
Quella terperangah sesaat. Entah kenapa panggilan Aku dan Kamu itu agak aneh untuk di ucapkannya.
"Ada apa? Apa kamu keberatan?" tanya Vince yang sedari tadi belum mendapatkan jawabannya dari istrinya itu.
Lantas Quella menatap laki-laki itu dengan intens. "Bukan. Saya hanya belum terbiasa,"
"Baiklah. Saya cukup mengerti keadaanmu yang masih merasa canggung dengan hubungan ini. Kamu akan terbiasa seiring berjalannya waktu," ucap Vince layaknya seorang laki-laki yang bijaksana. Dirinya sadar bahwa Quella tidak bisa di paksa dan akan mulai terbiasa dengan sendirinya. So, ia harus bersabar dalam membuat perkembangan dalam hubungan mereka.
"Terima kasih," entah mengapa tanpa di sadari, sudut bibir Quella terangkat--Menunjukkan senyuman tipis. Senyuman yang baru kali ini ia perlihatkan pada laki-laki itu.
Vince terpaku melihat itu. Benarkah istrinya tersenyum? Laki-laki itu sempat tidak mempercayai apa yang baru saja di lihatnya. Namun sedetik kemudian, ia turut melemparkan senyuman yang tampak tidak pernah ada habisnya.
"Sama-sama. Hmmm tapi kamu harus mulai mengurangi gaya bicara formalmu padaku, begitu juga dengan saya--Maksudnya aku. Kamu bisa memulainya dengan menganggapku bukan sebagai laki-laki yang berstatus sebagai suamimu. Misalkan sebagai teman? Sahabat? Kakak? atau apapun yang kamu inginkan. Aku tidak keberatan asalkan kamu nyaman,"
"Bagaimana kalau paman?" tanya Quella spontan dengan polosnya.
Mata Vince membulat sempurna. Raut wajahnya tampak sangat terkejut. "Hei, apakah aku terlihat setua itu di matamu?"
"Fuffft... Haha.."
Reaksi laki-laki itu membuat Quella tertawa. Lucu. Bagaimana bisa laki-laki yang begitu mendominasi bisa bereaksi selucu itu.
"Apakah ada yang lucu?" tanya Vince menaikkan sebelah alisnya.
"Tidak ada...Hhaha" jawab Quella di sela tawanya yang masih terdengar.
Vince yang tengah fokus mengemudikan mobil, sesekali mencuri pandang ke arah Quella. Cantik. Istrinya itu semakin terlihat cantik saat tertawa. Apalagi tawa itu sudah lama tidak Vince dengar. Ada perasaan hangat menjalar di sekujur tubuhnya. Ia merasa sangat bahagia bisa mendengar kembali tawa itu--Tawa yang juga menjadi salah satu kerinduannya selama ini. Sehingga ia membiarkan Quella tertawa sampai puas. Meski dirinya tidak tahu alasan kenapa istrinya itu tertawa.
"Maaf," ungkap Quella tiba-tiba, usai tawanya berhenti.
"Kenapa?" tanya Vince mengernyitkan dahinya. Quella bisa melihatnya karena laki-laki itu tengah menatap lurus ke depan.
"Eumm tidak apa-apa. Usiamu berapa?" Quella bertanya balik, mengembalikan topik pembicaraan mereka sebelumnya.
Vince menoleh sekilas ke arah istrinya itu. "Kamu belum tahu usiaku berapa?"
"Jika aku tahu, aku tidak akan bertanya padamu," celetuk Quella yang tanpa sadar sudah mulai mengubah gaya bicaranya menjadi non-formal. Cukup bagus.
"Baguslah kamu sudah mulai mengubah gaya bicaramu padaku," puji Vince tersenyum puas.
Sontak pipi Quella merah merona karena salah tingkah. Perempuan itu baru menyadari perubahan pada gaya bicaranya barusan. Vince bisa melihat bagaimana istrinya itu salah tingkah dari sudut matanya. Tetapi, ia berusaha menahan tawa.
"Usiaku baru 25 tahun. Tidak cocok di panggil paman olehmu," sambungnya.
"Oh. Lalu ku panggil apa?" Quella pun teralihkan, usai sempat merasa salah tingkah.
"Apa saja. Asal jangan paman, papa, apalagi kakek! Aku belum setua itu, Xaviera," sahut Vince dengan menekankan kalimat terakhirnya.
Quella terkekeh pelan. Rupanya laki-laki itu tidak menerima di tuakan sebelum usianya wk. "Oke-oke. Aku tidak akan memanggilmu dengan panggilan itu. Bagaimana kalau aku memanggil dengan namamu saja? Meskipun usiamu lebih tua dariku, rasanya tidak cocok kalau ku memanggilmu kakak. Kita bukan kakak-beradik. Benar, kan?"
"Baiklah. Tidak masalah. Asalkan kamu nyaman," Vince sama sekali tidak keberatan dengan itu. Baginya kenyamanan Quella lebih ia utamakan.
"Jadi mana ponselmu? Biar aku masukkan nomor ponselku," tanya Quella yang mengembalikan topik awal pembicaraan mereka.
Laki-laki itu segera merogoh saku jasnya untuk mengambil ponselnya dan langsung memberikannya pada Quella.
"Apa sandinya?" Quella bertanya sebab layar ponsel laki-laki itu terkunci.
"Tanggal pernikahan kita,"
"Berapa?"
"200220," balas Vince sembari menatap Quella sekilas.
Quella memasukkan nomor sesuai dengan yang Vince katakan barusan.
Klik
Kunci layar berhasil terbuka. Hal pertama yang Quella lihat di layar ponsel Vince adalah foto pernikahan mereka terpajang sebagai walpaper. Di foto itu mereka berpelukan mesra. Dirinya juga terlihat sangat bahagia. Sayang, ia melupakan hal itu dan sampai saat ini masih merasa terkejut akan hubungannya dengan Vince.
`Kenapa aku tidak mengingatnya sama sekali?` batin Quella
Meski pertanyaan itu sering muncul, Quella tidak juga mendapatkan jawaban yang di inginkan. Kepalanya masih belum benar-benar bisa di paksakan untuk mengingat. Sehingga ia berusaha menyingkirkan pertanyaan itu.
"Kamu sangat cantik," ucap Vince tiba-tiba, sontak mengalihkan tatapan Quella dari layar ponselnya.
"Hah apa?"
"Ya, kamu sangat cantik di foto itu. Perempuan tercantik yang pernah ku temui," mata Vince mengarah pada ponselnya yang tengah di pegang Quella.
Blush...
Pipi Quella kembali merona. Entah mengapa secara perlahan kata-kata Vince mulai memengaruhinya. Oh astaga. Quella tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia di buat salah tingkah dengan kata-kata Vince. Secepat mungkin Quella menyibukkan dirinya dengan memasukkan nomor ponselnya tanpa membalas ucapan laki-laki itu. Vince terkekeh pelan karena berhasil membuat Quella jadi salah tingkah.
`Fuffft. Dia sangat mengemaskan saat salah tingkah seperti ini,` batin Vince
"Ini sudah," Quella menyerahkan kembali ponsel itu pada empunya.
Vince mengambil ponselnya. Lalu melihat sekilas layarnya yang sudah tertera nama kontak Quella.
"Nanti ku hubungi!" serunya. Quella hanya menganggukkan kepala.
Setelah itu pembicaraan mereka berakhir, tepat di saat mobil Vince berhenti di depan rumah Quella. Vince segera turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Quella turun. Istrinya itu pun langsung turun dari mobil.
"Terima kasih," ungkap Quella pada Vince yang sedang berdiri menatapnya.
"Apa hanya itu? Kamu tidak berniat untuk mengajakku masuk dulu?" Vince bertanya dengan memainkan kedua alisnya.
Quella menggigit bibir bawahnya. "Maaf. Masuklah! Aku akan buatkan minum untukmu,"
"Aku bercanda, Xaviera. Lain kali saja aku terima ajakanmu. Sekarang ada urusan pekerjaan yang harus kukerjakan," sahut Vince sedikit terkekeh.
"Ah baiklah. Sampai jumpa!" seru Quella tersenyum kikuk. Laki-laki itu terus saja membuatnya bingung dalam bersikap.
"Jadi kamu ingin berjumpa denganku lagi?" Vince bertanya tapi terdengar seperti sedang menggoda.
"Eh?" sentak Quella.
"Baiklah. Aku juga ingin berjumpa denganmu lagi secepatnya," timpal Vince sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Beristirahatlah. Sampai jumpa--Sayang!" sambungnya. Sebelum berjalan masuk kembali ke dalam mobil dan kemudian mobilnya melaju kembali, meninggalkan Quella yang sedang terpaku.
Quella mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Apa yang terjadi dengan laki-laki itu? Mengapa sikapnya bisa berubah 180 derajat sekarang? Dimana laki-laki yang bersikap kalem dan tenang itu? Argh... Quella benar-benar tidak menyangka dengan sikap Vince hari ini. Laki-laki itu sekarang senang menggodanya.
"Apakah itu juga salah satu sifat aslinya?" gumamnya penuh tanda tanya, sembari berjalan memasuki rumahnya.
Sisa hari Quella habiskan dengan memikirkan keputusan yang telah di ambilnya hari ini dan bagaimana sifat asli seorang Vince Marson. Mungkin akan banyak kejutan yang nantinya ia dapatkan. Kejutan dari hal yang ia lupakan.