
2 hari kemudian...
Acara ulang tahun Gerald akan di laksanakan pada hari ini. Sesuai ucapan Quella dua hari lalu, ia akan datang bersama Zelda dan Wileen. Mereka bertiga tengah berada di salon kecantikan untuk mempercantik penampilan mereka. Quella setuju saja saat kedua sahabatnya mengajak pergi ke salon. Sudah lama ia tidak pergi ke salon. Sekarang saatnya mengubah penampilannya agar lebih terlihat fresh.
"Rambutnya mau di ubah bagaimana, nona?" tanya pegawai salon yang bertugas melayani Quella.
Quella diam menatap dirinya di pantulan cermin di depan. Sejenak ia memikirkan penampilan apa yang di inginkannya. "Bisa buat rambut saya jadi sedikit bergelombang? Lalu warnain beberapa bagian rambut saya dengan warna biru keabu-abuan,"
"Bisa, nona! Saya akan mengubahnya sesuai dengan keinginan nona," sahut pegawai itu tersenyum ramah.
Pegawai itu segera melakukan tugasnya untuk membenahi penampilan Quella. Dari ujung rambut hingga ujung kaki. Semua di lakukan dengan sangat cekatan. Quella menikmati waktu perawatan tubuhnya, hingga tertidur tanpa sengaja. Hingga akhirnya pegawai itu menyelesaikan tugasnya usai menghabiskan waktu beberapa jam.
"Sudah selesai, nona!" seru pegawai tersebut sembari membangunkan Quella yang sedang tertidur.
Quella pun langsung terbangun karena pegawai tersebut beberapa kali menepuk pelan lengannya. "Heum sudah selesai?"
"Iya sudah, nona. Silakan lihat hasilnya!" pegawai tersebut menunjuk ke arah cermin berukuran besar di hadapan Quella.
Kesadaran Quella masih belum sepenuhnya terkumpul. Perlu beberapa menit untuknya mengumpulkan kesadaran. Setelahnya, ia segera melihat penampilan barunya lewat pantulan cermin itu. Perpect. Tangan setiap pegawai salon seperti mempunyai keajaiban. Mereka selalu berhasil membuat perubahan penampilan sempurna bagi pengunjung. Seperti yang Quella alami sekarang. Ia tampak puas. Penampilan benar-benar lebih segar dan berbeda. Rambutnya menjadi bergelombang dengan beberapa bagian rambut berwarna biru keabu-abuan. Kulit wajahnya lebih mulus dan tambah cantik karena polesan make up. Kuku-kukunya juga tidak kalah cantik dengan polesan cat kuku berwarna putih bening. Belum lagi tubuhnya yang terasa lebih rileks dan lembut daripada sebelumnya.
"Bagaimana nona? Apa Anda puas?" tanya pegawai itu sebab Quella belum memberikan tanggapan apa pun atas penampilan barunya.
"Good job! Terima kasih," Quella tersenyum manis pada pegawai itu.
"Saya senang mendengarnya. Sama-sama, nona. Kalau begitu, saya ke belakang dulu!" sahut pegawai itu menundukkan kepalanya, sebelum pergi dari sana.
Quella pun kembali menatap penampilan barunya. Orang-orang mungkin akan terkejut akan penampilan barunya ini. Tetapi, ia tidak peduli sama sekali. Selama ini apapun pendapat atau reaksi orang tentang penampilannya, ia tidak pernah menghiraukan. Ini penampilannya. Jadi untuk apa peduli dengan pendapat atau reaksi mereka? Itu hanya akan membuang-buang waktu.
"Wow Quella! Benarkah ini lo!?" pekik Zelda yang baru saja menghampiri Quella.
Penampilan Zelda pun sudah berubah. Perempuan itu awalnya berambut hitam panjang. Sekarang rambutnya sedikit di potong dan berwarna blonde menyeluruh. Wajahnya di polea make up ala korea. Cantik sekali. Kuku-kukunya di cat putih susu dengan beberapa hiasan mini di tambahkan. Selain itu, tubuhnya juga tampak lebih segar.
"Kalau bukan gue, siapa lagi? Hantu?" celetuk Quella sembari beranjak berdiri dan menghadap ke arah sahabatnya itu.
"Gila sih. Gue gak nyangka penampilan lo akan seberubah ini. Cantik banget! Sempurna pokoknya," cerocos Zelda yang tidak dapat menyembunyikan kekagumannya. Bahkan ia berjalan mengelilingi Quella.
"Dari ujung kepala sampai ujung kaki, penampilan lo sempurna. Ini luar biasa. Gue benar-benar gak nyangka. Huh, seharusnya dari dulu lo ubah penampilan kayak gini. Biar gak di tindas lagi sama orang," sambungnya.
"Yah sorry deh. Habisnya gue kelewat kagum sama perubahan penampilan lo ini," ungkapnya.
Quella memutar malas kedua matanya. "Dimana Wil? Apa dia belum selesai?"
"Gue di sini," bukan Zelda yang menyahut, tetapi Wileen. Perempuan itu berjalan menghampiri kedua sahabatnya.
Tidak kalah dengan Quella dan Zelda, Wileen juga hampir sepenuhnya merubah penampilan. Rambutnya yang dulu cokelat bergelombang, sekarang menjadi hitam lurus dengan poni cemelir. Polesan make up lebih tebal dari sebelumnya tapi tidak menimbulkan kesan menor. Justru Wileen tampak lebih cocok dengan make up itu. Kesan dewasa, anggun tapi tegas tergambar di sana. Apalagi cat kuku biru muda menambah cantik penampilannya. Sempurna. Soal bagaimana kulit tubuhnya sekarang, jelas lebih lembut karena perawatan mahal yang ia lakukan barusan. Ah intinya Wileen benar-benar cantik.
"Wow Quella! Penampilan ini sangat sempurna buat lo. Kenapa gak dari dulu lo lakuin ini sih?" sama seperti reaksi Zelda sebelumnya, Wileen pun sama kagumnya.
"Bener, kan? Penampilan lo emang sangat sempurna. Ck, pasti malam ini banyak laki-laki mau deketin lo. Gue yakin banget," ucap Zelda berdecak pelan.
"Kalian terlalu berlebihan," kilah Quella yang merasa bahwa kedua sahabatnya itu tidak seharusnya berucap berlebihan. Apalagi jika di bandingkan mereka, Quella merasa penampilannya tidak ada apa-apanya.
"Udah deh, lo jangan merendahkan diri sendiri! Kita muji sesuai fakta kok. Benar, kan Wil?" tanya Zelda pada Wileen.
Wileen mengangguk. "Yeah, benar. Sekarang tinggal cari gaun buat menyempurnakan penampilan kita,"
"Yaps, itu memang harus kita lakukan. Ayo pergi sekarang!" seru Zelda begitu bersemangat.
Quella mengangguk setuju. Mereka bertiga pun pergi untuk membayar pelayanan salon itu terlebih dulu. Awalnya Zelda dan Wileen menawarkan diri untuk membayar tagihan milik Quella tapi di tolak. Quella menolak dengan alasan bahwa uang tabungan miliknya cukup untuk membayar tagihannya sendiri. Sehingga akhirnya mereka bertiga membayar tagihan masing-masing. Tidak ada sistem traktir hari ini. Usai membayar tagihan salon, mereka bertiga pergi ke salah satu butik terkenal di kota itu. Zelda cukup kenal dengan pemilik butik itu dan mereka bisa mendapatkan gaun edisi keluaran terbaru berkat.
Quella memilih gaun hitam dengan lengan pendek dan bagian leher depan tidak begitu rendah. Gaun hitam itu tidak terlalu ketat, serta panjangnya hanya sampai di atas mata kaki. Desainnya simpel tapi terkesan elegan. Di tambah heels hitam terpasang sempurna di kedua kakinya. Penampilannya menjadi semakin cantik dan elegan. Kedua sahabatnya juga sepakat memakai gaun dan heels berwarna sama. Hanya saja desainnya berbeda. Zelda memakai gaun tanpa lengan dengan bagian leher rendah, sehingga leher jenjangnya tampak terlihat jelas. Gaunnya panjang selutut dan ketat.
Lain Quella maupun Zelda, lain pula selera Wileen. Perempuan itu memakai gaun berlengan panjang dengan bagian leher depan tertutup. Gaunnya panjang di bagian belakang dan pendek selutut di bagian depan. Dengan sebuah pita hitam melingkar di bagian pinggangnya. Sangat anggun. Apalagi rambutnya juga di biarkan terurai sama seperti Quella dan Zelda, itu menambah kecantikannya.
"Sudah saatnya kita berangkat," ucap Wileen usai melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Iya. 45 menit lagi acaranya di mulai," timpal Quella yang juga melihat jam tangannya.
"Tunggu apalagi!? Ayo pergi dan bersenang-senang!" seru Zelda dengan semangat menggebu-gebu.
Mereka bertiga pun mengambil tas masing-masing dan setelahnya segera bergegas pergi menuju acara ulang tahun Gerald. Mereka tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di sana nanti. Terutama Quella yang tidak tahu bahwa ada seseorang yang sudah menunggu kedatangannya, selain Gerald.