
Quella dan Vince berjalan mengitari kawasan Mall yang sangat besar itu. Lalu mendatangi beberapa toko untuk membeli barang yang Quella inginkan. Cukup memakan waktu lama tapi Vince tidak sekalipun terdengar mengeluh. Sebagian laki-laki akan mengeluh saat menemani perempuan berbelanja. Namun Vince justru tampak senang menemani Quella. Tidak jarang ia ikut memberikan pendapat atas barang yang istrinya itu ingin beli.
"Ada lagi yang ingin kamu beli?" tanya Vince usai keluar dari toko buku sembari membawa beberapa paperbag belanjaan Quella.
Quella tampak menggelengkan kepalanya. "Aku sudah membeli semuanya,"
"Lalu sekarang mau kemana lagi?"
"Pulang mungkin. Aku sudah lelah," sahut Quella yang memang benar adanya.
"Baiklah tapi sebelum pulang, kita makan siang dulu. Ini sudah waktunya," ucap Vince menatap singkat ke arah jam tangannya, kemudian kembali menatap Quella.
"Boleh,"
"Mau makan di sini atau di tempat lain saja?"
Vince bertanya sebab ada beberapa hal yang harus berdasarkan keputusan Quella, salah satunya tempat makan. Laki-laki itu benar-benar memperlakukan Quella sebagai seseorang yang memiliki tahta tertinggi di hati dan kehidupannya. Kebahagiaan, impian dan semua tentang Quella di atas segala hal bagi Vince.
Sangat manis, bukan?
"Jangan di sini! Aku ada tempat makan favorit. Itu pun kalau kamu tidak keberatan," celetuk Quella membuat Vince berdecak gemas dan mengusap puncak kepalanya yang di tutupi topi.
Perlakuan laki-laki itu sedari tadi tentu tidak terlepas dari tatapan semua orang yang berada di sekitar sana. Sebagian dari mereka tampak menjerit pelan melihatnya. Bagaimana tidak? Perlakuan seperti itu begitu di inginkan semua gadis. Apalagi kalau yang melakukannya adalah seorang Vince—Salah satu laki-laki yang banyak di idamkan. Huh mereka iri pada Quella—Gadis yang di perlakukan sedemikian manisnya oleh Vince.
"Aku tidak pernah keberatan apapun kalau itu kamu yang menginginkannya, sayang. Jadi ayo pergi ke sana!" seru Vince seraya menggenggam erat tangan Quella seolah tidak ingin melepaskannya.
Quelle tersenyum dari balik maskernya. Lalu tanpa membalas, ia segera berjalan sambil bergandengan tangan dengan Vince keluar dari mall tersebut. Tidak memedulikan bagaiman tatapan semua orang pada mereka.
[Author: Rasanya dunia hanya milik mereka berdua ygy>_<]
****************
Mobil yang di kemudikan Vince tengah melaju menuju tempat berdasarkan arahan dari Quella. Hanya memerlukan waktu sekitar 20 menit untuk mencapai tempat itu.
"Di sini?" tanya Vince memastikan bersamaan dengan menghentikan mobil.
Quella menganggukkan kepalanya. "Semua makanan di sini tidak kalah enak. Tenang saja!"
"Pilihanmu pastinya tidak salah. Aku menjadi tidak sabar untuk mencobanya," ungkap Vince begitu antusias.
Akhirnya mereka berdua pun turun dengan penampilan yang masih sama. Quella memakai masker, sedangkan Vince memperlihatkan betapa tampan wajahnya itu. Beruntung di sana tidak ramai sehingga keadaannya tidak seperti saat di Mall tadi. Dimana sebagian orang memusatkan perhatian pada mereka, bahkan menjerit histeris melihat keberadaan Vince. Tidak mengherankan mengingatkan laki-laki itu memang sangat terkenal karena popularitasnya, maupun ketampanan yang ia miliki.
"Siang, paman!" sapa Quella menghampiri sosok laki-laki paruh baya yang tengah berdiri di balik meja pemesanan sembari sibuk merinci sesuatu. Tentunya dengan Vince mengikuti di belakang.
Laki-laki paruh baya itu mendongak dan menemukan keberadaan Quella yang langsung di kenalinya. "Ah, Quella? Sudah lama kamu tidak ke sini. Sangat sibuk, ya?"
"Bukan sangat sibuk tapi ada sedikit masalah, paman. Makanya aku baru ke sini," celetuk Quella tanpa berniat memberitahukan alasan sebenarnya. Ia tidak ingin membuat paman Tyo merasa khawatir dan terkejut mendengar keadaannya beberapa waktu lalu.
"Begitukah? Paman harap masalah itu sudah berhasil kamu atasi," ungkap paman Tyo.
"Tentu saja sudah. Kalau tidak, mana mungkin aku datang,"
Sontak saja ucapan Quella mengundang kekehan pelan paman Tyo yang tengah menatap sosok Vince. Begitu familiar, pikirnya. Quella tahu kalau paman Tyo berusaha mengenali Vince.
"Nanti saja kita lanjutkan berbicara. Sekarang tolong buatkan aku sup buatan paman yang enak seperti biasa! Aku sangat lapar," sambungnya dengan memasang raut wajah sedikit memelas.
"Hahaha baiklah, akan paman buatkan. Bagaimana dengan laki-laki di sebelahmu?" tanya paman Tyo di sela tertawa renyah.
Quella menatap ke arah Vince yang sedari tadi masih diam mendengarkan. "Mau makan dan minum apa?"
"Samakan kamu," sahut Vince sembari tersenyum tipis.
"Berarti buatkan dua porsi sup dan air putih saja," ucap Quella pada paman Tyo yang langsung di angguki pelan.
"Kalian duduk dan tunggulah dulu!" seru paman Tyo.
Lantas Quella segera mengajak Vince untuk pergi menuju meja yang letaknya ada di sudut kedai. Posisinya cukup berjarak dari meja lain. Selain itu terdapat sebuah dinding pemisah yang di lengkapi beberapa tanaman hias di sekitarnya. Sehingga pengunjung lain tidak dapat melihat jelas ke arah mereka. Meja yang strategis untuknya dan Vince, bukan?
"Kamu tampak sangat dekat dengan pemilik kedai ini," cetus Vince usai mendudukkan diri di sebelah Quella.
"Bisa di bilang begitu karena aku sering datang ke sini saat ada waktu luang. Paman Tyo dan istrinya sudah menganggapku sebagai bagian keluarga mereka," jelas Quella yang tentunya di mengerti oleh Vince.
"Aku senang kamu di kelilingi orang baik di sini," ungkap Vince seraya mengelus punggung tangan Quella dengan lembut.
Quella menganggukkan kepalanya. "Aku juga merasa beruntung karena bisa mengenal orang-orang baik seperti mereka,"
Vince tersenyum tipis mendengar hal itu. Tanpa berniat membalasnya dan terus mengelus punggung tangan Quella. Sebuah tindakan yang tentu cukup membuat hati Quella berdesir hangat.
Tidak berselang lama, seorang gadis datang menghampiri mereka dengan membawa nampan berisi dua mangkuk sup serta dua gelas air putih. Gadis itu merupakan salah satu pekerja di kedai milik paman Tyo.
"Selamat menikmati!" seru gadis itu menunduk sekilas usai meletakkan pesanan mereka di atas meja.
"Terima kasih," ungkap Quella singkat.
Gadis itu pun menganggukkan kepala sembari tersenyum tipis. Sesaat ia menatap sosok Vince yang tentu sangat di kenalinya. Cukup terkejut akan keberadaan laki-laki itu tapi ia berusaha untuk tidak heboh dan bergegas pergi meninggalkan mereka. Masih banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan.
"Cobalah! Rasanya tidak kalah enak dari makanan yang ada di restoran," ucap Quella pada Vince yang tengah menatap semangkuk sup di hadapannya.
Vince tidak pernah meragukan apapun yang di katakan istrinya. Jadi tanpa menunda lagi, ia segera memakan sup tersebut. Suapan pertama sudah berhasil membuatnya terdiam sejenak, membiarkan rasa sup menyatu dengan lidahnya.
"Bagaimana?" Quella bertanya sebab Vince tampak masih terdiam.
Sontak laki-laki itu menatap ke arahnya. Kemudian bibirnya menyunggingkan senyuman tipis.
"Sangat enak,"
Quella pun ikut tersenyum. Tentu saja sup paman Tyo sangat enak. Itulah sebabnya ia menyukainya—Bukan, sangat menyukainya malah. Ia pun langsung memakan sup miliknya dengan begitu lahap. Sungguh ia benar-benar lapar. Sama halnya yang di lakukan oleh Vince. Mereka berdua makan tanpa ada pembicaraan sedikit pun. Vince tahu istrinya itu sangat lapar, makanya ia tidak mengajak berbicara. Hingga akhirnya mereka berdua selesai makan. Bertepatan dengan kedatangan paman Tyo.
"Maaf baru menemui kalian lagi. Ada beberapa pekerjaan yang harus paman kerjakan di belakang," tutur paman Tyo setibanya di meja mereka berdua dan duduk berhadapan.
"Tidak masalah. Aku tahu paman sibuk," sahut Quella yang mengerti benar bagaimana kesibukan laki-laki paruh baya itu di kedai. Dimana cukup ramai akan pengunjung yang berdatangan.
"Yah beginilah. Ah—Lupakan soal itu! Bukankah sekarang sebaiknya kamu memperkenalkan siapa laki-laki ini pada paman?" paman Tyo mengangkat sebelah alisnya, menatap Vince lalu beralih kepada Quella.
"Dia—Vince Marson. Paman pasti mengenalnya," ujar Quella memperkenalkan Vince secara singkat.
Spontan paman Tyo tercengang mendengarnya. "Pengacara yang terkenal itu, kan?"
"Benar," bukan Quella yang menjawab, melainkan Vince sendiri.
"Pantas saja wajah Anda cukup familiar untuk saya. Maaf tidak mengenali sebelumnya," paman Tyo merasa tidak enak hati karena sempat tidak mengenali orang sepenting Vince.
"Tidak apa-apa, paman. Dan tolong jangan bersikap formal seperti ini! Perlakukan aku sama seperti paman pada Xaviera," pinta Vince dengan tulus.
"Tapi—"
"Lakukan saja seperti yang di mintanya, paman. Dia suamiku," sela Quella lebih dulu, sebelum paman Tyo menyelesaikan ucapannya.
"Oh baik—Hah!? Suami?" paman Tyo tampak tersentak kaget. Pendengarannya tidak sedang bermasalah, kan? Pikirnya.
Beruntung letak meja mereka lumayan berjarak dengan meja pengunjung lain. Terlebih lagi suasana kedai sedang cukup ramai. Sehingga pembicaraan mereka tidak terdengar oleh pengunjung lain.
"Iya suami," timpal Quella membenarkan.
"Kapan kalian menikah? Kenapa tidak memberitahu paman dan bibi?" tanya paman Tyo masih dengan raut wajah terkejutnya.
"Sudah lama," Quella menjawab apa adanya.
Paman Tyo langsung menatap Vince. Seolah memastikan bahwa yang di ucapkan Quella adalah sebuah kebenaran.
"Itu benar. Untuk lebih rincinya, mungkin lain kali saja kami ceritakan. Sekarang bukan waktu yang tepat," ucap Vince yang tentunya dapat di mengerti oleh laki-laki paruh baya itu.
"Baiklah, paman mengerti. Pasti ada alasan di balik kalian menyembunyikan hal ini," cetus paman Tyo tidak memaksa untuk tahu. Biarkan Quella dan Vince menceritakannya di saat yang tepat menurut mereka berdua.
"Hmmm nanti kalian datanglah ke rumah. Bibimu pasti akan sangat terkejut mengetahui ini, Quella! Semoga tidak sampai jantungan saja," sambungnya menceletuk.
Setelah itu pembicaraan di antara mereka berakhir. Quella dan Vince memutuskan untuk pulang usai berpamitan dengan paman Tyo. Sebenarnya ini keputusan Vince yang masih kekeh meminta istrinya itu beristirahat. Padahal Quella sendiri benar-benar sudah merasa sangat baik. Namun sudahlah—Ia harus menurut pada laki-laki yang berstatus sebagai suaminya tersebut.