THE LAWYER'S SECRET WIFE

THE LAWYER'S SECRET WIFE
Eps 48. Menemui Mereka



Seperginya dari rumah sakit, Vince bersama beberapa anak buahnya pergi ke suatu tempat. Dimana menurut informasi salah satu anak buahnya, mereka—Orang-orang yang membuat Quella terluka sedang berada di sana. Tentu dapat dipastikan bahwa perkumpulan mereka tidak lain adalah untuk merayakan keberhasilan rencana mereka. Saat tiba di tempat itu, Vince tidak pergi menemui orang-orang itu. Melainkan duduk menunggu di ruang VIP yang tersedia dan memerintahkan salah satu anak buahnya untuk pergi menemui mereka.


"Selamat! Rencananya lo berhasil. Lampu itu benar-benar mengenainya," salah seorang gadis tampak menggoyangkan gelas berisi wine yang tengah di pegangnya.


Pujian itu membuat gadis yang berpakaian merah seksi merasa bangga sekaligus puas. "Ahaha. Tentu saja berhasil. Aku sudah merencanakannya sebaik mungkin,"


"Ya, lo emang ahlinya merencanakan sesuatu yang licik. Tidak tahu bagaimana nasib Quella sekarang? Apa mungkin sudah tidak tertolong?" cetus laki-laki yang ikut ambil bagian dalam rencana mencelakai Quella.


"Mau selamat atau tidak, gue gak peduli. Salah sendiri karena berani bersikap sombong di hadapan gue. Sekarang biarkan dia merasakan akibatnya," gadis berpakaian merah seksi itu mengangkat bahu sembari meminum wine miliknya.


"Lo sangat jahat dan kejam, Yocelyn!" cetus gadis yang duduk di sebelahnya—Terkekeh. Dimana gadis berpakaian merah seksi tadi memang benar adalah Yocelyn.


"Itulah gue. Tidak ada orang yang boleh bersikap sombong di hadapanku. Apalagi sampai bertindak sok paling bisa melakukan semua hal. Cih. Aku benci melihat itu!"


"Lalu apa kabar dengan diri Lo sendiri, Yocelyn? Bukankah lo juga suka bersikap sombong dan bertindak seolah paling bisa melakukan banyak hal," giliran laki-laki tadi yang bersuara dengan nada menyindir.


Yocelyn mendelik tajam ke arah laki-laki itu. "Lo ada masalah?"


"Hehe—Gue gak berani sama lo," laki-laki itu mengangkat kedua tangannya, menandakan bahwa dirinya sungguh tidak berani.


Sebelum Yocelyn berbicara, tiba-tiba seorang laki-laki datang menghampiri meja mereka yang berada di pojok tempat itu. Dari pakaiannya saja jelas bukan salah satu pelayan di sana.


"Permisi!"


"Ya? Ada apa?" tanya Yocelyn bersikap angkuh.


"Tuan saya menunggu kalian bertiga," jawab laki-laki itu yang tidak lain adalah salah satu anak buah Vince.


Yocelyn beserta kedua temannya tampak mengernyitkan dahi. Terkejut sekaligus kebingungan. Bagaimana tidak? Mereka tidak ingat pernah membuat janji bertemu dengan orang.


"Siapa? Gue gak ingat pernah bikin janji sama siapapun hari ini," cetus Yocelyn usai berpikir keras.


"Lo berdua gimana?" sambungnya pada kedua temannya yang sama sedang merasa terkejut dan kebingungan.


Sontak kedua temannya langsung beradu pandang, sebelum menggelengkan kepala secara bersamaan.


"Gue gak bikin janji sama siapapun!" seru gadis yang duduk di sebelahnya.


"Iya gue juga sama,"


"Kalian memang tidak membuat janji apapun tapi tuan saya ingin bertemu dengan kalian bertiga sekarang," ucap anak buah Vince menyela pembicaraan antara Yocelyn dan kedua orang temannya itu.


"Mungkin Lo salah orang kali!" celetuk laki-laki yang merupakan teman Yocelyn.


"Saya tidak salah," sangkal anak buah Vince bernada datar.


Yocelyn menatap selidik ke arahnya. "Memangnya siapa tuan Lo itu?"


"Kalian akan tahu nanti,"


Jawaban anak buah Vince tidak cukup memuaskan Yocelyn. Gadis itu mulai merasa jengkel. Namun karena penasaran akan tuan yang di sebutkan ingin menemuinya dan kedua temannya, ia berusaha tetap tenang.


"Baiklah. Antar kami ke tempat tuanmu itu berada!" seru Yocelyn beranjak berdiri.


"Yocelyn—Lo yakin mau menemuinya? Kita kan gak kenal siapa orang itu," gadis di sebelahnya juga ikut berdiri.


"Kenapa tidak? Ayo pergi!" Yocelyn menatap ke arah anak buah Vince yang berdiri beberapa langkah di depannya.


Anak buah Vince mengarahkannya untuk berjalan lebih dulu. "Silahkan!"


Yocelyn pun segera berjalan dengan angkuhnya melewati anak buah Vince. Melihatnya pergi, tentu saja kedua temannya mau tidak mau mengikutinya. Mereka bertiga pun berjalan sesuai arahan anak buah Vince. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah ruang VIP, dimana Vince sudah duduk menunggu di dalam. Anak buah Vince tadi tidak ikut masuk dan hanya membukakan pintu untuk mereka bertiga.


Tanpa membalas apapun, Yocelyn melangkah masuk ke dalam. Begitu pula dengan kedua temannya yang masih merasa ragu tapi tetap mengikutinya. Setibanya di dalam sana, mereka langsung di kejutkan dengan keberadaan Vince yang duduk di temani beberapa anak buahnya.


"Pengacara Vince?"


Yocelyn memastikan bahwa laki-laki berkemeja hitam yang duduk di depannya itu benar adalah Vince—Seorang pengacara yang namanya sudah terkenal dimana-mana. Namun kedua temannya telah lebih dulu merasa yakin bahwa itu memang Vince Marson tanpa bertanya lagi.


"Itu jelas pengacara Vince, Yocelyn. Lo kenapa nanya lagi?" bisik teman laki-lakinya yang berdiri di sebelah kirinya. Yocelyn hanya membalasnya dengan tatapan tajam. Lalu kembali menatap ke arah Vince.


"Bagus kalau nona mengenalku," ucap Vince dingin sembari meminum minuman bersoda—Bukan wine karena ia tidak suka meminumnya.


"Apa pengacara Vince tidak salah—" pertanyaan Yocelyn terpotong dengan ucapan Vince.


"Tidak,"


Meski bingung, tidak di ungkiri Yocelyn juga merasa senang karena di temui oleh laki-laki setampan dan sehebat Vince. Bisa di bilang ini adalah sebuah keberuntungan untuknya.


"Ada keperluan apa sampai pengacara Vince repot-repot datang menemui kami bertiga?" tanya Yocelyn memasang senyuman semanis mungkin.


"Menurut nona bagaimana?" tanya Vince balik.


Yocelyn tampak berpikir sejenak. "Mungkin ada hal penting yang ingin tuan bicarakan pada kami,"


"Benar. Nona ternyata memang pintar," Vince membenarkan, usai meneguk habis minumannya.


Mendapat pujian itu, tentu saja Yocelyn merasa bangga. Ia semakin percaya diri untuk memperlihatkan citra baik dirinya dan kecantikan yang di milikinya pada Vince. Mungkin nanti laki-laki itu akan jatuh dalam pesonanya seperti para laki-laki yang selama ini berusaha mengejarnya.


`Ah sungguh tidak di sangka bisa mendapatkan kesempatan ini! Kalau aku bisa membuat pengacara Vince terpesona denganku, bukankah ini akan sangat bagus!?` batin Yocelyn


"Jadi apa hal penting itu, pengacara Vince?" Yocelyn bertanya sembari ingin duduk di dekatnya tapi langsung di cegah oleh anak buah Vince.


"Maaf, nona! Tuan tidak mengijinkan untuk nona duduk di sini. Silahkan tetap berdiri!" ucapnya.


Mata Yocelyn membulat sempurna. Tidak percaya bahwa ia di perlakukan seperti itu. Tetapi juga enggan protes sebab tidak ingin membuat citra buruk di hadapan Vince.


"Ah baiklah," seloroh Yocelyn tersenyum kikuk dan kembali berdiri ke tempat semula. Kedua temannya saling beradu pandang karena jarang sekali terjadi, Yocelyn mau melakukan itu tanpa protes sedikit pun. Benar-benar aneh.


"Bisakah sekarang pengacara Vince memberitahukan hal penting apa yang ingin di bicarakan dengan kami?" sekali lagi Yocelyn bertanya.


Vince yang sedang menatap gelas minumannya yang sudah kosong, sontak tersenyum dingin. Senyuman yang begitu mengerikan.


"Nona tahu—Saya tidak suka ada yang berani mencari masalah dengan orang saya apalagi sampai membuatnya terluka," nada bicara Vince semakin dingin.


Yocelyn maupun kedua temannya tidak mengerti maksud Vince barusan. "Mencari masalah? Membuatnya terluka? Apa maksudnya itu?"


Pertanyaan polos mereka bertiga justru membuat Vince tambah emosi. Laki-laki itu mencengkram kuat gelas di tangannya, sebelum melemparkannya dengan kasar ke lantai.


Pranggg...


Gelas itu hancur menjadi kepingan pecahan kaca. Tindakan Vince begitu mengejutkan Yocelyn dan kedua temannya. Mereka tidak menduga akan hal itu.


"Pe—Pengacara Vince..." Yocelyn berucap tergagap.


"Apa kalian tahu!? Kalian telah berani mencari masalah dengan orang saya, bahkan sampai membuatnya terluka. Kalian tahu itu, hah!?" erang Vince yang tidak bisa menahan emosinya lagi.


"Kami tidak me—mengerti. Si—apa orang yang pengacara Vince maksud?" tanya teman laki-laki Yocelyn dengan nada bergetar.


Sontak menatap tajam ke arah mereka bertiga. Dari kedua matanya, terdapat pula sorot kemarahan yang sekarang meledak-ledak. "Kalian tanya siapa!? QUELLA XAVIERA! Kalian pasti mengenal nama orang itu, bukan!? Orang yang telah kalian buat terluka sampai koma!"


Deg