THE LAWYER'S SECRET WIFE

THE LAWYER'S SECRET WIFE
Eps 66. Quella Ngambek



Pagi hari nan cerah telah menggantikan gelapnya malam. Cuaca yang tampak bagus untuk semua orang beraktivitas tapi tidak berlaku bagi Quella. Ia masih tidur dengan nyamannya dalam pelukan Vince yang sudah bangun dari setengah jam lalu. Laki-laki itu enggan membangunkannya atau beranjak pergi, sebab masih ingin menatap wajah cantik yang di miliki sang istri. Sudut bibirnya tidak berhenti mengembangkan senyuman mengingat apa yang mereka lakukan tadi malam.


Drttt... Drttt... Drttt...


Tiba-tiba ponselnya yang terletak di atas nakas samping ranjang terdengar berdering, menandakan sebuah panggilan masuk. Ia pun segera mengambilnya dan mengangkat panggilan tersebut, sebelum mengganggu tidur Quella.


[Troy📞: Selamat pagi, tuan! Maaf mengganggu tapi ada hal yang ingin saya sampaikan]


"Hm, katakan!" seru Vince pelan agar tidak membuat Quella terbangun.


[Troy📞: Semua berita yang tersebar sudah berhasil di atasi dengan sedikit bantuan dari orang nona Stella ]


Sontak Vince tersenyum puas mendengarnya. "Kerja bagus, Troy!"


[Troy📞: Terima kasih tapi bukan itu saja yang ingin saya sampaikan pada tuan. Baru saja pihak agensi nona Stella menghubungi saya. Terlepas dari semua berita yang sudah berhasil di atasi, mereka ingin tuan melakukan klarifikasi langsung bersama nona Stella. Ini akan lebih efisien untuk menghentikan opini publik tentang kalian berdua]


"Itu memang benar. Saya setuju," sahut Vince tidak keberatan akan keinginan dari agensi yang menaungi Stella.


Terlebih lagi, memang klarifikasi secara langsung di perlukan karena itu berimpact besar terhadap publik di bandingkan hanya lewat pernyataan tertulis.


[Troy📞: Baiklah, tuan. Saya akan menghubungi mereka kembali untuk mengatur waktunya]


"Lebih cepat lebih baik,"


Tut!


Vince mematikan panggilan secara sepihak tanpa mendengar balasan dari Troy. Lalu meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas. Bersamaan dengan pergerakan Quella yang sedang mendusel-dusel di dadanya. Tampaknya sang istri sudah mulai terganggu akan cahaya matahari dan mencoba mencari kenyamanan. Vince terkekeh pelan sembari mengelus lembut puncak kepala perempuan yang begitu di cintainya itu.


"Eunghhh," Quella melenguh pelan, sesaat sebelum membuka matanya.


Quella mengerjapkan matanya beberapa kali. Pemandangan pertama yang di lihatnya adalah dada bidang milik sang suami. Lantas ia sedikit mendongak untuk bisa melihat wajah Vince.


"Pagi, sayang! Kamu sudah bangun hm," Vince langsung melabuhkan ciuman di keningnya.


"Pagi sayang!" balas Quella dengan suara serak khas bangun tidur. Ia masih mengantuk, terlihat dari matanya yang sesekali terpejam.


"Menggemaskan sekali,"


Vince tidak bisa menahan diri untuk tidak menghujani wajah Quella dengan ciuman. Dari kening, mata, hidung, tidak terkecuali bibir. Ia benar-benar merasa gemas dengannya.


"Eum—Jam berapa?" tanya Quella tanpa berniat menghentikan sang suami.


"Jam 10 pagi," jawab Vince santai, tangannya bergerak menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Quella.


Quella sedikit tersentak kaget. "Kamu gak ke kantor?"


"Nanti saja. Bagaimana bisa aku ke kantor setelah melewati malam indah bersamamu," Vince menggoda dengan memainkan sebelah alisnya.


Sontak membuat Quella tersadar akan apa yang mereka lakukan tadi malam. Pipinya memerah mengingat hal itu.


"Jangan menggodaku!" seru Quella seraya langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Vince. Sungguh ia malu sekarang.


Vince tertawa melihat istrinya yang sedang merasa malu itu. "Aku tidak menggodamu, sayang. Bukankah ucapanku tadi benar?"


Quella ingin segera pergi dari sana untuk menyembunyikan wajah malunya tapi tidak bisa sebab pelukan Vince begitu erat.


"Kamu yakin mau pergi dalam keadaan begini?" tanya Vince seraya mengulum senyum.


Tentu pertanyaan itu di mengerti oleh Quella. Ia melirik sekilas ke arah tubuhnya sendiri yang tidak memakai sehelai benang pun dan hanya di tutupi bed cover.


"A—Aku akan pergi dengan bed cover ini," Quella tergagap menjawab pertanyaan Vince.


"Lalu aku bagaimana?" celetuk Vince yang begitu senang menggoda sang istri.


Percayalah, otak Quella mendadak tidak bisa berpikir jernih karena situasi ini. Ia menjadi bingung sendiri harus bagaimana. Terlalu lama dalam keadaan itu, tidak baik untuk jantungnya yang terus berdetak kencang. Di tambah sekarang pipinya pasti memerah karena menahan rasa malu.


"Begini saja, kamu tutup mata dulu. Aku akan lari ke kamar mandi. Ya—Benar begitu saja," ucap Quella usai berpikir sejenak. Hanya itu cara satu-satunya untuk bisa pergi dari sana.


"Aku tidak setuju. Kamu bisa jatuh kalau lari," Vince langsung menolak mentah.


"Lagian aku juga ingin mandi. Jadi, lebih baik kita mandi bersama!" sambungnya tiba-tiba mengangkat tubuh Quella.


"Akhh!!! Apa yang kamu lakukan!?" pekik Quella terkejut, sontak mengalungkan tangannya di leher suaminya itu.


Vince tampak memperlihatkan tersenyum tidak berdosa, di sela berjalan menuju ke kamar mandi. "Menggendongmu,"


"Maksudku, aku belum mengiyakan tapi kamu sudah menggendongku seperti ini. Cepat turunkan aku!" Quella menatap jengkel ke arah Vince.


"Hmm, kapan aku minta persetujuanmu?" tanya Vince semakin membuat Quella merasa jengkel.


"Menyebalkan!" Quella mendengus kasar dan akhirnya hanya bisa pasrah saat Vince membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Siapa yang percaya kalau seorang laki-laki saat mengatakan mandi bersama, maka benar-benar hanya mandi. Tidak ada percaya itu, termasuk Quella. Nyatanya ia harus menghabiskan waktu yang lebih lama di kamar mandi karena Vince mencuri kesempatan dan mengulang apa yang mereka lakukan tadi malam.


...****************...


Quella tengah duduk di sofa yang ada di dalam kamar sembari bermain ponsel. Tiba-tiba Vince datang dengan membawa laptop dan duduk di sebelahnya. Sontak Quella langsung bergeser hingga ke sudut sofa tanpa melirik Vince sama sekali. Ia sedang marah pada suaminya itu, sebab membuat tubuhnya terasa remuk dan kedinginan gara-gara terlalu lama di kamar mandi.


"Kamu masih marah, sayang?" Vince bertanya dengan raut wajah tidak berdosanya.


Quella melirik sinis ke arahnya tapi enggan untuk membalas. Justru ia lebih memilih lanjut bermain ponsel. Hal tersebut membuat Vince terkekeh. Ia meletakkan laptopnya tadi ke atas meja dan bergeser mendekati Quella.


"Sayang—Kamu sudah mendiamkanku sejak beberapa jam lalu. Kamu gak kasihan denganku?" seloroh Vince bersamaan menarik pinggang Quella untuk mendekat dan memeluknya dari samping.


Pertanyaan itu sukses mengundang tatapan tajam dari Quella. "Seharusnya aku yang nanya. Kamu gak kasihan sama aku, heh? Bikin tubuhku terasa remuk dan kedinginan gini,"


Vince meringis pelan mendengar gerutuan sang istri. "Maaf, sayang! Kamu sih begitu menggoda. Jadi aku gak bisa menahan diri,"


"Oh, kamu nyalahin aku?"


"Bukan—Bukan begitu maksudku. Di sini aku yang salah. Maaf, sayang!" ucap Vince bernada memelas.


"Humpph," Quella mendengus seraya bersedekap dada dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia masih marah dengan laki-laki yang berstatus suaminya itu.


"Berhenti marahnya, ya?"