
Sementara itu di belahan bumi lain, Vince baru saja memasuki kamar hotelnya sembari melepaskan jas hitam yang sedari tadi melekat di tubuhnya nan kekar. Jam menunjukkan pukul 6 sore—Perbedaan waktu yang cukup jauh dengan negara Amerika Serikat. Kesibukannya dalam mengurus sebuah kasus membuat ia hampir tidak dapat bermain ponsel seharian ini. Meskipun hanya sekedar memeriksa pesan. Sekarang ia sudah berada di kamar hotelnya dan tengah pergi untuk membersihkan dirinya terlebih dulu. Kemudian baru menyalakan ponselnya yang memang sengaja di matikan dari tadi siang.
Tiba-tiba alisnya tampak saling bertautan saat melihat sederet panggilan tidak terjawab dari salah satu anak buahnya. Sangat jarang hal itu terjadi. Oleh sebab itu Vince merasa heran, sekaligus penasaran akan alasan dari salah satu anak buahnya yang tadi menghubunginya beberapa kali. Tanpa menunggu lagi, ia segera menghubungi kembali anak buahnya itu.
"Ada apa? Xaviera baik-baik saja, kan?" tanyanya langsung to the point.
Benar—Anak buahnya itu di tugaskan untuk menjaga Quella dan mengawasi setiap pergerakkan dari kejauhan. Vince telah menugaskan anak buahnya itu, sejak Quella kehilangan ingatannya. Namun ia melarang anak buahnya itu untuk muncul di hadapan Quella secara langsung.
[T**📞: Tidak, tuan]
"Katakan yang jelas!" titah Vince mendesak—Ingin segera tahu maksud dari jawaban anak buahnya itu.
[T**📞: Nona masuk rumah sakit]
Kedua mata Vince membulat sempurna, memperlihatkan keterkejutan yang tiba-tiba di rasakannya. "Masuk rumah sakit? Kau tidak sedang berbohong, kan?"
[T**📞: Saya tidak pernah berani berbohong pada tuan. Nona Quella benar-benar masuk rumah sakit]
"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa Xaviera masuk rumah sakit? Cepat katakan!" kini perasaan Vince menjadi campur aduk. Ada perasaan terkejut, sekaligus khawatir akan keadaan Quella.
[T**📞: Ada sedikit masalah di acara tahunan kampus nona, mahasiswa yang seharusnya menjadi pembawa acara tidak dapat hadir karena suatu alasan. Nona terpaksa menggantikannya tapi di puncak acara, tiba-tiba lampu bagian atas panggung terjatuh. Dan—Lampu itu jatuh tepat mengenai kepala nona, tuan]
****Jlebbb****
Jantung Vince terasa seperti di tusuk sebuah benda tajam. Sangat sakit tapi tidak berdarah. Perasaan yang selalu di rasakannya saat mendengar sang pujaan hati terluka.
"A—Apa? Lalu bagaimana keadaan Xaviera sekarang?"
[T**📞: Nona sempat mengalami pendarahan hebat di kepalanya dan harus menjalani operasi, tuan. Operasi nona baru saja selesai]
Sakit yang di rasakannya semakin bertambah. Begitu pula dengan perasaan sedih saat mendengar jawaban dari anak buahnya. Seharusnya tadi ia menyempatkan diri untuk memeriksa ponsel dan tidak terlambat mengetahui keadaan Quella yang harus menjalani operasi karena sebuah insiden di acara tahunan kampus.
"Apa operasinya berhasil? Sekarang dia baik-baik saja, kan?" tanyanya memastikan dengan perasaan campur aduk.
[T**📞: Operasi nona berhasil tapi—]
"Tapi apa!? Katakan yang jelas!" seru Vince meninggikan nada bicaranya. Entah mengapa perasaannya semakin tidak enak.
[T**📞: Nona mengalami koma]
Sontak jantung Vince berhenti berdetak. Ucapan anak buahnya itu memenuhi isi kepalanya. Dunia indahnya yang baru kembali di buat bersama Quella, seakan hancur dalam sekejap. Bahkan ia merasa berita buruk ini, tidak lebih baik daripada saat dulu dirinya harus menerima kenyataan bahwa Quella melupakannya.
"Ko—Koma?" ulangnya.
[T**📞: Iya koma, tuan]
Jawaban bernada lemah dari anak buahnya itu justru membuat Vince emosi. Ia benar-benar tidak berharap jawaban itu. Dan ingin mendengar anak buahnya itu kembali menarik jawabannya barusan.
"Kenapa ini bisa sampai terjadi? Bukankah saya sudah memintamu untuk menjaganya hah!?" bentak Vince yang sudah kehilangan kendali.
[T**📞: Maaf, tuan. Saya lalai menjalankan tugas]
"Jika saja kau tidak lalai—Xaviera tidak akan terluka, bahkan sampai koma seperti ini. Sekarang lihatlah, bagaimana keadaannya akibat kelalaianmu itu!?" Vince meluapkan emosinya yang tidak terkendali.
[T**📞: Saya bersalah, tuan. Maaf,]
"Apa maafmu itu akan membuat keadaan Xaviera tidak seperti ini? Tidak!" erang Vince—Dirinya tidak memedulikan apapun lagi, di pikirannya hanya mengkhawatirkan keadaan sang istri yang kini terbaring koma.
"Pastikan sekarang kau menjaga Xaviera dengan baik di sana! Saya akan segera pulang,"
[T**📞: Baik, tuan!]
Tuttt...
Vince mematikan panggilan secara sepihak. Dengan perasaan yang masih campur aduk, ia menghubungi asisten pribadinya untuk memesankan tiket penerbangan tercepat. Setelah itu ia mendudukkan dirinya di pinggir ranjang. Pikirannya benar-benar hanya memikirkan keadaan Quella. Padahal pagi tadi mereka sempat bertukar pesan, sekarang justru berita buruk itu harus di dengarnya.
"Aku akan segera pulang. Tunggulah, sayang!" gumamnya pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Amerika Serikat
Malam telah berganti siang hari yang tidak secerah biasanya. Matahari tampak bersembunyi di balik awan hitam. Kemungkinan besar hujan akan turun dengan deras. Tetapi orang-orang tetap beraktivitas seperti biasa. Hanya Zelda dan Wileen yang masih duduk memandangi Quella lewat kaca ruangan ICU. Mereka berdua tidak berniat meninggalkan sang sahabat yang sedang terbaring koma. Padahal sedari tadi malam mereka belum beristirahat. Bahkan jam sudah menunjukkan waktunya sarapan tapi tidak ada satu pun dari mereka yang sarapan. Nafsu makan mereka seolah hilang.
"Kak Wil, kak Zelda!" seseorang datang menghampiri mereka berdua dengan tergesa-gesa.
Sontak Wileen dan Zelda menatap orang yang baru saja menghampiri mereka.
"Gerald!" seru Wileen lebih dulu.
Yeah—Orang itu adalah Gerald. Laki-laki itu datang setelah Vince meneleponnya beberapa jam lalu. Jika tidak—Ia mana tahu kalau Quella masuk rumah sakit. Gerald tidak menghadiri acara tahunan kampus tadi karena ada urusan penting. Sehingga ia juga terlambat tahu tentang insiden yang menimpa Quella sampai masuk rumah sakit.
"Lo di sini?" sambungnya bertanya.
Gerald menganggukkan kepala sembari menatap ke arah kaca ruang ICU. Dari sana ia bisa melihat Quella sedang terbaring koma dengan beberapa alat medis terpasang di tubuhnya.
"Aku tahu dari teman-temanku. Bagaimana keadaan kak Quella?"
"Dia koma setelah menjalani operasi," jawab Zelda tertunduk lesu.
"Ini—Aku tidak menyangka ini terjadi," ucap Gerald tergagap. Reaksinya sama seperti saat tahu soal keadaan Quella dari Vince.
"Kami juga tidak menyangka," timpal Wileen lirih.
"Tapi aku yakin semua pasti akan baik-baik saja. Jangan khawatir!" Gerald berusaha menenangkan kedua perempuan itu.
Baik Zelda, maupun Wileen hanya mengangguk lemah. Mereka berdua tidak mempunyai tenaga. Kejadian kemarin malam cukup menguras emosi. Terlebih lagi mereka belum ada istirahat atau makan-minum apapun.
"Sebaiknya kak Wil dan kak Zelda pulang saja dulu untuk beristirahat dan mengisi tenaga. Aku tahu kalian belum beristirahat dari tadi malam. Dan juga—Belum makan atau minum apapun, bukan?" sambungnya.
"Tidak. Kalau kami pulang, siapa yang menjaga Quella di sini?" Zelda langsung menolak.
"Iya benar. Quella tidak memiliki satu pun keluarga. Hanya kami berdua yang dia miliki," ucap Wileen menimpali.
"Aku akan menjaga kak Quella di sini. Kalian tenang saja!" sahut Gerald memberikan solusi atas kekhawatiran kedua perempuan itu.
"Tapi bukankah lo harus kuliah?" tanya Wileen.
"Aku tidak punya jadwal kuliah hari ini. Jadi kalian pulanglah! Aku akan menjaga kak Quella sampai kalian kembali," jawab Gerald meyakinkan.
"Tapi—"
Zelda ingin menolak lagi tapi lebih dulu di sela Gerald. "Kalian juga perlu istirahat dan mengisi tenaga. Jika nanti kalian sakit, bagaimana bisa menjaga kak Quella?"