
Selama perjalanan menuju kantor Firma Hukum milik Vince, Quella mendengarkan musik lewat airpods yang terpasang di telinganya. Ia memang selalu membawa benda itu saat berpergian. Hingga akhirnya ia tiba di kantor Firma Hukum milik Vince usai menempuh perjalanan sekitar setengah jam. Dari dalam mobil ia menatap kantor milik suaminya itu yang cukup besar dengan 4 tingkat lantai. Ada papan nama besar bertuliskan VnQ Lawfirm di depan kantor tersebut. Sebelum turun dari mobil, ia memakai masker hitam yang sengaja di belinya saat di perjalanan tadi. Bukan tanpa alasan sebab sekarang ia masih belum ingin identitasnya di ketahui publik.
Quella turun dari mobil tanpa melepaskan airpods di telinganya. Ia pun segera berjalan memasuki kantor milik suaminya itu. Tepatnya menuju bagian resepsionis yang tentu saja melihat kedatangannya.
"Selamat pagi, nona. Ada yang bisa saya bantu?" sapa perempuan yang bekerja sebagai resepsionis itu dengan ramah.
"Saya mau ketemu sama su—Pengacara Vince," hampir saja Quella keceplosan menyebut Vince sebagai suaminya.
"Maaf. Apa nona sudah membuat janji dengan pak Vince?" tanya resepsionis itu, sontak saja Quella menggelengkan kepala.
"Kalau begitu nona harus membuat janji dulu. Ini karena Pak Vince tidak bisa sembarangan di temui," sambungnya menjelaskan.
Quella melupakan hal itu. Mana mungkin orang sepenting Vince bisa di temui dengan mudah tanpa membuat janji. Kalau saja resepsionis itu tahu siapa dirinya, pasti langsung membiarkannya menemui Vince. Sayangnya itu tidak bisa terjadi.
"Em—Terima kasih!" ungkap Quella yang kemudian berjalan menjauhi meja resepsionis.
Lebih tepatnya berjalan menuju ke arah sofa yang ada di sana. Sofa itu biasanya memang di khususkan untuk menunggu. Quella duduk di sana sembari menekan kontak Troy dan meneleponnya. Ia akan meminta laki-laki itu untuk datang menjemputnya. Tidak berapa lama, teleponnya sudah terhubung.
[📞Ast Troy: Halo, nona!]
"Bisa ke sini? Saya sudah ada di bawah," ucap Quella the to point.
[📞Ast Troy: Benarkah, nona!? Baik saya akan segera ke bawah]
"Hmmm,"
Tuttt.
Quella hanya berdeham ringan, sebelum mematikan teleponnya. Bersamaan dengan Zelda yang tiba-tiba saja meneleponnya.
Zelda💃 is Calling...
"Ck. Aku melupakannya," Quella berdecak pelan saat melihat jam di ponselnya. Dimana ini waktunya ia nonton bersama Zelda dan Wileen.
Sekarang ia bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya saat menerima panggilan dari Zelda.
[📞Zelda💃: Quella!!! Lo dimana!? Udah jam segini kenapa belum datang, hah!?]
Nah kan bener, Quella terpaksa melepaskan airpods-nya yang sekarang memperdengarkan suara Zelda. Daripada jadi budek karena mendengar teriakan membahana sang sahabat.
[📞Zelda💃: Kenapa gak jawab!? Lo denger gue, kan?]
"Gak usah teriak juga. Gue gak budek," celetuk Quella usai kembali memasang airpods-nya.
[📞Zelda💃: Hehe. Sorry. Habisnya lo sih belum datang juga. Nih si Wileen udah ada di rumah gue. Lo dimana sih?]
"Kayanya gue gak bisa datang sekarang," ungkap Quella berterus terang. Alhasil sang sahabat kembali meninggikan nada bicaranya, meski tidak seperti sebelumnya.
[📞Zelda💃: Lah terus lo kapan datangnya!? Kan udah gue bilangin, gak ada pakai acara telat datang!?]
"Gue ada urusan penting," cetus Quella tanpa memedulikan sang sahabat yang tentunya akan merasa kesal.
[📞Zelda💃: Kok mendadak sih!?]
"Mana gue tau. Intinya gue gak bisa datang sekarang. Kalau lo mau nonton sama Wileen aja! Nanti gue bakal nyusul kalau urusan gue udah selesai,"
[📞Zelda💃: Huh gak asik lo. Yaudahlah, gue nonton sama Wileen aja! Lo selesaikan tuh urusan dulu. Gausah ke sini kalau udah telat gini]
Tuttt.
Quella menghela nafasnya. Sang sahabat mematikan telepon secara sepihak. Itu sudah biasa, mengingat yang melakukannya adalah seorang Zelda. Tetapi meskipun begitu, sahabatnya itu tidak pernah sungguhan kesal. Apalagi kalau ia sudah mengatakan bahwa itu urusan penting. Maka sepemaksanya Zelda, gadis itu tetap akan mengerti.
"Nona!" panggil Troy yang baru saja datang menghampirinya.
"Maaf membuat nona menunggu," sambungnya sedikit tidak enak.
Jalannya yang tadi tampak terburu-buru dan sekarang berbicara sopan seperti itu pada Quella, spontan menarik perhatian beberapa orang yang kebetulan berada di sana. Terutama resepsionis tadi yang sedikit terkejut melihat hal itu. Dalam hatinya ia menebak kalau Quella pasti bukan orang biasa, sampai membuat Troy sendiri yang datang menghampirinya.
"Tidak apa-apa," sahut Quella sembari beranjak berdiri dari tempat duduknya, tanpa melepaskan airpods yang sekarang tidak memperdengarkan apapun.
"Nona ke sini naik apa? Di antar sama pak Hedy?" tanya Troy.
"Itu bukan hal penting, asisten Troy. Sekarang lebih baik bawa saya menemui tuanmu yang sedang marah itu," jawab Quella mengingatkan Troy akan tujuannya memanggil istri sang majikan datang ke sini.
"Oh benar. Silahkan ikuti saya, nona!"
Quella mengangguk setuju dan segera berjalan mengikuti Troy di depannya. Mereka berdua memasuki lift khusus yang langsung menuju ke lantai atas.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tuanmu itu sampai marah seperti itu?" tanya Quella penasaran saat lift sudah mulai bergerak naik.
"Ada masalah serius, nona. Salah satu tim pengacara Senior yang di bentuk tuan Vince tengah menangani sebuah kasus penting. Tetapi, mereka tanpa sengaja kehilangan beberapa bukti kasus yang cukup penting. Jika bukan karena itu, tuan tidak akan semarah ini. Bukti itu sangat penting dan akan berbahaya kalau sampai jatuh ke tangan lawan," jelas Troy yang begitu mudah di pahami oleh Quella.
"Benarkah? Tidak heran kalau dia marah besar. Dulu saya pernah melihatnya marah seperti itu tapi tidak memakan waktu selama ini," ucap Quella mengingat kejadian 3 tahun lalu berdasarkan ingatannya.
"Oleh karena itu saya meminta nona ke sini. Siapa tahu, amarah tuan Vince bisa di redakan. Kasihan juga para pengacara Senior yang sedari tadi harus menghadapi amarah tuan,"
Quella mengangguk-anggukkan kepalanya. Tidak terbayang di benaknya, bagaimana nasib para pengacara yang sedang menghadapi amarah Vince. Dimana amarah laki-laki itu sudah berlangsung selama 2 jam lebih. Quella tahu persis bagaimana saat Vince marah, jadi ia cukup kasihan dengan para pengacara itu.
Tidak berselang lama, lift terbuka di lantai 3. Troy mengarahkan Quella menuju ke sebuah pintu yang bertuliskan Meeting room. Dimana di dalam ruangan itu, Vince masih saja meluapkan amarahnya.
Di dalam Meeting Room
"Bukankah biasanya kalian tidak pernah seceroboh ini!!? Lalu apa sekarang ini, hah? Kalian kehilangan bukti penting yang jelas-jelas sudah berada di tangan kalian. Apa kalian tidak berpikir kalau sampai bukti itu jatuh ke pihak lawan, itu akan berbahaya!!!" suara Vince menggema di dalam ruangan itu.
Laki-laki sedang kalut dalam amarahnya pada tim pengacara Senior yang di bentuknya tersebut. Mereka hanya bisa diam menerima amarah dari Vince. Tidak ada keberanian yang besar untuk mereka melawan amarah dari Vince—Pengacara lebih senior dari mereka, sekaligus pemilik kantor VnQ Lawfirm ini.
"Kenapa diam!? Saya di sini butuh penjelasan lebih dari kalian!" sambungnya menatap tajam ke tim pengacara Senior bentukannya tersebut.
"Maaf, bos!" salah satu dari mereka memberanikan berucap maaf, meski sebelumnya sudah berapa kali kata itu keluar.
"Jangan hanya bisa minta maaf! Saya butuh penjelasan atas kecerobohan kalian ini! Tidak lupa bukan, kalau kalian di sini adalah tim senior? Apapun yang kalian lakukan menjadi contoh untuk para junior," cecar Vince tanpa menyadari bahwa pintu ruangan itu telah di buka.
Bahkan kini Troy sudah masuk ke dalam sana bersama Quella yang berdiri di belakang punggungnya. Quella tampak bersedekap dada mendengarkan amarah Vince barusan. Belum ada yang menyadari keberadaannya di sana.
"Tuan!" panggil Troy dari arah samping kanan Vince.
"Diamlah, Troy! Saya masih belum mendapatkan penjelasan yang memuaskan dari mereka!" seru Vince bernada dingin tanpa melihat ke arah lawan bicara.
"Tapi tuan—"
Troy tidak menyelesaikan ucapannya untuk memberitahukan kedatangan Quella sebab Vince telah mengangkat tangannya—Mengisyaratkannya agar diam. Lalu ia pun menoleh ke arah Quella. Seolah mengerti maksudnya, Quella memberi isyarat untuk menyingkir. Troy segera melakukannya dan sekarang mereka yang ada di ruangan itu terkecuali Vince, bisa melihat keberadaannya. Namun mereka tidak berani bersuara.
"Sekarang beri penjelasan yang saya inginkan!" titah Vince sekali lagi menuntut penjelasan.
"Bagaimana mereka memberikan penjelasan kalau kamu terus marah seperti ini!" celetuk Quella tiba-tiba.
Deg
Seketika detak jantung Vince berpacu dengan cepat. Ia mengenali suara itu—Bukan, ia sangat mengenalinya. Tidak mungkin pendengarannya salah. Dengan perlahan, ia mencoba melihat ke arah suara itu. Dan—Betapa terkejutnya melihat keberadaan sang istri di sana.
"Sa—yang?" ucapnya lirih dan terbata-bata.
Namun karena suasana ruangan itu hening, semua yang ada di sana mendengarnya. Mereka terkecuali Troy merasa terkejut. Dalam pikiran mereka sekarang, indra pendengaran mereka sedang bermasalah atau memang tidak salah?
"Sudah puas marah-marahnya, heh?" Quella berdecih pelan dan jangan lupakan tatapan datarnya yang bisa di lihat jelas oleh Vince, meski hampir tidak terlihatan karena terhalang topi.