THE LAWYER'S SECRET WIFE

THE LAWYER'S SECRET WIFE
Eps 25. Kita Perlu Bicara!



"Awas lo, ya!!" Davichi melepaskan garpu di tangannya dan langsung beranjak pergi.


Perempuan itu merasa takut akan tatapan tajam yang Quella berikan. Entahlah. Davichi hanya merasa bahwa Quella bukan perempuan yang cupu seperti penampilannya. Dan untuk saat ini, memang lebih baik ia pergi dulu.


"Lo gakpapa, Wil?" tanya Quella pada sahabatnya yang masih tampak shock.


Wileen tersadar, lalu menatap ke arah Quella. "Gu--Gue gakpapa. Seharusnya gue yang nanya sama lo. Lo gakpapa, kan?"


"Gue juga gakpapa," sahut Quella sembari meletakkan garpu tadi ke atas meja. Garpu dengan bercak darah dan Wileen langsung melihat ke telapak tangan sahabatnya itu.


"Tangan lo berdarah, Quella! Lo bilang ini gakpapa!?" pekik Wileen mendadak panik sambil memegangi tangan Quella. Bahkan tanpa sengaja menyentuh tepat di lukanya.


"Sshhh," desis Quella pelan merasakan perih.


Sontak Wileen menjauhkan tangannya. "Astaga, maaf! Gue gak sengaja,"


"Its okay, Wil!"


"Gue obatin ya? Pelayan!" Wileen segera memanggil pelayan yang sedang berada di dekat mereka.


Pelayan tersebut pun langsung menghampiri mereka. "Ada yang bisa saya bantu, nona?"


"Apa kalian punya kotak P3K?" tanya Wileen pada pelayan yang tengah berdiri di hadapannya itu.


"Ada nona,"


"Tolong ambilkan! Saya ingin mengobati luka teman saya," pinta Wileen.


Pelayan itu mengangguk mengerti, usai melihat bercak darah di tangan Quella. "Baik, nona. Tunggu sebentar!"


Kemudian pelayan itu pergi dari hadapan Wileen dan Quella dengan tergesa-gesa. Meski penasaran akan apa yang terjadi, pelayan itu tidak berniat mencari tahu. Tugasnya sekarang hanya mengambilkan kotak P3K.


"Seharusnya lo gak perlu melakukan ini. Gue bisa obatin sendiri di rumah," tukas Quella sembari meniup-niup luka di telapak tangannya. Guna mengurangi rasa perih.


"Oh no! Lo terluka karena melindungi gue. Sudah seharusnya gue mengobati luka lo. Terlebih lagi luka lo bisa infeksi kalau gak di obatin sekarang. Jadi please, biarin gue lakuin ini atau gue akan terus merasa bersalah sama lo!" ucap Wileen bernada rendah. Ia tampak benar-benar merasa bersalah atas apa yang terjadi pada sahabatnya itu.


Quella menghela nafas. "Hufft... Baiklah. Lo bisa mengobati gue. Asal setelah ini lo gak merasa bersalah lagi. Gue sungguh gakpapa, oke!?"


Wileen menganggukkan kepalanya. Bersamaan dengan pelayan tadi yang membawakan kotak P3K dan langsung memberikannya padanya.


"Terima kasih," Wileen mengambil kotak P3K itu.


"Sama-sama," balas pelayan itu, sebelum pamit pergi untuk melayani pengunjung lain.


Sementara itu, Wileen segera mulai membersihkan darah di telapak tangan Quella. Darahnya tidak banyak.


"Lo udah lama rebutan laki-laki sama dia?" tanya Quella membuka pembicaraan kembali, di sela Wileen membersihkan darahnya.


"Lebih tepatnya dia yang mau ngerebut," jawab Wileen memkoreksi pertanyaan Quella.


"Yah apapun itu. Kalian udah lama seperti ini?" Quella kembali bertanya.


"Udah lama banget. Dia gak terima gue pacaran sama Vernon. Alasannya hanya karena dia dekat lebih dulu dengan Vernon di banding gue,"


Quella meringis mendengar jawaban sahabatnya itu. "Jadi ceritanya lo tikung dia di persimpangan jalan?"


"Pemikiran yang bagus. Cuma lo juga harus bisa melihat keadaan. Seperti sekarang, lo harus hati-hati. Davichi adalah perempuan yang gila. Hari ini gue bisa melindungi lo tapi mungkin tidak lain kali. Dia bisa melakukan hal yang lebih gila daripada ini. Lo pahamlah maksud gue!" terang Quella memberi peringatan. Maksudnya baik agar tidak terjadi hal buruk pada sahabatnya itu.


"Gue paham. Nanti gue bicarain hal ini sama Vernon," sahut Wileen.


"Ya, itu yang terbaik!" timpal Quella menyetujui.


Setelah itu pembicaraan mereka berakhir. Wileen masih sibuk mengobati luka Quella. Hingga akhirnya selesai dengan penampakan perban putih membalut telapak tangannya.


"Quella--Sekali lagi gue minta maaf atas kejadian ini, ya!? Gue gak nyangka Davichi senekat itu," tutur Wileen sembari menatap intens Quella. Tampak pula dari tatapannya, rasa bersalah dan masih ada keterkejutan di sana.


"Udahlah. Gue kan udah bilang gakpapa," sahut Quella tersenyum tipis.


"Tapi tetap aja gue merasa bersalah. Lo tahulah gue orangnya kaya gimana," cetus Wileen.


Quella berdecak pelan. "Ck. Lo lupa sama ucapan lo tadi? Lo gak akan terus merasa bersalah, kalau gue biarin lo ngobatin luka gue. Lupa heh?"


"Gak lupa. Tapi kan--"


"Gak ada tapi-tapian, Wil. Mending kita pulang sekarang!" potong Quella lebih dulu, sebelum Wileen menyelesaikan ucapannya.


Mau tidak mau Wileen menyetujui ajakan Quella. Ia sangat tahu keadaan sahabatnya itu pasti sudah lelah. Apalagi kejadian tadi juga sudah membuat keterkejutan bagi mereka. Jadi lebih baik sekarang mereka pulang dan beristirahat. Mereka berdua pun segera pergi dari restoran tersebut. Wileen mengantarkan Quella pulang sampai ke rumahnya.


Sementara itu, orang yang sedari tadi mengepalkan tangannya langsung menelepon seseorang.


"Cari tahu perempuan yang baru saja melukai istriku di restoran xxx dan beri dia pelajaran!" titahnya dengan kemarahan.


***


Di muka rumah Quella


"Gue pulang dulu, ya!?" seru Wileen berpamitan pada Quella.


Quella menganggukkan kepalanya. "Hati-hati di jalan!"


Wileen mengacungkan jempol, lalu langsung melajukan mobilnya. Quella masih berdiri di tempatnya sampai mobil sahabatnya itu benar-benar tidak terlihat lagi. Baru saja ia ingin masuk ke dalam rumah, tetapi tanpa sengaja matanya menangkap sesuatu di seberang sana. Oh tidak. Bukan sesuatu, melainkan seorang laki-laki yang amat di kenalinya. Quella terpaku untuk sesaat. Apalagi saat mata mereka beradu tatapan. Seperti ada sebuah sengatan tak terlihat.


Tidak. Quella belum siap bertemu lagi dengan laki-laki itu. Ia pun segera berbalik badan dan hendak masuk ke dalam rumah. Namun tiba-tiba suara bariton terdengar dari arah belakangnya.


"Xaviera--Tunggu!"


Dan entah mengapa kakinya justru berhenti. Padahal hatinya benar-benar belum siap akan bertemu dengan orang itu. Quella memejamkan matanya, sebelum berniat melanjutkan langkahnya lagi. Tetapi, kali ini sebuah tangan kekar memegang pergelangan tangannya.


"Tunggu, Xaviera! Kita perlu bicara," suara bariton itu kembali terdengar.


Terpaksa Quella berbalik badan. Matanya menatap datar laki-laki itu. "Apa yang perlu kita bicarakan?"


"Tentang kita," sahut laki-laki itu. Terdengar hembusan nafas beratnya.


Vince Marson. Laki-laki itulah yang tengah memegang tangan Quella. Ia telah mengikuti Quella sejak dari kampus tadi. Bahkan kejadian yang terjadi pada Quella juga di saksikannya. Dan siapapun yang berani melukai istrinya itu, pasti akan ia beri pelajaran.


"Saya belum berniat untuk bicara lagi dengan Anda. Jadi tolong lepaskan!" seru Quella memberontak, berusaha melepaskan pegangan tangan laki-laki itu.