THE LAWYER'S SECRET WIFE

THE LAWYER'S SECRET WIFE
Eps 15. Tidak Sadarkan Diri



Quella berbalik badan untuk melihat orang yang telah memanggil nama belakangnya. Orang itu seorang laki-laki bertubuh tegap, sedikit lebih tinggi darinya dan tampak gagah dengan setelan kemeja hitam di lapisi rompi berwarna serupa tanpa jas. Namun Quella tidak dapat melihat jelas wajahnya karena penerangan di sana masih meredup.


"Anda siapa?" tanyanya langsung.


Sudut bibir laki-laki itu terangkat. "Saya akan beritahu nanti. Sebelumnya apa nona mau berdansa dengan saya?


Laki-laki itu mengulurkan tangan kanannya ke arah Quella. Sejenak Quella berpikir soal laki-laki itu yang memanggil nama belakangnya. Nama yang hanya di pakai oleh orang terdekatnya untuk memanggilnya. Dan--Jika ingin tahu siapa orang itu, ia harus mau menerima ajakan laki-laki itu. So, pada akhirnya Quella menyambut uluran tangannya.


"Terima kasih, nona!" seru laki-laki itu yang langsung membawa Quella ke tengah taman. Lebih tepatnya mereka akan berdansa di tengah-tengah pasangan lain.


Semua pasangan sudah siap berdansa, musik pun segera di nyalakan. Perlahan mereka semua memulai dansa. Gerald sebagai tuan rumah juga tidak ketinggalan. Laki-laki itu berdansa dengan perempuan yang cukup berhubungan dekat dengannya. Ini karena ucapannya sendiri tadi yang mewajibkan semua orang untuk berdansa. Sehingga Quella pun terpaksa ikut berdansa seperti sekarang.


"Jadi bisakah Anda memberikan jawabannya sekarang?" Quella meminta kembali jawaban atas pertanyaannya tadi.


Orang itu belum menjawab. Hembusan nafasnya yang hangat dapat di rasakan Quella karena jarak mereka begitu dekat, bahkan terlihat cukup intim. Orang itu sepertinya sengaja merangkul pinggang Quella dengan erat sampai tubuh mereka hampir tidak berjarak. Posisi itu sebenarnya tidak Quella sukai. Tetapi, tenaga orang itu begitu kuat. Ia tidak bisa membuat jarak di antara mereka.


"Bagaimana jika saya mengatakan bahwa saya bagian dari hidup nona? Apa nona percaya?" laki-laki itu balik bertanya.


Quella tersentak. "Bagaimana itu mungkin? Saya tidak mengenal Anda,"


"Mungkin saja nona mengenal saya tapi tanpa sengaja lupa," sahut laki-laki itu yang berhasil membuat Quella bingung.


Ada apa dengan beberapa hari ini? Mengapa ia terus mendengar kata tanpa sengaja lupa? Quella bingung, juga tidak mengerti. Seolah kata-kata itu menjadi sebuah teka-teki yang ia sendiri tidak tahu apa jawabannya.


Laki-laki itu mengerti apa yang di pikirkan Quella sekarang. "Xaviera... Aku merindukanmu,"


Deg...


Seketika Quella berhenti berdansa. Detak jantungnya menjadi tidak karuan. Bagaimana cara orang itu menyebut namanya dan mengucapkan kalimat rindu, sontak membuat terngiang-ngiang di kepala. Quella seperti familiar dengan itu tapi ia tidak mengenal, bahkan mengingatnya. Namun tiba-tiba kepalanya terasa sakit--Sakit yang sama persis di rasakannya saat di bioskop dua hari lalu. Dan kepingan ingatan tidak jelas kembali muncul memenuhi kepalanya. Quella berusaha menahan rasa sakit itu sembari mencoba menyatukan setiap kepingan ingatan dan melihatnya dengan jelas.


`Xaviera... Aku merindukanmu!`


`Selamanya aku hanya mencintaimu, Xaviera!`


`Please stay with me, sayang!`


`Aku pasti akan bersamamu ke mana pun,`


`Jangan lupakan aku, oke!?`


`Xaviera...`


`Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu? Sedangkan aku tidak bisa jauh darimu hmmm,`


`Aku mencintaimu, Xaviera. Hanya kamu,`


"Xaviera. Ada apa!?" tanya laki-laki itu merasa khawatir dan memegangi kedua lengan Quella.


Quella tidak menjawab. Ia hanya terus merintih kesakitan sembari memegang kepalanya. Sebagian kepingan ingatan yang tidak jelas itu mulai membentuk menjadi kepingan sempurna. Tetapi, Quella yang tidak sanggup lagi menahan rasa sakit di kepalanya langsung tidak sadarkan diri. Beruntung laki-laki tadi masih memegangnya, sehingga ia tidak sampai terjatuh.


"Xaviera!" serunya dengan sangat khawatir. Muncul perasaan menyesal di hatinya. Quella tidak sadarkan diri pasti karena ulahnya tadi. Seharusnya ia tadi tidak tergesa-gesa dalam bertindak agar hal ini tidak terjadi.


Tanpa pikir panjang lagi, laki-laki itu langsung saja menggendong Quella dan membawanya pergi dari taman. Semua orang tidak melihat akan hal itu, termasuk Gerald, Zelda dan juga Wileen yang tengah sibuk berdansa. Laki-laki itu pun merasa terlalu khawatir terhadap Quella, sampai tidak berpikir lagi untuk memberittahukan pada mereka bertiga. Pikirnya sekarang adalah membawa Quellke ke kamar dan memanggilkan dokter untuk memeriksanya.


"Maafkan aku, Xaviera! Aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini. Sungguh aku menyesal. Tolong bangunlah!" seru laki-laki usai membaringkan Quella di ranjang yang berada di kamar tamu.


Bisa di lihat dari raut wajahnya bahwa laki-laki itu sangat khawatir, sekaligus menyesal atas keadaan Quella. Berulang kali ia mencium tangan perempuan yang tengah tidak sadarkan diri itu. Ia tidak berhenti melakukannya sampai dokter yang di panggilnya datang.


"Tolong periksa dia! Jangan sampai terjadi apapun padanya!" titahnya langsung pada Dokter itu.


"Baik. Mohon tenang dulu tuan!"


Dokter tersebut segera melakukan tugasnya untuk memeriksa keadaan Quella. Laki-laki tadi masih pada posisinya. Duduk di sebelah Quella sembari memegang tangannya. Ia seperti tidak ingin meninggalkan perempuan itu.


"Bagaimana keadaannya?" tanya laki-laki itu dengan tidak sabar.


"Sebelumnya apa nona ini pernah mengalami kecelakaan yang membuat sebagian ingatannya hilang?" Dokter tersebut balik bertanya.


Laki-laki itu mengangguk. "Dia kecelakaan sekitar 1 setengah tahun lalu. Dokter mengatakan bahwa sebagian ingatannya hilang. Tetapi, tidak di ketahui apakah hilang ingatannya hanya bersifat sementara atau permanen,"


"Pantas saja. Nona ini sepertinya terlalu memaksakan diri untuk mengingat sebagian ingatannya yang hilang. Hal itulah yang menyebabkan nona ini tidak sadarkan diri," terang Dokter tersebut sesuai hasil pemeriksaannya.


"Apa keadaannya tidak baik, Dok?" laki-laki itu semakin merasa khawatir.


"Keadaannya baik. Tetapi, bisa menjadi tidak baik kalau nona ini kembali memaksakan dirinya untuk mengingat. Akibatnya akan sangat fatal,"


"Jadi dia tidak akan bisa mengingat kembali," simpul laki-laki itu--Bibirnya bergetar. Dengan kemungkinan besar yang bisa saja menghancurkan harapannya selama ini.


Dokter tersebut menggelengkan kepalanya. "Bisa tapi pastikan dia mengingatnya secara perlahan dan bertahap. Saya juga tidak dapat memastikan apakah ingatan nona ini akan kembali pulih sepenuhnya. Namun siapa yang tahu akhirnya bagaimana? Setidaknya dia sudah berusaha. Tuan pun harus ikut membantunya,"


Ucapan Dokter tersebut seolah membuat harapan laki-laki itu semakin besar. Quella pasti bisa mengingat kembali keberadaannya. Ia tidak ingin di lupakan selamanya.


"Saya akan melakukan sesuai ucapan Dokter. Terima kasih," sahut laki-laki itu yang dapat sedikit bernafas lega sekarang.


"Sama-sama, tuan. Ini obat yang sudah saya resepkan untuk membantu mengurangi rasa sakit di kepala nona ini," Dokter tersebut menyerahkan bungkusan obat pada laki-laki itu dan langsung di terima.


Kemudian Dokter tersebut pamit pergi. Tinggallah laki-laki itu yang masih senantiasa memegang tangan Quella. Sorot matanya menunjukkan berbagai macam perasaan. Kerinduan, kesedihan, kekhawatiran dan penyesalan tampak terlihat di sana. Layaknya seorang laki-laki pada kekasih tercinta.


"Kak Vince!" panggil seseorang dari arah pintu kamar.