THE LAWYER'S SECRET WIFE

THE LAWYER'S SECRET WIFE
Eps 56. Ke Kantor Vince



Malam telah berganti pagi hari. Cahaya matahari menembus masuk lewat celah-celah gorden kamar. Silau cahayanya mampu mengusik salah satu dari pasangan yang tengah tidur berpelukan di bawah selimut. Dia—Vince lebih dulu terbangun akibat cahaya matahari itu. Matanya mulai mengerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam netra matanya. Ia menatap sesaat ke sekitar, sebelum tatapan matanya tertuju ke arah Quella yang masih tidur. Istrinya itu tidur dengan menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya karena terusik akan cahaya matahari.


Sontak Vince tersenyum tipis seraya menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Quella. Lalu mendaratkan ciuman yang cukup lama di puncak kepalanya. Rupanya tindakannya itu kembali membuat Quella terusik. Dimana kali ini ia sedikit membuka matanya.


"Good morning, sayang. Masih mau tidur, hm?" tanyanya yang langsung di angguki sang istri.


"Ngantuk," jawab Quella pelan, bahkan hampir tidak terdengar. Matanya juga kembali terpejam.


"Yaudah, lanjut tidur sekarang!" seru Vince sembari mengusap lembut rambut panjang milik Quella.


Sedetik, dua detik sampai semenit terlewat, tidak ada terdengar balasan lagi dari Quella. Dan—Vince dapat pastikan bahwa istrinya itu sudah melanjutkan tidurnya. Lagi-lagi ia hanya bisa tersenyum melihat hal tersebut. Ini salah satu moment yang hampir dua tahun belakangan telah menghilang. Ia bisa memeluk Quella, melihat tingkah menggemaskannya saat tidurnya terusik dan yang terpenting adalah tentu saja memandang lekat wajah cantiknya dari jarak sedekat ini.


Jika saja tidak mengingat pagi ini harus ke kantor firma hukum miliknya, Vince akan senantiasa berada di posisi itu. Sayangnya, ia harus segera pergi bersiap sekarang.


"Tidur nyenyak, sayang. Aku mau bersiap dulu," ucap Vince di sela memberikan ciuman terakhir di puncak kepala Quella.


Kemudian dengan perlahan ia mengangkat sedikit kepala Quella, lalu menarik tangannya yang di jadikan istrinya itu sebagai bantalan. Berhasil melakukannya, ia pun menurunkan kembali kepala Quella tepat di sebuah bantal empuk. Ia juga melepaskan tangan istrinya itu yang memeluknya erat. Beruntung tindakannya itu tidak membuat sang empunya terusik. Sehingga Vince bisa leluasa beranjak bangun dari ranjang dan mematikan lampu tidur, sebelum pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesai mandi, kini Vince berjalan memasuki Walk in Closet dengan sebuah handuk melilit di pinggangnya dan rambutnya yang basah di keringkan menggunakan handuk kecil. Ia bergerak mengambil setelan jas berwarna biru malam, serta kemeja biru muda yang kemudian di pakainya. Lengkap dengan dasi berwarna biru senada, jam tangan dan sepatu hitam mengkilap. Lalu rambutnya di tata sebagai sentuhan terakhir. This perpect. Vince pun bergegas keluar dari sana, tepatnya menghampiri ke arah ranjang dimana sang istri masih sibuk dengan mimpinya.


"Aku berangkat ke kantor. Secepatnya akan pulang," sekali lagi Vince mendaratkan kecupan singkat di kening Quella. Salah satu hal yang tidak pernah bosan untuk ia lakukan.


Usai mengatakannya, ia mengambil ponsel dan dompetnya yang berada di atas nakas. Vince berjalan pergi dari kamar tanpa membuka gorden kamar terlebih dahulu. Ia tidak ingin membangunkan Quella. Jadi biarkan saja istrinya itu tidur dengan puas.


"Selamat pagi, tuan!" sapa seorang perempuan paruh baya pada Vince yang baru saja tiba di meja makan.


Vince mengangguk pelan, di sertai senyuman manis. Lebih manis dari yang biasanya ia tunjukkan pada mereka—Pelayan di rumahnya. Alasannya? Tentu saja karena keberadan Quella. Dapat di pastikan hari-harinya ke depannya akan begitu cerah.


"Selamat pagi!" balasnya seraya mendudukkan dirinya di kursi. Salah satu pelayan langsung menyiapkan sarapan untuknya.


"Nyonya belum bangun, tuan?" tanya pelayan yang sedang menyiapkan sarapannya itu.


"Belum. Dia masih perlu istirahat, makanya gak saya bangunin," jawab Vince sembari memulai sarapan.


"Nanti tolong bibi buatin susu cokelat hangat saat dia sudah bangun. Dia suka sarapan di temani minuman itu," sambungnya.


"Baik, tuan!"


Setelah itu Vince menikmati sarapannya dengan tenang. Saat ia selesai sarapan, tepat bersamaan kedatangan Troy—Sang asisten yang berpenampilan rapi seperti biasa, mengenakan setelan jas abu-abu.


"Selamat pagi, tuan!" sapanya menunduk hormat pada Vince.


"Pagi, Troy. Kau bawa berkas yang saya minta?" Vince bertanya usai beranjak berdiri dari kursi tempat duduknya.


Troy menganggukkan kepala. "Sudah saya bawa. Berkasnya ada di mobil,"


"Bagus. Sekarang kita pergi!" seru Vince yang langsung di angguki oleh Troy.


Tanpa membuang waktu lagi, Vince segera pergi menuju kantor firma hukumnya menggunakan mobil yang Troy kemudikan. Sedangkan pelayannya tadi, merapikan meja makan dan kemudian membantu seorang pelayan lainnya untuk bersih-bersih rumah.


__________


Tepat jam 8 pagi, Quella baru membuka matanya dan tidak menemukan keberadaan Vince di sebelahnya. Mungkin laki-laki itu sudah pergi bekerja, pikirnya. Tidak ingin ambil pusing, ia merenggangkan otot-ototnya terlebih dahulu. Sebelum beranjak bangun dari ranjang dan pergi membuka gorden kamar, sehingga cahaya matahari benar-benar menerangi kamar. Selesai dengan itu, Quella kembali ke ranjang untuk merapikannya. Ia baru pergi mandi usai ranjang rapi seperti semula.


Quella turun ke lantai bawah saat sudah selesai mandi. Bahkan ia turun hanya dengan menggunakan handuk kimono membalut tubuhnya, serta rambutnya yang basah di balut sebuah handuk. Keberadaannya di sadari oleh kedua pelayan Vince yang sedang membersihkan rumah.


"Selamat pagi, nyonya!" sapa dua orang perempuan paruh baya yang dapat di pastikannya bahwa mereka adalah pelayan di sini.


"Selamat pagi, bi?"


"Saya—Bibi Heera dan di sebelah saya ini, namanya bibi Eve. Senang bisa bertemu dengan nyonya!" sahut bibi Heera—Perempuan paruh baya yang bertubuh lebih besar dari perempuan satunya.


"Akhirnya kami bisa bertemu nyonya. Kami sangat senang!" timpal bibi Eve tersenyum ramah.


"Saya juga senang bisa bertemu kalian," balas Quella tidak kalah ramah pada kedua pelayan di rumah suaminya itu.


"Apa Vince sudah berangkat kerja?" sambungnya bertanya memastikan tebakannya.


"Tuan sudah berangkat setengah jam yang lalu. Nyonya masih perlu istirahat makanya tuan tidak bangunkan," jawab bibi Eve yang tadi melayani Vince di meja makan.


Quella hanya mengangguk-anggukkan kepala mendengarkan itu.


"Nyonya mau sarapan?" tanya bibi Heera menyela.


"Iya. Saya lapar," Quella menjawabnya seraya tersenyum tipis.


"Saya sudah siapkan sarapan di meja makan. Silahkan nyonya!" seru bibi Eve mengarahkan Quella untuk menuju ke meja makan.


Quella pun pergi menuju meja makan di temani bibi Eve, sedangkan bibi Heera kembali lanjut bekerja. Sesampainya di meja makan, bibi Eve langsung melayaninya dan tidak lupa membuatkan susu cokelat hangat seperti yang Vince katakan.


"Terima kasih," ungkap Quella sebelum memulai sarapannya.


"Sama-sama, nyonya!" sahut bibi Eve tersenyum.


Perempuan paruh baya itu sangat senang karena bisa bertemu dengan Quella—Istri sang majikan. Dimana selama ini ia dan bibi Heera hanya mendengar namanya saja dari mulut Vince yang selalu menceritakannya dengan raut wajah bahagia. Sekarang mereka berdua sudah bertemu langsung dengan istri sang majikan yang ternyata sosoknya benar-benar persis seperti cerita Vince. Tidak heran kalau pagi ini senyuman Vince lebih manis dari biasanya sebab keberadaan Quella.


SKIP


Selesai sarapan, Quella tidak langsung kembali ke kamarnya. Melainkan berkeliling di rumah Vince di temani bibi Eve. Ia baru kembali ke kamar usai puas berkeliling.


Ting...


Terdengar sebuah notifikasi masuk yang bisa di kenali itu notifikasi pesan grupnya dengan kedua sahabatnya. Ia segera mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, lalu membuka pesan grup.


Pecinta Cogan


(You, Zelda💃 dan Wileen😽)


Zelda💃:


Lo berdua gak lupa, kan?


Awas gak datang! Gue udah


nyediain banyak cemilan


buat nemenin😒


Rugi gue kalau lo berdua


gak datang!


Wileen😽:


Bawel banget lo!


^^^Me:^^^


^^^Ck, baru jam segini. Santai aja^^^


^^^kali, Zel! Kita pasti datang^^^


Wileen😽:


Noh denger apa kata Quella.


Lagian masih ada setengah


jam lagi. Telat juga gak


masalah, kan?


Zelda💃:


Eh lo @Wileen😽 pasti mau


ketemu sama tuh Vernon dulu.


Gak! Gak ada acara telat! Gue


gak mau tau


^^^Me:^^^


^^^Lo @Wileen😽 Iyain aja dah^^^


Wileen😽:


Hooh. Heran gue sama nih


anak @Zelda💃. Dia sendiri


sering telat tapi kita gak pernah


tuh permasalahin


^^^Me:^^^


^^^Dia kan beda☺️^^^


Zelda💃:


Terserah gue dong. Intinya


lo berdua datang dan gak ada


pakai acara telat. Oke!?


Wileen😽:


Lihat aja entar🥵


^^^Me:^^^


^^^2in pemaksa:)^^^


Tidak peduli balasan pesan selanjutnya, Quella keluar dari room chat grup. Beralih ke beberapa pesan yang terbilang penting untuknya. Termasuk pesan Billy—Asistennya yang baru saja masuk dan langsung memeriksanya.


...Ast Billy...


...Online...


Selamat pagi, nona!


Saya ingin memberitahukan


kalau lusa, perusahaan akan


mengajukan kontrak kerjasama


dengan perusahaan Tre'Corp


^^^Pagi, kak!^^^


^^^Berkas proposalnya sudah^^^


^^^di siapkan?^^^


Sudah, nona! Saya juga sudah


mengirimkannya ke email milik


nona.


^^^Nanti malam aku periksa^^^


Baik, nona. Beritahu saja kalau


ada kekurangan atau kesalahan


di dalam berkasnya.


^^^Iya kak!^^^


Kemudian Quella keluar dari room chat Billy. Di lihat jam sudah menunjukkan jam sepuluh siang kurang 20 menit. Ia pun bergegas menuju walk in closet untuk bersiap. Pagi ini ia memilih kaos hitam polos, jaket bewarna hitam senada dan bawahannya adalah celana panjang putih. Sneakers hitam-putih terpasang sempurna di kakinya. Tidak lupa pula ia memoleskan make up tipis di wajahnya dan rambutnya yang di biarkan terurai, serta topi hitam terpasang di atasnya. Oh tas kecil hitam juga di sandangkan di bahunya. Selalu sempurna seperti biasa.


"Aku pergi naik apa, ya?" pikir Quella sesaat, di sela memandangi cermin full body di hadapannya.


Sontak sebuah pemikiran terlintas di kepalanya. Lantas ia segera bergegas keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah, usai mengambil ponsel. Ia pergi menemui bibi Heera yang sedang berada di ruang tamu.


"Bibi Heera!" panggilnya membuat perempuan paruh baya itu langsung menghampirinya.


"Di garasi ada mobil?" tanya Quella tanpa basa-basi.


"Ada. Memangnya kenapa, nyonya?" tanya balik bibi Heera.


"Kuncinya ada di mana?" sekali lagi Quella bertanya.


"Tuan biasanya nyimpen kuncinya di sana juga. Ada tempat penyimpannya di dinding," jelas bibi Heera.


Sudut bibir Quella tampak terangkat. "Terima kasih, bi. Saya mau pergi dulu!"


"Nyonya mau nyetir sendiri?" pertanyaan bibi Heera di angguki Quella.


"Lebih baik jangan, nyonya! Nanti tuan marah kalau tau nyonya pergi dan nyetir sendiri. Biar saya panggilin pak Hedy buat ngantar nyonya," sambungnya.


"Tidak perlu, bi. Saya akan bilang sama Vince. Jadi bibi gak perlu khawatir!" seru Quella menolak untuk di antar.


Pasalnya ia memang ingin mengemudi sendiri sebab sudah lama tidak melakukannya. Terakhir kali mungkin sebulan lalu, itupun mengemudikan mobil milik Zelda.


"Tapi, nyonya?"


"Gak papa, bi. Sekarang saya mau pergi dulu, ya!" Quella berpamitan, lalu bergegas pergi menuju garasi tanpa menunggu balasan dari bibi Heera.


Bibi Heera hanya dapat menghela nafas. Ia tidak bisa berbuat apa-apa kalau menghadapi istri sang majikan yang tampaknya keras kepala.


"Hati-hati di jalan, nyonya!"


Quella mendengar itu tanpa berniat membalas. Kakinya terus melangkah sampai akhirnya memasuki garasi rumah Vince. Di sana ada tiga buah mobil mewah dengan merek berbeda. Quella mengulum senyum karena ketiga mobil itu cukup di sukainya.


"Selera yang bagus," puji Quella yang tentunya tertuju pada si pemilik mobil.


Kedua matanya bergulir menatap keseluruhan garasi, hingga menemukan keberadaan kunci ketiga mobil itu yang tergantung di bagian dinding. Ia pun mengambil salah satu kunci yang mobilnya sesuai keinginannya—Mobil sport merek Ferrari 488 Pista Spider berwarna putih. Saat baru saja ia memasuki mobil itu, ponselnya berdering. Ada panggilan masuk dari Troy yang telah di simpan nomornya semejak seminggu lalu. Quella segera mengangkatnya, siapa tahu penting.


"Ya, Asisten Troy?" sapa Quella cepat.


[📞AstTroy: Sebelumnya maaf mengganggu, nona]


"Tidak masalah. Aku juga tidak sedang sibuk,"


[📞Ast Troy: Apa nona bisa ke kantor tuan?]


"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Quella mengernyitkan dahinya. Untuk apa asisten suaminya itu meminta ke kantor.


[📞Ast Troy: Begini nona, sudah dua jam tuan sedang marah besar di ruang rapat. Saya bingung harus bagaimana. Jarang sekali tuan marah seperti ini]


Quella melongo mendengarnya. "Dua jam?"


[📞Ast Troy: Benar nona, dua jam tanpa jeda. Saya pikir hanya nona yang bisa meredakan amarah tuan]


"Astaga. Baiklah! Saya akan ke sana sekarang. Sharelock!" titah Quella yang cukup terkejut mendengar bahwa sang suami marah besar sampai memakan waktu dua jam.


Hei, suaminya itu sedang marah atau ceramah!?


[📞Ast Troy: Terima kasih, nona. Akan saya sharelock sekarang]


"Oke,"


Tuttt.


Quella mematikan telepon itu secara sepihak. Ia masih mencerna ucapan Troy barusan. Bagaimana bisa Vince yang selama ini jarang marah, bisa marah sebesar itu sampai memakan waktu dua jam dan tanpa jeda? Sungguh ia tidak habis pikir, sekaligus penasaran akan penyebab amarah Vince.


Ting...


Suara notifikasi pesan masuk membuyarkan lamunan Quella. Pesan itu berupa sharelock dari Troy. Tanpa membuang waktu lagi, ia pun segera mengemudikan mobilnya keluar dari garasi yang pintunya terbuka otomatis. Mobilnya melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan kawasan perumahan elit itu, menuju ke kantor firma hukum milik Vince—Sang suami.