
Sesampainya di kantin kampus, mereka bertiga memesan masing-masing. Suasana kantin yang ramai membuat mereka harus menunggu beberapa saat. Sebelum akhirnya pesanan mereka siap.
"Ini uangnya. Kembaliannya ambil aja," ucap Wileen sembari memberikan sejumlah uang pada pemilik kantin tersebut. Ia membayarkan sekaligus pesanan kedua sahabatnya.
"Terima kasih, nona Wil!" sahut perempuan paruh baya yang segera menerima uang itu.
Wileen mengangguk, di sertai senyuman tipis. Lalu ia bersama Quella dan Zelda segera pergi dari kantin.
"Padahal gue bisa bayar sendiri tadi. Lo gak perlu repot-repot," Quella berucap di sela berjalan beriringan dengan Zelda dan juga Wileen.
"Siapa coba yang repot? Santai aja kali. Lagian kan udah biasa gue kaya gini. Jadi mending uang lo itu simpan buat keperluan lain," ucap Wileen yang tengah meminum cokelat hangat miliknya.
"Iya nih, si Quella. Selagi Wil mau neraktir, kenapa di tolak coba? Anggap aja kita lagi irit uang makan wk," canda Zelda begitu santainya.
"Nah bener tuh," timpal Wileen membenarkan. Emang tidak ada yang salah dengan ucapan Zelda.
"Yah, baiklah. Terima kasih, Wil," pada akhirnya Quella hanya bisa pasrah. Mana bisa menang melawan kedua sahabatnya itu.
"Kaya sama siapa aja," celetuk Wileen.
Kemudian pembicaraan mereka berakhir tepat di persimpangan koridor lantai 3 kampus. Mereka berbeda fakultas. Quella masuk ke fakultas Management Bisnis, Zelda masuk ke fakultas Tata Busana dan Wileen masuk ke fakultas Kedokteran. Oleh karena itu, mereka akan selalu berpisah di persimpangan koridor itu.
"Sampai jumpa di kantin nanti!" seru Zelda melambaikan tangan kepada kedua sahabatnya.
"Oke," balas Quella dan Wileen bersamaan.
Mereka bertiga segera pergi menuju ruangan mata kuliah pertama masing-masing. Ruangan Quella lebih jauh dari kedua sahabatnya karena berada di lantai 4. Setibanya di ruangannya, Quella mengambil tempat duduk di paling pojok. Ia ingin meminum cokelat hangatnya terlebih dulu sambil menunggu mahasiswa lain berdatangan dan juga Dosen mata kuliah pertama. Tidak berselang lama, Dosen yang di tunggu sudah datang. Suasana ruangan yang semulanya ramai tiba-tiba menjadi senyap. Kebiasaan yang sudah di wajibkan. Apabila Dosen masuk, semua kegiatan di ruangan di hentikan. Para mahasiswa harus memperhatikan Dosen yang sedang mengajar. Jika pun ingin bertanya, Dosen akan memberikan waktu untuk itu.
"Pagi semuanya!" sapa Dosen yang merupakan pria paruh baya.
"Pagi, pak!" sahut semua mahasiswa, tanpa terkecuali Quella sendiri.
"Sudah siap kembali belajar?" tanya Dosen tersebut.
"Siap," jawab semua mahasiswa kembali.
Dosen pun segera mulai mengajar. Quella dan semua mahasiswa seruangannya langsung mencatat setiap hal yang di katakan penting. Sisanya mereka hanya memperhatikan dan akan bertanya saat di perbolehkan.
***
Selesai mata kuliah pertama, dilanjutkan mata kuliah kedua. Hingga akhirnya mata kuliah kedua berakhir tepat di jam makan siang. Quella berjalan keluar dari ruangannya, beriringan dengan mahasiswa lain. Tujuan Quella sekarang tentu saja kantin. Sedari tadi perutnya sudah menahan lapar. Selain itu, kedua sahabatnya itu pasti sudah menunggunya di kantin. Quella berjalan memasuki kantin yang ramai akan para mahasiswa. Kedua matanya menelusuri setiap sudut kantin untuk mencari keberadaan kedua sahabatnya itu. Sampai akhirnya ia berhasil menemukan Zelda tengah melambaikan tangan ke arahnya. Quella bergegas berjalan menghampiri Zelda di meja paling pojok. Tempat kesukaan mereka.
"Mana Wil?" tanya Quella sembari duduk di kursi yang berhadapan dengan Zelda.
"Dia lagi ke kamar kecil. Bentar lagi juga balik. Btw, lo mau pesan apa? Biar gue pesan sekalian,"
Quella tampak berpikir sejenak. "Hmmm samain sama lo aja deh. Minumnya jus anggur,"
"Oh oke. Tunggu bentar ya!" seru Zelda yang langsung beranjak berdiri dari kursi tempat duduknya.
Zelda berjalan pergi menuju meja pemesanan yang sedang banyak antrian para mahasiswa. Quella mengamati sahabatnya itu dari jauh. Entah bagaimana caranya, para mahasiswa itu mau memberikan Zelda antrian paling depan. Sontak Zelda bisa mendapatkan pesanannya dengan cepat dan kembali ke meja dengan senyuman begitu menggoda. Banyak para mahasiswa yang tampak curi-curi pandang padanya.
"Nih pesanan lo," Zelda memberikan pesanan milik Quella.
"Lo apakan mereka? Sampai mau ngalah antri buat lo," Quella berucap sembari meminum jus anggur miliknya. Benar-benar mengobati rasa hausnya.
"Biasa. Gue rayu dikit. Eh semuanya pada baper," celetuk Zelda dengan senyuman begitu nakal. Quella hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya.
Bersamaan dengan kedatangan Wileen yang baru kembali dari kamar mandi. Perempuan itu tampak tersenyum sumringah. Hah Quella dan Zelda sudah bisa menebak penyebabnya apa. Pasti laki-laki tampan yang memenuhi kriteria idaman Wileen.
"Laki-laki mana yang baru lo temui?" tanya Zelda tanpa basa-basi.
"Gue gak tahu. Tadi gue gak sengaja ketemu dia di tangga. Buset ganteng bet. Udah gitu, wajahnya juga manis gimana gitu. Hati gue langsung di buat meleleh," jawab Wileen bernada sedikit lebay. Ia sudah duduk di samping Zelda tapi belum menyantap makanannya sama sekali.
"Kayaknya yang lo maksud, para mahasiswa baru deh. Soalnya mereka pada ganteng semua. Gue lihat kemarin," Zelda menebak dengan begitu yakin.
"Mungkin iya. Nanti bantuin gue cari tahu tentang dia, ya!" seru Wileen bersemangat dan penuh harap.
"Okelah. Gue juga mau sekalian cuci mata. Biar mata gue sehat," sahut Zelda tidak kalah bersemangat.
Quella diam mendengarkan karena enggan ikut dalam pembicaraan kedua sahabatnya itu. Dimana Zelda dan Wileen memiliki pikiran satu frekuensi soal laki-laki. Bahkan mereka bisa habiskan waktu seharian hanya untuk membicarakan itu. Ampun dah. Quella bosan mendengarnya. Oleh karena itu, Quella selalu menyibukkan diri dengan hal lain. Seperti saat ini, ia hanya sibuk menghabiskan makan siangnya.
"Eh habis ini kalian punya mata kuliah lagi?" tanya Wileen sembari mulai menyantap makanan yang Zelda pesankan untuknya.
"Gue masih punya 1 mata kuliah," jawab Quella di sela makan.
"Sama," timpal Zelda
"Eum kalau gitu, sore nanti aja kita jalan. Gimana?"
"Boleh sih. Gue juga gak ada kerjaan," sahut Zelda menyetujui.
"Gimana sama lo?" Wileen beralih bertanya pada Quella.
"Emangnya kita mau jalan ke mana?" tanya Quella yang tampak tidak tertarik untuk pergi.
"Kemana aja," jawab Wileen santai.
"Hmmm baiklah," Quella berdeham ringan. Tidak ada salahnya ia ikut jalan. Apalagi selesai kuliah, ia tidak punya kegiatan.
"Oke deh. Nanti biar gue jemput lo berdua. Dandan yang cantik," ucap Zelda begitu antusias untuk jalan.
"Siap,"
Setelah itu mereka lanjut berbicara hal lain, sampai makan siang mereka habis. Mereka bertiga segera beranjak berdiri. Namun tanpa sengaja seseorang tersenggol Quella, hingga minumannya tumpah. Sontak pakaian Quella menjadi basah.
"Ups, sorry!" seru orang tersebut pura-pura terkejut.
Quella menatap datar ke arah orang itu. Sebaliknya Zelda tampak kesal akan tindakan orang tersebut yang terkesan pura-pura, padahal sengaja.
"Lo sengaja, ya!?" pekik Zelda--Jari telunjuknya menunjuk lantang orang tersebut.
"Gue gak sengaja," sanggah orang tersebut tanpa rasa bersalah.
"Gue gak percaya. Lo pasti sengaja. Biar baju Quella basah," tuduh Zelda dengan nada tinggi.
Spontan hal itu menjadi pusat perhatian para mahasiswa yang masih berada di kantin. Mereka tidak berani mendekat dan hanya melihat dari tempat duduk mereka.
"Biarpun gue sengaja, apa ada masalah? Lagian bajunya juga murah. Masih bisa di ganti dengan harga yang sama. Itu pun jika sahabat lo ini masih punya uang buat beli lagi," orang itu bersedekap dada. Bukannya meminta maaf, ia malah menghina Quella.
"Lo perhatian banget ya sama gue. Sampai khawatir gue gak punya uang buat beli baju yang baru. Btw, makasih banyak loh. Gue jadi merasa terharu," bukannya marah, Quella justru bersikap santai.
Quella memang tidak pernah menunjukkan kemarahannya. Meski sering kali orang menghina dan menindasnya hanya karena penampilannya yang sederhana. Quella lebih banyak diam atau membalas dengan kata-kata lembut. Bahkan tidak jarang, ia membalas dengan senyuman. Sikapnya itu hanya karena tidak ingin berbuat masalah pada mereka. Quella ingin fokus pada pendidikannya tanpa ada masalah yang menganggunya. Tetapi, justru sikapnya itu membuat mereka semakin gencar menghina dan menindas. Namun Zelda dan Wileen tidak membiarkan orang bertindak buruk pada Quella. Sebisa mungkin mereka menjaganya.