THE LAWYER'S SECRET WIFE

THE LAWYER'S SECRET WIFE
Eps 38. Sup Daging



Tanpa terasa malam telah berganti siang. Quella yang awalnya masih senantiasa berada di bawah alam mimpinya, kini harus terpaksa bangun saat cahaya matahari membuat tidurnya terganggu. Sejenak ia mengumpulkan kesadarannya dan setelahnya baru ingat bahwa masih banyak tugasnya yang belum terselesaikan. Sedangkan acara tahunan di kampus akan di langsungkan pada malam ini.


"Ayo semangat, Quella! Hari ini ada banyak tugas yang harus kau lakukan," ucapnya pada diri sendiri.


Kemudian ia pun bergegas turun dari ranjangnya dan pergi menuju kamar mandi. Sekitar setengah jam berlalu, ia baru keluar dari kamar mandi dalam keadaan yang lebih segar daripada tadi. Quella memilih pakaian terlebih dahulu, dimana pilihannya jatuh pada setelan hodie putih dengan celana cargo hitam sebagai bawahan. Tampilannya cukup simpel seperti biasa. Tidak seheboh perempuan lain yang harus memastikan penampilannya dari atas sampai bawah harus sempurna. Bahkan make up bisa berlapis-lapis hanya untuk membuat wajah terlihat sangat cantik.


Sedangkan Quella tidak seperti itu. Ia hanya memoleskan make up tipis, lalu mengikat tinggi rambutnya. Tidak lupa pula memakai sepatu putih. Selesai. Simpel, bukan?


Dengan langkah santai, dirinya berjalan keluar rumah. Tidak lupa pula mengunci pintu setelahnya. Quella sempat memeriksa jam tangan yang melingkar di tangannya, di lihat masih ada banyak waktu. Ia pun berpikir untuk sarapan di salah satu kedai yang berada di pinggir jalan. Kedai itu cukup sering di datanginya pada saat waktu luang. Letaknya pun tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sehingga hanya perlu sekitar 20 menit untuk sampai ke sana menggunakan taksi online. Bicara soal taksi online, Quella segera memesan taksi yang lokasinya tidak jauh dari rumahnya.


Tidak berselang lama, sebuah taksi tampak berhenti tepat di hadapan Quella. Sang sopir sempat bertanya untuk memastikan dan Quella pun membenarkan. Setelahnya ia pergi dengan menumpangi taksi online itu menuju kedai yang menjadi tujuannya di pagi ini. Di sepanjang jalan tampak keadaannya sudah mulai sibuk dan padat. Yeah, padat dengan orang-orang yang hendak pergi bekerja, maupun para mahasiswa yang sudah siap untuk kuliah. Oh jangan lupakan satu hal. Anak-anak dan para remaja juga tampak rapi dengan seragam sekolah mereka. So, pagi adalah waktu paling padat di setiap harinya tanpa terkecuali hari minggu.


"Humph! Pagi yang selalu padat," Quella mendesah pelan. Perjalanannya sedikit terhambat sebab kemacetan yang terjadi di jalanan.


Meski sudah biasa dengan kemacetan itu, tetapi terkadang Quella juga mengeluh seperti sekarang. Hal itu karena perutnya sangat lapar. Dan kemacetan itu membuat ia harus menahan lapar lebih lama. Sebelum akhirnya taksi online itu berhenti di tempat tujuan.


"Ini uangnya. Terima kasih!" Quella menyerahkan selembar uang sesuatu dengan nominal yang tertera pada sang sopir.


Sang sopir menerimanya. "Terima kasih, nona!"


Quella hanya mengangguk sebagai balasan. Lalu segera turun dari taksi online itu. Tanpa menunggu taksi itu pergi terlebih dahulu, ia sudah mulai berjalan memasuki kedai dengan bentuk minimalis dan letaknya cukup terhimpit di antara bangunan lain. Namun meski begitu ruangan kedai itu lumayan luas. Apalagi tata letak benda di dalamnya tertata rapi. Sehingga tidak membuat pengunjung merasa bahwa kedai itu sempit.


"Pagi, paman Tyo!" sapanya pada laki-laki paruh baya yang merupakan pemilik dari kedai itu.


Sapaannya spontan membuat laki-laki paruh baya itu mendongakkan kepala. Tampak terkejut, sebelum senyuman tipis mengembang di bibirnya.


"Pagi, Quella. Lama sekali paman tidak melihatmu,"


Quella terkekeh pelan. "Apa paman merindukanku?"


"Ya, kenapa tidak? Biasanyaa kamu selalu datang ke sini setiap 1 kali seminggu," ucap paman Tyo sembari membersihkan meja pemesanan yang ada di antaranya dan Quella.


"Akhir-akhir ini aku sedang sibuk mengurus beberapa. Jadi baru sekarang bisa datang,"


"Begitukah? Pantas saja kamu tidak datang ke sini," timpal paman Tyo dengan tersenyum tipis.


"Heum. Ku lihat kedai paman terdapat beberapa perubahan. Apa paman baru saja mengubahnya?" celetuk Quella melihat keadaan ruangan kedai yang memang benar sedikit berbeda dari terakhir kali dirinya datang. Sekarang keadaan ruangan itu jauh lebih berwarna dan tambahan beberapa interior bernuansa modern.


"Kamu mau makan apa? Tidak mungkin datang ke sini hanya untuk menjenguk paman, bukan?" lanjutnya.


Pertanyaan itu spontan mengundang kekehan pelan dari mulut Quella. "Aku datang karena merindukan masakan dan orang yang memasaknya. Jadi bisakah paman membuatkanku sup daging hangat dengan banyak taburan bawang goreng di atasnya? Aku sangat ingin makan itu,"


Mata Quella berkedip dua kali. Layaknya seekor anak kucing yang sedang menunjukkan kegemasannya. Paman Tyo pun terkekeh melihat itu.


"Tentu saja bisa. Duduk dan pesananmu akan siap dalam 15 menit!"


"Oke. Minumannya..." ucapan Quella langsung di sela oleh laki-laki paruh baya itu.


"Cappucino dingin dengan gula satu setengah sendok. Benar, kan?"


Quella menyengir kuda. Sehingga tampak deretan giginya yang putih. "Hehe. Baguslah kalau paman tidak lupa,"


"Kamu kira daya ingat paman sudah berkurang hmmm?" paman Tyo menggeleng-gelengkan kepalanya. Mungkin usianya sudah paruh baya tapi bukan berarti ia telah mulai kehilangan daya ingat. Dan gadis itu semakin melebarkan cengiran kudanya.


"Terima kasih, paman!" seru Quella tanpa dosa.


Setelah itu Quella langsung duduk di salah satu meja yang berada di dekat kaca tembus pandang berukurang besar. Kaca itu berada di dekat pintu masuk kedai. Dari dalam sana, ia dapat melihat keadaan jalanan di luar. Begitu pula orang yang berada di luar dapat melihat keadaan di dalam kedai itu. Keadaan di luar masih sama padatnya. Quella melihatnya sambil sesekali bermain ponsel.


15 menit berlalu...


Kesibukan Quella dengan benda pipih di tangannya terhenti saat aroma yang begitu di kenalinya datang mendekat. Sudut bibir Quella terangkat, tepat bersamaan kedatangan paman Tyo. Di tangan laki-laki paru baya itu terdapat sebuah nampan berisi mangkok berukuran sedang dan segelas cappucino dingin.


"Aromanya semakin membuatku lapar," cicit Quella saat paman Tyo meletakkan mangkok berisi sup daging dan cappucino dingin kesukaannya.


"Makanlah sekarang! Paman akan lanjut membersihkan kedai, sebelum pengunjung lain datang," ucap paman Tyo tersenyum.


Laki-laki paruh baya itu memang terkenal akan sifatnya yang ramah. Hal itu membuatnya mudah di sukai dan dekat dengan orang lain. Termasuk Quella yang sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri.


"Baiklah, paman!" sahutnya.


Paman Tyo berjalan pergi dan melanjutkan pekerjaannya. Sementara itu, Quella langsung menyantap sup daging panas dengan taburan bawang goreng yang banyak. Ah sangat enak. Di tambah cappucino dingin yang menyegarkan, Quella sangat suka. Lantas ia memakan dengan lahap sampai tidak tersisa.