
Wileen langsung saja turun dari mobil. Begitu pula dengan Quella yang mengikutinya. Mereka berdua ingin melihat, siapa pemilik mobil itu.
"Hei, turun lo! Maksud lo apaan pake menghadang mobil gue!? Mau cari mati, heh!?" maki Wileen berkacak pinggang di hadapan kaca depan mobil itu. Ia benar-benar kesal.
Tidak berselang lama, pintu mobil terbuka dan si pemiliknya turun. Seorang perempuan cantik mengenakan dress mini nan seksi. Dagunya sedikit terangkat, seolah menunjukkan sisi angkuh dalam dirinya.
"Heh. Sekali lagi gue tanya. Maksud lo apaan pake menghadang mobil gue!?" Wileen makin meninggikan nada bicaranya. Apalagi saat tahu siapa pemilik mobil yang hampir membuatnya dan Quella celaka.
Perempuan itu membuka kacamata hitam yang sedari tadi melindungi kedua matanya. "Gue mau bicara sama lo,"
"Dengan cara segila ini? Lo hampir aja buat gue sama sahabat gue celaka. Kalau mau ngomong, ya bisa baik-baik. Jangan pake cara ini!" cecar Wileen tidak terima alasan perempuan itu.
Bukannya merasa bersalah, perempuan itu justru tersenyum puas. "Kenapa tidak? Sekali-kali gue bikin lo jantungan. Biar jantung lo olahraga dikit,"
"Dasar gila! Kalau gue celaka, lo juga celaka. Pikir pakai otak gak sih!?" Wileen mengeram kesal. Ingin sekali ia memukul wajah perempuan itu yang begitu menyebalkan. Namun ia harus menahan diri karena mengingat dimana mereka berada sekarang, masih kawasan kampus.
"Lo tahu, sedari dulu gue gak punya otak. Jadi yah, lo gak perlu tanya lagi!" sahut perempuan itu makin membuat darah Wileen mendidih.
Quella yang menyadari emosi Wileen mulai naik, lantas langsung memegangi tangan sahabatnya itu. "Tenang, Wil! Kendalikan emosi lo!"
Wileen menuruti apa yang Quella katakan. Beberapa kali ia menghembuskan nafasnya untuk menenangkan diri. Ia harus mengendalikan emosinya agar tidak semakin naik dan membuat dirinya tidak terkendali.
"Lo mau bicara apa sama gue, nona DAVICHI!?" tanya Wileen dengan penuh penekanan saat menyebutkan nama perempuan itu.
Davichi adalah seorang perempuan yang memiliki kehidupan kelas atas. Berusia sekitar 22 tahun. Ia berwajah cantik tapi sayang, sosoknya begitu angkuh. Terlebih lagi, ia tidak suka melihat ada orang yang bisa melebihinya. Dengan kata lain hanya boleh dirinya yang sempurna dalam semua hal. Orang lain tidak boleh.
"Sebaiknya kalian jangan bicara di sini! Cari tempat lain saja," usul Quella sebelum Davichi menjawab pertanyaan Wileen.
Davichi memetikkan jarinya. "Good Idea. Kita bicara di restoran di dekat sini,"
Terpaksa Wileen menyetujui itu. Daripada bicara di sana, keadaannya tidak kondusif. Apalagi sudah ada beberapa mahasiswa yang tengah menatap ke arah mereka. Dalam sekejap mereka bisa saja jadi pusat perhatian.
Hei, itu bukan hal yang baik!
Sehingga mereka pun segera pergi dari sana. Lebih tepatnya menuju ke restoran terdekat. Setibanya di sana, mereka memilih meja di paling pojok. Suasananya lebih tenang di banding meja lain. Davichi juga langsung memesan makanan yang cepat saji.
"Jadi lo mau bicara apa? Gue harap ini penting. Jika bukan hal penting, gue bakal patahin tangan lo!" ancam Wileen yang sedari tadi berusaha menahan emosi.
Davichi tertawa pelan. "Haha... Santai, Wil. Gue gak bakal bicara hal yang gak penting,"
"Langsung intinya saja! Gak usah banyak basa-basi!" seru Wileen--Matanya menatap Davichi dengan tajam.
Kini bukan hanya tajam, tatapan Wileen juga terkesan horor. Quella bisa melihat itu tapi memilih diam. Di sini bukan waktunya untuk dirinya ikut campur karena ini masalah pribadi sahabatnya. Tetapi jika keadaannya sudah di luar kendali, ia akan ikut campur.
"Apa maksud lo!?"
"Apa ucapan gue kurang jelas? Gue mau lo berikan Vernon buat gue. Sebagai gantinya, gue bakal berikan sejumlah uang buat lo belanja. Lo pasti mau, kan?" tanya Davichi balik.
"Gak. Gue gak bakal berikan Vernon buat lo! Kalau mau dapatin Vernon, usaha dong. Jangan cuma bisanya minta dan memberikan imbalan sejumlah uang! Dan satu hal lagi, gue gak butuh uang dari lo. Gue masih mampu," jawab Wileen bernada ketus.
Raut wajah Davichi berubah menjadi tidak senang. "Seharusnya lo senang bisa dapat uang dari gue hanya dengan memberikan Vernon,"
"Heh. Gue bisa cari kesenangan sendiri. Jadi jangan harap gue bakal mau memberikan Vernon buat lo. Gak sekarang atau pun nanti!" desis Wileen memperingatkan.
Sekeras apa pun Davichi mencoba, Wileen tetap pada pendiriannya. Ia tidak akan memberika Vernon pada Davichi. Menurutnya laki-laki itu terlalu baik untuk seorang Davichi yang berhati licik. Terlebih lagi, Vernon adalah laki-laki yang selama ini sudah mengisi kehidupannya dengan banyak hal indah.
"Lo keras kepala banget, ya!?" seru Davichi merasa tidak senang akan ucapan Wileen barusan.
"Kenapa gak? Vernon milik gue dan gue gak bakal memberikannya pada lo!" sahut Wileen--Jarinya menunjuk tajam ke arah Davichi.
"Gue bisa lakuin apapun pada lo! Sampai Vernon gak bakal mau sama lo lagi," Davichi mengancam keras. Obsesi terlalu membutakan kedua matanya.
Wileen menyeringai sinis. "Dan gue gak takut. Lo bisa lakuin apapun tapi Vernon gak bakal berpaling dari gue,"
Mendengar itu, tampak Davichi mengepalkan tangannya. Ia benar-benar tidak senang sekarang. Rencana untuk meminta Vernon baik-baik, langsung di tolak keras oleh Wileen.
"Lo ya..." tanpa di duga Davichi mengambil garpu yang terdapat di meja dan berniat menusukkannya pada mata Wileen.
Tindakannya itu tidak terduga. Hampir saja Davichi berhasil melakukan tindakannya. Beruntung Quella melihat itu dan langsung menangkap garpu itu sebelum mengenai mata Wileen. Namun ujung garpu itu melukai tangannya, sampai darah segar bercucuran keluar.
"Berani lo lukai sahabat gue! Bakal gue bikin lo menerima balasan setimpal," ucap Quella dengan marah di tengah menahan garpu itu. Sedangkan Wileen masih shock akan kejadian yang baru saja terjadi. Beruntung para pengunjung lain tidak ada yang melihat ke arah mereka.
"Berani lo sama gue, heh!? Lo gak tahu siapa gue, cupu?" bentak Davichi sembari masih berusaha menggencarkan aksinya.
"Gue gak takut dan gue cukup tahu kalau lo adalah perempuan yang gila!" sindir Quella menekankan kalimat terakhirnya.
Mata Davichi memerah. Perempuan itu pasti tidak terima akan sindiran Quella yang terdengar sedang menghinanya. "Apa lo bilang? Gue perempuan yang gila!? Berani juga lo, cupu? Lo pasti belum tahu siapa gue. Gue bukan orang yang bisa lo hina sembarangan. Lo bakal menyesal karena telah menghina gue!"
"Gue gak peduli. Sekalipun lo seorang presiden pun, gue gak bakal takut. Lo udah berani mau celakain sahabat gue. Berarti lo sama juga mencari masalah sama gue," Quella berucap dengan nada dingin. Kedua matanya pun ikut menatap tajam Davichi. Tatapan yang amat jarang ia perlihatkan. Sekali di perlihatkan, orang-orang bergidik ngeri. Sama seperti yang Davichi rasakan sekarang.
Sementara itu, tidak jauh dari meja mereka ada seseorang yang tengah memantau kejadian itu. Ia mengepalkan kedua tangannya dan mencoba menahan diri untuk tidak menghampiri Quella.