
"Lakukan yang terbaik, Dok! Saya ingin Quella sembuh tanpa ada efek apapun," bukan Zelda yang berucap, tetapi orang lain.
Spontan Zelda langsung menoleh ke belakang dan menemukan sahabatnya—Wileen yang tengah memegang gagang pintu ruangan itu. Tampak Wileen sedang mengatur nafasnya yang terengah-engah, usai berlari dari parkiran rumah sakit.
"Wileen!" seru Zelda yang sedikit merasa lega melihat kedatangan sahabatnya itu.
Orang yang di sebutkan namanya hanya mengangguk sembari berjalan mendekati Zelda dan Dokter tersebut. Hingga ia berdiri tepat di dekat mereka.
"Saya akan berusaha sekeras mungkin untuk keberhasilan ini tapi sisanya kembali lagi pada takdir. Kita tidak pernah tahu nasib seseorang," ucap Dokter itu yang memang benar adanya.
"Ya, kami tahu itu," sahut Wileen tidak menyangkal.
"Lalu kapan operasinya bisa di lakukan?" timpal Zelda.
"Sekarang juga bisa, nona!"
"Baiklah, Dok. Kalau begitu lakukan operasinya sekarang saja! Lebih cepat, lebih baik bukan? Kami ingin keadaan Quella segera membaik dan sembuh," ucap Wileen dengan cepat.
Zelda tampak mengangguk setuju akan hal itu. "Soal biaya tidak perlu di khawatirkan. Dokter hanya perlu lakukan yang terbaik untuk sahabat kami,"
"Pasti, nona!"
Kemudian pembicaraan mereka berakhir dengan penandatanganan surat persetujuan tindakan operasi yang akan di lakukan pada Quella. Zelda dan Wileen bergegas pergi ke depan ruang UGD. Di sana masih terdapat ketua pelaksana, beserta dua mahasiswa lainnya.
"Apa sekarang kalian bisa menjelaskan lebih detail kejadian yang menimpa Quella?" tanya Zelda yang tidak bisa menahan diri lagi untuk bertanya.
"Awalnya acara tahunan malam ini berjalan dengan lancar. Bahkan sudah mencapai puncak, dimana pemenang sudah di umumkan. Tetapi pada saat penyerahan hadiah, tiba-tiba lampu bagian atas panggung terjatuh tepat di atas kepala Quella. Kami semua berteriak untuk memperingatkannya. Quella sempat melihat ke atas tapi tidak dengan menghindar. Begitu pula dengan kami yang tidak ada satu pun sempat menarik atau mendorongnya dari sana. Akhirnya lampu itu jatuh mengenai kepalanya," jawab ketua pelaksana menceritakan kejadian yang menimpa Quella dengan raut wajah penyesalan.
Sesaat Zelda dan Wileen memejamkan mata mendengarkan itu. Mereka berdua merasa terkejut, sekaligus sedih atas apa yang menimpa Quella. Apalagi kenyataan Quella harus di operasi membuat mereka semakin tertekan akan kesedihan.
"Kejadian ini tidak mungkin terjadi jika kalian teliti. Bagaimana bisa kalian seceroboh ini?" cetus Wileen dengan menohok, meski raut wajahnya begitu tenang.
"Benar. Seharusnya kalian memeriksa dan memastikan semua hal dengan teliti terlebih dahulu. Sekarang kalau sudah begini, siapa yang bisa di salahkan heh!?" timpal Zelda yang tidak dapat menahan emosinya.
"Maaf. Kami juga tidak menduga hal ini bisa terjadi," tutur ketua pelaksana semakin merasa bersalah.
Zelda mendelik tidak senang. "Dalam hidup semua hal bisa terjadi tanpa di duga. Tetapi, setidaknya berusaha di cegah. Sekarang lihat bagaimana hasil dari kecerobohan kalian? Quella harus di operasi untuk menghentikan pendarahan hebat di dalam kepalanya,"
Pernyataan gadis itu mengejutkan ketua pelaksana dan kedua mahasiswa lainnya. Mereka bertiga tidak menyangka keadaan Quella separah itu.
"Operasi?" ulang ketua pelaksana memastikan.
"Ya, operasi. Dokter mengatakan tindakan operasi perlu di lakukan untuk menghindari hal lebih buruk pada diri Quella," sahut Wileen membenarkan ucapan Zelda sebelumnya.
Ketua pelaksana terkesiap. Laki-laki itu bingung harus berkata apa sekarang. Mulutnya seolah terkunci rapat. Namun mengingat kejadian yang terjadi pada Quella, jelas memang akibat kecerobohannya dan para mahasiswa yang ikut menjadi bagian dari penanggung jawab.
"Kalian—" Zelda mengurungkan niatnya untuk berucap saat Wileen menyentuh lengannya. Sahabatnya itu pasti tidak ingin melihatnya memaki-maki ketiga orang itu.
"Kami tidak sepenuhnya menyalahkan kalian atas kejadian ini. Tetapi, kejadian ini menjadi tanggung jawab kalian untuk menyelidikinya. Jangan sampai kejadian ini di biarkan begitu saja! Jika itu terjadi—Aku akan menjadi orang pertama yang akan menuntut kalian semua. Dengan laporan gara-gara kecerobohan kalian, Quella menjadi terluka parah dan membahayakan nyawanya. Ingat saja ucapanku ini!" ucapan Wileen jelas sedang memperingatkan ketua pelaksana dan kedua mahasiswa tadi. Meski nadanya tidak terdengar ada emosi.
"Bagaimana pun Quella adalah bagian dari tim kami. Sudah menjadi tanggung jawab saya dan semua tim untuk menyelidiki kejadian ini sampai menemukan apa penyebabnya," ketua pelaksana berucap dengan yakin, di tengah perasaan bersalah dan menyesalnya.
"Kalian memang harus melakukan itu. Jika tidak—Bersiaplah untuk menerima tuntutan dari kami berdua!" timpal Zelda menegaskan kembali peringatan yang tadi Wileen ucapkan.
Walaupun terkadang Zelda dan Wileen suka bertengkar, mereka berdua tetaplah sahabat. Dimana mereka akan kompak dalam beberapa hal. Jadi jangan heran kalau mereka berdua satu frekuensi, apalagi kalau menyangkut soal Quella seperti ini. Zelda dan Wileen pasti akan maju paling depan untuk bertindak. Oleh sebab itu tidak salah kalau Quella menyebut mereka berdua sebagai keluarganya.
"Saya mengerti!" sahut ketua pelaksan menganggukkan kepala.
Setelahnya pembicaraan mereka berakhir saat pintu UGD kembali terbuka. Kali ini pintu UGD terbuka lebar. Tidak berselang lama, beberapa perawat berjalan mendorong brankar yang terdapat Quella di atasnya. Gadis itu tampak berbaring tidak sadarkan diri dengan pakaian yang sudah berganti. Yeah. Kini gadis itu telah memakai pakaian biru—Pakaian khas pasien. Ada infus terpasang di tangannya dan perban yang membalut luka di kepalanya.
"Quella!" seru Zelda menatap sendu sahabatnya itu.
Wileen memegang lengan Zelda. "Dia akan baik-baik saja. Percayalah!"
Zelda hanya mengangguk pelan. Meski ia percaya Quella akan baik-baik saja, tidak di ungkiri terbesit sedikit perasaan takut di hatinya Begitu pula dengan perasaan Wileen sekarang. Gadis itu mungkin tampak tenang dari luar tapi sebenarnya juga merasakan hal sama seperti Zelda. Namun sekeras mungkin ia menyingkirkan perasaan takut itu.
"Tolong segera selesaikan proses administrasinya, nona! Sebentar lagi kami akan melakukan operasi pada nona Quella," ucap seorang perawat menghampiri Wileen dan Zelda.
"Baik. Saya akan segera menyelesaikannya," balas Wileen mengerti.
"Terima kasih, nona!"
Perawat itu langsung berjalan pergi menyusul para perawat lain yang sedang mendorong brankar Quella menuju ruang operasi.
"Gue selesaikan administrasinya dulu. Lo duluan aja ke sana!" Wileen berseru pada Zelda.
"Oke. Baiklah," Zelda berjalan pergi meninggalkan Wileen bersama ketiga orang tadi.
Wileen menatap ketua pelaksana dan kedua mahasiswa yang masih berada di sana. "Kalian bisa pergi sekarang!"
"Tapi bagaimana dengan Quella?" tanya ketua pelaksana—Nada bicaranya terdengar sedikit keberatan.
"Ada gue dan Zelda. Kalian tidak perlu khawatir. Lebih baik kalian pergi untuk menyelidiki kejadian ini. Hal itu lebih membantu kami," jawab Wileen.
"Baiklah. Kalau begitu kami pergi dulu. Besok saya atau mahasiswa lain akan kembali ke sini," ucap ketua pelaksana yang setelahnya di balas anggukan kepala Wileen.
Ketua pelaksana dan kedua mahasiswa lain pergi. Tidak lupa pula salah satu dari mahasiswa itu memberikan tas milik Quella yang sedari tadi di bawanya kepada Wileen. Bersamaan dengan ketiga orang itu, Wileen juga pergi menuju bagian administrasi dan menyelesaikan administrasi Quella yang akan menjalani operasi.