THE LAWYER'S SECRET WIFE

THE LAWYER'S SECRET WIFE
Eps 12. Bukti Cinta Sejati



Quella, Zelda dan Wileen akhirnya pergi dari kawasan Mall tersebut. Meski Quella harus sedikit bersusah payah menarik kedua sahabatnya tadi. Kepergian mereka di susul Gerald yang segera mengendarai motor sport miliknya. Arah tujuannya berbeda. Sehingga keberadaan Gerald tidak terlihat lagi dari arah belakang.


"Beritahu gue kalau sudah sampai! Gue mau dengerin musik dulu," ucap Quella pada kedua sahabatnya yang duduk di kursi depan.


Wileen melirik Quella dari kaca depan mobil. "Oke. Nanti kita bangunin,"


Quella pun langsung memasang earphone ke telinganya. Musik mulai terdengar dan Quella memejamkan matanya. Ia bukan tidur, tetapi tengah menikmati setiap alunan musik yang terdengar. Sementara itu, Zelda sibuk bermain ponsel. Pastilah sedang berbalas pesan dengan kekasih tercinta. Dan--Wileen hanya fokus mengemudikan mobil tanpa berniat membuka pembicaraan. Jangan pikir mereka berdua sedang bertengkar karena masalah Gerald tadi. Namun ada saatnya mereka diam dengan kesibukan masing-masing. Itu jauh lebih baik menurut Quella, daripada mendengarkan keduanya membicarakan hal unfaedah.


30 menit kemudian...


"Quella! Kita sudah sampai di rumah lo nih," Zelda menepuk pelan pundak Quella, hingga membuat sahabatnya itu kembali membuka mata.


Quella melihat ke arah luar jendela dan benar, mereka sudah sampai di rumahnya. Lalu beralih menatap kedua sahabatnya. "Mau masuk dulu gak?"


"Lain kali aja deh. Gue mau pulang buat kasih kado ke nyokap," sahut Wileen menolak dengan halus.


"Gue juga lain kali aja. Sumpah lagi capek banget," timpal Zelda memasang raut wajah yang benar-benar sesuai dengan ucapannya.


Quella mengangguk. "Gue mengerti. Gue turun, ya! Lo berdua hati-hati di jalan!"


"Beres," balas Zelda melingkarkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf O. Wileen hanya tampak mengangguk.


Kemudian Quella turun dari mobil Wileen. Ia sempat melambaikan tangan ke arah kedua sahabatnya itu, sebelum Wileen melajukan mobilnya kembali. Quella bergegas masuk ke dalam rumahnya dan melakukan beberapa rutinitas, sebelum akhirnya beristirahat.


***


Sementara itu di lain tempat, Gerald baru saja tiba di kediamannya. Laki-laki muda itu berjalan santai menuju sofa di ruang tamu. Dimana di sana sudah ada seseorang yang menunggunya dengan tangan bersedekap di dada dan sebelah kaki terangkat.


"Gimana?" tanya orang itu pada Gerald yang sedang berjalan ke arahnya.


Gerald belum menjawab, melainkan mendudukkan diri di sebelah orang itu. "Dia bersedia datang,"


Jawaban Gerald mengundang senyuman di bibir orang itu. Sangat jelas. Bahkan Gerald bisa melihat itu dan langsung menggodanya. "Cieee. Ada yang lagi bahagia nih. Lusa bisa ketemu pujaan hati,"


Pletak


Orang itu melayangkan sentilan keras di dahi Gerald. Sontak Gerald meringis pelan sembari mengusap dahinya yang baru saja di sentil. "Aww... Sakit,"


"Makanya jangan menggodaku!" cetus orang itu tanpa rasa bersalah.


"Tapi itu benar, kan?" tanya Gerald jahil. Tidak jera dengan sentilan keras di dahinya. Orang itu ingin menyentil dahinya lagi tapi Gerald langsung menahannya.


"Oke-oke, aku tidak akan menggodamu. Jadi tidak perlu menyentil dahiku lagi. Itu sakit," sambungnya.


Orang itu segera menarik tangannya kembali. Lalu matanya menatap lurus ke depan. "Ucapanmu itu tidak salah. Siapa yang tidak bahagia bertemu dengan orang yang di cinta? Ku rasa semua orang pasti bahagia,"


"Yeah. Aku tahu itu. Tetapi, apakah kali ini keadaan akan berpihak denganmu? Maksudku, sampai sekarang dia tidak mengingatmu. Bagaimana caramu menghadapinya, kak?"


"Mungkin iya. Aku juga belum tahu pasti. Setidaknya, sekarang aku bisa berada lebih dekat dengannya. Dan soal bagaimana cara menghadapinya, aku akan melihat nanti. Keadaan tidak bisa di tebak,"


"Tapi masih bisa di hadapi. Selagi tidak menyerah pada keadaan itu sendiri," timpal Gerald sembari bersandar di sofa. Matanya menatap langit-langit ruangan itu.


"Apa kau berpikir aku akan menyerah?" tanya orang itu melirik ke arah Gerald.


Gerald ikut melirik ke arahnya. "Tidak. Aku sudah melihat perjuanganmu selama ini. Jika kakak ingin menyerah, mungkin sudah sejak lama. Tetapi, kakak tetap berjuang dan setia menunggu sampai hari ini. Itu adalah salah satu bukti cinta sejati dari seorang laki-laki,"


"Perjuanganku belum membuahkan hasil. Penantianku juga mungkin harus beberapa waktu lagi," ucap orang itu--Hembusannya terdengar begitu kasar.


"Aku yakin perjuanganmu akan berhasil dan penantianmu juga akan berakhir. Takdir tidak akan membuat dua orang yang saling mencintai terpisah begitu lama. Apalagi dua orang itu memang di takdirkan bersama. Keadaan mungkin sedang tidak berpihak tapi jika takdir menginginkan mereka bersama, dunia pun tidak berbuat apa-apa. Percayalah padaku, kak!" Gerald memegang pundak orang itu, sudut bibirnya tersenyum begitu yakin.


"Semoga saja," gumam orang itu dengan penuh harap. Semoga ucapan Gerald benar-benar terwujud.


"Terkadang aku ingin bertanya sesuatu padamu, kak! Namun selalu ku tahan sampai hari ini," ungkap Gerald yang membuat orang itu mengernyitkan dahi.


"Soal apa?"


"Kenapa kakak tidak bersamanya?" akhirnya Gerald memberanikan diri untuk bertanya hal yang menjadi misteri untuknya.


Orang itu terdiam. Terdengar beberapa kali helaan nafas kasar. Kelihatan sekali bahwa ia berat untuk menjawab pertanyaan Gerald. Tetapi, ia juga tahu bahwa Gerald benar-benar ingin mendengar jawaban darinya. "Saat itu ada masalah genting. Aku tidak ingin mengambil resiko dengan tinggal bersamanya. Makanya aku memutuskan pergi untuk menyelesaikan masalah itu,"


Gerald mengangguk-angguk pelan. "Dan membuatnya tanpa sengaja melupakan keberadaan kakak,"


Jleb...


Jantung orang itu seperti tertusuk sesuatu saat mendengar ucapan Gerald. Mengapa keadaan begitu tidak berpihak padanya? Tanpa sengaja orang yang di cintainya, melupakan keberadaannya. Sakit. Ia merasa sakit akan hal itu. Lalu apa boleh buat? Semua sudah terjadi dan sekarang dirinya harus bisa mengembalikan ingatan sang pujaan hati.


"Aku menyesalinya. Sangat," lirih orang itu. Hatinya seperti memberontak ingin berteriak dan melampiaskan kemarahan pada takdir yang membuat keadaan itu.


Gerald menegakkan kembali tubuhnya dan menoleh ke arah orang itu. Bisa di lihat kesedihan terpancar di kedua matanya. Kesedihan yang sudah hampir 2 tahun ini ia rasakan.


"Tidak apa-apa. Kakak juga tidak menginginkan itu terjadi. Takdirlah yang menciptakan keadaan itu. Mungkin untuk menguji betapa besar cinta yang kakak miliki dan sekarang saatnya ujian itu harus di akhiri. Kakak sendiri yang harus melakukannya. Oh tidak, aku juga pasti akan membantu. Tenang saja!" ucap Gerald begitu yakin.


Orang itu tersenyum tipis. Gerald adalah salah satu orang yang selama ini selalu ada untuknya dalam keadaan apapun. "Terima kasih, Ger. Kau selalu bisa mendorongku dengan kata-kata super bijakmu itu,"


"Hhaha sama-sama, kak. Sekarang mulai persiapkan semuanya! Jangan sampai terlihat tidak sempurna saat bertemu dengan pujaan hati. Bukankah itu akan memalukan?" canda Gerald di sela tawanya yang renyah.


Orang itu langsung memukul keras lengan Gerald. Sekali lagi Gerald meringis kesakitan dan orang itu tidak peduli. "Aku selalu terlihat sempurna dimana pun. Pikirkan saja penampilanmu sendiri! Jangan sampai membuat para perempuan menjauhimu!"


"Huuu tidak akan!" seru Gerald tampak percaya diri, meski sembari mengelus lengannya yang terasa sakit.


Kemudian orang itu beranjak pergi tanpa memedulikan Gerald yang menggerutu karena ulahnya itu. Siapa suruh Gerald mencari masalah dengannya.