THE LAWYER'S SECRET WIFE

THE LAWYER'S SECRET WIFE
Eps 33. Peringatan



"Lo nolak gue?" tanya Yocelyn menatap tajam Quella yang sedang berdiri tegak di hadapannya.


"Anggap saja seperti itu," jawab Quella tersenyum tipis. Tidak sedikitpun ia merasa takut pada perempuan yang berstatus sebagai senior 2 tingkat di atasnya itu.


Sorot mata Yocelyn semakin tajam, bahkan tampak menakutkan. "Lo berani!? Gue bakal bayar lo berapa pun. Ingat BERAPA PUN! Asalkan permintaan gue lo turuti,"


"Sekali lagi maaf, Senior Yocelyn. Permintaan lo gak bisa gue turuti karena itu di luar dari hak gue yang cuma menjadi salah satu penanggung jawab. Dan juga, permintaan lo ini bukan hal yang benar. Berusahalah jika lo ingin menang. Perlihatkan semua kemampuan yang lo punya. Jangan hanya mengandalkan kekuasaan, apalagi kekayaan yang lo punya! Lo akan terlihat seperti pengecut nanti," ucap Quella santai, sembari berniat pergi dari sana.


"Apa lo bilang!? Pengecut? Berani lo menyebut gue sebagai pengecut heh!?" geram Yocelyn yang sedari tadi sudah berusaha menahan diri.


"Senior sendiri yang menyebutnya. Gue cuma bilang akan seperti, bukan benar-benar seperti pengecut. Sepertinya pendengaran lo sedang bermasalah," kilah Quella dengan tatapan datarnya.


Yocelyn langsung beranjak dari duduknya. Kini amarahnya sudah terpancing. Quella memang pintar bersilat lidah tanpa harus bersusah payah mengeluarkan emosi. Dirinya mungkin terlihat tenang di luar tapi tidak dapat di ungkiri, jika ia juga merasa kesal.


"Gue udah minta baik-baik tapi lo justru nyebut gue sebagai pengecut!? Lo sangat ingin gue buat kedua sahabat lo itu malu, ya!?" bentak Yocelyn meninggikan suaranya dan menunjuk tajam ke arah Quella.


Quella menatap intens seniornya itu. "Lo bisa berbuat apapun sama gue tapi jangan sekali pun lo berani nyentuh kedua sahabat gue!"


Bukannya merasa takut, Yocelyn justru tersenyum sinis. Ia tahu bahwa salah satu kelemahan Quella adalah kedua sahabatnya.


"Terserah gue dong. Siapa suruh lo nolak permintaan gure. Jadi ya, jangan salahkan gue kalau kedua sahabat lo itu bakal malu!"


"Berani lo lakukan itu! Gue pastikan hal buruk terjadi sama lo," ucap Quella bernada datar.


"Lo ngancam gue!?" tanya Yocelyn semakin emosi.


"Selama ini gue diam bukan karena takut sama lo. Tetapi kalau lo berani berbuat sesuatu pada kedua sahabat gue--Gue gak bakal tinggal diam!" jawab Quella yang terdengar sedang memberi peringatan pada Yocelyn.


"Sialan lo!" Yocelyn bergerak hendak mendorong Quella, sayang pergerakannya itu sudah terbaca.


Quella bisa menghindari dengan gesitnya dan alhasil membuat Yocelyn jatuh tersungkur ke depan.


Bruk...


"Argh!" ringis Yocelyn pada posisi tengah mencium lantai.


Teman-teman Yocelyn berusaha menahan tawa mereka karena tidak mau mendapat amukan dari perempuan itu. Beruntung tidak ada mahasiswa lain di sana, jika ada--Mereka pasti akan tertawa saat melihat perempuan seangkuh Yocelyn terjatuh dalam posisi seperti itu. Beda halnya dengan Quella yang hanya tersenyum miring melihatnya.


"Jangan terlalu lama mencium lantai, Senior Yocelyn! Lantainya sangat dingin. Gue takut nantinya lo bakal jatuh sakit dan gak bisa ikut acara nanti. Kan, sayang kalau lo gak ikut. Para mahasiswa lain akan merasa acara tidak berjalan dengan sempurna. Gue gak mau itu terjadi," ucap Quella yang lebih terdengar sedang meledek Yocelyn.


"Diam! Arghhh..." bentak Yocelyn sembari berusaha bangun.


"Lo semua, kenapa pada diam! Cepat bantu gue!" sambungnya pada teman-temannya yang sedari tadi hanya diam memperhatikan.


(Padahal mereka ingin sekali tertawa wk)


"I--Iya, yo!" sahut teman-temannya yang langsung bergegas membantu Yocelyn berdiri.


Yocelyn kembali berdiri usai di bantu teman-temannya. Tetapi, beberapa bagian tubuhnya terasa sakit karena jatuh tersungkur.


"Kenapa lo nyingkir? Jadinya gue jatuh, kan!?"


"Eh... Gue kira lo mau meluk gue. Jadinya gue menghindar. Bukan karena gak mau di peluk lo tapi setahu gue, lo paling gak suka sama penampilan gue. Nanti kalau lo meluk gue, takutnya lo bakal ketularan penyakit apalah itu dan pada akhirnya gue juga yang di salahin. Daripada di salahin, makanya gue menghindar. Gak di sangka bakal berakhir dengan lo cium lantai," jawab Quella bernada sok polos.


Belum selesai Yocelyn berucap, Quella sudah menyelanya lebih dulu. "Tenang, Senior Yocelyn! Jangan marah karena orang pemarah, katanya cepat tua. Lo pasti gak mau di tuakan sebelum waktunya, bukan?"


"Lo benar-benar berani ya sama gue!!?" teriak Yocelyn menunjuk tajam ke arah wajah Quella.


Quella bersikap biasa saja. Bahkan tidak sedikit pun ada raut ketakutan di wajahnya. "Udahlah. Gue akan pergi sekarang. Tampaknya lo butuh air dingin buat dinginin rasa panas di diriku. Selamat sore, senior Yocelyn!"


Tanpa di suruh, Quella berjalan pergi dari sana. Meninggalkan Yocelyn yang tengah emosi karena ulahnya.


"Awas saja lo, Quella! Gue bakal balas semua ini!" teriak Yocelyn memperingatkan Quella yang sudah berjalan menjauhnya. Jika saja tubuhnya tidak terasa sakit, dapat di pastikan ia akan mengejar Quella dan memberinya pelajaran setimpal.


Quella tidak membalas apapun dan terus berjalan pergi dari sana. Moodnya menjadi buruk dan membuat niatnya tadi untuk ke kantin batal. Sekarang tujuannya adalah pulang, lalu berendam di air hangat agar tubuhnya rileks. Hari ini cukup membuatnya lelah.


***


Drrtt.. Drrttt... Drrtt...


Suara dering terdengar di ponsel Quella, menandakan sebuah panggilan masuk. Quella yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, lantas segera mengambil ponselnya dan melihat nama si pemanggil.


"Vince?" gumamnya pelan. Tampak dahinya mengerut saat melihat nama Vince tertera sebagai pemanggil.


Quella langsung menggeser tombol menerima panggilan.


"Halo!?"


[Vince📞: Aku ada di luar rumahmu. Keluarlah!]


"Hah!? Di luar rumahku?" Quella tersentak kaget.


[Vince📞: Iya di luar rumahmu, Xaviera!]


Untuk memastikan ucapan laki-laki itu, Quella bergegas pergi ke jendela kamarnya. Dan benar--Tampak Vince yang berpakaian putih casual sedang bersandar di mobilnya dengan ponsel menempel di telinganya.


Hei, bukankah itu terlihat sangat cool?


Tidak. Quella menyingkirkan pikirannya yang lagi-lagi terpesona dengan penampilan Vince. Sekarang terpenting adalah mencari tahu alasan kedatangan laki-laki itu.


[Vince📞: Xaviera... Kamu masih di sana, kan!?]


"Eh--Iya. Kenapa kamu datang ke rumahku?"


[Vince📞: Aku akan menjawab nanti. Sekarang kamu keluarlah! Sebelum para tetanggamu mengenaliku dan membuat urusan yang rumit]


****!


Quella mengumpat pelan. Kenapa dirinya lupa bahwa Vince adalah orang yang terkenal dan sering di beritakan. Bisa rumit urusannya, jika ada orang apalagi tetangganya yang melihat Vince berada di luar rumahnya.


"Tunggu sebentar! Aku segera keluar!" seru Quella yang kemudian mematikan panggilan secara sepihak dan bergegas pergi menghampiri Vince.


"Masuklah!" ajaknya usai menghampiri laki-laki itu.


Vince mengangguk pelan. Ia langsung mengikuti langkah Quella, masuk ke dalam rumahnya untuk yang kedua kali.