa kamu datang ke sini?" sekali lagi Quella mengulang pertanyaannya.
"Aku mau mengajakmu keluar," sahut Vince sembari mendudukkan dirinya di sofa yang ada di ruang tamu rumah Quella.
Quella menaikkan sebelah alisnya. "Kemana?"
"Kemana saja," jawab Vince dengan tubuh tegak dan tampak sempurna saat bibirnya mengembangkan senyuman manis.
"Sekarang?" tanya Quella.
"Jika kamu tidak sibuk,"
Quella terdiam sesaat, memikirkan ajakan laki-laki itu. Sebenarnya hari ini cukup melelahkan tapi Vince sudah datang jauh-jatuh ke rumahnya. Terkesan tidak baik bila menolak ajakannya? Terlebih lagi, ajakan laki-laki itu juga bukan hal buruk. Mungkin dengan pergi keluar, ia akan merasa lebih santai.
"Baiklah. Tunggu sebentar! Aku akan bersiap-siap dulu," ucap Quella segera beranjak berdiri.
Vince menganggukkan kepala. Quella pun pergi meninggalkan laki-laki itu duduk seorang diri di ruang tamu. Sepeninggal Quella, Vince beranjak berdiri dan berjalan mengelilingi rumah istrinya itu. Meski berukuran minimalis tapi semua tertata rapi. Dan--Vince sangat mengenal bahwa desain interior seperti itu memang kesukaan Quella.
"Kamu tidak berubah," gumamnya.
Selama berjalan mengelilingi rumah Quella, Vince melihat banyak foto terpajang di dindingnya. Foto-foto Quella bersama banyak orang. Salah satunya adalah Zelda dan Wileen. Meski selama ini Vince tidak bersama Quella, tetapi ia selalu memantau dari kejauhan. Jadi ia tahu semua orang yang bersama Quella di foto itu.
"Itu foto saat aku liburan bersama Zelda dan Wileen. Mereka berdua sahabatku,"
Quella datang secara tiba-tiba dari arah belakang. Sontak Vince berbalik badan dan kini melihat Quella yang sudah berpenampilan rapi. Perempuan itu tampak cantik menggunakan kaos hitam di lapisi jaket abu-abu dengan rok pendek selutut berwarna senada dan di kakinya terpasang sepatu booth hitam. Kemudian rambutnya di biarkan terurai dan wajahnya di poles make setipis mungkin, tetapi tidak membuat kecantikannya berkurang. Dan Vince selalu tidak bisa memalingkan tatapannya dari istrinya itu.
"Aku tahu," sahut Vince tersenyum.
Quella tidak heran lagi mendengarnya. "Ya-ya, kamu tahu segalanya,"
Vince terkekeh pelan. "Sudah siap?"
"Heum. Ayo berangkat!" seru Quella mengajak laki-laki itu pergi.
Tetapi, Vince tidak menghiraukan ajakannya dan justru menatapnya dari atas sampai bawah.
"Kenapa?" tanya Quella bingung.
"Kamu yakin akan keluar dengar rok sependek itu?" Vince bertanya balik pada istrinya itu.
Quella mengerutkan keningnya. "Memangnya kenapa? Apa ada yang salah?"
"Di luar dingin. Sebaiknya kamu pakai rok atau celana panjang," jawab Vince yang secara tidak langsung, tidak membiarkan Quella memakai rok pendek di malam hari.
"Tidak apa-apa. Aku sudah biasa. Jangan khawatir!"
Vince menggelengkan kepala. "No. Kita tidak pergi sebelum kamu berganti rok,"
"Kenapa? Aku sudah bilang tidak apa-apa," kilah Quella tidak menuruti langsung ucapan Vince.
"Tapi aku tidak ingin kamu kedinginan. Jadi gantilah rokmu dan kita baru pergi setelahnya," Vince masih bersikeras meminta istrinya itu berganti rok.
Sontak Quella mendengus dan memayunkan bibirnya ke depan. "Baiklah, aku berganti sekarang!"
Quella bergegas pergi untuk berganti rok. Entah mengapa ia menuruti permintaan Vince, meski dengan sedikit berat hati. Namun raut wajahnya barusan membuat Vince merasa gemas.
"Menggemaskan sekali," gumamnya tersenyum tipis seraya menggeleng-gelengkan kepala.
Vince pun lanjut melihat foto-foto yang terpajang di dinding sembari menunggu Quella kembali.
"Hmmm sekarang bisakah kita pergi?" ini untuk kedua kalinya Quella datang dari arah belakang tubuh Vince. Lantas laki-laki itu segera berbalik badan.
Semua yang di pakai Quella masih sama, hanya saja roknya kini berukuran panjang. Hingga setengah sepatu booth hitamnya tidak terlihat. Sudut bibir Vince terangkat melihat itu.
"Yeah. Ini jauh lebih baik. Ayo pergi!"
"Musik ini..." Quella berpikir keras saat mendengar musik yang sedang di mainkan oleh Vince.
"Apa kamu mengingat sesuatu?" tanya Vince spontan dan--Penuh harap.
Quella menggelengkan kepalanya. "Aku hanya merasa familiar,"
Raut wajah Vince sedikit berubah. Ada kekecewaan terpancar di sana. Tapi tidak apa, semua butuh proses.
"Ini lagu kesukaan kita berdua," ungkap Vince bernada pelan.
"Benarkah?" tanya Quella ragu.
Vince mengangguk. "Kita dulu selalu mendengarkannya saat duduk berdua sambil memandang langit yang sama,"
"Apakah kita dulu sering memandang langit bersama?"
"Sangat. Bahkan sudah menjadi rutinitas kita," sahut Vince di sela fokus mengemudi.
"Kamu akan selalu beradu menunjuk bintang yang paling terang denganku. Sampai akhirnya tertidur di pundakku tanpa sadar," sambungnya.
Quella dapat melihat senyuman laki-laki itu berbeda. Bukan senyuman manis saja tapi juga tampak makna tersirat--Kerinduan mendalam. Seindah itukah kenangan mereka? Sampai laki-laki itu sangat merindukannya. Dan kenapa ia belum bisa mengingatnya sama sekali? Kenapa!? Quella semakin ingin mengingatnya.
"Aku belum bisa mengingatnya," ucap Quella pelan, bahkan hampir tidak terdengar.
Vince menoleh sekilas ke arah istrinya itu. Lalu sebelah tangannya mengelus kepalanya. "Tidak apa-apa. Aku mengerti,"
Deg...
Hati Quella tiba-tiba berdebar kencang. Perlakuan Vince begitu hangat. Perlakuan yang selama ini hanya di dapatkannya dari tuan Sam, setelah kematian kedua orang orang tuanya. Rasanya mata Quella memanas. Hingga perlahan air matanya menetes. Vince terkejut menyadari hal itu dan langsung menghentikan mobilnya.
"Xaviera... Apa ucapanku ada yang menyakiti hatimu?" tanya Vince khawatir.
Quella menggelengkan cepat kepalanya dan mengusap air mata yang sempat menetes. "Tidak,"
"Lalu kenapa kamu menangis?"
"Aku hanya merasa terharu," jawab Quella apa adanya.
"Kenapa?" tanya Vince sekali lagi.
"Tidak ada yang memperlakukanku seperti ini, selain pamanku dan kedua orang tuaku," jawab Quella.
Vince menghela nafas lega. "Ku kira kamu menangis karena ada ucapanku yang salah,"
Lantas laki-laki itu menarik tangannya dari kepala Quella dan kembali mengemudikan mobil.
"Kita mau kemana?" tanya Quella mengganti topik pembicaraan.
"Kamu maunya kemana?" tanya balik Vince.
"Eum..." Quella mengetuk-ngetuk dahinya, memikirkan hendak kemana.
"Bagaimana kalau kita ke coffeshop?""
"Kamu berniat mengajakku begadang malam ini?" celetuk Vince.
Quella meringis pelan. "Bukan begitu. Kopi salah satu minuman yang cocok di minum saat dingin seperti ini,"
"Tapi itu akan membuat mata kita terjaga. Minum yang lain saja, Xaviera!" cetus Vince tidak menyetujui ajakan istrinya itu.
"Baiklah. Bagaimana dengan minum susu cokelat hangat full cream saja?" usul Quella.