
"Baiklah. Nanti saya ajak kamu ke sini. Sekarang ayo makan!"
Quella tidak membalas, melainkan menarik segera piring di hadapannya dan mulai memasukkan sedikit demi sedikit suapan makanan ke dalam mulutnya. Awalnya hanya sedikit tapi perlahan berubah menjadi banyak. Vince tersenyum tipis melihat istrinya itu makan dengan lahap. Sudah sangat lama ia tidak melihat pemandangan seperti itu. Bahkan saking tidak ingin melewatkannya, Vince belum juga sedikit pun menyentuh makanan di piringnya. Tentu Quella menyadari hal itu dan merasa risih dengan tatapan yang Vince berikan.
"Ehmmm. Anda tidak makan juga?" Quella berdeham ringan membuat Vince tersadar.
"Baru saja saya mau makan," sahut Vince masih dengan senyuman tipisnya yang menambah pesona dari ketampanan wajahnya itu.
Pesona yang sebisa mungkin Quella hindari dengan langsung mengalihkan tatapannya ke arah luar jendela. Seolah tengah sibuk melihat pemandangan kota di siang hari.
"Apa lukamu sudah sembuh?" tanya Vince memecah keheningan yang sempat terjadi.
Quella menatapnya sekilas, sebelum kembali menatap ke arah luar jendela. Pertanyaan Vince seketika membuat pikirannya melayang memikirkan Davichi. Yeah, perempuan yang beberapa hari lalu bertemu dengannya dan Wileen. Perempuan yang hampir saja melukai mata Wileen dengan garpu. Beruntung Quella bisa mencegahnya, meski telapak tangannya terluka. Bicara Davichi--Keluarga perempuan itu tiba-tiba jatuh bangkrut. Entah apa yang terjadi sebenarnya. Quella hanya di beritahu Wileen bahwa keluarga Davichi mengalami kebangkrutan. Namun tanpa sepengetahuannya, Vince-lah yang telah membuat hal itu terjadi. Balasan setimpal atas luka yang Davichi berikan pada Quella.
"Xaviera!" Vince kembali bersuara sebab Quella belum juga menjawab pertanyaannya.
"Eh... Iya," sentak Quella, usai menarik dirinya dari lamunan memikirkan Davichi.
"Kamu sedang memikirkan apa? Sampai melamun seperti itu," rupanya Vince melihat Quella yang tadi tengah melamun.
Quella bingung harus menjawab apa. "Tidak. Saya hanya... Ya, saya hanya berpikir darimana Anda tahu bahwa saya terluka?"
"Sudah saya bilang sebelumnya, saya tahu semua tentangmu. Termasuk bagaimana kamu bisa terluka,"
Jawaban Vince spontan membuat Quella menerka-nerka sesuatu yang berhubungan dengan perihal kebangkrutan keluarga Davichi. Apalagi ia sudah mengetahui betapa berpengaruhnya seorang Vince Marson. Bukan hal mustahil apabila terkaannya benar terhadap laki-laki yang tengah makan bersamanya itu.
"Eum. Apa Anda juga yang..." Quella menggantungkan ucapannya. Ia ragu untuk menyampaikan terkaannya pada Vince. Namun sepertinya laki-laki itu tampak mengerti dengan isi pikirannya.
"Maksudmu, apa saya juga yang membuat keluarga perempuan itu bangkrut?" potong Vince.
Quella menganggukan kepalanya dengan pelan. Vince pun menghentikan kegiatan makan siangnya dan meletakkan sendol, serta garpu di tangannya ke atas piring. Kemudian kedua matanya menatap intens istrinya itu.
"Jika benar saya, apa kamu marah?" tanya Vince serius.
"Tapi kenapa? Maksudku...," belum sempat Quella menyelesaikan ucapannya, laki-laki itu kembali bersuara.
"Kamu harus tahu satu hal. Dari dulu saya tidak pernah membiarkan siapapun melukaimu, meski hanya goresan kecil saja. Jadi siapapun yang telah melukaimu pasti akan mendapat balasan dari saya," ungkap Vince bernada tegas. Rahangnya tampak mengeras. Seolah memperlihatkan pada Quella bahwa ucapannya itu bukan sekedar main-main saja.
Glek...
Dengan susah payah Quella menelan ludahnya. Ternyata terkaannya itu benar. Dan yang lebih mengejutkankan, laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu memiliki sifat overposesif dan kejam. Buktinya Davichi yang membuat telapak tangannya terluka, sekarang berakhir dengan mengalami kebangkrutan. Itu agak berlebihan, pikirnya.
"Bukankah itu agak--Berlebihan?" tanya Quella tergagap.
"Dia memang pantas mendapatkannya. Saya tidak suka melihatmu terluka," jawab Vince yang kini nada bicaranya terdengar lembut tapi terkesan tegas.
Quella menjadi bungkam. Sepertinya sulit untuk menghadapi sifat Vince yang baru di ketahuinya. Entahlah. Mungkin memang sedari dulu laki-laki itu bersifat overposesif, hanya saja Quella tidak ingat.
`Kenapa aku bisa memiliki suami overposesif sepertinya? Dan benarkah aku sangat mencintainya, seperti yang paman katakan? Arghh... Mungkin ke depannya kehidupanku akan sulit karena harus bersamanya,` batin Quella
"Xaviera... Kamu mungkin melupakan semuanya, termasuk tentang diri saya. Tetapi, seperti inilah diri saya sejak dulu. Saya tidak pernah suka melihatmu terluka. Sehingga saya pasti membalas siapapun orang yang telah membuatmu terluka. Saya ingin menjagamu dari segala hal. Perlahan kamu juga akan tahu dan melihatnya sendiri. Dan... Ini adalah salah satu cara bagaimana saya mencintamu," ucap Vince--Menatap hangat Quella yang langsung terpaku mendengarnya.
***
Semenjak mendengar ucapan Vince tadi, Quella benar-benar bungkam. Bahkan perempuan itu hanya diam mengikuti setiap langkah Vince yang tengah menuju ke mobilnya.
"Xaviera!" panggil Vince menarik Quella dari alam pikirannya.
"Hm ya?" Quella tersentak kaget.
Vince menggelengkan kepalanya. Sudah beberapa kali istrinya itu sibuk dengan pikirannya sendiri. "Kamu ingin langsung pulang atau kembali ke kampus?"
"Pulang," sahut Quella singkat.
"Oh baiklah," balas Vince sembari membukakan pintu mobil untuk istrinya itu.
"Silahkan!" sambungnya.
Quella mengangguk. "Terima kasih,"
Perempuan itu segera berjalan masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kursi kemudi. Vince juga langsung masuk ke dalam mobil, usai menutup pintunya. Laki-laki itu mengemudikan mobilnya sendiri. Padahal biasanya ada sang sopir yang mengemudikan mobil untuknya. Tetapi, tidak sekarang sebab Vince ingin dirinya sendiri yang mengantarkan Quella pulang. Laki-laki itu terlalu merasa senang karena akhirnya bisa bersama istrinya lagi setelah hampir dua tahun lamanya.
"Bisa minta nomor ponselmu? Saya belum punya," tanya Vince di sela mengemudikan mobil.
Quella mengernyitkan dahinya. "Bukankah kata Anda tadi, Anda tahu semuanya tentang saya?"
Spontan Vince tertawa. "Hhaha. Itu benar. Terkecuali nomor ponselmu. Saya belum mempunyainya karena ingin kamu sendiri yang memberikannya,"
Deg...
Jantung Quella berdebar kencang kala melihat bagaimana Vince tertawa untuk pertama kalinya. Dimana tawanya tidak kalah memesona seperti senyuman yang sering kali ia perlihatkan.
`Mengapa tawanya... Sangat memesona?` batin Quella
"Xaviera... Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan? Sampai suka melamun seperti ini?" celetuk Vince menarik Quella dari rasa terpesonanya.
"Tidak ada. Mana ponsel Anda!?" pinta Quella, mengalihkan topik pembahasan.
"Sebelum itu, bisakah kita bicara tanpa panggilan formal? Saya merasa kurang nyaman," ucap Vince balik meminta.
"Maksudnya seperti apa?" tanya Quella pura-pura tidak mengerti.
"Seperti panggilan Saya-Anda berubah menjadi Aku-Kamu, mungkin? Agar kita tidak terlihat seperti rekan kerja," jawab Vince sedikit bercanda. Ia ingin mencairkan suasana kaku di antara mereka.
"Aku-Kamu?" ulang Quella memastikan.
"Iya. Aku dan kamu," sahut Vince membenarkan.