
"Boleh. Kita minum di dekat sini saja. Bagaimana?"
Quella mengangguk setuju. Vince pun segera menuju salah satu tempat yang menjual susu cokelat hangat full cream. Dimana tempatnya tidak jauh dari posisi mereka sekarang. Perlu sekitar 5 menit untuk sampai di sana.
"Di sini banyak orang," ucap Quella melihat sebuah bangunan yang bernuansa klasik. Bangunan itu merupakan kedai yang menjadi tujuan mereka dan di sana tampak cukup ramai.
"Tenang saja. Aku akan keluar untuk membelinya. Kemudian kita pergi ke tempat lain dan minum di sana," Vince berucap sembari melepaskan sabuk pengaman yang sedari tadi terpasang di tubuhnya.
"Em.. Baiklah," sahut Quella ragu.
Vince sempat tersenyum, sebelum bergegas turun tanpa melakukan penyamaran apapun. Pergerakan laki-laki itu tentu di pantau Quella dari balik kaca mobil. Seperti yang sudah di perkirakan, ada sebagian orang yang mengenali sosok Vince. Namun laki-laki itu justru terlihat berjalan santai memasuki kedai itu untuk beberapa menit. Quella menunggunya sembari sesekali bermain ponsel. Hingga pintu mobil kembali terbuka dan Vince langsung masuk ke dalam.
"Ini pesananmu!" serunya menyerahkan bungkusan yang berisi dua gelas susu cokelat hangat full cream.
"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Quella, sontak membuat kening laki-laki itu mengerut.
"Memangnya aku kenapa?"
"Tadi kamu keluar dari mobil tanpa penyamaran apapun. Ku pikir orang-orang akan mendatangimu dan membuatmu tidak nyaman," cetus Quella mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.
Vince terkekeh pelan mendengarnya. "Kamu berlebihan, Xaviera. Aku sudah biasa keluar tanpa melakukan penyamaran seperti yang sering orang terkenal lainnya lakukan. Lagipula siapa yang berani membuatku tidak nyaman? Aku ini seorang pengacara. Siapapun bisa ku masukkan ke penjara, jika aku mau,"
Penuturan Vince yang sebenarnya biasa saja, justru terdengar menjengkelkan di telinga Quella. Perempuan itu berdecak pelan.
"Ternyata pikiranku memang berlebihan. Aku lupa kalau kamu itu seorang pengacara dan bisa memasukkan siapapun ke penjara. Termasuk diriku, kan?"
"Ya benar. Penjara hatiku," sahut Vince begitu enteng seraya kembali melajukan mobilnya.
Blush...
Lagi dan lagi, pipi Quella memerah karena mendengar ucapan laki-laki itu. Selama ini sudah banyak laki-laki yang mencoba mendekatinya. Tetapi, tidak satupun dari mereka yang bisa membuat dirinya merona, seperti yang Vince lakukan.
`Apa-apaan ini!? Aku merasa... Pipiku merona?` batin Quella.
"Kenapa pipimu memerah? Apakah kamu kepanasan? Perlu ku tambahkan suhu AC mobil?" sambung Vince--Laki-laki itu bertanya seolah tidak mengerti penyebab pipi Quella memerah.
"Eh... Tidak perlu. Ak--Aku hanya merasa sedikit dingin," kilah Quella dengan cepat.
Bohong. Pipinya memerah bukan karena suhu di dalam mobil tapi mendengar ucapan Vince yang terdengar sedang menggodanya. Quella tidak ingin laki-laki itu tahu akan hal itu. Namun tanpa di beritahu pun, Vince sudah tahu. Hanya saja, ia bersikap seolah tidak tahu-menahu.
"Begitukah? Kalau begitu aku matikan saja AC mobil supaya kamu tidak kedinginan,"
Quella menganggukkan kepalanya. Dan--Vince benar-benar mematikan AC di dalam mobil. Sehingga keadaan di dalam mobil mulai menghangat.
"Kita mau ke mana?" tanya Quella mengubah topik pembahasan, sebelum laki-laki itu membuka suaranya.
"Ke suatu tempat. Kamu pasti belum pernah ke sana," jawab Vince tersenyum tipis di sela mengemudikan mobil.
Quella mengernyitkan dahinya. "Tempat mana yang belum pernah ku datangi? Rasanya sudah semua,"
"Yakin? Aku rasa kamu belum pernah datang ke sana. Tempat itu jarang di datangi sebab hanya sebagian orang yang tahu," ucap Vince menatap sekilas ke arah Quella.
"Termasuk kamu?"
"Heum. Aku sudah pernah beberapa kali ke sana," sahut Vince menganggukan kepalanya.
"Lalu kenapa kamu mau datang ke sana lagi?" tanya Quella bingung.
Quella menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu. "Kenapa?"
"Karena kali ini aku datang bersamamu--Orang yang paling ku cintai setelah ibuku. Dimana kamu juga adalah hidupku dan bagian dari jiwaku, Xaviera..."
Percayalah, suara laki-laki itu bagaikan hembusan angin segar yang merasuk sampai ke dalam hati Quella. Bahkan membuat desiran aneh di sekujur tubuhnya. Sungguh rasanya Quella ingin keluar dari mobil itu. Sebelum Vince semakin membuat perasaan aneh di hatinya. Tetapi, tubuhnya tidak setuju dengan keinginannya itu. Tubuhnya seolah kaku seketika.
`Ini... Kenapa ada perasaan aneh saat dia berkata seperti itu? Mungkinkah ini perasaan yang dulu hilang? Aku tidak mengerti,` batin Quella
"Kita sudah sampai!" sambung laki-laki itu, mengejutkan Quella yang sempat terpaku.
"Ah benarkah?" sentak Quella seraya melihat ke arah luar jendela. Sesaat semua pertanyaannya tadi menghilang.
"Ayo turun!" ajak Vince segera.
Quella hanya menganggukkan kepala. Mereka berdua segera turun dari mobil. Tidak lupa pula membawa bungkusan yang berisi 2 gelas susu cokelat hangat full cream tadi. Dengan arahan dari Vince, akhirnya Quella bisa sampai di tempat yang di maksudkan. Sebuah tempat yang berada di dataran tinggi. Dimana dari sana mereka bisa melihat keindahan di seluruh penjuru kota yang penuh dengan gemerlap lampu berwarna-warni. Sangat indah.
"Woah... Ini benarkah kota kita?" Quella berdecak kagum melihat pemandangan kota yang pertama kali di lihatnya.
"Indah, bukan?" tanya Vince sembari menyejajarkan posisi berdirinya dengan istrinya itu.
"Sangat indah," jawab Quella menoleh sekilas ke arah Vince.
"Tapi tetap kalah indah dirimu," lirih Vince.
"Hah? Apa?" Quella bertanya sebab tidak mendengar jelas ucapan laki-laki itu.
"Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya, apa kamu suka tempat ini?" Vince tersenyum tipis ke arah perempuan yang di nikahinya sejak 2 tahun lalu.
"Ya, aku suka. Kenapa aku tidak pernah mendengar soal tempat ini?" celetuk Quella di sela membuka bungkusan yang tadi di bawanya.
"Ini karena tidak semua orang tahu. Tempat ini juga jarang di datangi," timpal Vince bersedekap dada.
"Lalu darimana kamu tahu?"
Quella bertanya sembari menyerahkan segelas susu cokelat hangat full cream pada Vince dan langsung laki-laki itu terima.
"Tidak penting darimana aku tahu. Terpenting adalah aku sudah membawamu ke sini," sahut Vince yang kini mulai meminum susu cokelat hangat di tangannya.
"Emmm... Terima kasih," ungkap Quella pelan. Sesekali ia juga meminum susu cokelat hangatnya. Benar-benar enak.
"Aku senang membawamu ke sini," ucap Vince tanpa membalas ucapan terima kasih Quella.
"Aku juga senang di bawa ke sini," Quella tersenyum tipis. Senyuman yang tampak indah di bawah cahaya bulan.
Vince tidak menjawab. Tetapi, terdengar beberapa kali hembusan nafasnya yang begiti ringan. Sepertinya laki-laki itu sedang melepaskan semua beban di dirinya. Quella tahu itu. Namun ia juga merasa canggung dengan suasana hening di antara mereka.
"Bolehkah aku bertanya?" tanyanya memecah keheningan.
"Boleh. Mau bertanya soal apa?" tanya Vince balik.
"Kenapa kamu setuju untuk meminum susu cokelat full cream? Setahuku para laki-laki banyak tidak menyukainya,"
"Fuffft... Hahaha...," seketika tawa Vince pecah membuat dahi Quella mengerut.