THE LAWYER'S SECRET WIFE

THE LAWYER'S SECRET WIFE
Eps 41. Quella Terluka



Di saat para juri tengah sibuk menyerahkan hadiah pada pemenang, Quella berdiri tidak jauh dari mereka. Ia ikut bahagia dalam puncak acara tahunan itu. Hingga tidak sadar bahwa lampu yang ada tepat di atas kepalanya bergoyang. Tidak ada pun yang sadar, terkecuali Yocelyn. Perempuan itu tersenyum licik di tengah kekesalannya karena tidak memenangkan lomba.


"Satu..." gumamnya pelan menghitung.


"Dua..."


"Dan... Tiga..."


Bersamaan hitungan ketiga Yocelyn, lampu di atas kepala Quella jatuh secara cepat. Orang-orang terkejut melihat itu. Terutama ketua pelaksana dan para penanggung jawab acara.


"QUELLA--AWAS DI ATAS KEPALAMU!!!" teriak mereka memperingati.


Terlambat. Quella memang sempat melihat ke atas kepalanya tapi karena merasa sangat terkejut, ia tidak sempat menyingkir dari sana. Akhirnya lampu itu jatuh mengenai tepat kepala. Sontak tubuh Quella pun jatuh ambruk ke lantai panggung.


Bruk...


"Quella!" pekik semua orang yang mengenalnya.


Darah segar bercucuran keluar dari kepala Quella. Kedua matanya masih terbuka, hanya saja kesadarannya mulai menghilang. Ketua pelaksana, para mahasiswa penanggung jawab dan beberapa dosen bergegas menghampiri Quella. Mereka benar-benar terkejut, sekaligus khawatir melihat keadaannya yang terbilang mengenaskan. Namun tidak dengan Yocelyn yang tersenyum puas melihat keadaannya.


`Rasakan!` batin Yocelyn


"Quella... Kamu bisa dengar kami, kan?" tanya ketua pelaksana sembari menepuk-nepuk pipi perempuan itu. Jika di lihat dari raut wajahnya, jelas sekali ia merasa khawatir saat melihat keadaan Quella. Apalagi gadis itu sudah mulai kehilangan kesadarannya.


"Minggir! Biar saya periksa dulu keadaannya," seorang dosen laki-laki paruh baya berjongkok di dekat ketua pelaksana yang tengah memangku Quella.


Ketua pelaksana pun mengerti dan langsung menyingkir agar dosen itu bisa memeriksa keadaan Quella. Dosen itu memang ahli dalam bidang kedokteran. Sehingga apapun yang di lakukannya bisa di percaya, termasuk melakukan pemeriksaan pertama pada Quella.


"Keadaannya sangat parah. Terjadi pendarahan hebat di kepalanya. Cepat bawa dia ke rumah sakit!" seru Dosen itu usai melakukan pemeriksaan. Tampak raut wajahnya yang panik.


Tanpa menunda waktu lagi, ketua pelaksana langsung menggendong Quella yang hampir benar-benar kehilangan kesadaran. Laki-laki itu melakukannya hanya sebagai rasa tanggung jawab, bukan di sebabkan hal lain. Jadi salah jika ada orang yang menyalahArtikan tindakannya.


"Kalian berdua ikut aku!" titah ketua pelaksana kepada dua orang mahasiswa perempuan yang juga menjadi bagian dari penanggung jawab acara tahunan. Mereka berdua cukup berteman baik dengan Quella.


Mereka berdua mengangguk setuju. Salah satu dari mereka mengambil tas milik Quella terlebih dulu, sebelum mengikuti langkah cepat ketua pelaksana. Para mahasiswa yang awalnya berkerumun di dekat panggung, lantas segera membukakan jalan untuk mereka. Sehingga ketua pelaksana bisa berjalan lebih cepat dengan menggendong Quella. Laki-laki itu tidak peduli akan darah yang keluar bercucuran dari kepala Quella mengenai bajunya. Terpenting baginya adalah secepat mungkin membawa gadis itu ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.


"Tolong bukakan pintu! Kuncinya ada di saku jaketku," pinta ketua pelaksana pada salah seorang mahasiswa yang ikut bersamanya.


Mengingat keadaan sedang darurat, mahasiswa itu memberanikan diri mengambil kunci mobil di saku jaket ketua pelaksana. Kemudian membukakan pintu mobil yang awalnya terkunci. Ketua pelaksana langsung membawa masuk Quella dan salah satu mahasiswa duduk memangkunya. Lalu ia masuk ke mobil, tepatnya duduk di kursi pengemudi dan mahasiswa satunya duduk di kursi sebelahnya.


"Pakai kain ini untuk menghentikan pendarahannya dan pastikan dia tetap tersadar!" seru ketua pelaksana memberikan sebuah kain yang sengaja di simpan di dalam mobilnya.


"Baik," mahasiswa itu mengerti dan segera melakukan seperti yang ketua pelaksananya katakan.


Ketua pelaksana pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia harus bisa membawa Quella ke rumah sakit secepat mungkin. Tidak akan di biarkannya terjadi sesuatu yang buruk pada gadis itu. Jika sampai itu terjadi, ia akan semakin merasa bersalah. Seharusnya kejadian tadi tidak terjadi.


Ponsel Quella terdengar berdering dari dalam tas miliknya. Mahasiswa yang memegang tas Quella langsung memeriksa.


"Ketua--Ponsel Quella berdering! Ini telepon dari salah satu sahabatnya," beritahu mahasiswa itu, usai melihat nama kontak yang tertera di layar ponsel Quella. Si penelepon tidak lain ada Zelda.


"Angkat! Lalu katakan apa yang terjadi sekarang. Mungkin dia bisa memberitahu salah satu keluarga Quella," ucap ketua pelaksana tanpa menoleh ke arah lawan bicara. Ia tengah fokus pada jalanan di depan.


"Ya baik!"


Mahasiswa itu segera mengangkat teleponnya.


"Halo!?


[Zelda: Eh halo? Lo siapa? Kok bisa lo yang angkat telepon gue? Dimana Quella?]


Dan seperti biasa, Zelda selalu bertanya dengan bertubi-tubi. Mahasiswa itu sempat terkesiap saat mendapat pertanyaan beruntun. Namun ia cepat tersadar dan mengingat perintah dari ketua pelaksana.


"Gue rasa itu tidak penting. Sekarang ada yang lebih penting dari itu. Quella terluka parah dan kami sedang membawanya ke rumah sakit," ucap mahasiswa itu yang tentu saja langsung membuat Zelda terkejut.


[Zelda: APA!!? Lo gak sedang bercanda, kan? Kalau lo cuma bercanda, ini gak lucu. Sumpah!]


Perempuan itu tidak tahu kejadian yang menimpa Quella karena tidak hadir dalam acara tahunan kampus. Ada acara makan malam keluarga besarnya yang tidak boleh dilewatkan. Oleh sebab itu wajar kalau Zelda terkejut dan tidak percaya.


"Gue gak bercanda. Sebaiknya lo beritahu keluarga Quella dan datang ke rumah sakit xxxxxx,"


[Zelda: Tunggu dulu! Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa Quella terluka?]


"Ada kelalaian saat acara berlangsung tadi. Lampu bagian atas panggung jatuh mengenai kepala Quella. Dosen mengatakan bahwa terjadi pendarahan hebat di kepalanya. Jadi tolong segera beritahukan keluarganya untuk datang ke rumah sakit!" jelas mahasiswa itu singkat.


[Zelda: Astaga, Quella!!! Gue akan ke rumah sakit sekarang]


Tuttt...


Zelda mematikan telepon secara sepihak dan bergegas pergi menyusul ke rumah sakit dengan paniknya. Bahkan ia lupa memberitahukan bahwa Quella tidak mempunyai keluarga.


"Apa katanya?" tanya ketua pelaksana di sela mengemudikan mobil.


"Em. Dia akan segera ke rumah sakit," jawab mahasiswa itu sembari memasukkan kembali ke dalam tas milik Quella.


Ketua pelaksana tidak bersuara lagi, hanya mengangguk pelan. Ia harus tetap fokus mengemudi di tengah pikiran yang berkecamuk antara panik dan khawatir.


"Ketua! Quella tidak membuka matanya lagi! Kesadarannya benar-benar sudah hilang," pekik mahasiswa yang sedari tadi memangku Quella, setelah berusaha keras untuk membuatnya tetap tersadar.


Hal itu tentu semakin membuat mereka bertiga semakin panik dan khawatir. Terutama ketua pelaksana yang langsung menambahkan kecepatan mobilnya. Beruntung keadaan jalanan tidak padat seperti biasa dan ketua pelaksana bisa melajukan mobilnya dengan leluasa. Tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai di rumah sakit. Quella langsung di larikan ke UGD untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan memberikan penanganan cepat.