THE LAWYER'S SECRET WIFE

THE LAWYER'S SECRET WIFE
Eps 65. Hakmu



"Lalu kenapa mendiamkan aku, hm?" tanya Vince melirik sekilas ke arah Quella yang sedang menatap ke luar jendela.


"Badmood," Quella menjawabnnya dengan singkat.


Vince menghela nafas, lupa kalau istrinya itu moody-an. Dimana membuat moodnya menjadi bagus, sama mudahnya seperti membuatnya menjadi buruk. Sekarang ia mencoba berpikir keras untuk mencari penyebab istrinya badmood. Pikirannya langsung tertuju pada saat Stella datang ke kantornya. Secara istrinya itu tipe yang tidak kalah cemburuan darinya.


"Apa gara-gara tadi Stella datang ke kantorku?" tebak Vince seperti yang ada di pikirannya saat ini.


Quella mendelik sinis ke arah sang suami. "Menurutmu?"


"Kalau benar itu yang membuatmu cemburu, aku minta maaf. Kedatangannya tadi sama sekali bukan di rencanakan, sayang! Aku juga sedikit terkejut melihatnya datang," jelas Vince agar istrinya itu berhenti badmood.


"Dia suka padamu," Quella bersungut kesal saat mengatakannya sebab Vince tidak peka sama sekali.


Hah? Vince berusaha mencerna ucapan Quella barusan. Sebelum sudut bibirnya terangkat sempurna. Istrinya ini selain cemburuan, tingkat kepekaannya juga bisa di bilang cukup tinggi. Ia memang sudah menyadari bahwa Stella menyukainya, meski perempuan itu tidak mengatakannya secara langsung. Ternyata rasa suka Stella padanya juga Quella sadari.


"Tapi aku tidak suka dia. Soalnya rasa suka dan cintaku udah habis ke kamu. Gimana dong?"


"Humphh—Itu bagus," Quella tengah mengulum senyum mendengarnya.


Seketika moodnya sedikit membaik saat mendengar penuturan laki-laki yang berstatus suaminya itu. Memang itu hanya sebuah kalimat tapi begitu terdengar membahagiakan untuknya pribadi.


"Jadi berhentilah memikirkannya, sayang! Itu hanya akan memperburuk moodmu," ucap Vince yang hanya di balas Quella dengan dehaman singkat.


Ucapan suaminya itu memang benar. Ia memang harus berhenti memikirkannya, tetapi bukan berarti moodnya kembali bagus. Dan—Seperti biasanya, ia lebih memilih diam sebagai salah satu caranya untuk memperbaiki moodnya. Sehingga sepanjang perjalanan hanya terdapat keheningan di dalam mobil. Vince juga tidak berniat untuk berbicara lagi sebab sedari dulu istrinya memang lebih memilih diam saat badmood.


Citttt...


Tiba-tiba Vince menghentikan laju mobilnya, padahal letak kediaman mereka masih lumayan jauh. Troy yang mengiringi di belakang juga ikut berhenti. Quella tampak mengernyitkan menatap ke arahnya dan Vince sadar akan hal itu.


"Aku mau keluar dulu sebentar. Kamu tunggu di sini saja," Vince mengucapkannya sebelum Quella bertanya.


Quella pun menganggukkan kepala, meski penasaran akan apa yang ingin laki-laki itu lakukan. Vince segera turun dari mobil dan berjalan pergi memasuki sebuah bangunan. Dimana dari luarnya dapat di ketahui bahwa itu sebuah tempat perbelanjaan berbagai macam makanan.


"Dia mau beli makanan?" gumam Quella usai Vince memasuki tempat tersebut.


Sekarang rasa penasarannya sudah terjawab yang pastinya itu benar. Quella hanya duduk bersandar menunggu Vince kembali sembari bermain ponsel. Tidak berselang lama, pintu mobil di buka yang sontak mengalihkan tatapan Quella dari benda pipih di tangannya itu. Vince masuk ke dalam mobil dengan membawa plastik belanjaan.


"Ini untukmu!" serunya menyerahkan plastik belanjaan tadi pada Quella, tepat sesudah menutup pintu mobil.


"Untukku?" Quella memastikan, Vince menganggukkan kepala.


"Biasanya kan kamu sangat suka makan apapun makanan dan cemilan yang rasanya pedas, terutama di saat badmood. Kata kamu sih, makan kaya gini bisa ngembaliin mood. Makanya aku beliin tapi yang pedasnya biasa saja biar perut kamu tidak kenapa-kenapa,"


Tak ayal Quella langsung menerima plastik belanjaan itu dengan senang hati. Matanya berbinar melihat berbagai jenis makanan berupa cemilan ringan yang rasanya pedas. Sungguh ia sangat mood kalau masalah makanan, apalagi kalau lagi badmood seperti sekarang. Seakan ia melupakan moodnya yang sedari tadi buruk.


"Terima kasih," ungkapnya sembari menunjukkan senyuman yang sempat di tahannya beberapa waktu lalu.


Vince ikut tersenyum melihat bagaimana mudahnya membuat mood Quella membaik. Benar-benar tidak pernah berubah. Dan—Ia lebih suka Quella seperti ini, daripada badmood dan mendiamkannya.


"Apapun untukmu, sayang!" balas Vince mengelus puncak kepala Quella.


Kemudian ia segera melajukan mobilnya, begitu pula dengan Troy yang langsung mengikuti. Di sisa perjalanan, Quella sibuk memakan salah satu cemilan yang Vince belikan. Hal itu tidak luput dari tatapan Vince yang sesekali melirik ke arahnya. Ia juga tidak lupa untuk memberikan Quella sebotol air minum yang memang tersedia di mobilnya untuk di minumnya.


************


Akhirnya Quella dan Vince sudah sampai di kediaman mereka. Mobil yang membawa mereka, berhenti tepat di depan kediaman. Sedangkan Troy memasukkan mobil yang di kendarainya masuk ke dalam garasi.


"Sayang!" panggil Vince sesaat Quella sudah turun dari mobil, begitu pula dengannya.


"Kenapa?" tanya Quella kebingungan.


"Ada satu hal lagi yang ingin ku berikan padamu," jawab Vince berjalan menghampiri Quella.


Alis Quella tampak terangkat sebelah. "Apa itu?"


Tanpa menjawab terlebih dahulu, Vince langsung menarik tangannya dan membawanya ke bagian belakang mobil. Tepatnya di bagian bagasi yang di bukanya secara otomatis menggunakan sebuah tombol. Begitu bagasi terbuka, mata Quella melebar sempurna.


"Wowww! Indah sekali!" pujinya menatap takjub pada sebuah buket bunga mawar merah berukuran cukup besar yang ada di dalam bagasi tersebut.


Selain sangat menyukai berbagai makanan dan cemilan pedas, Quella juga sangat suka bunga mawar. Baik itu mawar merah ataupun putih, ia suka keduanya. Menurutnya semua bunga itu memang cantik serta indah, tetapi bunga mawar lebih memiliki daya tarik tersendiri untuknya.


"Bagaimana? Kamu menyukainya, bukan? Aku sengaja memesannya tadi sore karena kamu mendiamkanku. Saat kamu seperti itu maka situasinya hanya ada dua, antara kamu sedang marah atau badmood. Jadi aku memesan buket bunga mawar yang di rangkai seindah mungkin untukmu, sayang!" ucap Vince bernada lembut dan menatap dalam Quella.


Tiba-tiba saja Quella merasa dejavu akan situasi ini. Kepalanya mulai terasa sakit saat bayangan beberapa ingatannya muncul. Ia memegang kepalanya dan hal itu spontan membuat Vince khawatir.


"Kamu kenapa, sayang? Apa kepalamu terasa nyeri?" nada bicara Vince yang tadinya lembut, berubah menjadi terdengar khawatir. Bahkan ia langsung memegangi tubuh Quella yang sedikit sempoyongan.


[Pov Author: Di kira mabuk kali, pakai sempoyongan segala. Maapin Author yaw. Soalnya gak tau sebutannya apa buat tubuh yang sedikit bergoyang tapi bukan lagi dangdutan wk, selain kata sempoyongan]


"Sssh—Sakit!" lirih Quella yang masih dapat di dengar oleh Vince.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" seru Vince tanpa berpikir panjang lagi berniat membawa Quella masuk kembali ke dalam mobil.


Tetapi Quella menahan tangannya sembari menggeleng pelan di tengah rasa sakit yang melanda kepalanya.


"Sayang—Aku khawatir padamu. Takutnya ada masalah di kepalamu sampai kamu merasa kesakitan seperti ini," Vince mengungkap kekhawatirannya terhadap istrinya itu.


Quella tidak langsung menjawab, melainkan memejamkan matanya. Dimana ia sedang berusaha mengingat beberapa kepingan ingatan yang baru saja muncul. Semakin ia berusaha untuk mengingatnya, rasa sakit di kepalanya juga semakin menjadi-jadi.


"Arghhh!" rintihan Quella membuat kekhawatiran Vince bercampur rasa panik.


"Troy!!!" Vince setengah berteriak memanggil Troy yang kebetulan sudah berjalan keluar dari garasi.


Mendengar panggilan Vince seperti itu, Troy bergegas menghampirinya. Tampak sekali raut khawatir tergambar di wajah sang bos. Ia melihat ke arah Quella yang pastinya menjadi alasan kekhawatiran itu.


"Nona kenapa, tuan?" tanyanya.


"Bawa mobil! Kita ke rumah sakit!" bukannya menjawab, Vince justru memberi perintah.


Troy mengerti dan tidak bertanya lagi akan situasi yang sedang terjadi. Ia bergerak hendak membukakan pintu, sebelum ucapan Quella menghentikan.


"Tidak perlu. Aku tidak apa-apa," ucap Quella yang terdengar lirih tapi masih dapat di dengar oleh Vince dan Troy.


Rasa sakit di kepalanya perlahan berangsur hilang, bersamaan dengan rintihannya tadi. Ia juga berhasil mengingat kembali beberapa kepingan ingatan yang tadi muncul. Semua ingatan itu mengingatkannya terhadap situasi serupa yang terjadi. Dimana saat ia sedang badmood, Vince selalu membelikannya makanan atau cemilan pedas bersama sebuah buket bunga mawar. Entar itu mawar merah, maupun mawa putih. Tidak heran tadi Quella merasa sempat dejavu.


"Tidak apa-apa? Kamu kesakitan sayang. Kita perlu ke rumah sakit untuk memeriksa keadaanmu,"


"Aku mendapatkan sebagian ingatanku lagi," pernyataan Quella barusan sontak mengejutkan Vince.


"Sungguh?" tanya Vince memastikan pendengarannya tidak salah.


Quella mengangguk membenarkan. "Kepalaku sakit karena tiba-tiba muncul bayangan beberapa kepingan ingatan. Dan—Aku berhasil mengingatnya,"


Vince menghela nafas lega, kekhawatirannya sedikit berkurang. Tadi ia benar-benar khawatir melihat Quella kesakitan. "Sekarang bagaimana kepalamu, sayang? Masih terasa sakit?"


"Rasa sakitnya sudah menghilang,"


"Oke," sahut Quella singkat.


Kini Vince tampak tersenyum tipis. Tidak ada lagi kekhawatiran yang sempat ia rasakan tadi. Di gantikan perasaan bahagia saat tahu Quella mendapatkan sebagian ingatannya lagi. Ia yakin secepatnya ingatan istrinya itu akan pulih sepenuhnya.


"Ayo masuk!" ajaknya sembari menggandeng tangan Quella, sedangkan tangannya yang lain mengambil buket bunga mawar tadi.


Padahal bisa saja meminta Troy untuk membawakan tapi itu tidak ia lakukan. Hal-hal yang di peruntukkan untuk istrinya, lebih baik ia lakukan sendiri dan hal itu berlangsung dari sejak mereka masih dekat.


"Kau bisa pulang sekarang, Troy! Sampai bertemu besok di kantor," Vince berseru kepada Troy yang masih berdiri di tempatnya.


"Baik, tuan. Selamat malam!" pamit Troy sedikit menunduk hormat pada mereka berdua.


Vince hanya menggangguk pelan, sebelum berjalan masuk bersama Quella. Troy segera pergi menggunakan mobil yang Vince kemudikan sebelumnya. Mobil itu memang di bawanya pulang atas perintah Vince untuk mempermudah pekerjaannya.


"Kamu sudah makan malam, sayang?" tanya Vince saat sudah melewati ruang tamu.


"Sudah. Bagaimana denganmu?" Quella balik bertanya pada suaminya itu.


"Aku juga sudah. Tadi makan di luar bersama klienku yang lusa nanti sidangnya di langsungkan. Sekalian membahas beberapa hal penting," jawab Vince di sertai penjelasan agar Quella tidak berpikiran negatif.


Sebelumnya tanpa saling tahu di awal, mereka berdua sama-sama berpesan pada pelayan untuk tidak memasak makan malam. Kalaupun memasak, cukup untuk satu orang saja. Ternyata mereka berdua sama-sama tidak makan malam di rumah.


"Eum, baguslah. Semoga persidangan nanti berjalan lancar dan kamu bisa memenangkan kasusnya!" Quella mengucapnya dengan tulus.


Inilah yang dulu sering ia lakukan saat Vince akan menangani kasus saat di persidangan. Sekedar ucapan tapi sangat membuat Vince bahagia dan semangatnya besar. Kalau kata Vince sih, Quella itu memang segalanya. Dari belahan jiwanya sampai Support System terbaik. Tidak heran kalau Vince sangat mencintainya.


"Terima kasih. Aku pasti berusaha semaksimal mungkin," Vince tersenyum begitu manis, menambah kadar ketampanan yang ia miliki.


"Aku tahu itu," balas Quella ikut tersenyum dan sorot matanya tidak bisa berbohong—Kalau ia terpesona dan mengagumi ketampanan Vince.


Sebelum pergi ke kamar, Quella menyimpan cemilan yang Vince belikan terlebih dulu. Meski suaminya itu mengijinkannya makan cemilan pedas itu tapi bukan berarti menghabiskannya secara langsung. Vince tetaplah Vince yang membatasi, bahkan melarangnya memakan makanan atau meminum minuman yang membuat asam lambungnya naik. Jadilah sekarang ia meletakkannya dan akan memakannya lagi nanti.


SKIP


Mereka berdua sudah berada di dalam kamar. Vince meletakkan buket bunga mawar tadi ke atas sofa. Lalu dimana Quella? Jawabannya istrinya itu sudah berlalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia pun pergi meletakkan jam tangan, dasi dan sepatunya ke Walk in Closet. Kemudian duduk bersandar di sofa sambil menunggu Quella, tanpa melepaskan setelan kemeja yang di pakainya.


Pintu kamar mandi baru terbuka setelah 20 menit berlalu. Quella keluar dengan handuk kimono yang membalut tubuhnya dan handuk kecil di gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Pemandangan seperti itu tidak luput dari tatapan Vince. Ia juga adalah laki-laki normal yang gairahnya akan terpancing setiap kali melihat seksinya Quella setelah mandi seperti itu.


"Kenapa?" pertanyaan Quella menyadarkan Vince yang sedari tadi tidak berkedip menatapnya.


"Tidak apa-apa. Aku mandi dulu!" Vince segera beranjak berdiri dan pergi menuju kamar mandi.


`Sepertinya aku harus mandi air dingin lagi,'' batin Vince


Quella hanya menatap punggung Vince yang kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi. Sebenarnya ia pura-pura tidak mengerti apa yang suaminya itu tengah rasakan. Tanpa sadar ia terkekeh pelan sembari berjalan ke Walk in Closet. Di sana ia memilih dan memakai baju tidur model kimono bewarna hitam. Baju tidur itu memiliki bagian dada rendah dan sangat pas di tubuhnya. Tidak lupa pula ia sedikit mengeringkan rambutnya, serta menyisirnya agar terlihat rapi. Terakhir, ia menggunakan skincare yang memang di gunakannya sebelum tidur.


Selesai dengan semua itu, ia keluar dari sana dan berjalan menuju sofa. Ia duduk seraya menyentuh buket bunga mawar merah yang tadi Vince letakkan di sana. Sesekali ia mencium aroma yang bunga mawar mereka itu miliki.


"Harum sekali," gumamnya.


Puas melakukannya, Quella beranjak pergi ke balkon kamar. Hembusan angin dingin langsung menyapa kulitnya. Namun Quella justru menikmatinya di sela menatap hamparan bintang di langit. Ia berada di sana cukup lama dengan tangan memeluk tubuhnya sendiri. Sangat dingin tapi tidak lantas membuatnya beranjak dari sana. Hingga ia tidak sadar bahwa Vince datang menghampirinya.


Grep...


Tanpa berbalik badan pun, Quella bisa tahu kalau yang baru saja memeluknya dari belakang itu adalah Vince—Sang suami.


"Kenapa di sini, hm? Di luar sini dingin," Vince meletakkan dagunya di bahu Quella. Sampai istrinya itu bisa merasakan hembusan nafasnya nan hangat.


"Aku sedang melihat bintang. Dan—Sudah tahu dingin, kamu justru tidak memakai baju," celetuk Quella yang sempat melirik ke belakang.


Benar. Vince sedang bertelanjang dada dan hanya menggunakan handuk yang di lilit di pinggangnya. Ini karena setelah keluar dari kamar mandi, ia tidak menemukan Quella di dalam kamar. Alhasil ia pergi menghampiri Quella saat melihatnya berada di balkon tanpa memakai pakaiannya terlebih dahulu.


"Habisnya saat aku selesai mandi, kamu tidak berada di kamar. Jadi aku langsung pergi mencarimu," sahut Vince masih dengan posisi yang sama.


Quella menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar itu. Padahal suaminya itu bisa memakai pakaian dulu, lalu mencarinya. Tapi—Ya sudahlah, Vince memang bucin akut padanya.


"Langitnya cantik, ya?"


"Tapi lebih cantik istriku ini," celetuk Vince membandingkan.


Quella terkekeh mendengarnya. "Gombal,"


"Aku serius, sayang! Di mataku tidak ada yang lebih cantik selain kamu,"


Perlahan Quella berbalik badan menghadap Vince yang sedikit melonggarkan pelukannya. Kedua tangannya bersedekap dada. "Lama tinggal di sini, kamu makin pintar menggombal. Aku jadi penasaran dari siapa kamu belajar,"


"Buat apa aku menggombal, kalau kenyataannya memang benar seperti itu?" Vince memainkan sebelah alisnya dengan kembali mengeratkan pelukannya pada Quella. Hingga tubuh mereka hampir tidak memiliki jarak lagi.


"Oh benarkah? Kalau begitu coba tuan Vince tatap aku selama mungkin!" pinta Quella tersenyum sembari mengalungkan kedua tangannya ke ke leher Vince.


"Hmm, siapa takut!" Vince melakukan permintaan yang Quella ajukan.


Kini Quella dan Vince saling beradu tatapan di tengah heningnya malam. Angin yang berhembus tidak membuat tatapan mereka terputus. Mereka berdua saling menyelam dalam netra teduh yang di miliki satu sama lain. Tanpa sadar tatapan Vince turun dari mata, ke hidung, lalu ke bibir semerah cherry milik Quella. Entah dorongan dari mana, tiba-tiba Vince memajukan wajahnya. Quella masih diam menatapnya tanpa berniat menjauh. Tampaknya Vince tidak bisa menahan diri lagi dan langsung mencium bibir Quella. Seolah memberikan lampu hijau, Quella membuka mulutnya dan memberikan akses untuk Vince berbuat lebih.


Mendapat lampu hijau itu, Vince segera melancarkan aksinya. Satu tangannya terangkat ke belakang tekuk Quella dan menahannya. Awalnya Quella hanya membiarkan Vince memberikan l*matan demi l*matan nan lembut, sebelum ia membalasnya. Di bawah hamparan bintang, mereka berdua saling berci*man dengan Quella yang berusaha mengimbangi permainan Vince. Cukup lama, sampai Quella merasa hampir kehabisan oksigen. Sadar akan hal itu, Vince langsung menghentikan permainannya dan tersadar.


"Maaf. Aku kelepasan," tuturnya menyesali perbuatannya barusan.


Ia sungguh kelepasan karena tidak dapat menahan gairahnya yang tadi tiba-tiba muncul. Untung saja ia tidak melakukan hal lebih. Takutnya Quella belum siap lagi untuk melakukannya.


"Kenapa minta maaf?" Quella bertanya saat nafasnya sudah teratur, sembari menyentuh rambut Vince yang basah dan berantakan.


"Aku tadi hampir melakukan hal lebih padamu. Maaf, sayang!" sekali lagi Vince meminta maaf pada Quella. Ia tidak ingin membuat istrinya tidak nyaman atau apapun itu karena tindakannya barusan.


"Untuk apa minta maaf? Itu hakmu?


Vince mengerjapkan matanya, sediki tidak percaya dengan ucapan Quella. "Sayang—Maksudmu?"


"Heum, lakukan saja!" Quella berdeham pelan di sela senyuman manis yang mengembang di bibirnya.


"Kamu serius? Maksudku kamu tidak perlu terpaksa untuk membuatku senang. Kita bisa melakukannya nanti,"


"Aku tidak terpaksa. Kamu sudah lama tidak mendapatkan hakmu dan aku ingin memberikannya. Bukankah ini kewajibanku sebagai istri?" imbuh Quella menyakinkan bahwa dirinya tidak terpaksa.


Sontak rasa penyesalan Vince menghilang. Kini yang ada ia sangat bersemangat, bersamaan dengan gairahnya yang kembali naik.


"Terima kasih, sayang!" seru Vince seraya mencium singkat kening Quella.


Kemudian tanpa menunggu lagi, Vince langsung menggendong Quella ala Bridal Style. Quella pun masih menggalungkan tangannya di leher Vince. Laki-laki itu menggendongnya sampai di ranjang, lalu membaringkannya secara perlahan. Setelahnya terjadilah apa yang memang seharusnya terjadi. Kamar itu menjadi saksi bisu mereka berdua saling beradu kasih menyalurkan hasrat yang selama ini hampir dua tahun ini tertahan.


...----------------...


Note: Mohon maap Author gak menjelaskan secara detail wk😆🙏 Soalnya gak berpengalaman nulis yang menjurus ke arah yang lebih dalam soal seperti itu. Jadi para readers bisa membayangkan dan menanggung dosa masing-masing, oke? Jangan di bagi sama Author. Soalnya dosa Author udah banyak weh🥲


Sekian terima sayang.