THE LAWYER'S SECRET WIFE

THE LAWYER'S SECRET WIFE
Eps 62. Cemburu



"Hah?" Vince tersentak mendengar pertanyaan Quella barusan.


"Apa maksudmu, sayang?" sambungnya tidak mengerti.


Tanpa berniat menjawab, Quella justru langsung memberikan ponselnya. Sorot matanya menatap tajam ke arah Vince.


"Lihatlah sendiri!" seru Quella bernada ketus.


Meski sedikit bingung dengan perubahan nada bicara sang istri, Vince tetap mengambil ponsel tersebut. Lalu melihat yang tengah di tampilkan di sana. Perubahan raut wajahnya tampak jelas. Ia sangat terkejut akan semua itu. Dimana hampir semua berita mengatakan bahwa perempuan bermasker yang jalan bersamanya hari ini adalah si Stella—Model terkenal. Di susul tersebarnya foto dan videonya yang lagi bersama. Pantas saja Quella berbicara dengan ketus padanya.


"Ini bukan seperti yang kamu pikirkan atau lihat. Berita ini tidak benar, sayang! Sungguh!" sanggah Vince cepat agar Quella tidak salah paham.


"Jadi apa yang benar? Di berita itu jelas-jelas menunjukkan semua kedekatan kalian," Quella mencetus seraya bersedekap dada.


Jujur saja terlepas dari benar atau tidaknya berita tentang kedekatan sang suami dengan Stella—Model terkenal, ia sedikit terbakar api cemburu. Hati istri mana yang tidak panas melihat semua itu.


Vince mengubah posisi duduknya menghadap Quella. Ponsel yang semula berada di genggamannya kini di letakkan ke atas meja. Ia menarik tangan Quella yang tadi sedang bersedekap dada dan menggenggamnya erat. Matanya nan teduh menatap intens ke arah sang istri yang di bakar api cemburu.


"Aku memang kenal Stella. Dia adalah salah satu Klienku. Hubungan di antara kami murni hanya sebatas pekerjaan. Tidak ada namanya menjalin kedekatan. Semua foto dan video ini mungkin di ambil saat aku sedang menangani kasusnya. Di ambilnya pun dari sisi yang hanya memperlihatkan aku dengan Stella. Padahal kamu sendiri juga tahu bukan kalau Troy selalu bersamaku. Kami tidak benar-benar berduaan saja. Ada Troy dan asisten Stella yang juga berdiri di dekat kami," jelas Vince membeberkan kebenaran sesungguhnya dari semua foto dan video yang tersebar.


"Kamu tidak sedang berbohong, kan?" tanya Quella masih bernada ketus.


Padahal ia tahu jelas kalau laki-laki itu berkata sejujurnya. Tetapi, tetap saja ia tidak bisa mengabaikan rasa cemburunya. Bukan bermaksud meragukan sang suami. Apalagi mengingat betapa besar cinta Vince padanya. Laki-laki itu sudah di fase bucin akut. Tentu hal yang sangat mustahil kalau berita itu benar.


"Aku berkata yang sebenarnya. Kalau tidak percaya, kamu bisa tanyakan pada Troy atau aku perlu memberikan rekaman CCTV di setiap tempat yang kami datangi. Biar kamu bisa melihat sendiri, sayang!" ucap Vince dengan raut wajah seriusnya. Sorot matanya pun tidak menunjukkan kebohongan di sana.


Quella menghela nafas sesaat. "Hmm tidak perlu. Aku percaya padamu,"


"Sungguh?"


Pertanyaan Vince di balas anggukan kepala oleh Quella. Hal itu mengundang senyuman Vince yang kini merasa lega. Setidaknya istrinya itu percaya dengannya.


"Tapi sebaiknya kamu mengurus berita ini. Aku tidak mau mendengar atau melihatnya lagi. Bikin panas," celetuk Quella tanpa sadar memberitahukan bahwa dirinya benar-benar sedang cemburu.


Spontan Vince terkekeh pelan. "Cemburu?"


"Memangnya kenapa kalau cemburu?" Quella menatap sinis ke arah sang suami yang masih terkekeh.


Tanpa di duga Vince justru mencium punggung tangannya. Lalu kembali bersitatap dengannya. "Kamu cemburu itu bagus. Berarti kamu sangat mencintaiku. Dan begitupun sebaliknya—Aku sangat mencintaimu,"


Blush.


Pipi Quella seketika memerah. Argh—Tolong selamatkan ia dari sikap dan ungkapan Vince yang membuatnya salah tingkah.


'Ck, pasti pipiku sangat merah sekarang!' batin Quella


"Hei! Sepertinya aku harus mengatur suhu AC agar lebih dingin. Pipimu mungkin memerah karena kepanasan," sambungnya, menggoda.


Quella langsung memalingkan wajahnya. "Jangan menggodaku!"


"Fuffft—Kamu sangat menggemaskan, sayang!" seru Vince sembari tertawa kecil.


Sungguh ia begitu senang melihat raut wajah Quella yang seperti itu. Bahkan tidak bisa menahan diri untuk mencubit hidung milik sang istri.


"Sudahlah! Aku mau tidur sekarang!" Quella menyingkirkan tangan Vince dari hidungnya dan juga melepaskan genggamannya.


Kemudian beranjak pergi ke ranjang dengan pipi yang masih memerah. Ia sangat salah tingkah sekarang. Sedangkan sang pelaku hanya terkekeh melihatnya dan segera menyusul usai menutup laptop milik Quella.


"Minum obatmu, sayang!" titah Vince memberikan obat yang di anjurkan Dokter untuk Quella minum.


Dengan patuh, Quella langsung meminum obatnya. Baru setelahnya ia berbaring di ranjang dan memunggungi Vince. Melihat itu lagi-lagi Vince di buat terkekeh. Namun ia langsung membawa Quella dalam pelukannya.


"Aku sudah berhenti menggodamu. Jadi jangan marah, oke?" ucapnya di sela mencium puncak kepala Quella.


"Hmmm," Quella hanya membalas dengan berdeham pelan.


"Sekarang tidurlah!"


Saat ini ia sedang menyembunyikan wajahnya di dada Vince. Tentu sambil menghirup aroma tubuh sang suami yang begitu di sukainya. Dan—Tidak butuh waktu lama, ia mulai terlelap. Deru nafasnya yang teratur membuat Vince tahu kalau istrinya itu sudah tertidur.


"Good Night, Sayang! Aku mencintaimu," ciuman hangat di puncak kepala Quella di berikan sebelum ia memejamkan matanya.


...***************...


Setelah berhasil membujuk Vince untuk mengijinkannya masuk kuliah hari ini, sekarang Quella telah tiba di kawasan Universitas. Ia sedang menunggu kedatangan Wileen yang kebetulan juga memiliki mata kuliah di jam ini.


"Udah lama sampe?" pertanyaan itu mengalihkan Quella dari layar ponselnya.


Wileen—Sahabatnya itu baru saja datang menghampirinya. Quella melihat penampilannya dari atas sampai bawah.


"Gak. Gue juga baru aja sampe. Lo habis darimana sampai berpenampilan kaya gini?" celetuk Quella sedikit heran. Pasalnya Wileen berpenampilan cukup formal dengan dress putih di lapisi blazer hitam dan heels tentunya.


"Habis dari kantor bokap. Biasalah ada tamu penting dan gue harus ikut serta menyambutnya," sahut Wileen santai.


Quella mengangguk-anggukkan kepalanya. "Pantesan aja,"


"Lo gak papa, kan?" kini giliran Wileen yang bertanya.


"Memangnya gue kenapa?" tanya Quella balik, bingung.


"Masalah berita yang lagi tersebar. Gue baru liat tadi pagi dan gak sempet nelepon lo karena sibuk sama acara bokap. Sorry banget," jelas Wileen merasa tidak enak hati.


"Oh masalah itu. Lo gak perlu minta maaf. Lagian gue gak papa," Quella berucap apa adanya.


"Serius?" tanya Wileen memastikan.


"Heum. Udahlah, mending kita masuk sekarang. Bentar lagi mata kuliah di mulai!" seru Quella yang memang sempat melirik ke arah jam tangannya.


Wileen mengangguk setuju. Mereka berdua pun bergegas memasuki gedung Universitas dan berpisah di persimpangan yang membedakan arah fakultas. Mata kuliah mereka berdua akan berakhir juga di jam yang sama. Jadi setelah selesai mata kuliah, mereka berdua bertemu di kantin Universitas yang berada di pertengahan gedung fakultas.


"Lo mau apa? Biar gue yang pergi mesan," ucap Wileen seraya meletakkan tasnya di atas meja kantin.


"Jus anggur sama french fries aja deh," sahut Quella usai mendudukkan dirinya di kursi.


"Oke,"


Setelahnya Wileen pergi untuk memesan makanan. Meninggalkan Quella yang mulai bermain ponsel sambil menunggu kedatangan sahabatnya itu.


Di tempat lain...


Tepatnya di kantor VnQ Lawfirm, Vince baru saja habis bertemu dengan calon kliennya. Ia tampak melonggarkan dasi yang melingkar di kerah bajunya.


Vince menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran miliknya. Sekilas ia melirik ke arah asistennya itu. "Tidak ada. Kau cukup mengerjakan tugas yang saya berikan tadi malam,"


"Masalah tugas itu saya sudah mengerjakannya, tuan. Semua berita yang mengatakan kedekatan tuan dan Stella, sudah berhasil di hapus. Namun masih ada beberapa orang yang berusaha untuk menyebarkannya kembali, serta menyakinkan kalau berita tersebut sangat akurat!" jelas Troy tentang hasil pekerjaannya.


"Lalu?" Vince ingin mendengar kelanjutannya.


"Saat ini saya sudah menemukan tiga dari beberapa orang tersebut. Tinggal menemukan sisanya dan berita tersebut akan benar-benar hilang. Tuan tenang saja!"


"Kerja bagus! Kalau perlu kau buat beberapa orang itu mengatakan kebenaran di balik semua foto dan video itu. Saya tidak ingin berita ini mempengaruhi hubungan saya dengan Xaviera," ucap Vince bernada tegas.


"Saya mengerti, tuan. Serahkan semua pada saya!" sahut Troy.


"Hmm. Sekarang kembalilah ke ruanganmu dan juga tetap pantau tim senior! Saya ingin tahu perkembangan usaha mereka untuk menyelesaikan masalah kemarin,"


"Baik, tuan!"


Troy menunduk hormat, lalu berjalan keluar dari ruangan Vince. Sepeninggal sang asisten, Vince memejamkan matanya. Hanya sebentar sebab matanya tiba-tiba terbuka saat teringat Quella.


"Aku merindukannya. Sedang apa sekarang ia di kampus?" gumamnya pelan.


Daripada hanya bertanya-tanya seorang diri seperti ini, Vince tidak ingin membuang waktu lagi dan segera menelepon sang istri yang sedang di rindukannya itu.


[📞MyWife🤍: Halo!]


"Masih di kampus, hm?" tanya Vince dengan deep voice-nya yang begitu menggoda.


[📞MyWife🤍: Iya, ini aku lagi ada di kantin. Kenapa?]


"Aku merindukanmu,"


Vince mengatakannya tanpa ragu. Ia benar-benar merindukan istrinya itu. Bahkan ia tidak memikirkan kalau di seberang sana, Quella sedang menahan dirinya agar tidak ketahuan salah tingkah.


[📞MyWife🤍:..............]


"Sayang—Kamu masih di sana, kan?" Vince bertanya saat tidak mendapat balasan apapun dari Quella.


[📞MyWife🤍: Heum, Aku masih di sini]


"Kamu tidak merindukanku juga?"


Percayalah saat ini Vince seperti seorang anak kecil yang sedang merengek sedih. Ini memang sifatnya yang ia perlihatkan hanya pada Quella. Bukan terlihat seperti laki-laki dewasa, apalagi seorang pengacara terkenal. Sungguh berbanding balik!


[📞MyWife🤍: Tentu saja aku juga merindukanmu tapi mungkin Troy akan terkejut saat mendengar tuannya merengek seperti ini]


"Aku tidak peduli," cetus Vince.


"Terpenting saat ini aku sangat merindukanmu. Oh bukan—Setiap saat aku merindukanmu, sayang. Rasanya aku ingin selalu berada di dekatmu," sambungnya.


Di seberang sana terdengar Quella sedang menghela nafas. Perempuan itu harus sabar menghadapi sikap Vince yang terlampau bucin ini. Menurut ingatannya, laki-laki itu memang seperti ini dari dulu. Jika ia tidak mendapatkan kepingan ingatan itu, mungkin saat ini ia akan merasa aneh. Dimana Vince Marson yang di kenal sebagai sosok pengacara nan tegas dan arogan, ternyata bucin akut.


[📞MyWife🤍: Baiklah, terserah kamu. Sekarang kamu lagi di kantor atau di luar?]


"Aku sudah di kantor. Baru saja selesai—"


Belum selesai Vince berucap, pintu ruangannya terdengar di ketuk.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk!" titah Vince setengah berteriak sebab ruangan di buat hampir kedap suara.


Tidak berselang lama, pintu ruangannya di buka. Dimana si pengetuk tidak lain adalah Troy yang kini berjalan masuk menghadapnya.


"Maaf mengganggu, tuan. Di luar ada nona Stella yang meminta untuk bertemu," lapor Troy.


Vince sempat mengernyitkan dahinya, sebelum memasang raut wajah semula. Kedatangan Stella pastinya karena berita itu.


"Bawa masuk!"


Troy mengangguk mengerti, lalu bergegas pergi untuk menjemput Stella—Si model yang tengah terlibat berita panas dengan Vince.


[📞MyWife🤍: Stella datang ke kantormu?]


Panggilan mereka masih tersambung, Vince memang tidak mematikannya sedari tadi.


"Iya. Mungkin dia datang untuk membahas soal berita ini," jawab Vince santai.


[📞MyWife🤍: Matikan saja kalau kamu mau sibuk]


"Tidak usah. Aku ingin kamu juga mendengar apa yang kami bicarakan nanti," Vince menolak mematikan telepon, sebab sebaiknya Quella mendengar pembicaraannya dengan Stella nanti.


Hal itu untuk menghindari kesalahpahaman yang bisa saja terjadi di antara mereka.Vince tidak ingin itu terjadi. Sehingga memang lebih baik Quella mendengar apapun pembicaraannya dengan Stella.


[📞MyWife🤍: Yaudah. Kalau itu mau kamu]


Bersamaan dengan itu, pintu ruangan Vince kembali terbuka. Troy berjalan masuk lebih dulu, di ikuti seorang perempuan cantik berkacamata hitam yang memakai dress bewarna sage di lapisi cardigan crop dan menggunakan heels tinggi. Dagu perempuan itu terangkat, menunjukkan keangkuhannya. Namun bibirnya tampak mengembangkan senyuman nan manis.


"Lama tidak bertemu, Vince!" sapa perempuan tersebut saat sampai di hadapan Vince.


Vince meletakkan ponselnya yang masih tersambung dengan Quella dan berdiri dari tempat duduknya. "Benar—Sudah lama. Silakan duduk nona Stella!"


"Terima kasih," perempuan yang di ketahui namanya adalah Stella, mendudukkan diri di kursi yang sudah di tarikkan oleh Troy.


Stella merupakan salah satu model cantik yang terkenal di negara ini. Tahun ini menjadi puncak kejayaan untuk karirnya. Ia sedang di banjiri banyak tawaran iklan. Fotonya ada dimana-mana, menghiasi hampir sebagian tempat.


"Sebenarnya apa tujuan nona Stella tiba-tiba datang ke kantor saya?" Vince bertanya usai kembali duduk tegak berhadapan dengan Stella.


Tidak jauh dari mereka, ada Troy yang berdiri memperhatikan. Setiap kali berhadapan dengan perempuan, Vince selalu meminta Troy untuk berada tidak jauh darinya. Ia melakukannya agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.


Stella tidak langsung menjawab, melainkan menurunkan kacamata hitamnya. "Soal berita yang saat ini sedang memberitakan kita. Kau pasti tahu itu, kan?"


"Saya tahu tapi nona tidak perlu sampai repot-repot datang ke sini. Berita ini ada karena saya, jadi saya yang akan mengatasinya. Secepatnya saya menghilangkan berita ini. Nona tenang saja!" seru Vince.


"Daripada mengatasinya dengan menghilangkan, bagaimana kalau kita membuatnya membuatnya menjadi kenyataan?" usul Stella sembari tersenyum tipis.


Vince mengangkat sebelah alisnya. "Maksud, nona?"


"Ya, kita benar-benar menjalin kedekatan. Sama seperti yang di beritakan,"


Tutttt!