
"Aku percaya. Kakak sepupumu itu juga sudah menjelaskan padaku. Tetapi bisakah, kau tidak memberitahunya kalau sekarang aku ada di sini?" pinta Quella sebab masih badmood dan malas bertemu dengan Vince.
"Em—Maaf, kakak ipar. Aku sudah memberitahunya," cicit Gerald sembari menggaruk tekuknya yang tidak gatal.
Quella menghela nafas mendengarnya. "Huffft—Sudahlah. Tidak apa-apa,"
"Suami lo pasti sangat khawatir sekarang," cetus Wileen di angguki setuju oleh Zelda.
"Iya bener. Meski kita paham kalau lo lagi badmood suka kaya gini tapi yah, apa lo gak kasihan sama suami lo? Dia pasti nyariin karena khawatir terjadi apa-apa sama lo," timpal Zelda memberi pengertian pada Quella.
Semenjengkelkan apapun dirinya, ada saatnya ia menjadi sosok yang bijak seperti sekarang. Jadi jangan pernah melihat orang dari covernya saja. Lihat juga isi di dalamnya karena gak semuanya sama seperti yang terlihat dari luar.
"Hmm gue tau itu. Bentar lagi gue pulang," sahut Quella berdeham pelan.
Zelda, Wileen maupun Gerald senang mendengar hal tersebut. Bersamaan dengan pesanan mereka yang datang.
"Lo emang harus segera pulang. Kan lo udah punya suami. Kalau kita mah, masih bebas mau pulang kapan pun. Bener gak, guys?" Zelda menceletuk dengan raut wajah angkuhnya.
Perempuan itu sudah mulai menikmati minuman dan makanan yang tadi di pesannya, begitupun dengan Wileen dan Gerald.
"Sorry, kak. Gue gak bisa sebebas itu. Soalnya nyokap gue galak. Telat pulang dikit aja, di jamin gue gak bakalan di bukain pintu rumah!" seru Gerald tidak menyetujui ucapan Zelda.
"Lo udah pernah gak di bukain pintu?" tanya Wileen penasaran.
"Bukan pernah lagi tapi udah beberapa kali. Sampai gue harus manjat dan masuk ke kamar lewat pintu balkon," jawaban Gerald memasang raut wajah sedih.
Sontak mengundang tawa Zelda dan Wileen yang langsung pecah, sedangkan Quella sedikit terkekeh.
"Hahaha. Gue ngakak, sumpah! Nyokap lo beneran gak main-main ngancamnya," Zelda tertawa seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Beruntung meja mereka berada di sudut cafe, di tambah suasananya lagi ramai. Sehingga tidak menarik perhatian pengunjung lain.
"Tapi anehnya lo masih aja berani pulang telat. Lo gak capek manjat rumah?" Wileen ikut menimpali di sela tawanya yang mulai mereda.
"Masih di tanya aja kak? Jelas capek lah. Makanya gue sebisa mungkin gak pulang telat. Selain karena capek manjat, gue juga takut uang jajan gue di potong. Gue gak mau itu terjadi!" seru Gerald menggelengkan kepalanya.
"Kalau sampai itu terjadi, lo bisa jadi sugar baby Wileen aja. Lo gak bakal kekurangan uang," cetus Quella asal, mendahului Zelda yang juga ingin mengucapkan hal serupa.
Zelda langsung memetikkan jarinya. "Nah bener banget, baru juga gue mau ngomong itu. Wileen pasti mau kok nerima lo,"
Mata Wileen melotot ke arah kedua sahabatnya itu. "Ngomong apaan dah lo berdua!? Jangan ngada-ngada!"
"Lah, mana ada ngada-gada. Apalagi kalau Quella udah bilang gitu, pastinya udah fakta banget," kilah Zelda menatap Wileen dengan tatapan nan nakal.
Wileen berdecak kesal, bukan—Sebenarnya ia hanya tidak ingin Gerald berpikir hal yang tidak-tidak. Takutnya Gerald berpikiran bahwa ia bukan gadis yang baik.
"Gausah dengerin apa kata mereka, Ger! Mereka lagi ngada-ngada aja," jelasnya pada laki-laki yang terdiam gara-gara mendengar ucapan Quella dan Zelda.
"Tenang, kak. Gue tau mereka lagi bercanda," kekeh Gerald membuat Wileen bernafas lega.
"Huh, baguslah!" .
"Lagian kalau beneran juga gakpapa kali. Iya kan, Ger?" Zelda masih saja memancing kekesalan Wileen. Sungguh ia suka sekali melihat raut wajah Wileen saat sedang kesal, sekaligus panik.
"Pengen banget ya, gue lemparin muka lo pakai sepatu!?" ketus Wileen dengan sisa kesabaran di tengah kekesalannya.
"Ya, asalkan pakai sepatu mahal. Gue gak bakalan nolak," sahut Zelda begitu enteng.
"Sialan!" Wileen mengumpat kasar.
...**********...
Setelah satu jam menghabiskan waktu bersama Zelda, Wileen dan Gerald di Cafe, akhirnya Quella memutuskan untuk pulang begitu pun dengan mereka bertiga. Saat ini mereka sudah berjalan keluar dari Cafe.
"Gue duluan, ya! Nyokap udah telepon nih," pamit Wileen sembari menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan panggilan dari '*My Mother**🖤*' .
"Iya dah. Hati-hati di jalan lo! Gausah pake mampir gak jelas," ucap Zelda memperingatkan, sedangkan Quella hanya menganggukkan kepala sama seperti Gerald.
Wileen menatap malas ke arah sahabatnya yang satu itu. "Di kira gue kayak lo yang pake mampir ga jelas segala,"
"Yeuh. Siapa tau, kan?"
Tanpa membalas lagi, Wileen segera pergi dari sana dengan menaiki mobilnya. Meninggalkan ketiga orang yang masih berdiri di sini.
"Lo gimana, Zel?" tanya Quella pada sahabatnya yang tengah memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.
"Gue bawa mobil sendiri tadi. Balik dari sini, gue mau belanja bahan makanan dulu!" jawab Zelda di balas Quella dengan anggukan singkat.
Kemudian Quella beralih menatap Gerald di sebelah kirinya. "Gimana sama lo?"
"Aman, kakak ipar. Motor gue di sana!" Gerald menunjuk motor Sport miliknya yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Lo sendiri gimana? Di jemput atau bawa mobil sendiri?" tanya balik Zelda.
"Gue juga bawa mobil sendiri. Tuh ada di—"
Cittttt...
Sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka, sebelum Quella menyelesaikan ucapannya. Dimana pintu mobil terbuka setelahnya, lalu turun seorang laki-laki yang masih memakai kemeja kerjanya.
"Ehem. Gue duluan deh! Sampai jumpa nanti ya!" Zelda bergegas pergi tanpa menunggu balasan sang sahabat.
"Gue juga pulang duluan. Nyokap udah nunggu di rumah!" seru Gerald yang segera berjalan menuju motornya dan pergi dari sana.
Mereka berdua benar-benar pergi meninggalkan Quella bersama seseorang yang baru saja berdiri di hadapannya.
"Ayo masuk!" ajak orang tersebut menarik lembut tangan Quella.
"Tunggu! Mobilku bagaimana?" Quella menahan tangan orang tersebut.
"Ada Troy yang akan mengurusnya. Berikan kuncinya!"
Benar. Orang itu tidak lain adalah Vince—Sang suami. Tentu kedatangannya karena di beritahu Gerald. Bahkan ia masih memakai kemeja kerja dan jangan lupakan Troy—Asistennya yang ternyata ikut. Quella benar-benar tidak habis pikir dengan suaminya itu. Datang dalam keadaan seperti itu, juga tanpa melihat situasi. Untungnya di depan cafe sudah sepi, jadi tidak ada yang melihatnya datang. Kalau sampai ada yang melihat, kemungkinan besar ada berita baru lagi besok tentang Vince. Ia belum siap identitasnya terbongkar.
Bukan karena malu atau apa, tetapi identitas sebagai istri orang berpengaruh seperti Vince akan membatas ruang geraknya jika sampai di ketahui banyak orang. Paham, bukan?
"Hmm," Quella berdeham tapi tak ayal langsung memberikan kunci mobilnya.
Dimana setelah itu Vince menyerahkannya pada Troy. Lalu Quella segera masuk ke dalam mobil, di susul Vince yang akan mengemudikan mobil. Troy pun juga segera memasuki mobil yang tadi Quella bawa. Kedua mobil mulai melaju secara beriringan meninggalkan cafe.
Di dalam mobil...
"Kamu sedang marah?" pertanyaan ini Vince tanyakan, usai sempat terjadi keheningan di antara ia dan Quella.
"For what?" Quella justru bertanya balik dengan nada terkesan dingin.