
Mereka mengangkat bahu--Tidak tahu sama sekali alasan Casandra yang tiba-tiba berhalangan hadir di beberapa menit sebelum acara di mulai. Tak heran kalau raut wajah ketua pelaksana dan para penanggung jawab tampak gelisah.
"Sekarang bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?" kini Quella pun ikut gelisah memikirkan masalah itu.
"Acara akan di mulai sebentar lagi. Kita tidak punya cadangan untuk menggantikan Casandra. Astaga. Rasanya aku gagal menjadi ketua pelaksana karena tidak memperkirakan hal ini bisa terjadi sebelumnya," ucap ketua pelaksana dengan raut wajah penyesalan.
"Jangan berkata begitu! Kita semua tidak mengira hal ini terjadi. Lebih baik sekarang pikirkan solusi untuk masalah ini. Waktu kita hanya tersisa sedikit lagi," seorang mahasiswa yang berdiri di dekat ketua pelaksana.
"Yeah benar. Jangan sampai masalah ini membuat jalannya acara terhambat!" timpal yang lainnya.
Lantas mereka segera memikirkan solusi untuk masalah itu. Begitu pula dengan Quella yang ikut berpikir. Hingga tiba-tiba salah satu dari mereka berseru.
"Ah. Aku baru ingat! Bukankah selama ini kau ahli dalam hal moderator?" mahasiswa itu menunjuk ke arah Quella.
Sontak Quella mengerutkan dahinya. Bingung. "Aku?"
"Iya kau. Aku mendengar itu dari beberapa orang,"
"Jika benar, lalu apa hubungannya dengan masalah ini?" tanya Quella tidak mengerti.
"Maksudnya kau bisa menggantikan Casandra dalam membawakan acara," jawab ketua pelaksana lebih dulu. Rupanya ia mengerti arah pembicaraan mahasiswa yang tidak lain teman satu fakultasnya itu.
Mahasiswa tadi mengangguk tanda membenarkan. "Tepat sekali. Bagaimana menurutmu, Quella?"
Orang yang di ajukan pertanyaan barusan terdiam karena terkejut. Seolah tidak percaya bahwa dirinya di usulkan untuk menjadi pembawa acara dadakan.
"Aku? Bagaimana mungkin?"
"Mungkin saja asal kau setuju. Kita tidak punya banyak waktu lagi, Quella. Dengan keahlianmu sebagai moderator, membawakan acara bukan hal yang sulit. Masalah ini bisa terselesaikan dengan persetujuanmu," ucap panitia pelaksana bernada serius.
Para mahasiswa yang lain ikut menimpali. Mereka setuju akan usulan Quella sebagai pengganti untuk membawakan acara. Hanya Quella harapan mereka. Jika mencari yang lain, mungkin waktunya tidak akan cukup.
"Tapi aku tidak berpengalaman dalam membawa acara sebesar ini," keluh Quellah yang secara tidak langsung memberikan penolakan.
"Tidak ada salahnya mencoba! Kau pasti bisa!" seru mahasiswa yang satu tingkatan dengannya, hanya beda fakultas.
"Ya, benar! Kau harus mencobanya dulu. Aku dan yang lainnya percaya padamu," timpal ketua pelaksana begitu yakin.
"Ayolah, Quella! Hanya kau satu-satunya harapan kami sekarang," bujuk mereka semua secara bersamaan.
Melihat betapa besar harapan mereka padanya, Quella menjadi tidak tega menolak. Dengan helaan nafas yang panjang, akhirnya ia membuat keputusan.
"Huffft... Baiklah. Aku akan mencoba yang terbaik,"
"Sekarang kau bersiaplah! Acara sebentar lagi di mulai," titah ketua pelaksana cepat.
Quella mengangguk mengerti. Ia bergegas pergi untuk mempersiapkan diri, di bantu seorang mahasiswa yang tadi juga berdiri bersamanya. Sungguh tidak di duga bahwa hari ini dirinya akan menjadi pembawa acara dadakan. Oke, dirinya memang ahli dalam menjadi moderator tapi sekarang? Ini beda kasusnya. Dimana ia benar-benar tidak berpengalaman dan belum mempunyai persiapan matang. Namun hendak menolak pun rasanya tidak tega di saat harapan ketua pelaksana dan teman-teman satu tugasnya hanya ada padanya.
"Kau pasti bisa, Quella!" gumamnya terus-menerus untuk meyakinkan diri sendiri.
Sebenarnya mencoba hal baru adalah salah satu yang Quella sukai. Tetapi, ia tidak tahu bahwa hal ini di sengaja. Yeah. Casandra berhalangan hadir karena rencana seseorang. Dimana rencana itu berjalan sesuai yang di harapkan. Casandra tidak jadi pembawa acara dan kini akan di gantikan oleh Quella.
"Sudah saatnya acara di mulai. Kau siap, Quellah?" tanya ketua pelaksana menghampiri perempuan yang tengah duduk di sebuah kursi.
"Oke. Aku siap," jawab Quella yakin.
"Bagus. Sekarang naiklah ke panggung! Kau pasti bisa melakukannya dengan baik," ucap ketua pelaksana tersenyum tipis. Tidak ada keraguan di raut wajahnya, ia percaya akan diri dan kemampuan Quella.
Quella menganggukkan kepala. Kemudian menghembuskan nafasnya, sesaat sebelum berjalan naik panggung. Dari sana Quella bisa melihat semua orang yang berhadir di Aula. Entah itu para mahasiswa yang datang untuk menonton atau memberikan dukungan pada mahasiswa yang ikut kompetisi itu. Maupun para dewan juri yang bertugas untuk memberikan penilaian pada setiap mahasiswa yang menjadi peserta.
"Selamat malam semuanya!" sapa Quella terlebih dulu dengan senyuman manis mengembang sempurna di bibirnya.
"Malam!" sahut para mahasiswa bersamaan membuat aula terdengar riuh dan ramai.
"Sebelumnya perkenalkan nama saya--Quella Xaviera. Mahasiswa tingkat semestar 3 dari Fakultas Bussiness. Malam ini bisa berdiri di sini adalah sebuah kehormatan bagi saya," ucap Quella menyampaikan beberapa kalimat pembuka yang di rasanya cukup penting.
Yeah!
Para mahasiswa bersorak untuknya, juga bertepuk tangan. Ada sebagian dari mereka yang bersiul. Pastinya hal itu di lakukan para mahasiswa laki-laki. Mereka memang tidak bisa melihat perempuan berwajah cantik, seperti Quella saat ini. Dasar buaya!
"Baiklah. Tanpa menunda waktu lagi, mari kita mulai acara malam ini!" seru Quella yang kembali di sambut antusias oleh semua orang.
Acara pun dimulai dengan memperkenalkan para juri yang bertugas. Dimana mereka adalah orang penting dan berpengalaman dalam bidangnya masing-masing. Setelah memperkenalkan para juri, giliran para peserta untuk di perkenalkan. Inilah salah satu inti acara malam ini. Para peserta akan memperkenalkan diri, sekaligus mulai saling menunjukkan kemampuan masing-masing. Acara malam ini berjalan dengan begitu sengit dan aroma pertarungan sangat terasa. Para peserta saling bersaing untuk menjadi yang terbaik. Begitu pula dengan Yocelyn yang menunjukkan semua kemampuannya. Dari raut wajahnya, ia tampak begitu percaya diri akan hasil akhir acara nanti.
Hingga tanpa terasa mereka tiba di penghujung acara. Quella kembali berdiri di panggung, bersama para peserta yang telah selesai menunjukkan kemampuan mereka.
"Tidak terasa kita sudah di penghujung acara. Dimana sebentar lagi kita akan mengetahui siapa pemenang dari acara tahunan malam ini yang akan menjadi ikon kampus selama setahun ke depan. Kalian tentu tidak sabar, bukan?" ucap Quella kepada para mahasiswa yang masih begitu antusias.
"Ya sangat tidak sabar!" sahut mereka.
"Kalau begitu, saya akan segera mengumumkan pemenangnya. Siapapun yang keluar sebagai pemenang tidak lain karena keputusan juri. Dan ini tidak bisa di ganggu gugat oleh siapapun. Saya harap kalian mengerti ini!" seru Quella sebelum membuka amplop yang ada di tangannya.
"Mengerti! Cepat umumkan pemenangnya!" seru beberapa dari mahasiswa yang sangat tidak sabaran.
Quella pun tidak membuang waktu lagi. Dirinya segera mengumumkan siapa pemenangnya. Awalnya Yocelyn masih tampak percaya diri, tetapi raut wajahnya menggelap. Saat bukan namanya yang keluar sebagai pemenang. Melainkan perempuan lain yang satu tingkatan dengannya, hanya berbeda fakultas.