
Quella begitu tenang menghabiskan sarapannya. Bersamaan dengan kedatangan pengunjung lain yang mulai memenuhi kedai tersebut. Sudah hal biasa melihat kedai itu di penuhi pengunjung. Paman Tyo sangat pintar membuat masakan yang rasanya tidak pernah mudah di lupakan orang. Alhasil sekarang kedainya memiliki pengunjung tetap yang tidak terhitung dan semakin hari, pengunjungnya juga semakin bertambah. Oleh karena itu paman Tyo mempekerjakan beberapa orang untuk membantunya dalam bagian melayani pengunjung atau hal lainnya. Namun untuk memasak, paman Tyo sendiri yang melakukannya. Para pekerjanya juga sering ikut membantu sekaligus belajar.
"Bagaimana rasanya? Tidak ada yang berubah, kan?" pertanyaan yang paman Tyo lontarkan, spontan mengejutkan Quella. Beruntung dirinya tidak tersedak sup yang baru saja di masuk ke mulutnya.
"Paman mengejutkanku,"
Laki-laki paruh baya itu tertawa kecil sembari menarik kursi di hadapan Quella dan kemudian duduk tanpa di minta. Pekerjaannya di dapur sudah terkendali berkat bantuan para pekerjanya. Sekarang ia bisa bersantai sejenak dengan Quella.
"Maaf. Paman tidak bermaksud mengejutkanmu,"
Quella mengerucutkan bibirnya. "Ya-ya, baiklah. Aku tahu paman hanya bermaksud untuk menanyakan pendapatku. Well, rasanya masih sama. Begitu menggugah selera dan sangat enak,"
"Syukurlah," balas singkat paman Tyo.
"Bagaimana kabar bibi?" tanya Quella di sela melanjutkan menyuap sisa sup ke mulutnya.
"Bukankah seharusnya kamu menanyakan kabar paman dulu, baru bibimu?" tanya paman Tyo balik dengan mengangkat sebelah alis.
"Untuk apa menanyakan itu? Aku lihat paman baik-baik saja. Jadi aku bertanya soal bibi," jawab Quella santai sebab tahu bahwa laki-laki paruh baya itu memang suka bercanda.
Paman Tyo menggelengkan kepala, di sertai senyuman tipis. "Kamu memang pintar beralasan. Kabar bibimu sangat baik. Dia sering menanyakanmu yang tidak datang berkunjung ke rumah dalam beberapa hari belakangan ini,"
"Sampaikan maafku pada bibi. Nanti saat ada waktu luang aku akan datang menemuinya," ucap Quella bernada hangat.
Istri dari pemilik kedai itu juga telah di anggap sebagai keluarganya sendiri. Ia cukup sering datang ke rumah paman Tyo untuk sekedar meminum teh hangat, maupun makan bersama. Kemampuan istri paman Tyo dalam memasak tidak kalah hebatnya. Pasangan yang memiliki tangan ajaib, pikir Quella. Mengapa begitu? Yeah di tangan pasangan paruh baya itu, makanan di masakan dengan sangat enak. Bahkan Quella rasa kemampuan masaknya belum bisa di bandingkan dengan mereka. Sungguh!
"Akan paman sampaikan. Setelah ini kamu mau kemana?"
"Ke kampus. Ada acara tahunan nanti malam dan aku menjadi salah satu penanggung jawabnya," sahut Quella tepat bersamaan dengan mangkuk di hadapannya telah kosong. Sup daging tadi habis tanpa ia sadari sebab rasanya yang sangat enak.
Paman Tyo mengangguk-anggukan kepalanya. "Pasti sangat sibuk,"
"Lumayan. Memangnya ada apa?" tanya Quella penasaran.
"Tidak apa-apa," jawab paman Tyo.
"Eum... Kalau begitu aku harus pergi sekarang, paman. Kita bicara lagi nanti!" Quella berucap sembari mengambil uang dari dalam dompetnya dan kemudian menyerahkan pada laki-laki paruh baya itu.
"Hhehe. Aku pasti datang nanti," timpalnya.
"Hati-hati di jalan!"
Quella melambaikan tangannya pada paman Tyo, sebelum beranjak pergi dari kedai itu. Di luar kedai, ia langsung mendapatkan taksi yang langsung membawanya pergi menuju kampus.
***
Setibanya di kampus, Quella segera bergabung dengan mahasiswa yang memiliki tugas sebagai penanggung jawab acara. Mereka berdiskusi dalam beberapa waktu. Hingga akhirnya bergerak untuk menyelesaikan tugas tersisa. Tugas di Aula sudah hampir selesai sepenuhnya. Tinggal beberapa hal yang harus di urus lagi dan di selesaikan. Kebetulan Quella mendapat tugas untuk memastikan kesediaan makanan dan minuman sudah terpenuhi sesuai daftar. Dalam menyelesaikan tugas itu, ia harus pergi sendiri ke tempat cathering. Jaraknya tidak terlalu jauh tapi tugas itu cukup memakan waktu.
Selesai dengan tugas itu, Quella beralih lagi membantu menyelesaikan tugas yang lain. Hari ini benar-benar lumayan sibuk baginya dan semua mahasiswa yang terlibat di dalam acara. Saking sibuknya, Quella tidak sempat bermain ponsel lagi. Bahkan sudah dua hari ini ia tidak bertemu dengan kedua sahabatnya--Wileen dan Zelda.
"Apa kalian sudah memastikan semuanya beres?" tanya mahasiswa yang merupakan ketua pelaksana acara tahunan kali ini.
"Iya semuanya sudah beres!" jawab beberapa mahasiswa lain dan Quella secara bersamaan. Mereka semua adalah penanggung jawab yang telah menyelesaikan semua tugas.
"Good. Semoga acara malam ini berjalan dengan lancar tanpa hambatan! Semangat semuanya!" seru ketua pelaksana begitu optimis.
"Yeah!" sahut mereka semua tidak kalah semangat.
Setelah itu mereka membubarkan diri sebab waktu sudah hampir sore. Mereka harus pulang untuk bersiap-siap terlebih dulu. Begitu pula dengan Quella yang segera pulang dan pergi menyegarkan diri. Kemudian ia mempersiapkan pakaiannya. Kali ini pilihannya jatuh pada dress putih selutut yang berlengan pendek. Ukurannya sesuai dengan bentuk tubuhnya. Meski desainnya terbilang simpel tapi tetap tampak elegan saat di kenakan. Di tambah wajah Quella di poleskan make up tipis dan rambutnya di ikat sedang dengan poni yang di biarkan menutupi dahinya. Tidak lupa pula heels hitam terpasang di kakinya sebagai pelengkap. Sempurna. Quella siap pergi ke acara tahunan malam ini.
"Lebih baik aku pergi sekarang. Mungkin di sana ada yang perlu bantuanku," gumamnya.
Tanpa pikir panjang lagi, ia segera memesan taksi online yang datang setelah beberapa menit berlalu. Taksi itu melaju dengan kecepatan sedang membawa Quella ke kampus. Jalanan masih tampak ramai akan banyaknya kendaraan. Namun bukan berarti hal itu menyebabkan kemacetan seperti tadi siang. Sehingga taksi bisa melaju tanpa hambatan sama sekali dan sampai di kampus tepat pada jam 7 malam. Quella turun usai membayar ongkos perjalanan.
Masih ada setengah jam sebelum acara tapi sudah tampak banyak mahasiswa yang berdatangan. Acara tahunan ini berupa kompetisi yang di ikuti para mahasiswa di berbagai fakultas. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, acara malam ini pasti sangat seru. Persaingan dan keinginan untuk menang akan mereka rasakan dari sengitnya kompetisi yang berlangsung nanti. Ini karena siapapun pemenangnya akan menjadi ikon kampus selama 1 tahun ke depan. Tentu hal itu sangat menggiurkan untuk para mahasiswa di semua fakultas. Terkecuali Quella yang enggan berpartisipasi.
Gadis itu bergegas pergi menuju aula yang menjadi tempat acara di setiap tahunnya. Di sana sudah terdapat para mahasiswa dengan tugas sama sepertinya--Yaitu penanggung jawab. Entah apa yang telah terjadi, mereka tampak sedang kebingungan.
"Ada apa?" tanya Quella langsung, usai berdiri di antara mereka.
"Kita dalam masalah, Quella. Casandra tidak dapat hadir dan menjadi pembawa acara malam ini," jawab ketua pelaksana yang tidak kalah kebingungan dan sedikit frutasi.
Quella terkejut. "Apa? Kenapa tiba-tiba seperti ini?"