
Quella langsung membuka mulutnya tanpa ragu dan menerima suapan dari laki-laki itu. Di sela itu pula, ia menatapnya dengan perasaan cinta. Tatapan yang telah lama tidak ia berikan karena kehilangan ingatan. Namun lihatlah sekarang, tatapan itu kembali ia berikan.
"Sudah lama aku tidak di tatapmu seperti ini. Terakhir kali kamu memberikan sebelum kecelakaan itu terjadi," ucap Vince di sela menyuapi perempuan itu dengan telaten.
"Kamu merindukan tatapanku?" pertanyaan yang di ajukan Quella terdengar konyol. Perempuan itu tahu jelas apa jawabannya.
Sesaat Vince berhenti menyuapi Quella. Raut wajahnya tampak datar, sebelum bibirnya mengembangkan senyuman yang lebih manis daripada tadi. "Ya, aku merindukannya. Tidak hanya tatapanmu tapi juga semua tentangmu. Aku sudah menunggu dan menahan kerinduan ini selama hampir 2 tahun. Dan sekarang aku bahagia bisa melihat tatapanmu ini lagi,"
Quella terdiam mendengarnya sembari mencari kebohongan dari sorot mata laki-laki yang berstatus suaminya itu. Tetapi bukan kebohongan yang ia temukan, melainkan kebenaran dari ucapan Vince. Ada kerinduan, sekaligus kesedihan yang tersimpan dari sorot matanya. Meski sekarang terobati dengan kebahagiaan akan pengakuan Quella yang telah mendapatkan sebagian ingatannya kembali.
Perlahan tangan Quella bergerak menyentuh wajah Vince. Ia tidak melihat perubahan apapun dari wajah tampan yang laki-laki itu miliki. "Maaf, sayang. Aku sudah membuatmu menunggu terlalu lama, ya?"
Sayang—Ini pertama kalinya Quella memanggilnya seperti itu lagi. Vince sempat terkesiap mendengarnya. Tetapi perasaan bahagia yang ia rasakan seakan membuncah. Sontak ia memegang tangan Quella yang tengah menyentuh wajahnya dan kemudian menciumnya singkat.
"Kamu tahu sendiri kalau menunggu itu membosankan tapi jika menunggumu—Tidak masalah. Aku bersedia menunggu sampai kapanpun, sayang!"
Quella tampak tersenyum. Ternyata laki-laki itu memang tidak berubah dari segi apapun. "Kamu tetap sama seperti dulu,"
"Kalau aku berubah, mungkin sekarang kamu tidak ingin bersamaku lagi. Benar, kan?" tanya Vince memainkan alisnya di sela melanjutkan menyuapi Quella.
"Mungkin," jawab Quella di sertai kekehan pelan tapi masih senantiasa menyentuh wajah Vince.
Ceklek
Tiba-tiba pintu ruangan di buka oleh seseorang yang langsung terkejut melihat pemandangan di dalam sana.
"Quella!?" pekiknya tidak percaya dengan apa yang tengah ia lihat.
Tidak hanya orang itu yang terkejut tapi juga Quella dan Vince. Bagaimana mereka tidak terkejut akan kedatangan orang itu. Terlebih lagi posisinya Quella sedang menyentuh wajah Vince. Bukankah mereka seperti— Kepergok?
Sontak Quella menarik tangannya dari wajah Vince. Mereka saling beradu pandangan seolah berbicara untuk situasi yang tidak terduga seperti ini.
"Siapa laki-laki yang baru saja lo sentuh wajahnya? Kok gue kaya kenal," selidik orang yang baru saja membuka pintu.
"Iya gue mikir hal yang sama," timpal satu orang lainnya.
"Hmmm memang kalian berdua kenal," sahut Quella membenarkan.
Tidak ada gunanya juga berusaha menyangkal. Mereka berdua bukan orang yang mudah percaya. Ucapannya barusan membuat kedua orang yang baru datang itu merasa penasaran.
"Duh, Quella! Langsung sebut aja bisa gak? Kita berdua udah penasaran nih,"
Quella menghela nafas seraya kembali beralih menatap Vince. Laki-laki itu masih diam tapi detik selanjutnya, ia meletakkan bungkusan yang masih tersisi sedikit Chicken Fried Food ke atas nakas di samping brankar. Kemudian ia pun beranjak berdiri dan berbalik badan.
"OH MY GOSH!!!" salah satu dari kedua orang itu berteriak dengan tangan kanannya menutup mulutnya sendiri.
Sedangkan satu orang lainnya hanya menatap lebih tidak percaya akan sosok laki-laki yang tadi wajahnya di sentuh oleh Quella. Ini sangat mengejutkan. Sungguh!
Benar—Orang yang baru saja berteriak adalah Zelda. Kalau ada Zelda, tentu saja ada Wileen. Mereka berdua baru saja datang usai di beritahu oleh Gerald.
"Hehe, sorry! Tapi ini beneran gak salah lihat, kan gue!?" sahut Zelda masih sempat cengengesan di tengah keterkejutannya.
"Dia beneran pengacara Vince. Lo gak salah lihat," Wileen berucap setengah berbisik.
"Kalau mau pastiin, lo bisa pergi ke Dokter mata. Takutnya mungkin mata lo emang ada masalah," sindir Quella secara langsung. Pasalnya sudah jelas itu Vince, Zelda masih saja mempertanyakannya.
Zelda melototkan matanya ke arah Quella. "Baru juga sadar dari koma, mulut lo makin pedas aja ya? Gue kan nanya baik-baik. Apa susahnya sih di jawab langsung tanpa menyindir?"
Tidak peduli bagaimana kedua mata Zelda yang melotot ke arahnya, Quella hanya mendengus pelan. Memang agak merepotkan kalau berhadapan dengan kedua sahabatnya, terutama Zelda—Si paling cerewet.
"Mending lo berdua masuk dulu, terus tutup pintunya!" perintah Quella pada kedua sahabatnya itu yang masih berdiri di depan pintu ruangannya.
Zelda ingin membuka suaranya kembali tapi di dahului oleh Wileen. "Udah! Masuk aja dulu. Biar setelah ini Quella jawab semua pertanyaan kita,"
Mau tidak mau Zelda mengiyakan ucapan Wileen. Mereka berdua pun berjalan masuk dan tidak lupa pula untuk menutup pintu ruangan itu. Posisinya sekarang mereka berdua tengah berdiri berhadapan dengan Vince.
"Sebelumnya tanpa saya perkenalkan diri pun, kalian berdua sudah mengenal saya bukan? Saya—Vince Marson. Terima kasih sudah mau menjadi sahabat Xaviera selama ini," ucap Vince bernada ramah memecah keheningan. Laki-laki itu baru berbicara usai terdiam cukup lama mendengarkan pembicaraan antara istrinya dan kedua perempuan itu.
"Ah—Saya Wileen. Pengacara Vince tidak perlu berterima kasih. Kami sangat senang bisa bersahabat dengan Quella dan sebuah kehormatan bisa bertemu orang seperti Anda secara langsung," sahut Wileen sopan layaknya perempuan Dewasa. Tidak seperti Zelda yang lebih bebas dan lumayan tidak suka berbicara formal.
"Dan Gue—Eh maksudnya saya, Zelda. Sahabat terbaik Quella," timpal Zelda begitu percaya diri. Baik Quella, maupun Wileen sama-sama menggelengkan kepala.
"Saya cukup mengenal kalian berdua," Vince hanya tersenyum mendengarnya.
"Emm tapi kita masih penasaran kenapa Anda ada di sini? Terus Quella pakai acara sentuh-sentuhan wajah Anda lagi. Gak mung—Awww!"
Zelda berhenti mengajukan pertanyaan saat Wileen mencubit lengannya. Tidak keras, cuma ia yang agak lebay seperti biasa. Bahkan perempuan itu menatap tajam ke arahnya karena pertanyaannya barusan.
"Dia suami gue," bukan Vince yang mengatakannya, tetapi Quella dengan raut wajah tenang.
Tidak setenang raut wajah kedua sahabatnya sekarang. Mereka jelas sangat terkejut dan shock mendengar perkataan Quella. Apa pendengaran mereka salah? Pikir mereka berdua secara bersamaan.
"Ini pendengaran gue yang bermasalah atau ucapan lo yang salah!?" tanya Zelda memastikan terlebih dulu.
"Pendengaran lo gak bermasalah dan ucapan gue juga gak salah. Dia emang suami gue," jawab Quella menatap sekilas ke arah Vince yang berdiri di samping brankar. Laki-laki itu tampak tenang, bahkan tersenyum tipis. Senyuman yang jarang orang lain lihat.
"Lo serius tentang ini!?" kali ini bukan Zelda yang bertanya, melainkan Wileen.
Perempuan itu sekarang tidak bisa diam mendengar fakta mengejutkan dari sang sahabat. Bahkan ia menatap Quella dan Vince secara bergantian.
"Gue sedang gak bercanda,"