THE LAWYER'S SECRET WIFE

THE LAWYER'S SECRET WIFE
Eps 11. Apa yang Terjadi?



Usai makan bersama, Gerald kembali di ajak Zelda untuk ikut menonton film di bioskop yang ada di Mall tersebut. Laki-laki itu langsung setuju karena Quella juga tampak tidak keberatan sama sekali. Mereka pun segera pergi ke bioskop dan menonton film bersama. Selama film berlangsung, tidak jarang Zelda dan Wileen berteriak histeris. Bukan karena filmnya menakutkan tapi terlalu baper. Pasangan utama di film itu tidak henti-hentinya memperlihatkan keromantisan. Ah sangat sesuai dengan genrenya. Meski juga terdapat banyak adegan perkelahian yang begitu sengit. Tetapi, itu sangat seru sekali.


Quella menikmati setiap adegan di film itu dengan tenang sembari memakan popcorn. Tidak seheboh kedua sahabatnya. Ia juga sesekali melirik Gerald yang duduk di sebelahnya. Laki-laki itu tampak sama tenangnya dalam menikmati setiap adegan film itu. Jika melihat respon semua orang di ruangan itu, sepertinya hanya ia yang satu sefrekuensi dengannya. Setidaknya itu lebih baik daripada harus sendirian di tengah teriakan histeris semua orang.


"Apa kakak pernah jatuh cinta?" tanya Gerald tiba-tiba, sontak membuat Quella melirik sekilas ke arahnya.


"Gue?" tanyanya dengan dahi mengernyit.


Gerald mengangguk. "Heum. Apa pernah?"


Quella kembali menatap lurus ke depan. Ia memikirkan sejenak pertanyaan Gerald barusan. Jatuh cinta? Apa ia pernah merasakannya? Rasanya tidak. Sejauh ini ia tidak pernah merasakan perasaan itu terhadap laki-laki. Mungkin karena usianya masih muda dan belum ada laki-laki yang mampu membuatnya merasakan jatuh cinta.


"Gak pernah," jawab Quella apa adanya. Namun, hatinya merasa bahwa jawabannya itu salah. Entahlah. Ia pun tidak tahu.


"Benarkah? Mungkin kakak pernah jatuh cinta pada seseorang tapi tanpa sengaja melupakannya,"


Deg...


Entah kenapa detak jantung Quella menjadi tidak karuan. Ucapan Gerald membuat perasaan aneh pada dirinya. Pernah tapi tanpa sengaja melupakannya? Kalimat itu memenuhi kepalanya. Sakit. Quella memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. Berberapa kepingan ingatan yang seperti tidak beraturan dan tidak jelas gambarannya, muncul di kepalanya. Apa semua itu? Quella tidak tahu. Kepalanya benar-benar terasa sakit sekali.


"Kakak kenapa?" tanya Gerald khawatir melihat tingkah Quella yang sedang menahan sakit di kepalanya. Sementara itu, Zelda dan Wileen tidak menyadari bahwa Quella tengah kesakitan.


"Ga--Gakpapa. Kepala gue hanya terasa sakit," jawab Quella pelan tanpa menatap ke arah Gerald.


"Apa perlu ku belikan obat? Sepertinya kakak sangat kesakitan," Gerald khawatir dengan keadaan Quella yang pasti di sebabkan oleh ucapannya tadi. Ia juga menyesal karena tidak bisa menahan diri.


Quella menggelengkan kepalanya. "Ini tidak akan lama. Jadi gak perlu obat,"


"Tapi--"


"Duduk dan menontonlah dengan tenang! Gue akan tambah sakit kepala kalau lo ngajak bicara terus," cetus Quella sembari memijat perlahan kepalanya.


Sontak Gerald langsung diam dan kembali menonton film. Meski begitu, sesekali Gerald melirik ke arah Quella. Laki-laki itu berharap sakit di kepala Quella segera hilang atau ia akan terkena masalah nanti.


Quella tidak menyadari bahwa Gerald sesekali melirik ke arahnya. Ia menyadarkan tubuhnya ke kursi dan memejamkan mata. Tetapi, tangannya tidak berhenti memijat kepalanya untuk mengurangi rasa sakit. Beberapa menit melakukannya, kepala Quella tidak kunjung terasa lebih baik. Justru semakin terasa sakit. Kepingan ingatan itu yang memenuhi kepalanya juga semakin jelas dengan berbagai macam suara. Quella berusaha untuk melihat satu dari kepingan ingatan itu tapi tidak bisa. Kepalanya seperti menolak usahanya dengan semakin terasa sakit. Sehingga Quella hanya bisa menahan sakit tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.


Perlahan sakit di kepalanya mulai mereda, saat Quella tidak memaksakan diri untuk melihat lebih jelas semua kepingan ingatan yang tadi memenuhi kepalanya. Quella membuka matanya dengan hembusan nafas terdengar kasar.


`Apa semua tadi? Aku tidak pernah merasakannya sama sekali,` batin Quella


Quella tidak mengerti. Apa yang sedang terjadi pada dirinya sekarang. Dimana hal ini baru terjadi padanya. Membingungkan. Quella bingung pada dirinya sendiri. Kepalanya terasa sakit dan beberapa kepingan ingatan yang tidak jelas muncul memenuhi isi kepalanya, di sertai berbagai macam suara. Apa mungkin itu adalah ingatannya tapi mengapa ia tidak ingat sama sekali? Quella benar-benar bingung.


"Quella!" panggil Wileen membuyarkan lamunan Quella yang sedang beradu pertanyaan pada dirinya.


"Filmnya udah selesai nih. Lo gak mau pergi?" Wileen mengisyaratkan matanya ke arah layar bioskop dan Quella mengikuti arah tatapannya. Dimana filmnya benar sudah selesai.


"Kita pergi ke mana sekarang?" tanya Quella sembari membenarkan posisi duduknya yang tadi bersandar nyaman di kursi. Ia bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun pada dirinya.


"Pulang deh. Gue udah capek," jawab Zelda yang tengah bersandar di kursi. Kepalanya sedikit mendongak.


"Lo gimana, Ger?" giliran Gerald yang di tanya oleh Wileen.


"Sepertinya aku juga mau pulang sekarang. Mama pasti sudah menunggu di rumah," sahut Gerald melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Ya sudah. Kita pulang sekarang," ucap Quella beranjak berdiri dari duduknya. Keadaannya sudah membaik dan Gerald lega akan hal itu.


Mereka pun segera pergi dari ruang bioskop itu. Sepanjang perjalanan, masih ada terjadi pembicaraan di antara Zelda, Wileen dan Gerald. Biasa, pembicaraan santai. Bukan pembicaraan serius. Terkadang tawa di antara mereka terdengar dan Quella hanya jadi penyimak. Ia memang agak lebih suka diam mendengarkan. Namun ada kalanya ia juga banyak bicara, terutama saat berhadapan dengan kedua sahabatnya.


"Kalian ke sini pakai apa?" Gerald bertanya tepat sesudah keluar dari pintu utama Mall tersebut.


"Mobil. Tuh di sana!" tunjuk Wileen ke arah mobilnya yang terparkir di antara beberapa mobil lain.


"Bagaimana denganmu?" sambungnya bertanya balik.


"Aku pakai motor," jawab Gerald bernada bangga. Iyalah bangga. Laki-laki bermotor pasti terkesan keren di mata banyak perempuan.


Zelda langsung berbinar-binar mendengar itu. "Benarkah? Itu sangat keren. Kapan-kapan boleh dong gue ikut lo,"


"Next time ya, kak!?" balas Gerald setuju.


Berbanding balik dengan Wileen yang menatap jengah ke arah Zelda. "Memangnya lo bisa naik motor? Nanti masuk angin, siapa yang repot? Pasti gue sama Quella. Jadi mending lo gak usah sok-sokan mau naik motor. Daripada akhirnya lo merepotkan kita,"


"Dih, itu gak bakal terjadi. Lagian Gerald juga oke-oke aja. Kenapa lo harus merasa repot sih?" Zelda sedikit menyolot pada Wileen.


"Udah deh. Kalau kalian terus bicara, kapan kita pulang? Katanya capek tapi masih bisa aja tuh bicara seperti ini," celetuk Quella menengahi pembicaraan kedua sahabatnya yang bisa menjadi panjang.


Zelda dan Wileen menjadi cemberut. Sementara itu, Gerald terkekeh pelan. Lucu. Yah interaksi ketiga sahabat itu terlihat lucu. Keadaannya seperti Quella menjadi ibu dan kedua sahabatnya seakan menjadi anak kecil yang menggemaskan saat tidak bisa melawan ucapan sang ibu. Ya, benar seperti itu keadaannya.


"Kita pulang duluan, Ger! Lo hati-hati di jalan!" sambungnya menyeru pada Gerald.


"Kalian juga, kak!" sahut Gerald.


Kemudian mereka berpisah di sana. Quella segera menarik kedua sahabatnya untuk masuk ke dalam mobil. Tampak kedua sahabatnya itu tidak rela berpisah dari Gerald. Benar-benar dua perempuan yang rada eror karena melihat laki-laki berwajah tampan.