
"Sepertinya nona Stella itu menyukai Vince. Mana pakai acara mau bikin berita itu menjadi kenyataan. Menyebalkan!" gerutu Quella usai mematikan telepon secara sepihak. Ponselnya langsung di letakkan di atas meja dengan sedikit kasar.
Mendadak mood Quella menjadi buruk. Ia sudah cemburu melihat foto dan video yang seolah menunjukkan kedekatan Vince dengan model bernama Stella itu. Dan apa ini? Barusan ia mendengar ucapan Stella yang mengusulkan untuk menjadikan nyata akan berita kedekatan mereka. Secara tidak langsung ucapannya itu memberitahukan bahwa Stella mempunyai perasaan terhadap Vince. Dimana berita yang sedang beredar ini menjadi kesempatan emas untuknya menjalin kedekatan mereka.
Quella sesekali mendengus kasar memikirkan hal tersebut. Tanpa di sadarinya, Wileen telah kembali dengan membawa sendiri nampan berisi pesanan mereka.
"Kenapa lo?" tanyanya saat melihat raut wajah dan sikap Quella yang menunjukkan moodnya sedang buruk.
Sontak Quella mendongak untuk melihat sang sahabat yang baru saja tiba di hadapannya. "Gue baik,"
"Lo gak bisa bohong sama gue. Jadi apa alasan yang buat lo badmood? Gara-gara berita itu atau hal lain?" Wileen bertanya lagi sembari mendudukkan dirinya berhadapan dengan Quella.
"Udahlah, itu gak penting. Gue haus, mau minum sekarang. Lo juga minum selagi esnya belum terlalu mencair!" seru Quella mengalihkan pembicaraan dan segera meminum jus anggur yang di pesannya tadi.
"Ck—Kebiasaan," decak Wileen tapi tak ayal dirinya langsung ikut minum.
Jika sudah begitu, ia juga tidak bisa memaksa agar Quella mau bercerita. Dimana sahabatnya itu terkadang tidak tahu apa penyebabnya badmood.
Kembali ke kantor Vince...
"Kau sungguh menolak usulanku ini?" tanya Stella tidak percaya.
Benar. Sebelumnya Vince langsung menolak mentah usulan Stella agar membuat berita itu menjadi kenyataan. Ia tidak ingin menjalin kedekatan dengan perempuan mana pun, termasuk Stella. Bagaimana mungkin ia melakukannya, saat ia sudah memiliki Quella yang di atas segalanya.
"Ya, tentu saja! Masalah ini bisa di atasi tanpa harus melakukan seperti yang nona Stella katakan," jawab Vince begitu tenang tapi juga terdengar menegaskan.
"Kenapa kau menolaknya? Padahal usulanku ini akan lebih mudah untuk mengatasinya. Apa karena perempuan yang bersamamu kemarin?" Stella mengangkat sebelah alisnya, seraya bersedekap dada.
Vince tersenyum tipis, tetapi matanya menatap datar perempuan itu. "Bisa di bilang begitu. Dia terlalu sempurna untuk saya buat kecewa. Jadi saya berusaha menjaga perasaannya,"
Tidak tahu saja Vince, kalau sekarang Stella tengah mengepalkan tangannya. Ia berusaha menahan kekesalannya akan penolakan Vince dan bagaimana laki-laki itu memberitahukan betapa penting sosok perempuan yang bersamanya kemarin.
'Cih, sebenarnya siapa perempuan itu!? Aku tidak akan membiarkannya merebut Vince dariku!' batin Stella
"Tampaknya perempuan itu sangat istimewa. Kalian memiliki hubungan?" celetuk Stella di sela menahan kekesalan demi mencari tahu.
"Kalau pun ada, itu urusan saya. Nona Stella tidak perlu tahu sebab ini juga tidak penting," sahut Vince cukup menohok.
Sontak Stella tertawa renyah. "Haha. Kau memang benar,"
Sebenarnya ia tertawa dengan di paksakan. Tentu untuk menutupi kekesalannya akan ucapan Vince yang begitu menohok. Laki-laki jelas sekali membuat batasan terhadapnya agar tidak mencari tahu lebih.
"Baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi. Masalah berita ini, aku juga akan membantu mengatasinya. Tidak adil bukan kalau hanya kau yang mengatasinya, padahal berita ini melibatkan kita berdua," sambungnya.
Vince mengangguk setuju. "Mengatasinya bersama jauh lebih baik dan masalah ini juga akan cepat teratasi,"
"Iya, benar sekali. Ah—Sebaiknya aku pulang dulu, sebelum ada berita baru lagi yang tersebar!" cetus Stella dengan sedikit bercanda.
"Hmm baiklah, nona Stella. Saya tidak mengantar ke depan," ucap Vince di sertai dehaman pelan.
"Tidak masalah," Stella berucap sembari beranjak berdiri, begitupun Vince.
Stella pun pergi dari ruangan Vince dengan di antar oleh Troy yang sedari tadi hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka. Setelah pintu ruangannya tertutup, Vince kembali duduk dan langsung mengambil ponselnya.
"Mati?" gumamnya, saat melihat panggilannya dengan Quella berakhir.
Ia segera menelepon Quella lagi tapi sayangnya tidak di angkat. Sampai ketiga kalinya menelepon, hasilnya tetap sama—Tidak di angkat oleh istrinya itu. Vince mengernyit bingung menatap layar ponselnya yang menyala.
Kemudian ia mulai menyibukkan diri dengan membaca lebih teliti berkas kasus milik calon klien barunya. Sebagai seorang pengacara, ia di tuntut untuk lebih teliti dalam mempelajari kasus. Hal itu bertujuan agar nantinya tidak terjadi kesalahan dalam menangani kasus tersebut.
...****************...
Malam hari telah tiba dan Quella tengah berada di sebuah cafe. Ia belum pulang sejak selesai kuliah tadi. Bahkan ia mengaktifkan mode senyap di ponselnya hanya karena saat ini tidak ingin menerima telepon dari Vince. Sungguh ia sedang dalam mode badmood. Namun sebelumnya ia sudah mengirimkan pesan pada Zelda dan Wileen untuk datang ke sana.
"Oittt Quella!" panggil seseorang pada Quella yang sedang menikmati pemandangan kota dari tempatnya duduk.
Mendengar namanya di panggil, Quella pun menoleh. Tidak jauh darinya terdapat Zelda, Wileen dan—Gerald yang sedang berjalan menghampirinya. Quella sedikit terkejut melihat keberadaan adik sepupu dari sang suami.
"Lo gak ada pulang dari habis kuliah tadi?" tanya Wileen sesampainya di hadapan Quella.
Quella dengan entengnya menganggukkan kepala. "Pengen di sini dulu gue. Nikmatin pemandangan kota,"
"Gak di cariin sama suami lo?" celetuk Zelda usai duduk di sebelah Quella dan berhadapan dengan Wileen yang di sebelahnya terdapat Gerald.
"Pasti di cariin lah, kak. Mana mungkin kakak sepupu gue itu gak cariin istrinya. Nih buktinya gue udah tiga kali di telepon cuma buat nanyain keberadaan Quella," sahut Gerald menunjukkan riwayat panggilan di ponselnya.
Sebelumnya Zelda dan Wileen meminta Gerald untuk menganggap mereka sebagai teman. Jadi tidak heran kalau Gerald tidak terlalu kaku berbicara pada mereka. Satu hal lagi, mereka berdua sudah tahu kalau Gerald dan Vince adalah saudara sepupu.
"Wuihhh kayaknya emang dah bucin sama lo, Quella! Gak nyangka gue!" Zelda menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bukan dah bucin lagi tapi emang bucin akut kali, Zel! Bener gak, Ger?" timpal Wileen menanyakan pada Gerald.
Dengan cepat Gerald menganggukkan kepala. "Bener banget. Gue udah mendengar, bahkan melihat sendiri gimana selama ini bucinnya kakak sepupu gue itu. Mau gak percaya tapi ini kenyataannya,"
"Gue jadi pengen juga. Kapan ya gue di bucinin kaya gitu," sungut Zelda seraya menumpu wajahnya dengan tangannya.
"Udah deh. Gausah bahas soal itu. Mending lo bertiga pesan dulu!" seru Quella menyudahi topik yang sedang di bahas keduanya dan Gerald.
"Kita udah pesan tadi. Tenang aja," balas Wileen santai.
"Oh," Quella hanya ber-Oh ria membalasnya. Benar-benar tidak mempunyai mood untuk berbicara.
"Lo lagi badmood?" Zelda menatap lekat Quella yang memasang raut wajah datar.
"Hmm," deham Quella mengiyakan.
"Apa gara-gara berita itu lo jadi badmood?" tebak Zelda, sama seperti yang saat ini Wileen dan Gerald pikirkan.
Jujur saja itu juga menjadi salah satu penyebab Quella badmood, tetapi moodnya lebih buruk saat mendengar pembicaraan Stella dengan Vince siang tadi. Namun ia juga tidak ingin mengakuinya.
"Bukan,"
"Terus apa? Gak mungkin lo badmood tanpa sebab," Zelda tidak menyerah untuk mencari tahu.
Quella mengangkat bahunya dengan acuh. Lalu menyeruput minumannya yang masih tersisa.
"Zelda—Lo kayak gak tau Quella aja. Dia kalau badmood jarang kasih tau alasannya apa sama kita," cetus Wileen yang memang benar adanya.
"Hooh. Bener juga ya," sahut Zelda membenarkan.
"Tapi kalau emang bener penyebab kak Quella Badmood gara-gara berita itu, jangan sampai salah paham sama kakak sepupu. Berita itu gak bener, kak! Gue berani bersumpah demi apapun," Gerald menimpali pembicaraan mereka bertiga.
Raut wajahnya tampak serius, bahkan tidak ada terlihat kebohongan dari sorot matanya. Ia sungguh berani bersumpah kalau Vince—Kakak sepupunya tidak menjalin kedekatan dengan Stella. Ia tidak ingin terjadi kesalahpahaman antara Quella dan Vince. Kasihan kakak sepupunya nanti kalau itu benar terjadi. Sudah cukup kesedihan dan penderitaan yang harus Vince rasakan selama hampir 2 tahun belakangan ini karena harus berpisah dari Quella.