
Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh, akhirnya Quella, Zelda dan Wileen sampai di rumah Gerald. Dari penampakan rumahnya pun sudah bisa di tebak bahwa Gerald anak orang kaya. Besar dan mewah dengan warna cat putih bersih.
"Udah ganteng, kaya pula. Emang idaman banyak perempuan deh," puji Zelda sembari menatap bangunan rumah Gerald.
"Jangan berpikir untuk mendapatkannya! Dia punya gue," Wileen memperingatkan Zelda dengan di sertai tatapan tajam. Mengerikan.
Zelda di buat merinding kalau Wileen sudah begitu. "Iya-iya deh, Wil. Gue gak tertarik buat berebut sama lo,"
"Nice," ucap Wileen tersenyum puas.
Quella hanya menggelengkan kepala. "Kalian masih mau bicara di sini atau masuk ke dalam?"
"Yeee, masuklah! Udah dandan cantik gini, masa berdiri di luar. Kan gak sesuai," sahut Zelda cepat.
"Siapa tahu, kalian mau jadi penjaga gratis di sini. Lumayan lah buat nyambut para tamu Gerald," sindir Quella seraya berjalan mendahului kedua sahabatnya.
"Gak tertarik!" seru Wileen dan Zelda secara bersamaan. Mereka berdua segera berjalan menyusul Quella.
Mereka bertiga berjalan memasuki pintu utama rumah Gerald. Di belakang mereka juga terdapat beberapa orang yang sepertinya juga datang untuk memenuhi undangan dari Gerald. Setibanya di dalam rumah, ada seorang pelayan yang mengarahkan mereka untuk pergi ke mana. Dan--Akhirnya mereka memasuki tempat dimana Gerald mengadakan acara ulang tahun, yaitu di taman belakang yang berukuran luas. Ada beberapa hiasan bertema ulang tahun ala laki-laki terpasang di sebagian titik taman itu. Selebihnya hanya ada meja berisikan makanan dan minuman. Orang-orang pun juga sudah mulai berbicara satu sama lain, sembari menikmati makanan dan minuman yang telah di sediakan.
Kedatangan mereka tentu sudah di sadari oleh Gerald yang sedari tadi sibuk berbicara dengan salah seorang temannya. Ia pun segera menghampiri mereka bertiga. "Hai, kak! Selamat datang!"
"Heum. Ini hadiah buat lo. Happy birthday ya!" Quella mengeluarkan sebuah bungkusan kado berukuran kecil dari tas miliknya. Kado itu sudah ia persiapkan dari kemarin.
Gerald langsung mengambilnya. "Seharusnya kakak tidak perlu repot-repot tapi ya baiklah. Terima kasih,"
"Sama-sama. Semoga apa yang lo harapkan segera tercapai," balas Quella tersenyum tipis.
"Iya semoga saja,"
`Dan salah satu harapanku adalah melihat kalian berdua bersatu kembali,` batin Gerald
"Happy birthday ya, Gerald! Panjang umur dan semoga keinginan lo tercapai. Nih hadiah spesial buat lo," ucap Wileen begitu tulus sembari memberikan bungkusan kado berukuran sedang.
"Terima kasih, kak!" Gerald pun mengambil hadiah tersebut dari Wileen.
"Hei, masih ada satu kado buat lo! Happy birthday, ya!? Semoga lo panjang umur, sehat dan makin ganteng pastinya. Biar makin banyak perempuan yang suka sama lo," Zelda masih sempatnya bercanda di sela memberikan kado miliknya. Kado berukuran lebih besar sedikit dari Quella.
Gerald tergelak mendengarnya. "Hhahah terima kasih, kak Zelda. Tapi aku tidak berharap itu terjadi. Perempuan itu merepotkan,"
"Tergantung. Tidak semua perempuan merepotkan," kilah Wileen yang tidak terima dengan ucapan Gerald barusan.
"Benar sekali. Lo harus tahu kalau Wil salah satu perempuan yang tidak suka merepotkan orang lain," timpal Zelda membenarkan apa yang Wileen ucapkan. Sahabatnya itu selalu mandiri dan tidak suka merepotkan seperti dirinya. Jadi pendapat Gerald tadi salah besar.
"Benarkah? Wah itu bagus sekali," ungkap Gerald dengan tersenyum lebar. Lagi-lagi Wileen di buat meleleh.
"Kita sepertinya terlalu asik berbicara. Aku sampai lupa untuk menawarkan kalian makanan dan minuman," sambungnya.
"Gakpapa, Ger. Santai aja," sahut Quella yang tadi sempat melirik ke sekitar tempatnya berdiri. Bagus pikirnya. Taman Gerald tampak terawat dengan baik, sehingga tidak salah mengadakan acara di sana.
"Silakan nikmati acara ini, kak! Jangan sungkan, oke!? Aku mau ke sana dulu bentar," Gerald menunjuk ke arah tujuannya. Dimana ada beberapa pasangan muda yang baru saja datang. Tampaknya mereka juga teman-teman Gerald.
"Baiklah. Kita juga gak akan sungkan kok," Zelda membalas dengan nada santai tapi terdengar sok manja.
Kemudian Gerald pergi meninggalkan mereka bertiga di sana. Quella pun segera mengajak kedua sahabatnya untuk pergi ke meja yang berisikan makanan dan juga minuman. Malam ini mereka harus turut ikut bersenang-senang di acara ulang tahun Gerald.
"Teman-teman Gerald juga gak kalah ganteng ya. Bersih banget deh mata gue malam ini kalau lihat mereka semua," ucap Zelda setengah berbisik agar hanya Quella dan Wileen yang mendengar.
Quella berdecak pelan sembari meminum minumannya. Kelakuan sahabatnya itu selalu saja begitu. Namun ada yang berbeda dengan sahabatnya yang lain--Wileen. Perempuan itu hanya fokus menatap dimana Gerald berada.
"Gitu amat lihatnya. Jangan bilang lo beneran suka sama dia!" seru Quella yang berhasil mengalihkan tatapan Wileen.
"Kalau iya, kenapa?" tanyanya.
"Gak kenapa-kenapa sih. Cuma gue gak mau lo permainin dia. Meski gue juga baru kenal tapi dia itu laki-laki baik. Lo ngerti kan maksud gue?" ucap Quella bernada serius.
Zelda hanya diam mendengarkan. Ini bukan saatnya ia ikut berbicara santai. Apalagi bisa di lihat bahwa Quella berucap serius. Tidak sering Quella seperti ini. Tetapi, ia tahu satu hal pasti bahwa sahabatnya itu sedang mengingatkan Wileen.
"Iya gue ngerti kok. Tenang aja. Gue juga gak bermaksud buat permainin dia. Perasaan gue cuma untuk sesaat," sahut Wileen usai meminum beberapa tegukan.
"Gue harap lo benar-benar gak jadikan Gerald sebagai mainan," sekali lagi Quella menegaskan. Entahlah apa yang terjadi. Ia hanya merasa bahwa Gerald tidak boleh terlibat dalam kegilaan Wileen.
"Gue pasti dengerin lo! Udah deh, jangan bawel. Kita di sini buat bersenang-senang, kan? Jadi come on, guys! Kita bersulang untuk malam ini," Wileen menyudahi topik pembahasan itu dan mengangkat tinggi gelas minumannya.
Zelda juga langsung melakukan hal sama. "Yeah. Bersulang untuk malam ini!"
Bahu Zelda terangkat sesaat, sebelum tangannya juga segera mengangkat tinggi gelas minumannya. "Bersulang!"
Tepat sesaat mereka bertiga bersulang dan meminum minuman sampai habis, hampir semua lampu taman tiba-tiba meredup. Hanya tersisa satu lampu yang masih menyala. Di sana berdiri Gerald yang tampak tampan dalam balutan setelan kemeja hitam.
"Selamat malam semuanya! Terima kasih karena sudah mau datang memenuhi undanganku. Sebelum menuju acara inti, aku sengaja mempersiapkan waktu berdansa untuk kalian semua. Semua orang wajib berdansa dan boleh bebas mau berpasangan dengan siapa pun," ucap Gerald di mikrofon yang langsung di sambut begitu antusias oleh semua orang.
"Tampaknya kalian juga antusias untuk berdansa. Sekarang kalian bisa memilih pasangan terlebih dahulu dan berdiri di posisi masing-masing!" sambungnya.
Semua orang pun segera melakukan seperti yang Gerald katakan. Mereka mencari pasangan berdansa dan kemudian berdiri di posisi masing-masing. Zelda yang tidak kalah antusias, lantas mau menerima ajakan seorang laki-laki asing untuk berdansa bersama. Wileen juga melakukan hal serupa. Tinggal Quella yang belum memiliki pasangan. Ia masih berdiri di tempatnya dan menatap ke semua orang yang sudah berpasangan. Tanpa di sadarinya seorang laki-laki datang mendekatinya.
"Xaviera!" suara bariton itu terdengar pelan dan lembut di telinga, spontan membuat Quella terkejut.