
"Quella--Itu Gerald udah keluar!" seru Wileen penuh bersemangat. Seperti orang yang baru saja melihat sesuatu yang indah.
Orang yang di panggilnya bersikap biasa saja. Tidak juga beranjak berdiri dan melihat kedatangan para mahasiswa baru yang akan bertanding itu. Ia tidak tertarik. Jika bukan karena Wileen, sudah sejak tadi ia pulang.
"Gila. Ganteng banget! Apalagi bentuk tubuhnya itu, beuh idaman gue banget. Lo lihat, kan?" Wileen kembali berucap, kali ini sempat melirik ke arah Quella yang duduk di sebelahnya.
"Ya, terserah lo aja deh. Selera orang beda-beda," celetuk Quella sambil menatap lurus ke depan.
Kini ia sudah bisa melihat jelas wajah-wajah para mahasiswa yang akan bertanding, termasuk Gerald. Laki-laki itu tampak memesona dengan memakai kaos basket tanpa lengan. Dimana bentuk tubuh dan tangannya terlihat jelas. Bentuk yang proposional. Pantas saja Wileen menyebutnya sebagai idaman.
"Memangnya selera lo yang kaya gimana sih? Gue belum juga tahu sama sekarang," sudah ke sekian kalinya Wileen menanyakan hal ini. Namun entah akan mendapatkan jawaban atau kembali tidak mendapatkannya dari Quella.
Sontak pikiran Quella langsung tertuju pada sosok Vince. Laki-laki itu berwajah tampan, memiliki tubuh atletis, auranya mendominasi dan... Hei, kenapa ia memikirkannya. Quella mengelengkan kepalanya. Tidak. Ia tidak ingin memikirkannya. Meski laki-laki itu berstatus sebagai suaminya, tetapi ia tidak bisa menerima hal itu untuk sekarang. Masih ada beberapa pertanyaan di kepalanya yang belum mendapat jawaban. Dan, hanya laki-laki itu yang sekarang bisa menjawabnya.
"Hello, Quella! Lo denger gue gak sih!?" suara Wileen mengejutkannya.
"Eh tuh pertandingannya udah mau mulai!" seru Quella mengalihkan topik pembahasan.
Benar saja. Wileen langsung melihat ke arah lapangan dan sepertinya pikiran perempuan itu sudah teralihkan. Quella menghela nafas lega. Setidaknya ia tidak perlu menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
"Gerald, semangat!!" teriak Wileen menyemangati laki-laki yang tengah bersiap untuk bertanding.
Mendengar namanya di sebut, Gerald segera melihat ke arah sekitar lapangan. Hingga ia menemukan keberadaan Wileen bersama Quella. Wileen kembali meneriakan namanya sembari melambaikan tangan. Gerald pun tersenyum manis dan membalas lambaian tangan Wileen. Sebelum akhirnya pertandingan di mulai. Gemuruh suara para mahasiswa yang menjadi penonton, kini terdengar kian keras. Masing-masing dari mereka meneriakan nama orang yang di dukung. Benar-benar suasana pertandingan.
***
Pertandingan itu berjalan lancar dan sangat seru. Kedua tim bertanding dengan sengit. Sulit untuk mempredeksi siapa yang akan memenangkan pertandingan. Sampai akhirnya kemenangan di dapatkan Gerald dengan selisih skor 2. Semua mahasiswa ikut bersorak akan kemenangan mereka. Pada dasanya pertandingan itu memang di langsungkan untuk bersenang-senang dan menambah keakraban para mahasiswa baru. Jadi tidak peduli siapa yang menang, semua orang juga ikut merasa senang.
Setelah pertandingan itu berakhir, pada mahasiswa membubarkan diri. Termasuk Quella dan Wileen yang langsung pergi ke kantin kampus. Beruntung kantin kampus belum terlalu ramai, jadi mereka bisa mendapatkan pesanan dengan cepat.
"Seru banget ya pertandingan tadi. Gue sampai gak berhenti teriak tadi," ucap Wileen yang kemudian meneguk habis minuman di gelasnya karena sangat haus.
"Heum. Untung suara lo gak hilang," Quella menyahut di tengah memakan mie goreng yang tadi di pesan.
Belum sempat Wileen membalas ucapan Quella, seseorang datang ke meja mereka. "Boleh duduk di sini, kak?"
"Eh, boleh banget kok. Duduk aja, Ger!" sahut Wileen dengan cepat.
Yeah, orang yang datang ke meja mereka memang benar adalah Gerald. Laki-laki itu masih mengenakan kaos basketnya dan di pundaknya terdapat tas kecil.
"Terima kasih, kak!" ungkap Gerald yang segera duduk 44di kursi kosong.
"Lo pasti haus banget, kan? Mau di pesenin minum?" tawar Wileen bernada ramah. Biasalah. Perempuan itu tengah mencoba pdkt dengan Gerald.
"Kakak gak perlu repot-repot. Aku pesan sendiri aja," Gerald menolak secara halus. Tetapi, ia belum tahu bagaimana sosok Wileen yang tidak menerima penolakan.
Gerald sempat melirik ke arah Quella yang tengah sibuk makan mie. "Yaudah, kak. Apa saja asal dingin. Haus banget,"
"Gak sekalian sama makanan?" tanya Wileen.
"Aku masih kenyang. Jadi minuman saja, kak!"
"Oh, baiklah. Tunggu sebentar. Gue pesenin!" seru Wileen yang kemudian beranjak pergi untuk memesankan minuman Gerald.
Sekarang di meja itu hanya tersisa Quella dan Gerald. Tetapi meski begitu, Quella tampak tidak memedulikan kehadiran laki-laki itu. Ia hanya sibuk dengan mie goreng dan juga ponsel di tangannya.
"Bagaimana keadaanmu, kak?" tanya Gerald memulai pembicaraan.
Sontak Quella menatapnya. "Gue baik. Dan maaf karena tadi malam, gue pulang duluan!"
"No problem. Aku tahu kakak kemarin tidak enak badan. Syukurlah sekarang kakak sudah baik-baik saja," ucap Gerald dengan senyuman manisnya.
Oh tidak. Semakin di perhatikan, wajah Gerald sedikit ada kemiripan dengan Vince. Quella bisa melihat kemiripan itu pada bagian mata dan alis. Apa mungkin mereka ada hubungan? Pikirnya. Namun ia enggan untuk bertanya soal itu.
"Hmmm. Selamat atas kemenangan tim lo. Permainan yang bagus," ucap Quella memuji permainan Gerald bersama timnya tadi. Ia bukan si pengemar basket tapi cukup tahu, mana permainan yang bagus dan tidak.
"Terima kasih, kak. Permainan kami masih belum sempurna. Perlu latihan lagi," elak Gerald--Laki-laki itu memang bukan sosok yang mudah merasa puas.
Quella mengangguk. "Semakin giat berlatih, permainan kalian juga akan semakin bagus. So, semangat!"
"Pasti, kak!" sahut Gerald bersamaan dengan kedatangan Wileen yang membawa segelas minuman dingin di tangannya.
"Nih minuman lo. Semoga rasanya lo suka. Soalnya gue kurang tahu sama minuman yang para laki-laki suka,"
Bohong. Wileen jelas sedang berbohong. Padahal apapun soal laki-laki, ia pasti tahu. Termasuk hal kecil seperti rasa minuman. Quella menggelengkan kepalanya karena sahabatnya itu sok bertingkah layaknya belum mengenal dekat laki-laki mana pun.
"Aku suka semuanya, kak. Terima kasih," sahut Gerald sembari mengambil segelas minuman itu dari Wileen.
"Ya, sama-sama!" balas Wileen tersenyum tipis.
Kemudian Wileen dan Gerald lanjut berbicara banyak hal. Entah itu hal penting atau pun tidak. Pembicaraan yang random. Sedangkan Quella hanya jadi penyimak seperti biasanya. Hingga akhirnya pembicaraan random itu berakhir karena mereka harus pulang.
"Kita pulang duluan, Ger. Dah!" Wileen melambaikan tangannya pada Gerald. Mereka tengah berdiri di dekat tangga menuju lantai bawah.
"Hati-hati, kak!"
Quella dan Wileen bergegas pergi menuju parkiran mobil. Sementara itu, Gerald masih menunggu temannya untuk mengembalikan barang. Wileen yang sudah duduk di kursi kemudi, usai masuk ke dalam mobil dan langsung melajukannya. Namun baru saja keluar dari gerbang kampus, sebuah mobil menghadang mereka.
"Argh! Ini mobil apa-apaan sih!? Kok pake menghadang kita segala," gerutu Wileen yang kesal sebab mobil itu membuatnya harus mengerem mendadak. Untung mobilnya belum dalam kecepatan tinggi. Jika tidak, entah bagaimana nasibnya dan Quella sekarang.