
"Huuu biarin. Serah gue lah," gerundel Zelda menjulurkan lidahnya. Wileen memicingkan kedua bola matanya.
Quella menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Tidak memandang situasi. "Mereka sahabat gue. Dia udah nyebut nama sendiri. Nah yang ini, namanya Wileen. Mahasiswa fakultas kedokteran,"
Quella memperkenalkan Wileen yang sedari tadi curi-curi pandang pada Gerald. Laki-laki itu sebenarnya sadar tapi seolah tidak tahu.
"Hai, kak Zelda, kak Wileen! Salam kenal," sapa Gerald dengan begitu ramah. Senyuman yang mengembang di bibirnya menambah pesona tampan di dirinya.
"Hai, Gerald! Senang berkenalan sama lo," balas Zelda lebih dulu. Perempuan itu bahkan menunjukkan sikap sok manis dan itu terkesan memuakkan bagi Quella dan Wileen.
Beda lagi dengan Wileen yang segera berdiri tegak tapi anggun. "Hai, Gerald! Panggil aja gue, Wil. Senang bisa berkenalan sama lo,"
"Aku juga senang. Semoga ke depannya kita bisa berteman dengan baik," ucap Gerald--Tanpa sadar laki-laki itu sedang menebar pesona. Dimana pesona itu tidak mampu di abaikan oleh Zelda, apalagi Wileen.
"Pasti! Kita pasti akan berteman dengan baik," sahut Zelda dan Wileen secara bersamaan.
"Ku harap begitu," Gerald tersenyum menatap kedua perempuan itu.
"Btw, lo lagi ngapain di sini?" tanya Quella mengalihkan tatapan Gerald.
"Beli ini," jawab Gerald sambil menunjukkan paperbag di tangannya.
"Sendiri?" bukan Quella yang bertanya, tetapi Zelda. Perempuan itu seakan tidak bisa menutup mulutnya untuk diam lebih lama.
"Tadi sih sama temen. Sekarang sendiri karena dia pulang duluan," Gerald menjawab apa adanya. Benar, tadi ia datang ke Mall itu bersama seorang teman dekatnya. Hanya saja temannya itu ada urusan dan harus pulang duluan.
"Nah tepat banget," cetus Wileen tiba-tiba. Sontak membuat Quella menatap penuh tanda tanya ke arahnya. Begitu pula dengan Gerald. Sedangkan Zelda, tampaknya satu frekuensi dengannya.
"Maksud gue, tepat banget dia ketemu kita. Kan dia bisa ikut kita. Daripada jalan sendirian di Mall sebesar ini," sambungnya menjelasnya.
"Gue juga berpikir hal sama. Gimana kalau lo ikut kita aja?" timpal Zelda, menanyakan hal itu pada Gerald.
Quella memutar malas kedua bola matanya. Ia tahu benar isi pikiran dari Zelda dan Wileen. Pasti mereka ingin berlama-lama melihat wajah tampan Gerald. Yah, kebiasaan mereka untuk cuci mata.
"Boleh juga. Tetapi, apa kak Quella tidak keberatan?" Gerald melirik Quella yang sedari tadi belum memberikan persetujuan.
"Aduh, Quella pasti tidak keberatan. Makin banyak orang, makin seru. Benarkan, Quella?" tukas Wileen sembari merangkul pundak Quella--Ia terdiam sejenak. Sebelum membuka suaranya.
"Gue gak keberatan,"
"Nah denger sendiri, kan? Quella tidak keberatan. Lo bisa ikut kita biar seru," ucap Zelda tersenyum lebar.
"Oke deh," balas Gerald singkat.
Setelahnya Gerald berjalan beriringan dengan Quella, Zelda dan Wileen menuju ke restoran Japanse. Zelda dan Wileen lebih banyak bicara pada Gerald, di bandingkan Quella. Mereka berdua menanyakan banyak hal pada laki-laki itu. Sementara itu, Quella hanya menyimak saja. Hingga akhirnya mereka tiba di restoran yang di tuju dan memilih meja di pojok restoran. Mereka juga segera memesan makanan yang terdapat di menu restoran tersebut.
"Quella," panggil Wileen setengah berbisik kepada sahabatnya itu. Sehingga Zelda dan Gerald yang sedang sibuk memilih menu makanan, tidak dapat mendengarnya.
Quella tidak menoleh karena sibuk bermain ponsel. "Heum?"
"Kenapa lo gak bilang kalau kenal sama mahasiswa baru seganteng dia? Lo mau nikmatin sendiri ya?" Wileen bertanya dengan nada tetap sama--Setengah berbisik.
"Memangnya penting?" tanya Quella balik.
"Pentinglah. Lo tau gak? Dia yang gak sengaja ketemu sama gue di depan toilet tadi," jawab Wileen sambil sedikit mendekatkan dirinya ke Quella. Tetapi, tidak berinteraksi secara langsung.
"Terus?" Quella bertanya, pura-pura tidak mengerti arah pembicaraan Wileen.
"Gue cuma ada satu bukan tega," celetuk Quella yang langsung membuat Wileen gemas.
"Itu tiga, Quellaaa!" seru Wileen meninggikan suaranya, sontak hal itu membuat Zelda dan Gerald memandang ke arahnya.
"Ada apa sih, Wil?" tanya Zelda penasaran.
Wileen gelagapan. Beda dengan Quella yang tampak santai saja. "Ini... Gue lagi bilang kalau Quella salah ngetik nomor. Seharusnya tiga, bukan tujuh. Ya--Benar itu,"
Bohong. Wileen sedang berbohong. Quella pun tidak berkomentar apa pun. Jadi Zelda percaya dan tidak lanjut bertanya.
"Ooo," Zelda ber-Oh ria, tepat bersamaan dengan kepergian pelayan yang baru saja mencatat pesanan mereka.
`Fiuhhh syukurlah,` batin Wileen
"Oh ya, kak Quella. Aku tadi lupa memberikan sesuatu pada kakak," ucap Gerald membuka suaranya. Sontak membuat Quella berhenti bermain ponsel dan beralih menatapnya.
"Apa?" tanyanya singkat.
"Bisa minta nomor ponsel kakak dulu?" tanya Gerald balik meminta.
"Buat apa?" Quella malah bertanya balik. Menurutnya aneh saat seorang laki-laki meminta nomor ponselnya secara mendadak. Padahal baru kenal beberapa jam lalu.
"Kasih aja dulu," ucap Gerald, tidak mau memberitahu maksudnya.
"Udahlah, Quella. Jangan banyak tanya! Berikan saja!" seru Zelda sedikit mendesak.
"Mana ponselmu!?" Quella mengulurkan tangannya ke arah Gerald.
Laki-laki itu mengerti dan segera memberikan ponselnya. Quella menyimpan nomor ponselnya di sana. Lalu memberikan kembali ponsel milik Gerald. Laki-laki itu langsung mengotak-atik ponselnya. Tidak berapa lama, terdengar beberapa notifikasi pesan dari ponsel Quella. Ia membuka pesan itu dan di sana terdapat pesan bertuliskan nama Gerald. Tidak hanya pesan teks, ada juga pesan berupa foto yang langsung terbuka. Foto itu berupa undangan ulang tahun Gerald yang akan berlangsung lusa nanti.
"Jadi ini yang ingin lo berikan?" tanya Quella sembari menunjukkan layar ponselnya yang tampilannya berupa foto undangan Gerald.
Zelda dan Wileen langsung melihat undangan itu.
"Iya itu. Aku undang kakak untuk datang ke acara ulang tahunku lusa nanti," jawab Gerald tersenyum tipis.
"Oke. Nanti gue datang. Terima kasih undangannya," ucap Quella tanpa pikir panjang. Laki-laki itu sudah mengundangnya secara langsung, bukankah tidak baik untuk menolak?
"Yah, kakak memang harus datang. Aku menunggu," timpal Gerald sembari bersandar di kursi.
`Tapi ada yang lebih tidak sabar menunggu kedatanganmu,` batin Gerald
"Gue dan Wil gak di undang?" tanya Zelda memasang raut wajah cemberut.
"Kalian bisa datang bersama kak Quella," jawab Gerald mengubah kembali raut wajah Zelda.
"Ah baguslah. Kita pasti datang kok," sahut Zelda bersemangat sekali.
"Apa acara lo ini ngundang semua mahasiswa?" Wileen juga bersemangat seperti Zelda tapi hal itu tidak terlalu di perlihatkannya. Maklum, harus jaga image sebagai perempuan yang anggun dan elegan.
"Hanya beberapa saja karena aku belum mengenal banyak mahasiswa di kampus," Gerald menjawab tepat sesaat seorang pelayan datang mengantarkan makanan mereka.
"Oh begitu," sungut Wileen dan Zelda bersamaan.
Pembicaraan mereka berakhir setelahnya. Mereka mulai makan atas ajakan Zelda yang sudah tidak bisa menahan lapar. Apalagi sebentar lagi film di bioskop akan di mulai. Jadi tidak boleh terlewatkan waktunya.