
"Kenapa tertawa?" tanya Quella bingung.
Spontan Vince mulai menghentikan tawanya yang sempat pecah. "Hhaha... Itu karena kamu lucu,"
"Lucu?" ulang Quella dan laki-laki itu membalas dengan anggukan kepala.
"Maksudku pengetahuanmu itu lucu, Xaviera. Darimana kamu tahu bahwa para laki-laki tidak suka susu cokelat hangat? Setahuku di tempatmu kuliah tidak ada pengetahuan tambahan soal apa saja yang para laki-laki sukai atau tidak,"
"Aku hanya sering melihat para laki-laki menolak untuk meminum susu cokelat hangat," ungkap Quella polos.
Vince terkekeh sebelum mencubit gemas hidung istrinya itu. "Menolak bukan berarti tidak suka, Xaviera... Mungkin mereka ada halangan untuk meminumnya, seperti masalah kesehatan? Kamu juga tahu sendirikan kalau orang yang mempunyai masalah kesehatan harus membatasi makanan dan minumannya,"
"Benar juga, ya? Aku lupa soal itu," celetuk Quella memayunkan bibirnya.
"Jadi jangan berpikir aku tidak menyukainya," timpal Vince sembari mengusap pelan kepala istrinya itu.
"Tapi aku tidak mengerti alasan kamu menyukainya," Quella menyela di tengah merasakan hangatnya susu cokelat yang dirinya pegang.
"Alasannya adalah kamu, Xaviera..." sahut Vince yang spontan membuat Quella menoleh.
"Aku?" tanya Quella menunjuk dirinya sendiri.
Vince menganggukan kepalanya. "Benar--Kamu,"
"Ke--Kenapa?"
"Hmmm... Aku menyukai apapun yang kamu sukai," Vince berdeham singkat.
"Sesimpel itu?" tanya Quella dengan raut wajah melongo.
"Iya begitulah," jawab Vince tersenyum.
Tetap saja Quella tidak merasa puas dengan jawaban Vince. Namun ia juga enggan bertanya lagi dan memilih diam menatap pemandangan kota di depannya sembari meminum susu cokelat hangatnya sampai habis.
"Sudah makan malam?" tiba-tiba Vince membuka suara, tepat setelah Quella nenghabiskan susu cokelatnya.
"Em.. Belum. Kamu?"
"Aku juga belum. Bagaimana kalau sekarang kita pergi makan?" ajak Vince yang langsung di angguki oleh Quella.
"Boleh,"
Kemudian mereka berdua pun segera pergi dari sana. Kali ini Quella yang memilih tempat untuk mereka berdua makan malam. Dimana tempat itu berupa restoran bernuansa modern-klasik. Di sana cukup ramai akan pengunjung. Sehingga Quella meminta Vince agar mereka memesan ruang VIP saja, demi keamanan. Vince menyetujuinya dan kini mereka telah berada di dalam ruang VIP yang jendelanya memperlihatkan suasana jalanan dari atas.
"Mau pesan apa?" tanya Vince pada Quella yang tengah melihat buku menu.
Di dekat mereka ada seorang pelayan yang sedari tadi menunggu untuk mencatat pesanan.
"Sepertinya Spaghetti cocok untuk di makan sekarang. Aku ingin Spaghetti dengan rasa pedas yang sedang dan tambahkan potongan daging kecil di atasnya," ucap Quella usai melihat isi buku menu.
"Tidak. Jangan makan yang pedas!" seru Vince tidak setuju.
"Aku hanya meminta pedas sedang. Kenapa tidak boleh?" celetuk Quella.
Vince menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mau sedang atau apapun itu, tetap saja namanya pedas. Aku tidak mengijinkanmu memakannya,"
"Tapi aku ingin Spaghetti pedas sedang," timpal Quella masih bersikeras.
"Ingat kesehatanmu, Xaviera. Selama ini kamu cukup sering memakan makanan pedas. Lalu apa yang terjadi? Asam lambungmu naik. Kamu suka sekali ya mencari penyakit?" Vince berucap dengan nada datar.
Oh tidak. Laki-laki itu sungguh overprotektif. Quella menjadi kebingungan untuk menghadapinya.
Ia bertanya pada dirinya sendiri, kenapa harus menuruti apa kata laki-laki itu? Ini dirinya sendiri. Segala hal tentangnya hanya ia yang bisa menentukan. Namun entah mengapa mulutnya kesulitan untuk mengatakannya pada laki-laki itu.
"Aku apa? Sudahlah, Xaviera. Turuti ucapanku! Ini kebaikan dirimu sendiri," sela Vince lebih dulu.
Sontak Quella memayunkan bibirnya. Raut wajahnya tampak menunjukkan sedikit kekesalan. "Hmmm baiklah. Aku pesan Spaghetti biasa saja,"
"Good Girl's!" puji Vince tersenyum puas.
Kemudian Vince memberitahukan pesanannya dan Quella pada pelayan tadi. Pesanan mereka pun langsung di catat.
"Mohon tunggu sebentar, tuan, nona!" seru pelayan itu, sebelum pamit pergi dari dalam sana.
Sambil menunggu pesanan, Quella sempat memeriksa ponselnya. Ada beberapa pesan yang perlu ia balas. Sehingga ia bertingkah seolah hanya ada dirinya sendiri di sana. Padahal Vince sedang duduk berhadapan dengannya. Bahkan laki-laki itu tidak berhenti menatapnya.
"Xaviera... Aku ingin berbicara sesuatu padamu," ungkap Vince memecah keheningan.
Spontan Quella berhenti bermain ponselnya dan menatap laki-laki itu. "Tentang apa?"
"Kamu sudah tahu tentang hubungan kita. Apakah kamu bisa tinggal bersamaku sekarang?"
Pertanyaan Vince membuat Quella terkejut. Seperti yang ia pikirkan beberapa hari ini, laki-laki itu memintanya untuk tinggal bersamanya. Sekarang dirinya harus jawab apa? Haruskah ia mengatakan bahwa dirinya belum siap untuk itu atau hal lain.
"Tenanglah, Xaviera. Aku memintamu tinggal bersamaku bukan untuk hal yang kamu pikirkan. Aku hanya ingin kita menjadi lebih dekat dan sering bersama. Mungkin dengan itu kamu akan mengingat semuanya," sambungnya menjelaskan maksud ucapannya barusan.
"Aku akan memikirkannya dulu," sahut Quella ragu.
"Ya pikirkanlah dulu! Aku tidak akan memaksamu untuk sekarang," Vince tersenyum dan tangannya mengelus kepala Quella untuk ke sekian kalinya.
"Terima kasih," ungkap Quella pelan. Laki-laki itu membalas dengan anggukan.
Setelahnya keheningan menyelimuti mereka. Hingga pelayan tadi datang membawakan pesanan.
"Selamat menikmati!" seru pelayan itu ramah.
Baik Quella, maupun Vince sama-sama menganggukkan kepalanya. Kemudian pelayan itu pergi lagi.
"Selamat makan!" tanpa sengaja mereka berdua mengucapkannya secara bersamaan.
Quella tersenyum kikuk sembari mulai menyantap makanannya. Sedangkan Vince tampak begitu santai. Akhirnya mereka berdua makan bersama tanpa banyak suara tapi bagi Vince itu sudah lebih dari cukup. Bagaimana tidak? Ia bisa menatap lekat istrinya itu dari jarak yang begitu dekat. Hal yang sudah 1 setengah tahun ini tidak ia lakukan. Sehingga Vince tidak ingin melewatkannya begitu saja. Laki-laki itu bahkan lebih banyak menatap Quella daripada makanan di hadapannya.
Beruntung gak keselak makanan wk.
Selesai makan malam bersama, Vince mengajak Quella pergi lagi. Kali ini tempat-tempat yang mereka datangi berupa tujuan para pasangan saat sedang berjalan berdua. Dimana tempatnya begitu romantis.
"Xaviera!" panggil Vince di sela berjalan menyusuri jalan di tepi sungai yang ada di tengah kota.
Laki-laki itu tengah melakukan penyamaran dengan memakai masker dan topi hitam. Tentu hal itu atas permintaan dari Quella.
"Iya?" Quella menoleh ke arah laki-laki itu.
"Bolehkah aku menggenggam tanganmu?"
Wushhh... Angin tiba-tiba datang menerpa keadaan di sana. Seakan mengerti bagaimana perasaan Quella saat mendengar permintaan Vince. Dan--Entah mengapa tanpa sadar, ia langsung mengangguk setuju.
"Terima kasih," ungkap Vince tersenyum di balik masker.
Perlahan tangan laki-laki itu menyentuh tangan Quella. Hingga akhirnya menggenggam erat. Seolah tidak ingin melepaskannya lagi. Quella terdiam sembari menatap Vince menggenggam tangannya di sepanjang jalan. Perasaan aneh semakin menjalar di sekujur tubuhnya.
`Ada apa ini? Kenapa rasanya aneh sekali?` batin Quella