
"Kamu di sini?" tanya Vince masih belum percaya akan kedatangan sang istri.
Quella memutar malas bola matanya sembari berjalan mendekat. Tangannya juga terangkat melepaskan airpods yang sedari tadi masih terpasang di telinganya dan menyimpannya ke dalam tas.
"Yah, aku di sini. Jadi sekarang kamu lebih baik duduk dengan tenang,"
Vince ingin kembali bersuara untuk bertanya tapi Quella langsung memegang pundaknya. Lalu sedikit menekannya sampai ia terduduk di kursinya.
"Duduk dan minumlah! Biar mendinginkan isi kepalamu yang panas," sambungnya. Bersamaan dengan mendekatkan sebotol air minum yang memang tersedia di meja kepada Vince.
Seperti seorang anak kecil yang patuh terhadap ibunya, Vince pun segera meminum sebotol air itu. Memang benar air minum akan mendinginkan panasnya isi kepala akibat amarah yang membuncah di dalam diri. Namun tindakannya ini justru kembali mengejutkan para tim pengacara bentukannya.
Bagaimana tidak terkejut? Selama ini hampir tidak pernah terlihat Vince patuh terpatuh pada seseorang, apalagi ini seorang gadis. Sangat mustahil.
"Silahkan duduk, nona!" ujar Troy yang menarik kursi untuk Quella duduk tepat di sebelah Vince.
"Terima kasih," Quella mendudukkan dirinya di sana.
Matanya menatap ke depan, dimana para tim pengacara Senior bentukkan sang suami sedang menatapnya dengan rasa terkejut sekaligus penasaran. Ia tentu saja sudah menduga hal itu.
"Oke, di sini kalian tidak perlu tahu jelas siapa saya. Kalian hanya perlu beritahu saya apa yang sedang terjadi, bisa?" ucap Quella pada mereka semua.
"Sayang—Mereka menghilangkan bukti," bukan para tim pengacara senior itu yang menjawab, melainkan Vince sendiri.
Quella melirik sekilas ke arahnya. "Kamu diam! Aku lagi bicara sama mereka,"
Sontak hal itu membuat Vince bungkam. Bukan tidak berani membantah, tetapi setiap ucapan Quella seakan mutlak untuknya. Kecuali kalau istrinya itu berucap hal yang tidak di inginkannya, maka ia pasti akan membantah.
"Jadi bisa beritahukan saya?" ulang Quella meminta jawaban.
Sesaat mereka saling beradu pandangan, sebelum akhirnya salah satu dari mereka menganggukkan kepala.
"Kami sedang menangani kasus gugatan terhadap perusahaan Wayne Groups. Dalam kasus ini, kami berada di pihak pembela tergugat, yaitu perusahaan Wayne Group sendiri. Beberapa hari lalu kami kehilangan semua bukti yang telah di kumpulkan dan akan di bawa ke sidang minggu ini," jelas laki-laki berkacamata yang berjarak cukup jauh dari Quella.
"Buktinya dalam bentuk file, benda atau keduanya?" Quella bertanya kembali.
"Keduanya, nona. Kami kehilangan flashdisk yang berisi file-file penting, foto dan juga video. Semua itu bukti penting yang memperkuat kalau gugatan terhadap Wayne Group tidak terbukti. Kami mendapatkannya setelah penyelidikan panjang karena sulit untuk mendapatkannya," jawab laki-laki itu lagi.
"Kalian tidak membuat salinan? Setahu saya pengacara seperti kalian pasti selalu membuat salinan bukti. Ini karena setiap bukti yang kalian miliki tentu akan di incar pengacara pihak lawan," ucap Quella berdasarkan apa yang di ketahuinya.
Laki-laki berkacamata itu mengangguk membenarkan. "Memang benar. Kami sudah membuat salinan tapi belum selengkap yang ada di dalam flashdisk itu. Mungkin kalau di persenkan, isinya hanya 25% dari apa yang ada di dalam flashdisk. Dengan salinan yang kami buat, itu tidak akan berpengaruh besar pada persidangan nanti. Gugatan terhadap Wayne Group bisa menangkan oleh pihak lawan. Dan—Kemungkinan terburuk adalah pihak lawan akan menggunakan semua bukti itu untuk menghancurkan Wayne Group sampai tidak berbentuk. Apabila semua bukti tersebut jatuh ke tangan mereka,"
"Separah itukah? Lalu apa kalian sudah mencari ke tempat yang berkemungkinan menjadi tempat hilangnya semua bukti itu?" Quella masih berusaha membantu mencari jalan keluar atas masalah ini.
"Kamu dengar sendiri, bukan? Inilah alasan mengapa aku sangat marah. Kecerobohan mereka kali ini bisa menghancurkan Wayne Group dalam sekejap tanpa sisa," setelah lama terdiam mendengarkan, akhirnya Vince membuka suara. Tentu dengan nada dingin yang di tunjukkan pada tim pengusaha bentukannya sendiri itu.
Quella melirik ke arah sang suami. Dengusan ringan terdengar dari mulutnya. "Marah tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah. Kamu pasti tahu jelas hal itu,"
"Aku marah karena kali ini mereka ceroboh. Biasanya mereka tidak pernah seperti ini dalam menangani kasus," cetus Vince menatap mereka secara bergantian.
"Namanya juga manusia. Mana ada yang bisa ngelakuin hal sempurna terus. Pasti ada kesalahan yang di perbuat, entah itu sengaja maupun tidak," celetuk Quella yang memang sesuai dengan fakta.
"Aku tahu itu tapi—"
Belum selesai Vince berbicara, Quella langsung menyela. "Tapi apa? Sebaiknya pertemuan hari ini di bubarkan. Pertemuan hari ini hanya sia-sia karena kamu yang sedang di sulut amarah,"
"Dan—Mereka yang di rundung rasa panik. Perasaan marah dan panik akan membuat siapapun yang merasakannya tidak bisa berpikir jernih. Bahkan sulit untuk mencari solusi untuk sebuah permasalahan. Jadi lebih baik pertemuan ini di lakukan lagi di hari lain! Di saat kalian semua sudah tenang," sambungnya, menatap ke arah Vince dan para tim pengacara senior itu secara bergantian.
Vince diam memikirkan ucapan Quella barusan. Apapun yang istrinya itu katakan memang benar. Mungkin ia harus menyudahi pertemuan itu sekarang.
"Hmmm baiklah. Kalian semua bisa kembali ke ruangan masing-masing! Kita akan lanjutkan pertemuan ini lagi nanti. Saya harap, kalian secepatnya menemukan petunjuk tentang dimana flashdick semua bukti itu berada! Atau kalian lengkapi semua salinan yang ada. Jangan sampai gugatan Wayne Group di menangkan pihak lawan!" ucap Vince bernada tegas pada mereka yang telah di bentuknya sebagai salah satu tim pengacara Senior di kantor Firma Hukumnya.
Fyi, Banyak pengacara yang berada di bawah naungan kantor Firma Hukum miliknya. Baik itu pengacara Senior, maupun yang Junior. Tentu mereka semua adalah orang-orang yang terpilih. Dalam kantor Firma Hukum miliknya ini, Vince membagi beberapa tim pengacara yang menangani kasus berbeda. Tingkat kasus ringan akan di tangani Tim Pengacara Junior. Tingkat kasus sedang akan di tangani tim gabungan antara pengacara Junior dan Senior. Terakhir, ada tingkat kasus yang berat atau sangat penting akan di tangani tim Pengacara Senior.
Kenapa setiap kasus tidak di tangani secara perorang? Jawabannya adalah Vince ingin mereka saling bekerjasama untuk menangani kasus. Ia tahu setiap orang berbeda, begitu pula para pengacara yang memiliki cara masing-masing dalam menangani kasus. Nah itulah yang Vince inginkan, dimana setiap pengacara bisa saling bertukar cara bagaimana menghadapi kasus serta berbagi pengetahuan.
"Baik, bos. Kami pasti mengusahakan yang terbaik untuk memenangkan kasus ini!" sahut laki-laki dewasa yang memakai jas abu-abu.
Kemudian para tim pengacara Senior itu pergi dari ruangan tersebut, usai menunduk hormat pada Vince. Troy juga langsung pergi saat Vince mengisyaratkannya untuk keluar dari sana dan tidak lupa menutup pintu. Menyisakan Vince dan Quella berdua di dalam sana.
"Kenapa di sini, hm?" suara bariton Vince memecah keheningan sembari menarik kursi Quella untuk lebih mendekat dengannya dan menghadap ke arahnya.
Quella melepaskan tali sebelah maskernya. Sekarang wajahnya terlihat, meski maskernya masih menggantung sebelah.
"Masih nanya, heh?"
Tanpa di duga Quella menjewer telinga kanan Vince. Hingga sang suami sedikit meringis akibat ulahnya.
"Ashh—Sayang lepas!" ringis Vince. Padahal jeweran Quella tidak keras. Memang Vince saja yang pura-pura kesakitan.
"Siapa suruh kamu marah-marah sampai dua jam lebih? Marah kaya ceramah. Kalau aku gak datang ke sini, mungkin kamu marah gak ingat waktu!" ketus Quella tanpa melepaskan jeweran di telinga Vince.
"Maaf-maaf, sayang. Please, lepasin ya!?" pinta Vince memasang raut wajah memelas.