
Jika bukan karena permasalahan dan permintaan dari tuan Sammy, Vince tidak akan pergi meninggalkan Quella. Istrinya itu juga tidak akan benar-benar melupakannya dan hidup seorang diri. Ia amat menyesali keputusannya pada saat itu. Tetapi semua sudah terjadi. Tidak ada gunanya menyesali, selain mencoba memperbaiki. Kehidupan masih berjalan dan ia punya kesempatan untuk melakukannya. Harus.
"Aku berharap kamu mau memaafkanku, Xaviera. Sungguh aku menyesal," gumam Vince sembari menatap intens langit yang tampak begitu indah. Meski tidak seindah perasaan laki-laki itu.
***
Malam telah berlalu, kini berganti pagi yang cerah. Quella mulai membuka matanya perlahan. Sesekali ia mengedipkan matanya untuk menetralkan cahaya yang masuk, seraya memegangi kepalanya yang terasa sedikit berdenyut. Perlu beberapa menit untuk membuat kesadarannya benar-benar terkumpul. Barulah setelahnya Quella mengingat yang terjadi tadi malam.
"Aku harus bertanya pada Billy. Ya--Dia pasti tahu soal ini," gumam Quella di sela mendudukkan diri dan bersandar di dinding kamar.
Quella segera mengambil ponselnya yang berada di atas nakas samping ranjang. Jari-jarinya bergerak lincah di layar benda pipih. Sebelum akhirnya berhenti saat menemukan apa yang ia cari--Nomor ponsel Billy. Ia langsung menekan tombol memanggil. Sedetik, dua detik sampai 30 detik, laki-laki itu baru mengangkat panggilannya.
[Billy📞: Halo. Selamat pagi, nona!]
"Heum, selamat pagi. Apa aku mengganggumu?" tanya Quella usai Billy menyapanya.
[Billy📞: Tidak, nona. Apa nona perlu sesuatu?]
"Yeah. Aku perlu menanyakan sesuatu padamu,"
[Billy📞: Soal apa, nona?]
"Apa kau ingat soal kecelakaanku 1 setengah tahun lalu?" Quella bertanya dengan serius.
[Billy📞: Tentu saya ingat. Memangnya kenapa, nona?]
"Jadi apa kau tahu soal aku yang mengalami hilang ingatan?"
1 detik... hingga beberapa detik berlalu tapi laki-laki itu belum memberikan jawaban. Hal itu membuat Quella semakin tidak sabaran untuk tahu kebenaran dari ucapan Vince tadi malam.
"Bil, Apa kau masih di sana!??" sambungnya.
[Billy📞: Ya--Nona, saya masih di sini!]
"Jawab pertanyaanku tadi dengan jujur. Apa kau tahu soal aku yang mengalami hilang ingatan!?" sekali lagi Quella bertanya tapi kali ini nada bicaranya sedikit meninggi.
[Billy📞: I--Iya, nona. Saya tahu,]
Dari nada bicaranya, terdengar jelas bahwa laki-laki itu ragu untuk menjawab. Seperti ada yang di sembunyikan, pikir Quella.
"Lalu kenapa kau tidak memberitahu?" tukas Quella dengan nada mengintimidasi. Ia perlu tahu semuanya sekarang.
[Billy📞: Ini... Saya tidak di perbolehkan memberitahukan nona]
Tampak dahi Quella mengernyit. "Siapa yang melarangmu?"
[Billy📞: Tu--Tuan Sam, nona!]
Quella terkejut mendengar itu.
"Paman Sam?" ulangnya.
[Billy📞: Iya, nona. Tuan Sam meminta saya untuk merahasiakan masalah ini dari nona. Saya minta maaf!]
Quella terdiam sesaat. Jujur saja, ia sangat terkejut mengetahui hal ini. Ternyata pamannya sendiri yang merahasiakan keadaannya. Dan apa tujuan dari pamannya melakukan itu? Quella pun tidak tahu.
"Apa kau tau maksud pamanku melakukan ini, Bil?" Quella pikir Billy mungkin tahu hal itu.
[Billy📞: Tidak, nona. Saya hanya di minta merahasiakan saja]
"Hmmm baiklah. Satu pertanyaan lagi. Apa benar statusku sudah menikah?"
Hening. Billy belum memberikan jawaban apa pun. Sontak hal itu membuat Quella semakin tidak sabar.
"Jawablah Billy! Aku perlu tahu soal ini," desaknya.
[Billy📞: Be--Benar, nona. Anda sudah menikah 2 tahun lalu]
Kini giliran Quella yang terdiam. Bagaimana bisa hal sebesar ini tidak di ketahuinya. Bahkan sampai selama ini. Sekarang ia benar-benar terkejut, sekaligus bingung harus berbuat apa. Dalam semalam kebenaran yang sama sekali tidak ia ketahui terkuak. Itu pun dari laki-laki yang mengaku sebagai suaminya.
"Siapa suamiku?" tanyanya pelan.
[Billy📞: Tuan Vince Marson. Seorang pengacara terkenal]
"Apa ada fotonya? Maksudku foto pernikahanku dengannya,"
[Billy📞: Tunggu sebentar, nona. Saya akan carikan dulu!]
Quella tidak mematikan panggilannya. Dengan tenang menunggu Billy mencarikan foto yang di inginkannya. Meski tidak di pungkiri, hatinya terasa berdebar. Yeah, ia belum siap sepenuhnya untuk melihat itu. Namun ia harus tahu salah kebenaran yang selama ini di rahasiakan.
[Billy📞: Halo, nona! Saya sudah mendapatkannya dan sekarang sedang saya kirim pada nona]
"Baiklah. Terima kasih, Bil!"
[Billy📞: Sama-sama, nona]
Tuttt...
Quella mematikan panggilan secara sepihak. Bersamaan dengan deretan nofikasi pesan masuk di ponsel Quella. Si empunya langsung saja memeriksa pesan itu. Dimana pesannya berupa beberapa file foto. Satu-persatu ia membukanya dan finaly, semua foto itu persis dengan yang ada di ponsel Vince. Ternyata laki-laki itu tidak sedang berbohong. Pantas saja sejak pertama kali bertemu, ia merasa familiar dengan wajahnya. Rupanya mereka memang sangat kenal, bahkan punya hubungan dekat.
Sekarang perasaan Quella benar-benar berkecamuk. "Kenapa aku bisa tidak tahu soal ini? Dan kenapa tidak ada yang memberitahuku soal ini sebelumnya!? Argh... Sebaiknya sekarang aku bertanya pada paman Sam. Ya, benar! Hanya paman Sam yang bisa memberiku penjelasan tentang semua ini,"
Quella segera mencari nomor ponsel pamannya itu. Tidak butuh waktu lama, ia sudah menemukannya dan langsung menekan tombol panggilan. Panggilan pertama hingga kedua tidak di angkat. Quella mencoba lagi memanggil. Masih belum di angkat. Mungkin tuan Sam masih sibuk bersiap pergi ke kantor, pikirnya. Jadi ia pun berpikir untuk menghubunginya lagi nanti. Tetapi, niat itu di urungkan saat ponselnya berdering. Quella melihat kontak si pemanggil yang tidak lain adalah tuan Sam. Ia langsung saja mengangkatnya.
"Halo, paman! Selamat pagi!" sapa Quella begitu ramah.
[Paman Sam📞: Selamat pagi juga, keponakan paman! Tumben menelepon paman pagi-pagi?]
"Hmmm.. Apa aku mengganggumu, paman?"
[Paman Sam📞: Tidak. Memangnya ada apa? Kamu sedang bermasalah, ya?]
Quella menghela nafasnya. "Yeah, ada masalah. Makanya aku menelepon paman,"
[Paman Sam📞: Masalah apa? Katakan saja! Paman akan membantumu]
"Ini masalah hidupku--" Quella menggantungkan ucapannya sesaat, sebelum kembali melanjutkannya.
"Paman... Apa ada yang paman sembunyikan dariku?"
[Paman Sam📞: Apa maksudmu?]
"Apa ada sesuatu yang tidak ku ketahui?" sekali lagi Quella bertanya.
[Paman Sam📞: Sepertinya tidak ada]
Quella tidak percaya. Billy pasti berucap jujur padanya soal tadi. "Apa paman yakin?"
[Paman Sam📞: Paman sangat yakin. Memangnya kenapa? Tumben kamu bertanya seperti ini]
"Aku sudah tahu semuanya. Paman jangan mengelak lagi!" tukas Quella.
[Paman Sam📞: Mengelak soal apa? Paman tidak mengerti, Quella. Coba bicara yang jelas!]
"Kecelakaan 1 setengah tahun lalu itu membuatku kehilangan sebagian ingatan. Itu benarkan, paman?" Quella tidak bisa menahan diri lagi untuk bertanya langsung pada pamannya itu.
Sedetik, dua detik hingga persekian detik, tuan Sam belum memberikan jawaban. Quella bisa mengerti. Pasti pamannya itu terkejut mendengar ia bertanya hal yang tidak terduga.
[Paman Sam📞: Siapa yang memberitahumu?]
"Siapa yang memberitahuku itu tidak penting, paman. Aku butuh kejelasan dari paman soal ini. Dan paman pasti bisa menjelaskan semuanya," sahut Quella--Nada bicaranya tampak menekankan setiap kata di ucapannya. Efek emosi dalam dirinya yang sedang naik. Mungkin karena merasa marah akan tindakan pamannya itu.
[Paman Sam📞: Quella... Paman akan menjelaskannya. Tetapi, kamu jangan marah dulu!]
Quella menarik nafas dan kemudian menghembuskannya secara perlahan. "Baiklah. Sekarang jelaskanlah, paman! Aku ingin tahu,"
[Paman Sam📞: Paman tidak tahu siapa yang memberitahumu soal ini tapi tidak masalah. Sepertinya memang sudah saatnya kamu tahu. Paman memang sengaja merahasiakan kenyataan bahwa kamu kehilangan sebagian ingatan karena kecelakaan waktu itu. Namun kamu harus tahu, ini paman lakukan demi kebaikanmu. Pada saat itu keadaanmu sangat lemah. Dokter menyarankan agar memastikan kamu tidak menerima banyak tekanan. Dan...]
"Dan apa, paman?"
[Paman Sam📞: Dan tidak memaksakanmu untuk mengingat semua yang kamu lupakan. Makanya paman merahasiakan keadaanmu yang sebenarnya sampai saat ini]
"Apa harus paman merahasiakannya selama ini? Apa aku tidak berhak tahu?"
[Paman Sam📞: Bukan begitu. Paman ingin menunggu waktu yang tepat untuk memberitahumu soal ini]
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan bagian ingatanku yang hilang? Seperti status pernikahanku. Apa yang terjadi dengan itu?" tanya Quella--Tentunya hal itu kembali mengejutkan pamannya.
[Paman Sam📞: Tidak terjadi apa-apa. Pernikahanmu baik-baik saja]
"Tapi kenapa aku tidak bertemu suamiku sejak kecelakaan itu? Apa dia pergi meninggalkanku gara-gara aku hilang ingatan?" Quella berucap asal. Ia ingin tahu jawaban pamannya terlebih dulu, sebelum bertanya langsung pada Vince--Laki-laki yang masih berstatus suaminya.